Setelah mendapat izin dari Fairel untuk pulang lebih cepat, Parveen pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Langsung saja ia bergegas membereskan barang-barangnya untuk segera meninggalkan kantor. Hatinya bersorak senang saat mengingat bahwa Erina akan menanti dirinya di toko roti milik Nenek Sun.
Dengan menggendong tas kecil dengan membiarkan satu tali tergantung bebas, Parveen mulai melangkah keluar ruangannya. Tak lupa ia mengunci pintu seperti perintah Fairel tadi sebelum dirinya benar-benar melangkah dari ruangan kebesarannya.
Melompat-lompat kecil Parveen mulai menyusuri koridor kantor. Tidak sedikit karyawan menyapa dirinya. Padahal saat kedatangannya pagi tadi, tidak ada satu orang pun yang bersimpati atau melemparkan sebuah pertolongan. Namun, ketika mengetahui bahwa dirinya adalah sekretaris pribadi Fairel, semua karyawan di sana berbondong-bondong menghampirinya hanya untuk mencari perhatian Fairel.
Ketika berbelok hendak menaiki evalator tiba-tiba Parveen dikejutkan oleh kehadiran Fairel yang muncul tepat di hadapannya, sama-sama ingin menaiki evalator. Sontak gadis mungil itu memundurkan langkahnya menghindari tabrakan antara dirinya dan Fairel.
“Silakan, Pak!” ujar Parveen dengan kikuk.
Fairel mengangguk singkat, lalu melangkah memasuki evalator. Sementara Parveen buru-buru mengikutinya.
“Lantai berapa, Pak?” tanya Parveen lagi-lagi mengusik Fairel.
Dengan mengembuskan napasnya lelah, Fairel berujar, “Basement.”
Parveen mengangguk, lalu menekan tombol basement dan kembali berdiri tegak. Tentu saja hal tersebut tak luput dari perhatian Fairel.
“Kenapa lantai basement? Kamu mau ke sana juga?” tanya Fairel dengan bahasa Mandarin yang lancar.
Keduanya memang sering memakai bahasa yang berbeda. Ketika berada di luar mungkin Fairel akan mengajak Parveen memakai bahasa Indonesia, begitupun sebaliknya. Dan karena mereka berdua sedang berada di kantor, jadi Fairel memutuskan untuk berbahasa Indonesia saja daripada menjadi bahan gunjingan kantor.
“Tidak, Direktur. Saya hanya ingin mengantarkan Direktur Fairel untuk sampai di basement,” jawab Parveen tersenyum ramah.
“Kalau begitu sekalian saja pulang sama saya,” sahut Fairel tanpa beban.
Spontan Parveen menatap Fairel yang berada di sampingnya. Garis-garis rahang yang tegas membuat dirinya terpana. Bagaimana bisa ada lelaki gagah sekaligus cantik ada di dalam diri bos besarnya itu.
“Tidak, Direktur. Saya bisa menaiki bus,” tolak Parveen halus.
“Satu hal yang harus kamu tahu, saya tidak menerima penolakan.”
Langsung saja setelah pintu evalator terbuka, Fairel meraih pergelangan tangan Parveen. Memastikan gadis itu tidak pergi dari jangkauannya. Memang bukan hal yang asing lagi bagi Fairel untuk mengetahui sifat asli dari Parveen.
Tangan kecil yang ada di genggamannya terasa sangat pas untuk mengisi kekosongan tangannya yang tidak diisi selama bertahun-tahun. Kala itu memang Fairel merasakan sakit hati yang amat luar biasa akibat Alley.
Seorang gadis cantik keturunan Cina-Korea yang sudah lama dipinangnya itu. Namun, siapa sangka ternyata Alley pergi meninggalkannya. Setiap malam ia selalu terbayang-bayang oleh wajah indah Alley hingga sampai puncaknya Fairel sakit dan bahkan hampir saja mengakhiri hidupnya.
Daiyan pun merasa sangat benci pada wanita itu. apalagi Fairel adalah adik kesayangannya yang sudah jelas-jelas sangat mencintai Alley. Tetapi, terlepas dari itu semua Daiyan sungguh berterima kasih, karena dirinya tidak perlu mengerahkan seluruh tenaga hanya untuk menyelidiki wanita itu.
Namun, kehadiran Parveen membuat Fairel kembali merasa kehangatan seorang wanita. Parveen memang bukanlah wanita dewasa seperti Alley. Parveen memiliki pancaran dan pesona tersendiri di balik senyuman manisnya kepada semua orang. Apalagi Fairel tahu bahwa Parveen-lah yang menyelamatkan mommy-nya dari pencopet.
Di negara besar seperti ini, orang tidak akan menanggung resiko hanya untuk menyelamatkan orang lain. Terlebih Parveen adalah gadis biasa yang tidak memiliki kerabat satu pun.
***
Perasaan Daiyan sedikit lebih tenang daripada tadi saar dirinya mencari Valeeqa yang ujung-ujungnya berada di kantor Fairel. Daiyan pun tidak habis pikir, bagaimana dirinya bisa tidak mengingat pekerjaan Valeeqa yang tidak hanya menjadi sekretarisnya, melainkan merangkap pula menjadi sekretaris dadakan bagi Fairel.
Sifat kekanakan Fairel memang tidak patut dipersalahkan, tetapi akibatnya Daiyan harus rela membagi Valeeqa hanya untuk mengurusi pekerjaan Fairel yang tidak sempat dikerjakan oleh lelaki itu.
Dan ternyata, Fairel telah memiliki sekretaris baru. Hal yang tidak pernah Daiyan sangka adalah sejak kapan adiknya itu mengenal Parveen. Padahal dirinya sudah menyarankan banyak perempuan maupun laki-laki hanya untuk menjadi sekretaris Fairel, tetapi dengan tegas adiknya itu tetap bersikeras untuk tidak akan memiliki sekretaris lagi, sampai hari ini ia masih tidak percaya.
Daiyan menggeleng pelan, membuat Valeeqa yang berada di sampingnya menoleh bingung. Sejak kepergiannya dari kantor Fairel, Daiyan memang menjadi sedikit aneh.
“Yan, lo kenapa?” tanya Valeeqa penasaran.
“Ha?”beo Daiyan spontan.
“Ih, lo kenapa sih? Dari tadi gue perhatiin lo ketawa sendiri, melamun sendiri, bahkan tadi lo menggelng sendiri. Aneh tahu nggak?” sungut Valeeqa kesal.
Daiyan tertawa pelan sambil sesekali menoleh ke arah Valeeqa. Sekretarisnya ini memang sangat menggemaskan jika sedang marah. Oh Tuhan! Kalau saja ia tidak ingat akan janjinya pada sang mommy, mungkin dirinya akan segera menikahi Valeeqa.
“Gue cuma nggak habis pikir aja sama Fairel. Mommy bujuk dia pakai apa sampai mau punya sekretaris baru,” ujar Daiyan tersenyum geli.
Sejenak Valeeqa terdiam, ada benarnya juga apa yang dikatakan Daiyan tadi. Sebab, siapapun tahu bagaimana keras kepalanya Fairel ketika hendak disarankan untuk mencari sekretaris baru.
Sudah banyak kali Daiyan dan Valeeqa mencarikan sekretaris baru, baik itu fresh graduate sampai yang sudah sangat ahli. Namun, tidak satu pun hasilnya memuaskan. Tetapi, sejak kedatangan Parveen yang ia rasa tidak terlalu berpengalaman Fairel menjadi pribadi yang berbeda, bahkan hampir sama seperti saat hadirnya Alley dulu.
Valeeqa bukannya membandingkan antara dua perempuan yang berbeda itu, tetapi bolehkan ia jujur bahwa Parveen memiliki aura tersendiri. Aura yang tidak pernah dimiliki oleh perempuan mana pun.
Semoga saja Fairel berubah menjadi hangat seperti dulu. Sebab, ia sangat-sangat rindu gurauan receh Fairel yang selalu mengejeknya kala berdekatan dengan Daiyan. Ngomong-ngomong soal Daiyan, ia menjadi ingat bagaimana awal dirinya bertemu dengan lelaki itu.
Tidak seperti di cerita-cerita biasanya, Valeeqa dan Daiyan itu bertemu kala ada sebuah peluncuran salah satu properti milik pekerjaannya yang dulu. Saat itu Valeeqa bingung hendak meminta bantuan pada siapa, hingga akhirnya ia melihat Daiyan. Tanpa pikir panjang dirinya langsung membawa Daiyan dengan paksa.
Padahal lelaki itu sempat protes, tetapi ia bahkan tidak peduli atas protesannya, yang terpenting adalah pekerjaannya harus selesai. Dan benar saja Daiyan membantu Valeeqa tanpa memperdulikan title Daiyan adalah salah satu jajaran bos besar dari perluncuran tersebut.
Hingga tanpa sadar, kejadian itu membuat seisi perusahaannya gempar akibat keteledoran Valeeqa yang menyuruh bos besar untuk membantu dirinya. Kala itu Valeeqa frustasi, sudah dipecat tidak diberi pesangin pula, menyebalkan sekali Si Buncit Yuan itu.
Sampai akhirnya ia bertemu kembali dengan bos sialan itu di salah satu rapat, dan yang membuatnya terkejut adalah Yuan sama sekali tidak mengenalinya. Valeeqa sendiri tidak tahu menahu apakah Yuan hanya berpura-pura atau memang tidak tahu. Hanya dia dan Tuhan-lah yang tahu.
“Tapi, menurut gue Parveen itu baik lho, Yan.” Valeeqa menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok sambil memandangi wajah serius Daiyan.
“Iya gue tahu,” balas Daiyan sambil menoleh sekilas pada Valeeqa.
Bibir Valeeqa tersenyum kecil. Wajah Daiyan memang tidak pernah berubah dari dulu. Hanya garis-garis rahang yang lebih menonjol hingga membuatnya sedikit salah tingkah. Apalagi tatapan lembut Daiyan yang membuat dirinya sedikit terlena.
Lelaki gagah itu memang selalu tahu bagaimana cara membuat Valeeqa salah tingkah. Apalagi garis kematangan Daiyan yang semakin menonjol.
“Menurut lo Parveen gimana, Yan?” tanya Valeeqa memajukkan tubuhnya. Meraih lengan Daiyan dan bersandar pada laki-laki itu.
Daiyan pun menyambut kepala Valeeqa dengan senang hati. Sikap manja Valeeqa memang sering muncul ketika mereka berduaan seperti ini. Tentu saja ini adalah kesempatan emas bagi Daiyan.
“Kayaknya dia polos banget, ya,” jawab Daiyan dengan dahi berkerut dalam.
Valeeqa tertawa pelan mendengar jawaban lelaki itu. Dirinya memang sempat berpikir bahwa Parveen adalah anak SMA yang tersesat di dalam kantor, tetapi dugaannya salah kala melihat sebuah amplop cokelat yang bertuliskan lamaran kerja.
“Gue juga nggak nyangka kalau dia udah dewasa. Padahal dari segi wajah, pakaian, dan tingkah lakunya. Parveen termasuk jajaran wanita yang terlambat dewasa,” jelas Valeeqa tersenyum geli.
“Tetapi, lewat dari itu semua Parveen adalah satu-satunya perempuan yang bisa matahin presepsi Fairel tentang perempuan,” sahut Daiyan yang mendapat anggukan dari Valeeqa.
Keduanya terdiam menatap jalan lurus yang tampak sepi. Kali ini Daiyan dan Valeeqa berniat untuk kembali ke rumah yang tengah di huni oleh Scarlett. Sudah lama keduanya tidak ke sana.
Valeeqa pun masih setia dengan sandaran di bahu Daiyan. Bahkan matanya pun mulai tertutup, membuat Daiyan tersenyum geli dan menepikan mobilnya. Ia hendak membenarkan letak duduk Valeeqa yang terlihat tidak nyaman.
Dengan menekah salah satu tombol di kursi jok tersebut perlahan mulai merendah, Valeeqa bergerak sedikit, lalu kembali ke alam bawah sadarnya. Setelah dirasa nyaman, Daiyan pun kembali melajukan mobilnya.
Hingga suatu ketika hal mengerikan pun terjadi. Ada sekelompok orang berbaju hitam tengah menghadang mobilnya. Tentu saja Daiyan takut laki-laki itu akan melukai Valeeqa. Dengan menoleh sekilas memastikan bahwa Valeeqa tidak akan terusik, Daiyan pun melangkah keluar.