Halte Bus

1791 Kata
Sialnya sekarang aku terus memikirkan Byan, sepertinya aku harus segera pulang dan bertemu dengan Om Reza. Om ganteng yang pasti hari ini lagi dinas di kantor ayah. Lumayan lah, pura-pura mencari ayah untuk meminta uang jajan padahal mencuri-curi pandang. Memang susah jadi jomblo, suka sekali gatal sama orang.  Mungkin benar kata Abang, kaya ulat bulu. Tidak juga sih sebenarnya, kupikir daripada aku terusmenerus memikirkan Byan. Aku duduk termenung sendirian di halte bus dekat sekolah. Tempatku biasa menunggu angkutan umum yang lewat. Kesibukan ayah di Yonif dan kesibukan bunda dengan toko online juga kegiatan Persit-nya membuatku dan Dik Dara harus mandiri. Salah satunya ya, berangkat sekolah dan pulang sekolah tidak diantar maupun dijemput setiap hari. Menunggu angkutan umum itu layaknya menunggu pasangan kita yang pulang dari penugasan sebagai abdi negara. Was-was, akankah pulang atau tidak. Itu sih pengandaian yang aku buat sendiri dan tidak masuk perut, eh, akal. Tapi bagiku menunggu adalah sesuatu yang penuh tantangan dan menyenangkan. Kecuali satu hal, datangnya Byan membuat menunggu adalah sesuatu yang paling menyebalkan di dunia ini. Byan datang dengan sepeda motor yang biasa dia gunakan. Memarkirkannya tepat di samping halte. Parahnya dia mengusir siswa yang tengah berdiri menunggu bus bersamaku. Dasar, bossy banget. “Nunggu bus, Ra?” tanyanya duduk di sebelahku. Lagi-lagi mengusir siswi yang duduk berdempetan denganku. Memang tidak tahu malu Byan ini. Kupandang wajahnya sekilas. “Udah tahu nanya, ibaratkan kaya orang udah tahu itu kotoran ayam tapi masih dicium juga baunya.” “Ampun, jutek amat, Ra.” “Biasanya juga gitu kan, dan biasanya kamu senang kan?” “Iya sih, kan kalau kamu cemberut gini, gemesin.” Hanya kupandang sekilas sambil mengernyitkan dahiku. Orang gila tidak perlu diladeni kan? Tetap dengan wajah bosanku, wajah cemberutku, tetap dengan semua hal yang tidak kusukai dengan adanya Byan di sini. Yang lebih tak kusukai lagi, Byan menutupkan jaket bombernya di kepalaku. Sudah berulangkali aku jatuhkan tapi tetap dia kembalikan. Aku berusaha diam seribu bahasa sebab aku tidak mau berdebat dengan Byan. Tapi agaknya mulutku terlalu banyak menyimpan emosi. “Ini apa sih?” membuang laku jaketnya ke belakang, jatuh di tanah sampai dia memungutnya. Byan masih sabar meski hal itu terjadi entah berapa puluh kali dalam 10 menit terakhir ini. Dia tetap tersenyum menatapku dan ini 180° bukan Byan yang biasanya. Dia biasanya usil tapi usilnya selalu yang menyakitiku, kali ini dari wajahnya sih bukan. “Biarkan saja jaketku menutupi wajahmu. Matahari terlalu jahat untuk wajah cantikmu,” katanya menunjuk matahari yang teriknya memang masih menyengat sekali. Tersentuh? Kalimat itu bahkan terlalu basi untuk kudengar. Tidak ada yang lebih baik dari itu? Tidak kreatif sama sekali. Lagi-lagi kujatuhkan jaket itu ke belakang. Dan kubilang aku bukan anak yang manja, takut dengan sinar matahari. Sudah biasa aku bermain-main dengan matahari. “Oke baiklah, sejujurnya bukan alasan kuno itu, aku hanya tidak ingin cowok-cowok di sana,” menunjuk sekerumunan siswa yang juga menunggu bus di halte seberang jalan. “Ikut menikmati wajahmu yang menggemaskan ini, wajahmu kan bukan konsumsi publik.” Lagi, kupandang sekilas dan mengernyitkan dahi. Bagiku dia itu aneh sekali, bagaimana bisa wajahku bukan konsumsi publik? Lalu harus aku taruh di mana wajahku? Apa aku tidak perlu pakai wajah saja? “Maksudku, aku cemburu jika mereka melihat wajahmu itu. Mereka pasti sebahagia aku sekarang ini,” katanya lagi dan jujur kali ini membuatku sedikit tersentuh. Baiklah, aku harus ingat, aku harus tetap sadar. “Kamu pulang deh! Atau aku teriak, bilang sama semua orang kalau ada p*****l di sini!” “Kok p*****l sih? Lagipula aku masih ingin menemanimu di sini, sampai busnya datang. Biar kupastikan kamu aman,” dengan nada perhatiannya. “Tolong di sini ada p*****l!” teriakku yang langsung dipandang aneh oleh semua orang. Bahkan ada Ibu-ibu yang langsung melotot pada Byan. Byan langsung pergi, mengambil sepeda motornya dan dia sempatkan untuk berkata, “kamvret kamu, Ra! Sudah senang juga masih dibikin kesal. Tapi nggak apa-apa, hati-hati sama supir busnya, biasanya dia jago gombal. Dan jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai rumah.” Dia gas sepeda motornya sangat kencang. Entah kepalang malu atau bagaimana. Tapi aku sempat berdoa, “semoga itu anak jatuh biar tahu akibat dari mengendarai sepeda dengan ugal-ugalan.” Begitu dia pergi, aku baru sadar jika jaketnya masih menutup kepalaku.  Dari arah samping juga tertutup oleh jaket bombernya. Entah dia mengikuti trend masa atau memang dia sejak dulu suka jaket bomber? Terlebih warnanya hijau khas hijaunya tentara. Cukup bagus, aku bahkan cukup suka ketika pakai jaket bomber atau Ayah pakai jaket bomber. Apalagi Om Reza yang gantengnya luar biasa. “Astaghfirullah, khilaf lagi hamba-Mu ini, Ya Rabb,” batinku mengelus d**a. Tapi Byan tadi cukup keren ketika tiba-tiba datang dan ketika dia melepas jaketnya untukku. Semacam cool dan penuh kharismatik, sama seperti saat laki-laki romantis mengalungkan jaket ketika perempuan kedinginan. “Ampun, beneran gila akunya,” batinku memukul-mukul kepalaku. “Gila, Ra?” tanya seseorang yang duduk denganku. Anak kelas XI IPS 2, kan sudah kubilang aku terkenal. Aku mengangguk kencang, jujur saja. “Iya, lebih tepatnya kerasukan penunggu pohon belakang sekolah.” Dia hanya menggeleng tak percaya. Kalian tahu, orang yang gila selalu menyangkal dirinya gila sementara orang yang waras tahu sampai seberapa parah titik kegilaannya. Itu hasil risetku sendiri. Satu persatu penunggu bus telah habis, hanya aku yang belum sempat mendapat bus karena selalu penuh, keduluan mereka yang lebih gesit. Memang payah aku ini. Sudah hampir jam 4 dan harapanku satu-satunya adalah bus terakhir, mungkin sebentar lagi. Sudah bosan menunggu ditambah lagi datangnya Byan. Dia lagi, dia lagi, kenapa selalu muncul dan menyebalkan? Iya seriusan, dia datang lagi dengan motornya dan masih dengan seragamnya. Kupikir dia tadi nongkrong, bukan pulang, jika pulang seharusnya dia berganti pakaian. “Masih nunggu bus aja, Neng?” sapanya duduk di dekatku. “p*****l comeback,” katanya menggerakkan alisnya naik turun. Hanya kupandang sekilas dengan pandangan penuh kebencian dan sedikit heran. Ini anak mungkin tidak ada kerjaan di rumah sampai harus kembali lagi ke sini. “Mau nunggu bus sampai jam berapa, Ra? Bus terakhir sudah pasti penuh sama anak-anak STM. Mereka sering kali pulang menjelang magrib,” kata Byan semakin mendekatiku. Jika sudah begini, agaknya aku tidak salah lagi. Byan ini memang p*****l kelas kakap yang menyamar sebagai cowok cool di SMA. Kuambil ponsel genggam dalam saku seragamku. Ponsel yang baterainya tinggal sejengkal lagi dan tamat riwayatnya. Menelepon Ayah atau Bunda setidaknya. Meminta dijemput atau mungkin ada opsi lain yang orang tuaku berikan.  Tapi tak kunjung mendapat jawaban dari Ayah, dari Bunga pun sama. “Aku antar saja, Ayah dan Bundamu pasti sibuk. Seorang Danyon kadang lebih peduli dengan tugas dan negaranya daripada anaknya,” ucap Byan mendekatiku. Aku langsung menoleh, memandang Byan dengan penuh kebencian. Siapa dia berani mengatakan hal semacam itu tentang Ayah dan Bunda? Ada hak apa dia menilai dan menaksir tentang mereka? “Sekalipun negara adalah yang utama bagi seorang Danyon, beliau tetaplah Ayah yang peduli dengan anaknya! Kamu tidak akan pernah tahu sebab orang tuamu bukan seorang tentara!” tekanku sudah kepalang emosi. Bagiku, tidak, bagi anak manapun, tak masalah dirinya dihina, dihujat, diganggu asal jangan kedua orang tuanya. Setuju? Kurasa semua anak di manapun setuju denganku. Ayah memang selalu mementingkan negaranya dan itu membuatku bangga. Namun bukan berarti Ayah tak pernah peduli dan lupa ke mana tempatnya kembali ketika negara memberinya waktu untuk bersantai. Aku memang kehilangan banyak waktu dengan Ayah, tidak seperti anak-anak lain yang waktunya penuh dengan sosok seorang Ayah. Tapi aku diajarkan untuk tidak cemburu pada negara, aku pun harus terbiasa tanpa Ayah, sebab katanya tanpa Ayah bukan berarti tak punya Ayah. Beliau juga bilang bahwa meski Ayah mencintai negaranya, seorang Ayah tak pernah lupa bahwa tempatnya kembali dan berdamai adalah istri dan anaknya. Maka sangat sensitif sekali bagiku jika ada seseorang yang mengatakan Ayahku terlalu sibuk dengan negara sampai lupa pada anaknya. Terlebih Byan mengatakan bahwa Ayah lebih peduli pada negaranya daripada anaknya. Kata Ayah, negara dan keluarga punya porsinya masing-masing. “Baiklah, aku percaya Ayahmu seorang tentara dan kepala rumah tangga yang baik. Jadi ayo pulang temui Ayahmu.” Hanya aku tanggapi dengan kernyitan dahi. “Ayo, Ra. Keburu malam. Jijik sama aku ya?” Aku diam, sungguh aku berharap Om Reza lewat di sini, ya paling tidak Om Indra atau Om Dika. Aku ingin membonceng sampai ke rumah daripada harus diantar Byan yang wajahnya semakin songong. “Ayo!” ajaknya lagi menarik tanganku. “Jangan maksa deh!” tolakku mengibaskan tangannya. Byan menghela napas panjangnya. Dia seperti kehabisan cara untuk mengajakku pulang. Lagipula kenapa dia ngotot sekali mau mengantarku pulang? Seperti tidak ada kerjaan lain saja selain mengganggu hidupku. “Ra, belakang tuh ada pocong lagi berdiri di samping pohon,” katanya membuatku melonjak lebih dekat dengannya. Wajahnya kali ini serius sekali, tidak ada guratan senyum bahkan saat aku melonjak ketakutan. “Seriusan?” “Serius, gini-gini aku bisa lihat hantu, Ra. Kamu belum dengar tentang pohon belakang halte?” Aku menggeleng. “Nanti kuceritakan dalam perjalanan,” sambil menepuk jok belakangnya, memintaku duduk di sana. Sejujurnya walaupun aku ini penakut soal yang begituan tapi selalu saja penasaran dengan cerita-cerita sejenis. Entahlah kenapa begitu, padahal nanti akhirnya aku ketakutan sendiri sampai ke kamar mandi saja harus sama Adik. “Ayo sebelum pocongnya godain kamu.” Aku menghela napas cukup panjang dan akhirnya berada di jok belakang motor Byan. Kulihat dari spion kanan, Byan menyunggingkan senyum kecil sebelum menarik gas di tangan kanannya. Cukup pelan, tidak kebut-kebutan macam biasanya atau bahkan sebelumnya. Byan yang tadi berjanji akan menceritakan nyatanya hanya diam di 200 meter perjalanan. Dia lebih sibuk dengan senyum kecil di bibirnya. Aku ingin bertanya tapi takut dikatakan terlalu ingin tahu. “Jangan terlalu lama nunggu di halte, Ra. Apalagi sampai magrib, banyak yang nunggu di sana.” Itu kalimat setelah lewat 200 meter dari halte. “Iya?” “Iya, mau yang wajah kek apa juga ada. Banyak yang nunggu pokoknya, sudah terkenal  di mana-mana. Anak TK sebelah sekolah juga tahu,” jelasnya lagi tanpa senyum. Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan mau menunggu hingga megrib, mengerikan sekali. Jadi kalau pulang sore, mending minta tolong seseorang untuk menjemputku. “Kalau pulang sore, bilang aja sama aku nanti aku jemput.” “Banyak Om tentara yang nganggur di Yonif jadi tidak perlu repot-repot.” Byan memandangku dari kaca spion. “Siapa tahu satu Yonif dikirim tugas semua.” Aku hanya mengerlingkan mata. Kami diam lagi selanjutnya, cukup jauh memang rumahku dengan sekolah, maksudnya rumah dinas. Mengaku rumahku padahal fasilitas dari negara untuk Ayah yang tengah bertugas sebagai perwira aktif. “Kudengar taruna AAU itu Abangmu.” Tidak ada jawaban dariku. “Kamu tahu, Ra? Lega rasanya mendengar itu.” Tetap tidak ada jawaban dariku. Aku tak ingin banyak berbincang dengan Byan, karena sekali saja berbincang tadi siang sudah membuat kepalaku dipenuhi dengan namanya. “Mau sampai depan rumah, Ra?” tanyanya saat mendekati gerbang utama Asrama Militer. Aku menggeleng. “Tidak usah, nanti jadi masalah.” “Kenapa? Padahal aku ingin berkenalan dengan Ayahmu.” “Tidak perlu.” Turun dari motor Byan langsung melenggang masuk ke dalam, menyapa Om tentara yang masih berjaga. Sementara Byan memilih melihatku dari tempatnya sekarang. Aku tahu dia sedikit tersenyum, padahal aku pun tidak mengucapkan terima kasih. Seharusnya dia kesal karena kehilangan bensin tapi tak mendapat ucapan terima kasih dariku. Dik Dara berjalan di sampingku, dia baru saja lari sore sepertinya. Kalian tahu kenapa dia mau lari sore? Iya, dia mau tebar pesona sama Om Reza, tentara paling ganteng di batalyon ini, “Kak, diantar siapa hayo? Bilangin Ayah nih!” ancamnya mengikuti langkah kakiku. Langsung kubungkam mulutnya itu. “Ini tolong ya dijaga. Nanti aku bilang sendiri sama Ayah!” Dia jutsru menyenggol-nyenggol bahuku kecil. Maksudnya dia tengah menggodaku apalagi dengan tatapan itu. Dia pasti berpikir yang tidak-tidak tentang aku dan Byan. Sama sekali tidak ada apapun, mau diantar pun karena Om Pocong rese di belakang halte bus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN