umi zahro msh ter-ngiang2 dengan kalimat putri bungsunya yg terang2an menyarankan sang putra bungsu untuk menikahi afrina,.
dia tidak habis pikir, karna sebelumnya juga dia juga sempat berfikir apa dia jodohkan saja putranya dengan afrina saja,
ketika ia tengah sibuk dengan pikirannya sendiri sebuah suara salam membuyarkan lamunannya.
"asalamunglaikum."
"walikumsallam, abi sudah pulang jam seginj bi?" tanya umi zahro sembari menyalami & mencium tangan suaminya itu.
"iya mi, nanti mau ada rapat untuk pembentukan panitia maulid, sambil menunggu para guru, ustadz & ustadzah yang masih mengajar, abi memutuskan untuk pulang dulu "
" begitu. abi mau umi bikinkan teh dulu?."
"boleh mi di gelas kecil saja, karna abi nanti akan segara balik ke kantor pondok."
"baik bi."
umi zahro kemudia beranjak ke dapur untuk membuatkan teh untuk suaminya,
" ini tahnya bi"
"terimakasih umi"
" bi, tentang rifki apa sebaiknya kita jodohkan saja." cletuk umi zahro kepada suaminya yg tengah fokus dengan koran di tangannya. seketika pria yg belum terlalu tua, malah semakin gagah, di usia yg semakin bnyak membuat wibawanya semakin terpancar itu menghentika aktifitasnya, & menatap intens istrinya itu.
"memangnya kenapa mi?"
" ya ummi sudah tidak sabar saja melihat dia msh sibuk menyendir, padahal kalau dia mau dia tinggal tunjuk sja satu bi."
"mungkin belum ketemu sma yg sreg mi, sabar saja dlu." tukas lelaki itu menenangkan istrinya.
"maka dari itu bi, kita coba saja jodohkan, barangkali nanti cocok & bisa langsung menikah."
"ummi sudah punya kandidat?"
"umi ingin putra kita berta'aruf dengan nak afrin bi, dia gadis yg cerdas, memilik sikap yg sopan, andap asor, sabar dlm mendidik anak2, barangkali nanti cocok sama rifki bi."
"baiklah nanti kita cari waktu yg tepat, pelan2 saja kita bicarakan sma rifki mi."
perbincangan kecil antar suami istri itu berahir karna sang suami harus kembali ke kantor pesantren untuk memimpin rapat.