pertemuan,

533 Kata
hari ini hari yg cukup melelahkan, setelah obrolannya dengan zizah kemarin, sungguh tidak menemukan solusi sma sekali, membuat afrin pasrah untu menjalani saja sesuai apa yg terjadi, hari ini adalah hari yg padat setelah mengajar selesai entah kenapa tiba2 umi zahro mendatangi afrina. tok, tok, tok,,,, "asalamungalaukum" ceklek pintu terbuka menampilkan wajah si empu yang terlihat baru selesai mandi, dengan handuk yg msh membungkus rambutnya afrin membukakan pintu. "walikumsallam, ah ummmi." afrin mengulurkan tangannya, menjabat serta mencium tangan ummi zahro. "monggo pinarak ummi." tawarnya pada ummi zahro. "tidak usah nak, ummi di sini saja. mau ada perlu sebentar sma afrin". karna ini di luar jam mengajar & tdk di lingkungan pesantren maka umi ataupun abah yai biasanya akan bicara non formal pda afrin. "njih umi, pripun? ada yg bisa afrin bantu?" "begini nak, nanti sore ummi akan kedatangan tamu, apa kamu bisa bantu umi masak?, umu rencananya mau bikin hidangan kecil untuk menyambut mereka?." "insyaalloh bisa umi, tapi afrin siap2 dulu." "iya nak, kalo begitu umi duluan ya, umi tunggu di ndalem." "injih ummi." "terimakasih nak, asallamungalaikum." "sama2,walikumsallam umu.," afrin menatap kepergian wanita itu dengan perasaan yg tidak bisa di jelaskan. beribu pertanyaan sudah bertumpuk di benaknya. "kenapa aku,? dari sekian banyak orang di pondok pesantren ini, bahkan ummi sendiri yg datang ke kamarku?" batin afrin terus bertanya, " yaalloh, udah di tungguin malah sibuk dengan pertanyaan bodoh". afrin memukul pelan jidatnya, utk menepis segala hal yg iya terka2 sendiri. setelah bersiap afrin segera bergegas menuju ndalem, yaitu tempat kediaman keluarga abah yai. karna buru2 di tengah perjalanannya afrin tidak sengaja menabrak seseorang. bruk, afrin hampir saja terjatuh. "astaghfirulloh afwan ustadz" afrina menangkupkan kedua tangannya, ketika ia menabrak seseorang. "tidak apa2 bu, lain kali kalo jalan hati2,!" afrina tersenyum malu sekali. "iya ustadz, saya duluan asalamungalaikum" "walikumsallam" "mashaalloh harumnya wangimu, indahnya senyuman itu, senyum yg bahkan belum pernah aku lihat, saking aku tidak pernah memperhatikannya." humam ustadz rifki dalam hati sembari menatap kepergian gadis yg tengah menabraknya "asalamungalaukum" ucap seseorang sembari menepuk bahu ustadz rifki. "walikumsallam, bang ibnu.?" "sedang milihat siapa?" tanya ustadz ibnu sembari tersenyum geli melihat sahabat sekaligus adik sepupunya yg di buat kaget oleh kehadirannya. "tidak bang." killah ustadz rifki. "kalo antum suka, segera pastikan, banyak yg ngantri rebutan buat dapatin hatinya." jelas ustadz ibnu sambil terkekeh pelan. ustadz rifrki tersenyum malu, karna sahabat sekaligus abang sepupunya itu memang tidak pernah bisa di bohongi, dia begitu hafal dengan sifat rifki. "masih jauh bang, paham saja tidak dengan seluk beluk beliau." "dia gadis baik, sopan, berpendidikan, tipikal yg cuek pada orang yg baru dia kenal, tp akan begitu menyenangkan jika sudah saling mengenal." "wah, sepertinya abang banyak tau tentang bu afrina ya.?" "dia sahabatnya azizah, calon istri abang." "jadi dia dekat dengan ustazah azizah.?" "iya mereka satu angkatan ketika masuk pesantren, tapi afrina memilih melanjutkan kuliahnya di luar". ustadz rifki menganggukan kepalanya tanda ia paham. " abang tau kamu ki, jika benar dia sudah berhasil mengusik hatimu, maka segerakanlah niat baik" ustadz ibnu berbisik sembari menepuk pundak adiknya itu."aku duluan asalamungalaikum" "walikumsallam" ustadz rifki menatap heran kepergian kaka sepupunya itu, dia baru ingat kalau dia tengah di tunggu para santri di kelas. "astaghfirulloh, sudah telat" gumamnya ketika melirik arloji di tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN