Part 11. Tentang Arfa, Rio dan Rangga

1501 Kata
-Masih disaat tujuh belas tahun yang lalu-  “Astaga, Fa. Berita sepenting ini kamu baru kasih tahu aku? Kamu anggap apa aku selama ini? Masa sahabat sendiri baru dikasih tahu tentang pernikahan kamu di H-seminggu sih, Fa?” Arfa hanya mengangkat kedua bahunya lemah, wajahnya terlihat lelah. Atau mungkin… Pasrah. Hal itu membuat Rangga curiga.  “Kok… Kamu nggak antusias gitu, Fa? Kayak yang dipaksa aja, mau nikahnya.” selidik Rangga menatap wajah Arfa. Arfa hanya menarik nafas panjang sambil menatap ke depan, ke arah Sungai Mentaya yang airnya tenang tak bergelombang. “SIAL.” umpat Rangga terkejut, “Jangan bilang kamu beneran dipaksa nikah?” Arfa mengalihkan pandangannya ke samping, ke arah patung ikan berukuran besar yang menyemburkan air dari mulutnya. Rambutnya bergerak tertiup angin. “Ya… Kalo dibilang dipaksa sih, nggak juga. Aku setuju untuk menikah. Karena…” Arfa menggelengkan kepala sambil menutup matanya. Tangannya yang berpegangan di pagar pembatas antara tempatnya berdiri dengan sungai di depannya itu tergenggam erat.  “Karena… Aku… Nggak punya alasan untuk menolak.” bisiknya lemah namun masih dapat terdengar jelas di telinga Rangga. “Jadi, kamu bukan dipaksa. Lebih tepatnya… Terpaksa?” tanya Rangga berhati-hati. Arfa mengangguk. Rangga menggenggam tangan Arfa, mencoba memberi kekuatan pada sahabatnya yang terlihat putus asa itu. “Apapun yang terjadi, meskipun kamu sudah menikah nanti, aku akan selalu jadi sahabat kamu. Akan selalu ada buat kamu.” Arfa menggeleng, “Nggak bisa gitu, Ngga. Akan ada yang terluka kalau kita masih sedekat ini. Suami aku. Istri kamu, nanti. Mungkin kita bisa mengerti satu sama lain. Tapi nggak dengan pasangan kita. Sedikit banyak pasti akan ada rasa cemburu di hati mereka.” “Aku yang akan terluka, Ngga. Karena aku nggak bisa hidup bersama kamu. Kamu yang aku cintai. Bukan Rio.” jerit Arfa dalam hati. --- Seminggu kemudian, pernikahan Arfa dan Rio dilangsungkan di kediaman Arfa secara sederhana. Kedua keluarga hanya mengundang kerabat dekat saja. Arfa tidak ambil pusing dengan semua itu. Dia memilih tidak ikut campur dalam mempersiapkan segala hal tentang pernikahannya, karena saat itu dia sedang disibukkan kegiatannya menjadi mahasiswa baru. Acara akad nikah dilangsungkan pada hari jumat malam. Dilanjutkan dengan syukuran, jika tidak bisa dikatakan resepsi. Arfa malam itu terlihat cantik dengan kebaya putih yang membalut tubuhnya dengan pas. Sangat serasi bersanding dengan Rio yang tampan dan murah senyum. “Terima kasih sudah mau menerima aku jadi suami kamu.” bisik Rio sambil menundukkan wajahnya untuk mengecup kening Arfa yang kini resmi menjadi istrinya. “Aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu, Fa.” lanjutnya lagi.  Arfa yang memejamkan mata saat bibir Rio menyentuh keningnya, tiba-tiba menangis. Air mata mengalir begitu saja dari sudut matanya yang masih terpejam. Dia sendiri tidak tahu dari mana asalnya air mata itu mengalir. Dari rasa sedihnya karena terbayang wajah Rangga saat dia memejamkan mata, atau karena tersentuh rasa haru saat mendengar Rio yang berjanji akan membahagiakannya. Aliran air mata yang tak kunjung henti membuat Rio mengangkat kedua tangannya menangkup wajah Arfa, lalu membawanya untuk menatap wajah suaminya itu. Arfa pun membuka mata, menatap ke dalam bola mata Rio yang berwarna abu-abu. Dan saat itu pula Arfa merasa jantungnya seakan terjatuh dari tempatnya, tergeletak di dasar perutnya hingga membuatnya mual. Ini kali pertama dia menatap ke dalam bola mata Rio yang ternyata begitu indah. Sorot matanya tajam namun tidak mengintimidasi. Membuat Arfa tanpa sadar betah memandanginya. “Kita sama-sama belajar membangun rumah tangga dengan baik, ya. Jangan takut, aku akan selalu ada buat kamu.” Akan selalu ada buat kamu. Kata-kata yang juga pernah terlontar dari mulut Rangga. Membuat Arfa kembali merasa hatinya seperti diremas-remas oleh tangan tak kasat mata. Pandangan mereka berdua terputus saat lampu blitz dari kamera menyala. Membuat Rio dan Arfa seketika menoleh ke arah kamera yang ternyata sedang membidik keduanya. Menangkap momen langka yang mungkin akan terlihat indah di kamera. Sepasang pengantin baru yang bertatapan mesra penuh cinta. Tanpa orang tahu bahwa Arfa justru merasakan sebaliknya. Mereka kini memasuki sesi foto bersama. Seluruh keluarga bergantian menunggu giliran untuk berfoto dengan pengantin. Arfa sampai merasa penat memasang senyuman di wajahnya. Berbeda dengan Rio yang terlihat benar-benar sumringah menyambut seluruh keluarga yang datang untuk mendoakan pernikahannya dan Arfa. Tibalah giliran Rangga yang saat itu datang seorang diri. Dengan memakai kemeja batik berlengan panjang berwarna hitam bercorak coklat, dipadu dengan celana bahan yang juga berwarna hitam. Rangga terlihat tampan dan tinggi menjulang di antara tamu undangan yang lain. Tidak terlihat bahwa Rangga adalah seorang remaja yang baru saja lulus SMA dan baru memasuki bangku perkuliahan. Dia terlihat begitu dewasa dengan tampilannya malam itu. Rangga memiliki tinggi badan 188 cm, berbeda jauh dengan Arfa yang tidak menyentuh angka 160 cm. “Kamu datang, Ngga. Makasih ya.” seru Arfa seraya tersenyum manis. Meskipun hatinya perih. “Selamat ya, Kak Rio. Arfa. Semoga langgeng dan bahagia.” ucap Rangga tulus, lalu Rio yang menarik tubuhnya untuk berpelukan karena tahu Rangga adalah sahabat Arfa. Rangga berbisik, “Titip sahabat aku ya, Kak. Bahagiakan dia.”  Rangga sengaja menyebut Rio dengan panggilan Kakak, karena memang usia Rio tujuh tahun lebih tua darinya.  Bisikan Rangga disambut dengan anggukan pasti oleh Rio. Rangga bergerak, mendekat ke arah Arfa. Lalu bersalaman dengan sahabatnya itu. Tangannya menggenggam erat tangan Arfa, seolah merasa setelah ini dia akan kehilangan sosok sahabatnya yang telah resmi menjadi istri Rio. Sementara itu, Arfa menatapnya sambil berkata di dalam hati. “Aku sayang kamu, Ngga. Harusnya aku nggak terbawa perasaan ini, selama kita bersahabat. Tapi aku nggak bisa mengelak. Aku cinta kamu. Ya Tuhan, aku benar-benar cinta kamu, Ngga.  Tapi takdir berkata aku nggak bisa memiliki kamu lebih dari sekedar sahabat aku. Aku bisa apa? Biarlah cinta ini tetap diam di dalam hati aku. Tanpa ada yang tahu. Dan tetap menjadi rahasiaku sendiri. Selamanya.” ---  Satu minggu setelah pernikahan dilangsungkan, Rio membawa Arfa untuk pindah ke rumahnya. Rumah yang sudah dipersiapkannya sejak sebelum menikahi Arfa. Saat itu dia belum tahu akan menikah di usia yang cukup muda untuk ukuran seorang lelaki, yaitu 23 tahun. Saat itu pula dia belum tahu akan menikahi siapa karena dia tidak sedang berpacaran. Yang dia pikirkan saat itu hanyalah menyiapkan rumah untuknya dan keluarga kecilnya di masa depan. Siapa yang menyangka jika Tuhan mengirimkan jodohnya scepat ini? Kini mimpinya terwujud, membawa Arfa yang kini telah menjadi istrinya untuk tinggal di rumahnya. Rumah yang tidak terlalu besar yang terletak di sebuah perumahan di kawasan Jalan Pramuka. Rumah itu memiliki tiga kamar tidur, dan saat Arfa memasuki rumah itu ternyata perabotannya sudah lengkap. Dari ruang tamu, kamar tidur, ruang menonton, hingga dapur.  “Sini aku bawakan koper kamu ke kamar kita.” Rio mengambil alih koper di tangan Arfa dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya menggenggam tangan Arfa dan membawanya melangkah menuju ke salah satu kamar, yaitu kamar mereka. Rio selalu bersikap manis dan lembut pada Arfa yang masih kaku meskipun pernikahan mereka sudah memasuki bulan kedua. Setiap hari, Rio menyempatkan diri untuk mengantar jemput Arfa ke kampus. Dan mengingat padatnya kegiatan Arfa yang saat itu bisa dibilang masih menjadi mahasiswa baru, Rio seolah tak ingin membebani Arfa dengan segala pekerjaan rumah, maka Rio memperkerjakan seorang asisten rumah tangga untuk mengurusi segala pekerjaan di rumah. “Kak, Maaf ya. Aku belum bisa jadi istri yang baik. Belum bisa mengurus rumah, memasak, mencuci baju.” sesal Arfa pada suatu malam ketika mereka baru selesai menyantap makan malamnya. Rio hanya tersenyum simpul, “Jangan minta maaf, Fa. Itu sudah jadi kewajiban aku sebagai suami untuk memenuhi semua kebutuhan kamu. Aku tahu kamu sibuk, dan aku nggak masalah dengan itu. Karena di awal, kita sudah sepakat bahwa kamu tetap harus melanjutkan kuliah setelah kita menikah.” Arfa mengangguk pelan, “Tapi aku nggak enak, Kak.” Rio beranjak mendekati Arfa yang masih berdiri setelah selesai mencuci piring dan mengeringkan tangannya. Lelaki itu lalu bergerak memeluk tubuh Arfa. “Aku tahu kamu masih sulit menerima semua ini. Menerima perubahan yang begitu cepat, dari seorang gadis yang baru lulus sekolah tiba-tiba berubah status menjadi seorang istri. Aku ngerti kok. Aku bisa bersabar, sampai kamu benar-benar bisa menerima aku sebagai suami kamu, Fa.” Rio mengakhiri ucapannya dengan memberikan kecupan yang cukup lama di kening Arfa. “Makasih Kak, sudah mau mengerti keadaan aku.” Arfa membalas pelukan Rio dengan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Wajahnya tenggelam di d**a bidang milik Rio, hingga wangi tubuh suaminya itu terhirup dengan sempurna oleh indra penciuman Arfa. Menenangkan. Membuat Arfa memejamkan mata dan mengeratkan pelukannya. Hal itu tentu saja membuat Rio tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Sambil membelai rambut Arfa, dia tersenyum karena untuk pertama kalinya Arfa bisa sedekat ini dengannya. Tanpa jarak apapun kecuali sehelai pakaian yang mereka gunakan. -Flashback off- 23 - 02 - 21 23.34 WIB Hai Semua… Terima kasih sudah mampir di cerita ini. Semoga suka, ya.  Jangan lupa tap love dan tinggalkan komentar. Kritik dan Saran aku terima dengan senang hati lho... Jika berkenan, boleh banget mampir ke sosial media aku. Fesbuk : Sweet July Insta gram : @sweetjuly.me Aku biasanya update info di kedua sosmed itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN