-Flashback tujuh belas tahun yang lalu-
Suasana kelulusan di sekolah menjadi sangat meriah ketika seluruh siswa kelas tiga yang sedang berbaris di lapangan mendengar satu kalimat dari kepala sekolah yang berdiri di atas podium dengan memegang microphone di tangan beliau. Sebelumnya, semua pesan dan petuah dari lelaki berusia sekitar lima puluh tahun itu hanya bagaikan angin lalu bagi sebagian besar siswa yang merasa kepanasan di bawah teriknya matahari. Namun saat beliau tersenyum dan berkata,
“Alhamdulillah, seperti tahun sebelumnya, semua siswa di sekolah kita dinyatakan LULUS.”
Maka saat itu pula lapangan terdengar bergemuruh dengan sorak sorai dan ucapan syukur dari seluruh siswa. Sebagian dari mereka berpelukan, sebagian lagi bertepuk tangan bahkan ada pula yang sampai berlari keliling lapangan untuk meluapkan kegembiraannya. Tidak terkecuali Arfa dan Rangga yang berdiri bersisian, mereka tak henti-hentinya mengucap syukur karena telah melalui ujian dengan baik.
Arfa dan Rangga sudah bersahabat sejak mereka masih menjadi siswa baru di sekolah ini. Tidak terasa, tiga tahun begitu cepat berlalu. Banyak sekali kenangan indah yang mereka lalui bersama. Selama ini, tidak jarang mereka digosipkan menjalin hubungan yang lebih dari persahabatan. Namun keduanya selalu mengelak, karena mereka sudah terlalu nyaman berada di zona persahabatan ini.
Bukan hal yang aneh jika dua orang yang berbeda jenis kelamin menjalin persahabatan dan salah satu atau bahkan keduanya memiliki perasaan yang lebih. Tentu saja, karena seringnya bertemu dan menghabiskan waktu bersama membuat rasa itu tumbuh begitu saja tanpa bisa dielak. Belum lagi dengan sikap saling mendukung dan saling mengerti satu sama lain, maka rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Dan hal itu terjadi pada Arfa, bahkan sejak mereka masih duduk di bangku kelas dua. Sekitar satu tahun setelah mereka berteman dekat, Arfa mulai merasa ada yang lain dengan perasaannya jika bersama Rangga.
Namun demi menjaga persahabatannya agar tidak putus, Arfa rela memendam perasaannya. Arfa tidak ingin hubungannya dengan Rangga menjadi canggung jika sampai Rangga tahu tentang perasaannya. Arfa pikir, biarlah semua rasa itu menjadi rahasianya sendiri. Toh, selama ini dia bisa selalu bersama Rangga. Lelaki itu selalu bisa diandalkan dan selalu ada untuknya. Bahkan kedua orang tua Arfa sudah mengenal Rangga dengan baik.
Kembali ke suasana kelulusan, beberapa siswa membubarkan diri dan berlari menuju kelas masing-masing. Namun ternyata hanya sekejap, karena kemudian lapangan itu kembali dipenuhi siswa siswi yang saling berbagi tanda tangan dengan mencoret di baju putih mereka. Sebagian siswa memegang tabung cat semprot di tangannya, menyemprotkan benda itu hingga membuat seragam putih mereka berubah menjadi warna-warni. Sebagian lagi, membawa spidol dan sibuk bertukar tanda tangan.
Arfa sendiri sibuk menutupi rambutnya dengan jaket karena takut terkena semprotan hingga membuat rambutnya berubah warna. Bisa dimarahi orang tuanya nanti jika ketika pulang Arfa datang dengan rambut berwarna-warni seperti pelangi di langit yang biru.
“Fa, sini deh.” seru Rangga sambil menarik tangan Arfa menjauh dari kerumunan. Lalu dia membuka tutup spidol berwarna merah di tangannya.
“Aku tanda tangan di sini ya?” ujar Rangga meminta izin untuk mencoretkan tanda tangannya di bagian lengan kanan baju Arfa. Arfa mengangguk sambil tersenyum, lalu ketika Rangga selesai Arfa merebut spidol di tangan lelaki itu.
Dahi Arfa berkerut, kepalanya sedikit miring karena berpikir akan membubuhkan tanda tangannya dimana. Baju Rangga sudah tidak karuan bentuknya karena lelaki itu termasuk lelaki populer yang memiliki banyak fans. Tentu saja sudah banyak warna di bajunya, pun juga berbagai macam tanda tangan memenuhi sisi depan dan belakang bajunya.
Arfa menutup lagi spidol di tangannya, “Nggak ada tempat lagi buat aku.” serunya kecewa.
Rangga tersenyum miring, “Ada. Buat sahabat aku, nggak mungkin nggak ada tempat. Sini.” Lelaki itu menunjuk satu tempat di antara coretan yang saling tumpang tindih. Tepat di dadanya, sedikit di atas lambang OSIS yang terpasang di kantong bajunya. Sejak tadi, Rangga memang mengamankan “tempat” itu hanya untuk Arfa. Jika ada yang ingin mencoretkan tanda tangannya di sana, maka Rangga dengan sigap akan menutupinya dengan tangan.
Arfa menyunggingkan senyumnya senang, lalu perlahan tangannya bergerak. Alih-alih mengukir tanda tangan, Arfa justru menuliskan namanya disana.
ARFA HANINDYA
Lengkap dengan gambar emoticon senyum dengan lidah terjulur di samping namanya.
Tanpa Arfa tahu, saat jemarinya bergerak di atas d**a Rangga, lelaki itu merasa jantungnya seakan berhenti berdetak.
---
“Makasih ya, Ngga.” ucap Arfa sambil turun dari boncengan motor Rangga.
“Mampir?” tawarnya.
Rangga menggeleng pelan, “Besok-besok aja. Aku ditungguin orang rumah. Nanti sore mau ada acara soalnya.”
Arfa mengangguk dan melambaikan tangannya ketika motor yang dikendarai Rangga mulai menjauh. Lalu melangkahkan kakinya dengan raut wajah bahagia, karena sudah menyelesaikan ujiannya dengan baik dan dinyatakan lulus. Arfa kini hanya perlu mempersiapkan perlengkapannya untuk memulai status baru sebagai mahasiswa.
Ya, sebelum ujian nasional berlangsung, Arfa dan Rangga mengikuti seleksi masuk di salah satu perguruan tinggi yang ada di kota ini. Keduanya dinyatakan lulus di kampus yang sama, meskipun berbeda jurusan yang diambil. Arfa memilih jurusan ekonomi, sedangkan Rangga masuk jurusan ilmu komputer. Bukan kampus besar seperti di kota-kota lain memang, namun keduanya memiliki pemikiran yang sama. Menuntut ilmu bisa dimana saja, tidak harus di kampus besar dan mahal di luar kota. Keduanya seperti memiliki keterikatan pada keluarga sehingga tidak ingin menimba ilmu di kota lain. Lagipula dengan begitu mereka tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk membayar kos dan uang makan karena masih tinggal dengan orang tua mereka.
“Sudah pulang, Nak?” suara berat milik Pramana, ayahnya, terdengar dari ruang tamu. Membuyarkan lamunan Arfa tentang dunia perkuliahan sembari dirinya melepas sepatu tadi.
“Gimana pengumumannya? Lulus semua?” belum lagi Arfa menjawab, pertanyaan lain sudah meluncur dari lelaki yang merupakan cinta pertama Arfa itu.
“Alhamdulillah satu angkatan lulus semua, Yah.” jawab Arfa dengan mata berbinar.
“Sini, duduk dulu.” tangan lelaki itu melambai dan menepuk sofa di sebelahnya agar Arfa mendekat dan duduk di sampingnya.
Ketika langkah kaki Arfa mendekat, tubuhnya terdiam kaku melihat tamu yang datang. Seorang lelaki yang sudah berumur seperti ayahnya bersama dengan lelaki muda yang kemungkinan adalah anaknya. Arfa memperkirakan usia lelaki itu antara 23 hingga 25 tahun.
“Kenalkan, ini Rio. Anak teman ayah sekolah dulu, Om Doni. Ganteng kan..”
Arfa lalu tersenyum kaku dan menundukkan kepalanya. Lalu mengambil tempat di samping sang ayah.
“Om Pram, bisa aja. Hehhe…” Rio terkekeh pelan mendengar Pram menggodanya. Membuat Arfa sedikit mencibir melihat Rio.
“Jadi, kedatangan Om Doni sama Rio kesini buat melamar kamu.”
JEDGERRR…
Arfa tersentak kaget dengan suara barusan. Seperti suara petir, namun sepertinya hanya dia sendiri yang mendengarnya. Terbukti, sang ayah dan kedua tamunya tampak tenang. Tidak seperti dirinya yang terperanjat sambil memegangi dadanya.
“Yah... “ suara Arfa tidak terdengar sedikitpun. Meskipun dia berusaha sekuat tenaga mengeluarkan suaranya yang hilang entah kemana.
Rio yang duduk di depannya tersenyum kaku melihat reaksi Arfa saat mengetahui hal itu.
“Bo… Boleh Arfa masuk kamar, Yah?” tanya Arfa lirih, sambil melirik pada Rio yang sedari tadi menatapnya. Ketika ayahnya mengangguk, Arfa bergegas menuju ke kamarnya. Kepalanya berdenyut kencang saat mengingat ucapan ayahnya tadi.
Apa? Melamar?
Aku bahkan baru beberapa jam yang lalu dinyatakan lulus SMA.
Ijazah aku aja belum keluar.
Ayah tadi bilang melamar apa? Melamar pekerjaan? Atau melamar aku buat jadi istri lelaki itu?
Ya Tuhan, belum lagi aku merasakan status baru menjadi mahasiswa.
Masa aku harus menyandang status sebagai istri?
Percuma dong aku ikut seleksi masuk perguruan tinggi, kalau aku ternyata akan menikah secepat ini?
Lagipula… Bukan dengan lelaki itu aku ingin menghabiskan hari-hariku…
Bukan dengan lelaki yang tidak aku kenal yang tiba-tiba masuk ke kehidupanku, berstatus sebagai suamiku. Lalu dengan seenaknya akan mengatur hidupku karena statusnya sebagai suamiku.
Nggak.
Aku nggak mau.
Tuhan… Tolong...
Suara ketukan di pintu kamar Arfa membuyarkan lamunannya yang sedang mencari cara untuk menolak lamaran itu. Bergegas mengganti seragamnya dengan pakaian santai, Arfa lalu membuka pintu kamarnya. Membiarkan Pram masuk dan duduk di kursi meja belajarnya. Sementara Arfa duduk di tepi tempat tidur. Seolah bersiap mendengarkan vonis dari sang ayah.
“Ayah sudah menerima lamaran mereka.” ucap Pram tanpa basa-basi.
Arfa seketika menghela nafasnya lemah dan hal itu tak luput dari pandangan Pram.
“Jangan sedih gitu. Ayah nggak mungkin menjerumuskan kamu untuk menikah dengan lelaki yang nggak baik. Ayah tahu Rio seperti apa, makanya ayah terima lamaran mereka.”
“Kuliah aku gimana, Yah?” tanya Arfa seperti putus asa.
Pram mengangguk ringan, “Setelah menikah, kamu masih bisa kuliah seperti teman-teman kamu yang lain. Om Doni dan Rio nggak mempermasalahkan itu.”
“Kenapa harus secepat ini?” Arfa menggelengkan kepalanya tidak percaya.
“Kamu tahu kan kalau umur, jodoh dan rezeki sudah ditentukan oleh Tuhan? Mungkin ini tandanya memang jodoh kamu sudah tiba.”
“Aku belum siap, Yah. Ini terlalu cepat.”
Pram menggelengkan kepalanya. Lalu tangannya bergerak mengelus kepala putrinya, “Nggak ada kata terlalu cepat atau terlalu lambat untuk menikah, Nak. Jodoh itu datang tepat pada waktunya. Dan waktu masing-masing orang itu berbeda. Nggak bisa disamakan. Jika memang waktunya sudah tiba, maka semua akan terjadi. Sama seperti maut, jika memang sudah waktunya umur kita habis untuk berada di dunia ini, mau pergi kemanapun kita tidak akan bisa bersembunyi dari maut.”
23 - 02 - 21
21.54 WIB
Hai Semua…
Terima kasih sudah mampir di cerita ini. Semoga suka, ya.
Jangan lupa tap love dan tinggalkan komentar.
Kritik dan Saran aku terima dengan senang hati lho...
Jika berkenan, boleh banget mampir ke sosial media aku.
Fesbuk : Sweet July
Insta gram : @sweetjuly.me
Aku biasanya update info di kedua sosmed itu.