Arfa membuka mata saat merasa udara dingin mulai menyapa tubuhnya yang terbaring di sofabed tanpa tertutupi selimut. Rasa dingin mengembalikannya pada dunia nyata, setelah mimpi mengenai masa lalu sempat mengusiknya. Mimpi yang menghadirkan dua sosok lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya. Rangga dan Rio.
Tadi malam saat membawa Yona ke rumah sakit, tidak terpikir sedikitpun di benak Arfa bahwa Yona akan menjalani rawat inap. Hal itu membuat Arfa tidak memiliki persiapan apapun untuk menginap di rumah sakit, termasuk salah satunya adalah selimut.
Arfa menggeleng pelan, sedikit bingung dengan mimpinya. Rasa itu sudah lama hilang untuk Rangga. Hatinya sudah dipenuhi oleh rasa cintanya pada Rio, sejak Arfa mulai membuka diri dan menerima Rio sebagai suaminya. Dan sejak itu, perasaannya pada Rangga memudar, hingga kini hilang tak berbekas. Semua yang dirasakannya kini pada lelaki itu murni sebatas teman, sahabat.
Mungkin mimpi itu datang karena saat ini pikiran Arfa tengah dipenuhi oleh segala dugaan dan prasangka tentang perasaan Yona terhadap Rangga.
Sedikit menghembuskan nafasnya, Arfa lalu bergerak untuk bangun. Melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah lima pagi. Dia mendekati Yona, mengamati wajah putrinya yang masih tidur lalu mengelus pipi Yona dengan punggung tangan halusnya. Arfa membenarkan posisi selang oksigen di hidung Yona yang sedikit bergeser.
“Cepat sembuh, Sayang.” bisik Arfa sambil mengecup kening Yona, “Nanti papa marah kalau tahu kamu sakit. Mama nanti dikira nggak bisa jagain kamu dengan benar.”
“Cuma kamu satu-satunya yang paling berharga yang papa titipkan sama mama sebelum papa pergi.”
-Flashback-
Rio, suami Arfa, meningal dunia tepat dihari yang sama dengan hari lahirnya Yona. Saat itu, Arfa yang sudah berada di rumah sakit, masih menunggu kedatangan suaminya. Rio sudah meneleponnya dan berkata akan segera menuju ke rumah sakit. Namun ternyata hingga Yona lahir, bahkan hingga keesokan harinya, sosok Rio tak kunjung datang. Yang datang justru berbagai ucapan duka cita yang tak putus-putus di ponselnya. Membuatnya hilang kendali dan menghancurkan benda kecil itu dengan melemparkan ke dinding sekeras mungkin.
Ternyata malam itu, dalam perjalanan menuju rumah sakit, sesuatu terjadi. Jalan yang remang-remang karena minim lampu penerangan, ditambah kondisi jalan rusak berlubang dimana-mana membuat Rio tidak berkonsentrasi hingga dia terjatuh karena lubang yang tidak bisa dia hindari. Tubuhnya terlempar dan tepat saat itu, sebuah truk melintas.
Setidaknya itu yang Arfa ketahui dari surat kabar yang dibacanya. Sekilas. Karena Arfa tidak punya kekuatan untuk membaca berita itu sampai selesai.
Sebenarnya berita itu muncul di berbagai surat kabar tepat sehari setelah Rio kecelakaan, namun Arfa masih tidak berani membacanya. Hingga seminggu kemudian dia baru berani membuka lembar surat kabar itu. Namun tetap saja, dia tidak bisa selesai membaca berita itu sampai habis. Kronologi kejadian yang dituliskan, membuat dadanya sesak dan kepalanya sakit. Membayangkan bagaimana suaminya mengalami semua itu. Membayangkan rasa sakit yang harus ditanggung Rio, hingga dia kehilangan nyawanya. Membuat Arfa tidak bisa menatap wajah dan memeluk tubuh suaminya untuk terakhir kali, karena Arfa tidak diberi tahu hingga pemakaman selesai. Kedua orang tua dan mertuanya takut Arfa tidak akan mempu menerima kenyataan itu.
-Flashback off-
Arfa menghapus air mata yang menetes di pipinya. Sudah sekian lama Rio pergi, namun dia masih merasakan kesedihan itu. Rasa sakitnya masih bertahan hingga kini. Masih sama menyesakkan d**a.
Tubuh Yona sedikit bergerak, lalu kedua matanya terbuka. Mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan cahaya lampu yang memang cukup terang. Kemudian mulutnya terbuka dan dia menguap lebar. Membuatnya mengangkat tangan untuk sekedar menutupi rasa kantuk yang masih terasa. Namun ketika tangannya terangkat, Yona merasa ada yang aneh dengan tangannya. Dia lalu membawa tangan kanannya ke depan wajahnya, mengamatinya sambil membolak balik telapak tangannya itu. Lalu pandangannya berpindah mengikuti selang yang terhubung dengan dua botol cairan yang tergantung di sisi tempat tidurnya. Yona mendengus kesal, karena tiba-tiba dia ingat bagaimana dia bisa berakhir di rumah sakit ini.
Tadi malam, saat dia dan Arfa tiba di rumah setelah menghadiri pertunangan Rangga, Yona berpamitan pada Arfa untuk segera masuk ke kamar. Tentu saja dengan alasan untuk mengerjakan tugas sekolahnya, yang sebenarnya tidak ada karena dia terbiasa untuk menyelesaikan tugas-tugasnya selepas pulang sekolah.
Saat sudah tiba di kamar, dengan lesu dia mengganti dress cantik yang tadi melekat indah di tubuh mungilnya dengan tanktop dan celana pendek. Pakaian yang selalu digunakannya jika akan tidur. Namun saat sedang duduk di depan cermin untuk membersihkan sisa-sisa make up, Yona menatap wajahnya dan termenung. Memikirkan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Hingga tanpa sadar dia menangis tersedu-sedu. Sampai kepalanya pusing karena kelelahan, dan tiba-tiba saja nafasnya menjadi sesak. Beruntung mamanya mendengar panggilan Yona dan segera menolongnya.
“Sudah bangun, Sayang?” tanya Arfa dengan lembut saat melihat putrinya yang sudah membuka mata.
Yona mengangguk pelan, “Mama nggak kerja?”
“Gimana mama bisa mikirin pekerjaan kalau kamu sakit gini. Mama sudah minta Gaga yang urus kerjaan mama hari ini.”
“Maaf ya, Ma…” bisik Yona merasa bersalah.
Tangan Arfa terulur untuk mengelus kepala Yona dengan lembut sembari berkata, “Cepat sembuh ya, Putri Mama.”
Sore harinya, Rangga membesuk Yona. Lelaki ini datang berdua dengan Hasna, tunangannya. Membuat Yona yang sejak siang sudah mulai ceria, kembali memasang raut wajah datarnya. Segala hal yang dibicarakan oleh Rangga maupun Hasna hanya ditanggapi sekedarnya aja. Sebenarnya ingin sekali Yona menyuruh mereka cepat pulang, namun Yona masih punya sopan santun untuk tidak mengusir tamu yang membesuknya.
“Jadi gimana kata dokter? Kapan kamu boleh pulang, Na?” tanya Rangga.
Yona yang sedang sedikit melamun hanya terdiam.
“Sayang… Gaga nanyain kamu itu. Kok diem?” tegur Arfa.
Yona tersadar dan menoleh ke arah Rangga, “Eh… Gaga tanya apa?”
“Kapan boleh pulang?” ulang Rangga lagi.
“Oh… Besok kata dokter. Habis dokter visit, baru boleh pulang. Mungkin siang atau sore kali ya, Ma?” Yona menoleh ke arah mamanya yang kemudian dijawab dengan anggukan.
“Oke, kabarin Gaga besok ya. Biar Gaga jemput dan anterin pulang.”
Yona mengangguk pelan, sambil melirik pada Hasna yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Ma, Aku nggak suka sama Kak Hasna.” seru Yona saat Rangga dan Hasna sudah pulang.
Arfa yang sedang menyiapkan makanan untuk menyuapi Yona pun sejenak terdiam, namun kemudian dia melanjutkan kegiatannya. Memasukkan nasi ke piring, berikut dengan sop daging yang dibelinya melalui ojek online.
“Kenapa kamu nggak suka? Kak Hasna galak sama kamu?”
Yona menggeleng.
“Terus?” kejar Arfa sambil mendekati Yona dengan sebuah piring di tangannya. Mengambil sedikit nasi, kuah dan sepotong daging lalu bergerak menyuapi putrinya.
Yona membuka mulutnya lalu mengunyah perlahan. Terlihat berpikir, lalu akhirnya mengangkat kedua bahunya.
“Masa kamu nggak suka gitu aja, nggak ada alasan?” tanya Arfa sambil tersenyum, padahal hatinya resah. Takut jika memang benar Yona memiliki perasaan lebih pada Rangga, putrinya itu akan kecewa. Tentu saja, karena Rangga sudah bertunangan dan akan menikah dalam waktu satu tahun ke depan.
“Ehm… Aku nggak suka aja, dia rebut Gaga dari kita. Kalo mereka nikah nanti, pasti aku nggak bisa lagi deket-deket Gaga. Minta antar jemput sekolah, minta belikan makan, nemenin jalan-jalan.”
“Kamu cemburu?”
Yona tersentak, antara terkejut dan malu menjadi satu. Wajahnya memerah.
“Eh… Aku? Cemburu? Nggak, Ma… Bukan gitu…” Elak Yona cepat.
“Terus apa dong?” Arfa masih bergerak menyuapi Yona, satu suapan terakhir sebelum piring di tangannya kosong.
“Ya… Nggak suka aja.”
Arfa beranjak meletakkan piring yang sudah kosong itu di meja, lalu mengambil segelas air putih dan sebatang sedotan. Di dekatkannya ke bibir Yona agar putrinya bisa minum dengan lebih mudah.
“Sayang, kamu itu anak Mama. Mama tau apa yang kamu rasakan. Tapi... “ Arfa terdiam, berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat.
“Maksud mama apa?” tanya Yona dengan wajah takut. Takut terbongkar segala rasa yang sudah dia pendam seorang diri.
“Gaga itu sahabat mama, bahkan bisa dibilang keluarga kita juga. Dari kamu baru lahir, sejak papa nggak ada, Gaga yang sering bantu mama kalau mama kerepotan jagain kamu. Bahkan dulu, yang adzanin kamu pas baru lahir itu Gaga, Nak. Sekarang dia sudah bertunangan, wajar sih kalau kamu merasa kehilangan. Tapi memang itu kenyataannya, mungkin memang sudah waktunya Gaga mendapatkan kebahagiannya sendiri. Bertemu sama jodohnya.”
Yona terdiam.
“Ma… Mama ngomong kayak gitu, karena tahu tentang perasaan aku sama Gaga? Ya Tuhan.” Jerit Yona dalam hatinya. Merasa bingung harus bagaimana, karena merasa seperti maling yang tertangkap basah saat sedang mencuri.
Hening, keduanya terdiam.
“Gaga cuma anggap kamu sebagai anak mama, Sayang. Dia anggap kamu seperti anaknya juga. Dia sayang kamu, tapi bukan seperti kamu sayang dia. Kalian nggak mungkin bersama. Dia nggak mungkin berubah status dari sahabat menjadi menantu mama.” Batin Arfa.
Kadang kita tidak ingin mengakui bahwa sebenarnya kita saling menyayangi. Karena rasa sayang yang kita rasakan itu berbeda, meskipun masih tetap dikatakan dalam satu kata yang sama. Sayang.
27 - 02 -2021
16.48 WIB
Hai Semua…
Terima kasih sudah mampir di cerita ini. Semoga suka, ya.
Jangan lupa tap love dan tinggalkan komentar.
Kritik dan Saran aku terima dengan senang hati lho...
Jika berkenan, boleh banget mampir ke sosial media aku.
Fesbuk : Sweet July
Instagram : @sweetjuly.me
Aku biasanya update info di kedua sosmed itu.