Part 13. Siswa Baru

1382 Kata
Setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Yona masih beristirahat di rumah selama dua hari untuk memulihkan kondisinya sebelum kembali beraktivitas. Dan setelah benar-benar merasa fit, Yona pun kembali bersekolah. Seperti pagi itu, Arfa sudah siap di meja makan ketika sudah selesai memasak, untuk sarapan bersama sebelum mengantar Yona pergi ke sekolah. Sedangkan Arfa sendiri baru akan berangkat bekerja pukul sembilan pagi. Jam operasional kedai kopinya yaitu dari pukul sepuluh pagi hingga pukul sepuluh malam. Dia dan Rangga mengatur jadwal secara bergantian untuk mengontrol kondisi kedai mereka. Jika Arfa mendapatkan shift pagi hingga sore, maka shift sore hingga malam akan diisi oleh Rangga. Begitu pula sebaliknya. “Makan yang banyak, Nak. Biar sehat.” Pesan Arfa pada Yona yang terlihat kurang bersemangat mengunyah makanannya. “Aku udah sehat, Ma.”  “Iya, tapi masih lesu gitu makannya. Kayak orang lagi patah hati.” Sindir Arfa yang langsung membuat Yona mengedipkan matanya beberapa kali saat mendengar ucapan Arfa, lalu menunduk malu menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah. Juga menyembunyikan raut sedih yang mungkin saja dapat dibaca oleh mamanya. “Nggak usah malu, Mama juga pernah muda, Sayang.” Yona masih terdiam. “Tenang aja. Nanti kamu pasti ketemu sama lelaki yang terbaik buat kamu, yang sayang sama kamu. Sekarang, fokus belajar dulu. Oke?” Seru Arfa dengan nada riang untuk menghibur putrinya, membuat Yona mendongakkan wajahnya. “Ma… Jangan bilang sama Gaga ya? Kalo aku nggak suka sama Kak Hasna.” Pinta Yona dengan tatapan memohon. Arfa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Cepat habiskan makanannya. Nanti kamu telat loh.” “Mama… Janji dulu…” Rajuk Yona manja. “Janji apaan? Janji hati?” Ucap Arfa menggoda Yona dengan menyebutkan nama kedai kopi miliknya dan Rangga. Yona mengerucutkan bibirnya, lalu berdiri dan mengambil tas sekolahnya di kursi yang terletak di sampingnya. “Mama nggak asik.” Seru Yona merajuk. ---  Seperti biasa, setelah jam pelajaran berakhir, Yona akan menunggu Arfa menjemputnya di samping gerbang. Tepatnya di bawah pepohonan yang rindang sehingga menutupi tubuh mungilnya dari teriknya sinar matahari. Yona menunggu sambil membuka ponselnya, dengan jemari yang lincah membuka aplikasi sosial media miliknya. Mengusap ibu jarinya di layar ponsel, sambil sesekali mengetukkan ibu jarinya sebanyak dua kali untuk memberikan tanda “suka” pada foto yang dianggapnya menarik.  “Nunggu jemputan?” Sapa seseorang yang entah sejak kapan berada di sampingnya. Seorang lelaki berseragam yang sama dengan dirinya. Tunggu. Yona mengerutkan keningnya seperti tidak asing dengan wajah yang sedang tersenyum menatapnya ini. Namun Yona menyerah, dia bahkan lupa untuk sekedar melirik ke bagian d**a seragam yang menunjukkan nama sebagai identitas mereka. “Maaf, siapa ya?” Tanya Yona polos. “Choki. Aku di kelas sebelah kelas kamu, IPA B.” Ujarnya memperkenalkan diri. Yona mengangguk, “Oo… Anak baru ya? Kok aku nggak kenal? Tapi aku kayak nggak asing juga sih sama wajah kamu.” Ucap Yona jujur. “Iya, baru pindah sekitar sebulan yang lalu sih. Selain itu… Ehm… Sekitar seminggu yang lalu kan aku juga pernah nyapa kamu di sini, tapi kamu keburu dijemput.” “Aku Kayona. Panggil aja Yona.” Entah ada angin dari mana Yona tiba-tiba bersemangat menjulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Choki. “Kamu nunggu jemputan juga, Chok? Eh, Ki? Duh, enaknya aku panggil apa ya?” Yona menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. “Bebas, suka-suka kamu aja mau panggil apa. Panggil sayang juga boleh.” Celetuk Choki sambil tersenyum miring. “Enak aja. Panggilan sayang kan nggak bisa sembarangan…” Tiinn… Suara klakson mobil Arfa mengalihkan perhatian Yona yang langsung menoleh tanpa menyelesaikan kalimatnya. “Eh, aku udah dijemput. Duluan ya, Ki. Bye…” Seru Yona sambil beranjak mendekati mobil mamanya yang bergerak perlahan. Lalu ketika mobil itu tepat berhenti di depannya, Yona membuka pintu dan masuk. Mencium tangan mamanya sekilas, lalu duduk bersandar setelah sebelumnya meletakkan tas ransel sekolah di kursi belakang.  “Bukan bye, Yona. Tapi see you… Sampai jumpa lagi.” Lirih Choki sambil beranjak menuju parkiran motor yang sudah mulai sepi. Lalu menaiki motornya dan beranjak pulang.  --- “Siapa?” Tanya Arfa sambil tetap fokus mengemudi. “Eh…? Siapa?” Yona menoleh, menatap Arfa dengan tatapan bingung karena pertanyaan mamanya. Arfa hanya tersenyum miring, “Tadi pagi lesu banget. Siang ini udah balik semangat lagi. Alhamdulillah…” “Mama… Aku nggak ngerti mama ngomong apa.” “Yang tadi temenin kamu nunggu, siapa? Itu yang mama tanya.” Yona seketika mengangguk-anggukkan kepalanya, “Oo… Bilang dong. Aku kan nggak ngerti kalau mama nggak bilang dengan jelas.” “Cowok tadi ya, Ma? Namanya Choki. Anak baru, tetangga aku.” Arfa seketika menoleh, saat mobilnya berhenti karena rambu lalu lintas menunjukkan warna merah. “Tetangga? Kok mama nggak tahu kalau ada orang baru pindahan deket rumah kita? Rumahnya yang mana?” Kali ini Yona yang terkikik geli, “Bukaaan… Mama ih. Maksud aku, tetangga di sekolah. Dia masuknya di kelas sebelah. Aku kan IPA A, dia IPA B. Gitu.” Arfa kemudian mengangguk mendengar penjelasan Yona. Dan ketika rambu lalu lintas berubah menjadi hijau, Arfa kembali memfokuskan perhatiannya pada jalan yang memang cukup ramai, karena bertepatan dengan waktunya pulang sekolah. Tangan Arfa bergerak lincah memutar kemudi untuk berbelok dan mengitari median jalan.  “Loh, kita mau kemana, Ma? Kok putar balik?” Tanya Yona heran. “Balik ke kedai sebentar. Mama mau ambil barang, tadi ketinggalan pas buru-buru turun mau jemput kamu.” Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka sudah tiba di sebuah kedai kopi, dimana di depannya terpampang neon box bertuliskan “Janji Hati”. Saat ini keadaan di kedai cukup ramai, terlihat dari area parkir yang penuh dengan kendaraan roda empat maupun roda dua yang terparkir rapi di halaman.  Arfa tidak menemukan lokasi parkir yang tersisa untuknya, lalu kembali berputar untuk parkir di depan minimarket yang terletak di seberang kedai kopinya. “Yona mau ikut turun atau tunggu di mobil?” Tanya Arfa. “Mama lama nggak?” Arfa terlihat berpikir sejenak, dan sebelum membuka mulutnya Yona sudah membuka pintu dan melangkah keluar. “Lama deh kayaknya.” Celetuk Yona saat berjalan melewati Arfa. Mereka berdua kemudian bergandengan tangan untuk menyeberang jalan. Dan ketika memasuki kedai, Yona langsung mengambil tempat di depan bar. Menarik mundur sebuah stool bar yang cukup tinggi. Kakinya menjejak kayu yang melintang di antara kaki-kaki stool bar itu, lalu sedikit meloncat dan… Hup… Bokongnya mendarat sempurna.  Memang, untuk sekedar duduk di kursi setinggi ini, Yona perlu usaha yang lebih karena badannya yang tidak terlalu tinggi. Namun Yona tidak pernah rendah diri dengan kondisinya, dia justru bangga dan menyebut dirinya sendiri dengan sebutan imut. Sementara terkadang teman-temannya yang jengah dengan kata imut yang diucapkan dengan nada lebay oleh Yona, mengubahnya menjadi amit-amit.  Kini Yona duduk manis di depan seorang barista yang sedang meracik menu pesanan pengunjung. Hingga dia tidak sadar bahwa Rangga sudah duduk di sampingnya. Menjentikkan jarinya di depan wajah Yona. Membuat gadis itu terkejut. “GAGA… Kaget…” Pekik Yona. “Kamu ngelamun, ngeliatin barista?” Tanya Rangga mengikuti arah pandangan Yona. Yona menggeleng, “Nggak ngelamun kok. Cuma suka aja liat barista yang lagi kerja. Keren gitu.” Puji Yona. “Keren? Hei… Udah tahu sama cowok keren ya, kamu.” Rangga berdecak. “Aku udah SMA, kalo Gaga lupa ya. Dan aku cewek normal, tentu aja tahu mana cowok keren mana cowok ganteng. Ya, kayak mas barista ini. Sama anak baru di sekolah aku juga. Hihii…” Kikik Yona tanpa sadar. “Yona. Ingat pesan Gaga, ya? Kamu masih kecil. Nggak boleh pacaran.” Yona menjulurkan lidahnya mengejek ucapan Rangga, “Suka-suka aku dong.” Tak lama kemudian, Arfa sudah berada di tengah-tengah mereka. Mengajak Yona untuk pulang. Yona berpamitan pada Rangga, lalu mengekori langkah Arfa menuju mobil di seberang jalan. “Kalau aku pacaran, mungkin aku bisa lupakan Gaga kali ya?” dahi Yona berkerut memikirkan hal itu. 03 - Maret - 2021 00.00 WIB Hai Semua… Terima kasih sudah mampir di cerita ini. Semoga suka, ya.  Jangan lupa tap love dan tinggalkan komentar. Kritik dan Saran aku terima dengan senang hati lho... Jika berkenan, boleh banget mampir ke sosial media aku. Fesbuk : Sweet July Insta gram : @sweetjuly.me Aku biasanya update info di kedua sosmed itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN