sahabat

458 Kata
sore itu afrina merasa sangat lelah, dia baru saja kembali dari kelas mengajar ngaji anak2 MI, biasanya afrina memiliki jedda waktu untuk istirahat sejenak, tp karna hari ini ada rapat jadi dia tidak sempat untuk rehat. saat dirinya merebahkan tubuhnya di ranjang, dirinya kembali terbayang sosok ustadz rifki yg akan lbh bnyak waktu dengan dia, karna mengurus persiapan maulid, afrin menghela nafasnya panjang, lalu menghmbuskannya sedikit kasar. "ustadz rifki, laki2 tampan, mapan, tapi dingin kaya kutub utara, dia bahkan tidak tau tentang bagaimana sebenarnya ustadz rifki itu, dia hanya sesekali bertemu & saling sapa itu saja". meski dia adalah bagian dari salah satu pesantren tapi afrina sungguh tidak tertarik pada hal2 merepotkan, seperti mengagumi laki2 yg memiliki banyak penggemar. "afrinaaaaa!!!!" "astaghfirullooooooh" reflek tangannya menyambar bantal yg ada di sebelahnya & melemparnya ke si sumber suara. "azizaaaaahhhh!!!" triaknya kesal. "hehehe maaf afrin cantik" "dateng2 tu salam zizah, bukan kaya orang utan kaya gitu triaknya" sungut afrina masih kesal pada sahabatnya itu. " aku udah ucap salam 3x loh, tapi tak kunjung ada balasan. eh pintunya tidak di kunci ya sudah aku masuk saja" azizah menjelaskan. "masa sih?" tanya afrina tak percaya. "yah bu guru, mana pernah si aku bohong sama kamu friiiiiinnnn....? lagian ngapain si tidur engga, ada orang salam ngga denger? ngalamun yaaa?" ledek zizah. "apaan si enggak" elak afrin. "bohong dosa loh, siapa si yg membuat sahabat cantik zizah ini melamun segitunya?" "apaan sih ziz" "jangan bohong sma zizah, ayo crita zizah tungguin nih" "ih maksa bgt deh" "ya iyalah, zizah aja kan ngga pernah ada rahasia sma kamu" " ya udah iya bu ustazah azizah" zizah tersenyum puas penuh kemenangan. lalu ikut bergabung dengan afrin di atas kasur. " jadi apa nih critanya?" dengan wajah ta sabar zizah bertanya. afrin menghelanafasnya lalu menghembuskannya kasar. "soal persiapan maulid ziz" "kenapa" "sebenarnya aku kurang setuju aja kalo di sandingkan dengan ustadz rifki." "kenapa? harusnya bersyukur lo frin, karna banyak bgt yang mengharapkan dpat posisi itu?." "justru itu, karna banyak yg menginginkan posisi itu, aku jadi tidak nyaman" "sudah, ngga usah segan gitu frin. lagian kan yg membuat keputusan abah yai, bukan kamu sendiri." "iya sih, tapi tetap saja." "ini adalah maulid pertama ustadz rifki di podok, tahun2 sebelumnya kan dia sibuk membangun bisnisnya, ya barangkali nanti kamu jadi jodohnya" "dih ngawur, seorang afrina menjadi menantu abah yai, sepertinya tidak mungkin." "lah memang kamu tau takdir alloh" "ya tidak si" "ya sudah, ku doakan semoga kamu berjodoh sma ustadz rifki." "lah ko gitu ziz, kan kmu tau aku." " makanya karna aku tau kamu, aku bulan depan akan menikah loh frin, apa kamu blm ingin segera di halalkan juga." "oke stop zizah! ini pembahasan kita udah keluar dari zona inti ya" zizah hanya terkekeh geli melihat respon sahabatnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN