mengamati

500 Kata
afrina sudah selesai mangajar, dia kembali ke kantor pesantren untuk mengemasi barang2nya & berencana lanjut kembali ke kamar. namun suara khas yg terdengar gagah penuh wibawa, seketika menghentikan aktifitasnya. "asalamungalaikum, bu afrin" "walikumsallam abah" "sudah selesai mngejar?" "alhamdulillah sudah bah, pripun ada yg bisa afrin bantu?" "alhamdulillah iya bu, jangan dlu kembali ke asrama, karna kita akan mengadakan rapat untuk pembentukan panitia maulid nabi." "injih bah" "ya sudah sambil manunggu yg lain kumpul, saya tinggal dulu, asalamungalaikum." "sumonggo, walikumsallam bah." sebenarnya afrina sedikit tidak enak ketika di panggil ibu oleh abah Yasir, mengingat beliau adalah pemimpin sekaligus pemilik pondok pesantren, afrin juga merasa tidaknpantas karna usianya yg jauh sekali lbh muda dari beliau, tapi beliau tetap memanggilnya dengan sebutan ibu ketika berada di lingkungan sekolah pesantren, sebagai apresiasi menghormati afrin yg notabennya adalah seorang guru, selain itu abah Yasir juga berkata jika itu juga sebagai salah satu bentuk pelajaran kepada anak2 untuk saling menghormati satu sama lain, "hayohloh lagi mikirin apa? diam2 saja." tanya zizah sahabat afrin sekaligus ustazah di pesantren itu. "astaghfirulloh zizah,!!!" seru afrin pada sahabatnya itu. "dateng2 itu salam, bukan malah ngagetin orang" gerutu afrin sebal. "iya maaf bu guru, asalamungalaikum" ucap azizah dengan nada jahil. "walikumsallam bu ustazah"jawab afrin sedikit kesal. "eh, jangan cemberut gitu dong frin, nanti cpt tua loh". " dih tuaan juga kan kamu" "heh, ko blm pulang ke kamar frin? masih ada kelas kah?" "engga ziz, cuma tadi abah Yasir memberi pesan agar tidak pulang dulu karna mau ada rapat." " ooh begitu, rapat apa aku tidak tahu" "rapat pembentukan panitia maulid nabi ziz" tidak terasa mereka sudah berbincang cukup lama, ya begitulah 2 shabat itu. setelah semua ustadz, ustazah serta para pengajar sudah berkumpul di kantor kemudian abah Yasir memimpin rat. saat rapat berlangsung, entah mengapa ustadz rifki kembali teringat pernyataan konyol adik bungsunya yg menyatakan, agar dirinya menikahi salah satu pengajar di pesantren itu, sontak reflek membuat pandangannya tertuju pada gadis cantik yg kini tengah fokus mendrngarkan rapat. cantik, ya itu yg terlintas di benak rifki ketika diam2 mencuri pandang pada afrina. karna terlalu cuek, kemana saja dia selama ini sehingga tidak sadar dia begitu dekat dengan para gadis berparas cantik & tentu saja memiliki bekal ilmu agama yg cukup, yg kebanyakan malah mengejarnya duluan. dia tidak begitu memperhatikan wajah afraina selama ini, bukan karna ia tak tertarik pada perempuan tp semua itu dipakukannya untuk menghindari dosa & fitnah. selain itu afrina juga tidak termasuk dari salah satu wanita yg mngejarnya, semuanya berjalan normal saja untuk wanita yg satu itu, sosoknya yg terlihat kalem, membuat dia lbh bnyak menyimak ketika sedang berdiskusi seperti sekarang, tidak seperti yg lain yg sibuk mencari perhatian, & terkadang blak2an memperlihatkan rasa sukanya pada tifki meski di depan umum sekalipun. meski terlihat kalem namun bukan berarti afrina tidak bisa berpendapat. justru karna fokusnya menyimak sekali dia berpendapat membuat orang lain akan kagum & mengapreasi pendapatnya itu. itu adalah salah satu nilai + afrina di mata kedua orang tua rifki yg diam2 suka memperhatikan gadis itu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN