rifki prof

578 Kata
entah kenapa semenjak pertemuan tadi & mengenai kata2 bang ibnu terus berputar di kepalaku. "benarkah seorang safhira afrina tengah mengusik hatiku, hati yg sekian purnama tidak merasakan reflek bahkan ketika ada seorang lawan jenis yang terang2an mengungkapkan perasaannya padaku?" "hati yg sedingin es, bahkan tak jarang orang mengatai sikapku yg terlalu dingin pada perempuan, bukan aku tidak tertarik pada mereka. tp luka yg di tinggalkannya dulu membekas teramat dalam, sekalipun aku sudah ikhlas. aku masih menutup hatiku untuk orang lain. bukan karna rasaku yg masih ada, hanya saja ketakutanku akan kecewa yg sama". " ya aku bukan laki2 yg tidak pernah jatuh cinta, aku pernah jatuh cinta pada adik kelasku dulu ketika aku kulish di mesir. aku melamarnya ketika kuliahku lulus. aku ingin segera mengajaknya menikah, tapi dia menolak dengan alasan dia ingin menyelesaikan kuliahnya. aku memberinya waktu untuk dia menyelesaikan kuliahnya di bidang hukum, kami menjalani hari dengan LDR. kami tak terlalu sering bertukar kabar, untuk menjaga diri agar terhindar dari fitnah. hanya sesekali kami mengirim email satu sma lain, dia yg akan berceloteh tentang kuliahnya & aku membahas bisnis yg tengah ku kembangkan. sebatas itu saja kabar kami . hingga suatu hari dia mengabari kuliahnya tengah selesai & dia akan kembali ke indonesia setelah wisuda, "tidak bisa ku pungkiri hari itu aku sangat bahagia, selain bisnisku yg mngalami kemajuan pesat, akhirnya penantianku menunggunya akan berahir." saat itu aku berfikir setelah dia kembali maka mungkin inilah saat yg tepat untuk aku menghalalkannya. tapi takdir alloh kala itu berkata lain,. "wanita yg selama ini ku tunggu kedatangannya, tidak bersedia untuk segera ku nikahi." "dia bersikeras untuk melanjutkan kuliah S2nya di jerman, karna dia mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di sana". ketika keluargaku mengunjungi kediamannya untuk membicarakan hari pernikahan di sanalah titik kehancuran itu berasal. "sinta mau melanjutkan kuliah sinta dulu bund, ayah. mas rifki juga pasti ngertinkan, kalo ini kesempatan emas, sinta harap abah sama umi juga akan setuju, nggak lama ko 3 tahun saja mas." ucapan wanita yg ku tunggu2 kepulangannya itu bagai petir di siang hari. "abah sama umi tidak bisa mengambil keputusan, semua kembali pada kalian, bagai mana bakinya utk kamu & rifki, bagaimana rif.?" ucapan abah seketika menyadarkanku dari gemuruh di d**a yg saat ini ku tahan. "aku sudah menunggumu 3 tahun sin, spa belum cukup? aku tidak butuh istri yg punya gelar tinggi, aku hanya butuh istri yg cukuo pendidikan & berahlak baik untuk anak2ku kelak." ucapku dengan nada frustasi. "rifki benar nak, kamu kan perempuan, sudah cukup tinggi dengan gelar S1-mu." sekarang om herman ayah sinta yg berusaha membujuk wanita itu. "tapi kesempatan ini tidak akan datang 2x, pkoknya sinta akan ttep berangkat ke jerman. titik." "ya sudah jika itu maumu, tapi aku sudah tidak bisa lagi menunggu," "kalau ada orang lain yg mengisi hati mas rifki sebelum sinta pulang, sinta ikhlas mas rifki menikah dengan orang itu, tapi sinta yakin mas rifki akan bisa menunggu sampai sinta kembali" jelasnya penuh percaya diri, "kalau itu maumu, mulai sekarang hubungan pertunangan kita selesai, kamu bebas melakukan apapun sin.!" setelah perdebatan panjang yg berujung kekecewaan itu, membuat hatiku mengalami kecewa yg sangat dalam. membuatku tersadar jika aku telah berharap lebih pada sesama manusia. semenjak saat itu aku menutup hati untuk siapa saja yg hadir, aku benar2 ingin menikmati masa kesendirian ini, menyembuhkan luka sampai saatnya tiba nanti alloh sndiri yg mendatangkan orang yg tetap, orang yg akan membuat hatiku bergetar kembali, irama jantung yg akan lebih cepat dari biasanya jika tak sengaja bersua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN