kenal lebih dalam

1295 Kata
sore itu afrina baru saja pulang dari mengajar, tapi dia sudah harus kembali bersiap untuk mengajar anak2 latihan, sekaligus diapun harus berlatih hadroh dengan rombongan pesantren.. "haaaah, lelahnyw masaalloh." afrina menghela nafasnya panjang, dia merasa harinya akhir2 ini lbh sibuk dari biasanya. afrina beranjak dari kamarnya setelah dia bersiap menuju aula. di sana tempat dia akam melatih anak2, & tempatnya akan berlatih dengan temannya. "asalamungalaikum semuanya" afrin mengucap salam ketika memasuki pintu aula, tampak di sana sudah ramai dengan anak2 & semua teman hadrohnya. "wangalaikumsallam" jawab seluruh yg ada di dalam aula hampir bersamaan. "saya ngga telat ini kan?" "bu afrin ngga pernah telat ko, apa lagi telat lewat dalam hati saya" cletuk dodi pemuda anggota hadroh yg memang pandai melwak & menghidupkan suasana. "genit kamu dod" jawad ida menimpalinya. sementara ahdan hanya menanggapinya dengan senyuman teduhnya saat, temen2nya menggoda afrina. ya afrina selain cantik paras & juga ahlaknya, dia pandai membawa diri, cerdas & berwawasan luas, ikhwan mana yg ketika melihatnya tidak ingin mengenalnya lebih jauh. " ish kalian ini, aku baru juga masuk," keluh afrina sebal. "bercanda, ibu afrina yg paling cantik satu ponpes abah YASIR ini" kekeh robi "ish, ini aku latian dulu apa ngajar anak2 dulu nih?" "kita latian dulu aja kali rin, anak2 ada ustazah azizah sama calon suaminya" ida mengusulkan. " iya lagian nanti kan ada ustadz rifki juga". degggg "afrina bodoh, kenapa bisa lupa kalo kamu satu tanggung jawab sama ustadz rifki" afrina merutki dirinya dlm hati. entah kenapa dia bisa lupa hal sepenting ini, padahal harusnya dia menyiapkan mental karna bakal sering ketemu dengan ustadz rifki. "mba afrin?" suara ahdan mengagetkan afrina dari lamunannya. "eh iya kenapa mas ahdan? "mba afrin ngelamun?" " hayoooo, nglamunin dodi ya?" timpal dodi genit. "ish dodi, engga ko. saya ngga nglamu." " ini kita tes fokal dulu ya" afrina yg selama ini emnjadi vokalis, mengawali latihan mereka hari itu. mereka juga kada bertukar peran & menguji skil berbeda masing2. anak2 yg sedang beljar, juga ramai berlalu lalang memperhatikan mereka. di tengah latihan mereka afrina memegang darbuka untuk di mainkan, jemarinya bisa di bilang cukup lihai untuk skil darbuka seorang vokalis terlebih dia perempuan, tanpa dia sadari ketika sedang asik melantunkan solawat yg di iringi darbuka yg ia mainkan sendiri, seseorang telah memandangya lekat dari arah pintu masuk. orang itu sengaja mengkode seluruh yg melihatnya utk diam, dengan kata lain agar afrina tidka tau kehadirannya, karna dia ingi menikmati momen itu lbh lama. ya dia adalah ustadz rifki yg bisa juga di bilang calon suami afrina . "subhanalloh merdunya suara calon bidadari surgaku, pilihan abah sma umi emang ngga pernah slag" gumamnya dlm hati, tanpa dia sadari garis melengkung terukir di bibir tipis miliknya. membingkai seulas senyum yg bisa membuat siapa saja takjub ketika melihatnya. dia kemudian melangkah masuk setelah di rasa cukup memperhatikan wanita yg sibuk kini tengah sibuk memainkan darbukanya yg di padukan dengan suaran merdu miliknya. "asalamungalaikum" sapa ustadz rifki, sembari melanjutkan langkahnya memasuki aula, mendekati kumpulan anggota hadroh. "walikumsallam" jawab mereka serempak. afrina seketika menghentikan aktifitasnya, dia kaget bukan kepalang. menyadadi suara siapa yg tengah mengucapkan slam, dia geram kenapa tidak ada yg memberitahunya kalo ustadz rifki datang. "bu afrina selain suaranya bagus sekali ternyata pintar main darbuka juga ya?" "aduh jantung kamu bisa diem ngga, biasa aja ngga usah ancul2an gini dong, nanti kalo kamu keluar dari tempatmu gimana" gumam afrin dalam hati mencemooh jantungnya yg tak bisa di ajak kompromi. "kan calon istri dodi ustadz" cletuk dodi asal seperti biasanya. " bohong ustadz jangan dengarin dodi. bu afrina bukan calon siapa2, dia masih milik kami bersama" kini ida menimpali tak kalah ngawur. " ooh begitu ya, apa bu afrina kesayangan semua orang?" "jelas ustadz, bu afrina adalah kesayangan kami semua. jadi ngga boleh ada yg milikin tanpa sizin kita." jawab dodi lagi "jadi apa saya juga termasuk tidak punya kesempatan?" jawab ustads rifki menimpali candaan mereka. tapi sama sekali tidak terdengar seperti orang yg sedang bercanda, tubuh afrina seketika terasa kaku, aliran darahnya serasa berhenti. ada desiran aneh dalam hatinya yg tidak bisa dia jelaskan. "ustadz mau menikahi mba afrina?" tanya ahdan serius. "ahdan kamu jangan bodoh deh, ustadz kan lagi bercanda" sambar afrina cepat. ahdan seketika tersenyum, dia lega karna afrina sendiri yg menyangkal prasangkanya. sedangkang yg di sangkal bisa peka karna si empu yg mau dia publikasikan terlihat blm siap. "ya sudah di lanjut lagi latihannya, saya ke anak2 dulu. oh ya bu afrin juga nanti kalo sudah selesai bisa bergabung dengan ustazah azizah sma kami di sna ya." "i-iya ustadz, ini sebentar lagi selesai ko" jawab afrina gugup, dia benar2 terjebak dengan situasi yg sebelumnya tidak pernah dia bayangkan. *** setelah selesai berlatih dengan teman2nya afrinapun bergabung dengan azizah untu melatih anak2. "asalamungalaikum" "walikunsalammm" "sudah selesai latihannya frin" "udah ini zah," "kenapa pipinya merona kaya udang goreng gitu si frin" azizah yg paham betul dengan sahabatnya itu langsung mengamati raut wajah sahabatnya itu. ya entah kenapa afrina begitu malu & gugup ketika akan mendekati anak2 yg sedang di latih oleh azizah, ustadz rifki & yg lainnya, rasanya ingin lari dari kenyataan saja kalau begini. "friiiiinnnn..." azizah mengguncang bahu sahabatnya karna menyadari pertanyaannya tak mendapat respon. "zizaaah, nyebelin bgt si. aku jitak bolak balik nih" grutu afrina. "lagian kamu uda pipu ke udang goreng gitu, di tanyain malah diem aja" sungut azizah tak kalah geram. " cieee, jangan2 ada yg lagi kasmaran ya" godanya usil sembari menyikut lengan afrina yg sudah duduk di sebelahnya. "ishhh, apaan sih." ketika kedua wanita itu tengah asik berdua ustadz rifki tiba2 menghampiri mereka berdua. "uztazah atau bu afrina, ada yg bisa kasih contoh referensi gerakan untuk ngedane ngga, santri putra ada yg mau mempersembahkan itu, di padukan dengan reper solawat sepertinya akan bagus" "ustadz datang pada orang yg tepat, karna sahabat dunia akhirat saya yg satu ini dulu jago ngedance pas jaman kuliah" kekeh azizah dengan mode jahilnya. "ooh ya, kalo begitu alhamdulillah" jawab ustadz rifki tak kalah antusias. "azizah... enggak ding ustadz itukan dulu banget" "ayolah frin, kamu kenapa jadi malu" gitu" goda azizah semakin senang untuk menjahili sahabatnya itu. " sudah mari bu afrin, apa salahnya kita coba dlu yuk" ajaknya ramah. "mati aku, kenapa harus ngedance si???" batin afrina memberontak, karna sekarang berpapasan dengan ustadz rifki yg tadinya biasa saja sekarang sukses membuatnya begitu salah tingkah. namun kini afrina kini sudah terpojok & tudak bisa menolak. diapun hanya mampu mengekor pasrah dengan perasaan sedikit kesal pada azizah sahabatnya. sesampainya di kumpulan anak2 begitu antusias, melihat afrina yg mereka tunggu2 akhirnya bergabung dengan mereka, tidak santri wan, tidak santri wati afrina memang sangat di cintai oleh murid2nya. "bu afrina, akhirnya ibu datang ke kami juga." seru salah satu santri wati. "iya bu, ibu ngga boleh lupa kalo ibu juga punya kami loh." sela santri putra kemudian. rifki yg hanya terdiam mengamati guru & murid itu, sedikit memijat plipisnya. sepertinya akan sedikit sulit mngeklaimnya sebagai milikku, karna begitu banyak cinta & kasih sayang bertebaran di mana2 untuknya. ustadz rifki kemudian menghela nafas panjang. "baiklah rif, anggap saja ini PR untukmu agar lbh giat berusaha" gumamnya dlm hati menyemangati diri sendiri. "ibu kan udah tiap hari bareng kalin loh, ini udah jatahnya kalian kan kita bareng lagi, sekarang yuk kita mulai belajar ngedance dulu." setiap personil sudah bersiap pada bagiannya masing2. sekarang afrina benar2 gugup karna di tatap begitu bnyak tatap pasang mata, yg menatapnya begitu antusias.namun bujan itu masalahnya, masalahnya sekarang adalah tatapan ustadz rifki yg sulit dia artikan. afrinapun memulai gerakannya, dia lupa di mana posisinya sekarang sehingga dia terbawa suasana, dia bergerak begitu bebas & lihai, membuat semua yg menatapnya takjub. sebenarnya setelah dia kembali & mengajar di pondok pesantren afrina berjanji pada dirinya sendiri utk tidak memperlihatkan sisi diriny yg satu ini pada penghuni pesantren, namun kali ini luruh sudah teguh pendirian itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN