afrina prof

784 Kata
hari ini sumpah hari yg amat melelahkan sekaligus memalukan. "arrrrgghhh, kalo punya ilmu menghilang, mungkin saat itu bakal segera aku gunain." ya setelah tubuh ini begitu bodohnya, mengikuti irama dengan begitu refleks & tidak sadar bagaimana tatapan sseorang di tengah2 kami begitu fokus dengan tatapan yg sulit ku artikan ketika diri ini tersadar saat riuh gemuruh tepuk tangan & suitan dari anak2 didiku. saat itu juga aku mengutuk diriku yg terbiasa melakukan hal2 bodoh dengan mempermalukan diri sendiri. sekilas ku tatap laki2 itu sebelum kutundukan lagi pandanganku, entah apa arti tatapannya yang jelak aku begitu malu. "dasar afrina bodoh, kenap tidak bisa jaga image sedikitpun sih di depan calon suami. ehhh degghh..." ya bolehkah ku sebut dia sebagai calon suamiku? setelah hari itu dia menyatakan secara resmi di depan seluruh keluarga ingin bertaaruf denganku. laki2 yg begitu di idolakan para ukhty2 berilmu agama tinggi, & beradab sopan, kalem pendiam. sedangkan aku bukannya berlomba memenangkan hatinya, malah hari ini sepertinya aku telah membuat kesalahan besar di depannya. ahsudahlah semua sudah terjadi, jodoh bukanlah ajang perlombaan siapa yg terlihat paling baik, tp jodoh adalah ketentuan mutlak yg tidak bisa kita ganggu gugat. ketika kita ingin tp yg di atas tidak ridho, maka tidak akan jdi apa2. *** hari itu aku kembali dari aula dengan perasaan yg sangat entah. rasa lelah sekaligus malu membaur menjadi satu, setelah ini santri2 yg tadi menyaksikan kebodohanku pasti akan tambah gencar menggangguku. ah biarlah, hari ini rasanya lelah sekali, kepalaku juga sedikit pusing sepulang dari aula, aku membersihkan tubuhku lalu mengganti pakaianku tp rasanya kepala ini semakin berat. setelah melaksanakan sholat asar di kamar aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur, berharap bisa mengurangi rasa pusing yg menghinggapi kepalaku. aku sampai tidak sholat berjamaah karna kepalaku terlalu pusing, kukirimkan pesan singkat pada azizah agar orang2 tak khawatir denganku. aku tidak tau kenapa dengan tubuhku, jika aktifitasku terlalu padat maka tubuhku pasti akan langsung tumbang, di awali dari gejala2 kecil yg akan berimbas ke tenggorokanku. ya aku memiliki riwayat rahang tenggorokan dari aku msh kecil, bahkan saat kecil mamaku melarang keras aku makan es. ketika dewasa saat aku seharusnya sudah bisa menjaga tubuhku sendiri malah justru ku bebaskan sesuka hati. ya aku tidak memantang apapun, hanya menghafal & membiasakan diri. maka radang bagiku bukan lagi rasa sakit yg berarti. azizah adalah sahabatku dari kecil dia cukup hafal dengan semua yg berkaitan dengan diriku & sebaliknya. sore itu sepertinya aku baru saja memejamkan matanya saat ketukan pintu membuatku terjaga, aku kemudian membuka mataku lalu bangun & beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu. " asalamungalaikum, tok... tok.. tok..." "walikum sallam, sebentar zah..." ya aku tau itu sahabatku azizah karna aku begitu hafal dengan suaranya. aku membukakan pintu untuk azizah. "kle..., masuk zah" "kamu kenapa,??? rahangmu kambuh,,,?" cecarnya padaku. "aku cuma kecapean, kepalaku pusing" " ini ku bawakan vitamin, & obat" azizah meletakan satu bungkusan di kresek putih yg dia bawa. "zah, aku nggak papa." "iya aku tau, tapi kamu itu ringkih, kalo aktifitas lagi padet, jangan lupa bawa fitamin, minum juga yang banyak!". "iya,,, iyaaa, ya ampun kmu ini," ya, azizah memang seperti itu dia akan mengomel & menceramahiku, ketika aku sedang tidak enak badan. "ada yg nanyain tadi" ucap azizah dengan ekspresi yg seperti menuntut penjelasan. "siapa?" "ustadz rifki" ucap azizah dengan sorot mata tajam menatapku seakan ingin memakanku. "deggg,,, kenapa perasaanku tidak enak y" gumamku dalam hati. "lashira afrina.... ada yg kamu sembunyikan dariku???" tanya azizah menyelidik penuh penekanan. " maksud kamu apa zah" aku berpura2 tidak mengerti apa maksudnya. " jangan coba menglabuhiku ya cantikkk,,," terangnya geram sembari mencubit pipiku, membuatku sukses mngaduh. "aduuuuhhh, zizah sakit" aku memegang pipiku yg di cubitnya. azizah masih menatapku, dalam diamnya aku tau dia menuntut penjelasan padaku. " iya iya, aku ceritain" seketika ekspresi sahabatku itu di hiasi binar bahagia penuh kemenangan. " aku sama ustadz rifki lagi ngejalanin proses taaruf" "haaah??? serius??? azizah menggoncang2kan tubuhku. "ish,,, emang terlihat lagi bercanda, jangan main gocang2 dong. kepalaku tmbah pusing" sungutku dia mendekat & memelukku erat. " aku bahagia sekali frin, karna aku tidak harus bersusah payah mendekatkanmu dengan ustadz rifki. ternyata takdir sudah mendekatkan kalian lebih dulu." seketika aku menoleh, menatap tajam wajah sahabatku yg sekarang menatapku cengengesan. "maksudnya?" " ya gitulah, aku kan juga mau kamu dapatkan orang yang baik untuk berada di sisimu, menjagamu ketika aku sudah menikah nanti." "haaaaahhh, aku ngga tau dia jodohku atau bukan ziz, yg jelas aku sudah tidak bisa banyak berharap. karna aku sudah mempermalukan diriku di hadapannya." aku menutup wajahku frustasi. " dia, akan menyayangimu seperti ayahmu menyayangimu frin." terangnya penuh keyakinan. " iya, semoga saja" azizah memelukku begitu erat sore itu, kami menghabiskan waktu senja dengan hal2 yg menyenangkan. setidaknya sakit kepalaku sekarang sudah mulai berkurang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN