rifki memijat plipisnya pelan, hari ini sungguh hari yg penuh kejutan. setelah semua yg terjadi hari ini otakku justru tak bisa lepas dari sososk gadis itu,
"astagfirulloh hal'adim" batinku ber istigfar memohon ampun, karna tidak sepantasnya ikhwan membayangkan seorang ahwat yang belum muhrim.
"arrrrrggggh" aku mnegacak rambutku frustasi, aku seperti mendapat kejutan setiap selangkah aku mengenal lebih dalam tentangnya. sosok yg begitu cantik, penuh bakat, penuh wibawa meski dalam kekonyolannya sekalipun, ya ciptaan tuhan yg di ciptakan tuhan nyaris tanpa celah, bahkan saat dia melakukan kegiatan absurd yang menurut kebanyakan orang itu konyol, justru membuatnya semakin menarik.
" ah lama2 bisa aku yg jadi konyol, aku tidak bisa janji menhan diri untuk tidak mengklaimnya menjadi milikku segera."
LASHIRA AFRINA, gadis yang berapa hari lalu di ajukan abah & umi menjadi kandidat calon istriku. bukan hanya sekedar kandidat tapi sekarang dia sudah berhasil menguasai ingatankku, memaksaku selalu mengedarkan pandanganku kemana saja ku memandang. sekarang aku selalu berharap bisa selalu menatapnya, melihat senyuman khasnya, suara yg merdu, & tentu saja dengan tingakh absudrnya.
abah memberiku waktu 3 bulan untuk mengenalnya, tp rasanya satu bulan saja aku seperti tidak bisa menahan diriku, aku ingin segera memilikinya, menjadikannya halal untukku, memberikannya larangan agar tidak bertingkah di luar sana, yg menjadikan dia semakin menarik di mata siapa saja yang memandang, demi alloh diri ini tidak ridho.
"ampuni keegoisan hamba kali ini ya alloh" aku yg selalu menjaga sikap terlebih di depan lawan jenisku, kini di buat frustasi oleh tingkah ciptaan tuhan yg satu itu. setiap gerakan & aktifitasnya seolah mendorongku untuk mendekat, melindungi dari tatap mata yg seharusnya tidak menatap tingkahnya yg sungguh membuat setiap ikhwan ingin memilikinya, ya kalo kalian bilang aku tidak sabaran, aku tidak akan menyangkal. karna itu memang benar adanya.
****
sore itu setelah selesai melaksanakan solat berjamaah di masjid pesantren, aku kembali mengedarkan pandangan ku ke seluruh jamaah. tak jarang santri wati yang menatapku tersenyum & menyapa dengan berbagai macam tingkahnya.
tapi sekian lama tidak ada yg membuatku tertarik pada salah satu dari mereka, mereka terlihat sma, anak2 yg bagiku masih kecil atau seperti teman biasa saja. aku kemudian berbalik untuk kembali ke ndalem saat yg ingin ku lihat tidak tampak meski sudah kestiap sudut mata ini mengedarkan pandangan.
saat di persimpangan aku bertemu dengan ustazah azizah.
"asalamungalaikum ustazah"
"walikumsalam ustadz"
"ustazah dari mana? sendirian saja?" tanyaku sedikit berbasa-basi. berharap mendapan pencerahan dari rasa gelisah yg bersarang di dlm fikiranku.
"dari depan ustadz, iya saya kebatulan sendiri."
"biasanya ustazah tidak lepas dari bu afrina?"
dia melihat sekilas padaku yg kini ada di hadapannya dengan pandangan menyelidik.
"bu afrina tidak ikut, dia tadi tidak ikut solat berjamaah. kegiatan hari ini yg cukup padat sepertinya membuat dia sedikit kelelahan."
terangnya seperti sengaja ingin menjelaskan semuanya, dengan tatapan yg sekilas lebih mirip tatapan yg menuntut penjelasan.
" ooh begitu, kalo gitu saya permisi dlu asalamungalaikum."
"walikumsallam "
entah kenapa aku menjadi sedikit lega & lebih tenang setelah mengetahui kabarnya meski lewat orang lain.
"lihatlah afrina. kamu pemenangnya sekarang" gumam batinku.
laki2 yg tak pernah terfikir utk mengagumi perempuan kini di buat tak tahu malu dengan terang2an menanyakanmu pada sahabatmu, hanya karna ingin memastikan kau baik2 saja.
***
setelah sekian lama hati ini seperti tanah yg tandus, begitu kering tak tersentuh air, kepedulian orang2 terkasih yg ingin melihat hati yang kering subur kembali membawaku menemukanmu.
ya kamu, kamu laksana hujan yg membasahi tanah yg sudah lama di landa kekeringan, menciptakan kesejukan di setiap tetes perilaku yg kau lakukan di depan pandangan.
kau tak hanya singgah membasahi hati yang kering, tapi kau menetap menumbuhkan kembali rasa cinta yg sudah lama mati. aku yang awalnya tak tentu arah kini mulai menemuka tujuan.
"afrina kali ini aku takkan kalah, kan ku jadikan engkau menjadi yg halal hanya untukku"
dia datang belum lama, tapi sudah mampu menggoyahkan segala sikap dingin & acuh pada mahluk yg bergelar wanita, kmu yg sudah membuatku tidak bisa menunggu lama. aku akan membuatmu menjadi halal untukku, baru akan ku buat kamu jatuh cinta.
agar segalanya menjadi pahala & tidho sang pencipta tetap untuk kita.