“Maa…” teriak Yona sekuat tenaga, disela-sela nafasnya yang terputus-putus.
Dadanya sesak, sekuat apapun dia mencoba menghirup udara di sekitarnya, namun oksigen seolah tak mau mengisi paru-parunya. Justru terasa menusuk-nusuk hingga terasa nyeri di dadanya. Tangannya menggapai nakas di samping tempat tidurnya, mencari benda apapun yang bisa terjangkau oleh tangannya. Namun tangannya menyenggol gelas hingga membuat gelas itu terjatuh dan pecah.
Tidak berselang lama, Arfa muncul membuka pintu kamar Yona dengan mata yang membesar melihat kondisi putrinya. Yona terlihat memegang dadanya, sambil berusaha menghirup nafas sekuat tenaga. Air mata mengalir di kedua pipinya.
“Ya Tuhan, Yona... “ Arfa berlari mendekati putrinya. Dengan cepat tangannya bergerak mencari obat asma dalam bentuk inhaler yang selalu tersedia di dekat tempat tidur Yona. Arfa membuka laci nakas, mengaduk-aduk isinya hingga dia menemukan benda kecil berbentuk tabung itu.
Arfa membantu Yona untuk menegakkan posisinya untuk duduk, agar putrinya itu bisa menghirup obatnya dengan lebih nyaman. Tangan kirinya mengelus punggung Yona dengan lembut, sementara tangan kanannya membantu Yona menggunakan obatnya. Mengocok tabung itu sebentar, lalu mengarahkan inhaler ke mulut Yona.
“Buka mulutnya, Sayang.” kali ini Arfa mengambil alih semuanya. Biasanya Yona bisa menggunakan obatnya sendiri, namun kali ini kondisi Yona tidak begitu baik, tangannya gemetar dan tidak dapat memegang inhaler dengan baik.
“Bismillah… Satu… Dua… Tiga…” Arfa memberi aba-aba sebelum menekan inhaler itu, agar Yona bisa tepat menghirupnya dan membiarkan partikel-partikel obat itu masuk ke dalam paru-parunya yang terasa menyempit.
Sekitar satu menit kemudian, Arfa kembali menekan inhaler, memberikan semprotan kedua. Hingga tak lama kemudian kondisi Yona terlihat membaik. Nafasnya tidak terlihat seperti tadi.
Yona memeluk Arfa sambil menangis tersedu-sedu. Namun hanya sebentar, karena selanjutnya Yona terdiam. Membuat Arfa melepaskan pelukannya. Dan kemudian Arfa terkejut karena setelah dia melepaskan pelukannya, Yona terjatuh begitu saja di tempat tidur.
“Astagfirullah… Yona, kenapa lagi… Jangan bikin mama takut…” ucap Arfa sambil menepuk-nepuk pipi Yona panik.
Arfa melirik jam dinding di kamar Yona yang menunjukkan pukul satu dini hari. Arfa bingung, apa yang harus dilakukan.
Ketika melihat ponsel Yona tergeletak di nakas, Arfa mengambilnya dan mencari kontak Rangga di ponsel Yona. Muncul di daftar kontak nama “Gaga” dengan emoticon love di samping nama itu. Kening Arfa berkerut melihatnya. Setahu Arfa, dulu Yona menyimpan kontak Rangga hanya dengan sebutan “Gagaga”. Mengabaikan rasa terkejutnya, Arfa segera berbicara saat di seberang sana panggilannya sudah dijawab.
“Kenapa belum tidur jam segini?” ujar Rangga yang mengira telepon itu dari Yona.
“Angga… Ini Arfa. Aku bingung harus gimana. Tadi asmanya Yona kambuh. Udah aku kasih obat, tapi dia pingsan. Aku harus gimana.” ucap Arfa setengah histeris.
Rangga terkejut, “Tenang, Fa. Jangan panik. Kita ke rumah sakit ya, ini aku kesana. Kamu siap-siap.”
Arfa berlari ke kamarnya, mengenakan jilbab seadanya, lalu menutupi baju tidurnya dengan jaket. Memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas kecil, lalu secepat mungkin dia berlari lagi ke kamar Yona. Dengan tangan yang bergetar Arfa memasangkan jaket di tubuh mungil putrinya yang tadi hanya mengenakan baju tanpa lengan. Kebiasaan Yona saat tidur, memang menggunakan tanktop.
Sekitar sepuluh menit kemudian terdengar suara mobil di depan rumahnya, Arfa segera melangkah dengan cepat membuka pintu setelah terlebih dahulu mengintip di jendela, memastikan bahwa yang datang adalah Rangga.
“Ngga… Yona…” tangan Arfa bergerak menarik lengan Rangga, membawanya menuju kamar putrinya.
Rangga mempercepat langkah kakinya. Ketika tiba di kamar Yona, yang memang tak asing baginya, Rangga melihat Yona yang tergeletak di tempat tidur. Matanya terpejam, wajahnya pucat.
“Panas banget badannya.” lirih Rangga saat meletakkan telapak tangannya di dahi Yona.
Rangga lalu bergegas membopong Yona keluar dari kamar, menuju ke mobilnya, diikuti oleh Arfa. Setelah Arfa mengunci pintu rumah dan juga pagar, dia masuk ke mobil dan sedikit mengangkat kepala Yona yang dibaringkan di kursi tengah, meletakkan kepala putrinya itu di pangkuannya. Dari depan, Rangga melirik sekilas melalui spion, lalu mulai menjalankan mobilnya menuju satu-satunya rumah sakit yang ada di kota ini. Untunglah jarak rumah Arfa menuju rumah sakit tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu sekitar sepuluh menit karena malam itu jalan yang dilalui Rangga sedang sepi. Rangga sengaja memilih jalan yang tidak digunakan oleh anak muda untuk balapan liar. Karena sudah bukan rahasia lagi, jika waktu malam tiba, beberapa ruas jalan raya di Sampit ini akan berubah menjadi arena balap liar bagi anak-anak muda yang tidak bisa menyalurkan hobi kebut-kebutan dengan benar.
Mereka tiba di rumah sakit, dan Rangga menghentikan mobilnya tepat di depan ruang IGD. Tanpa menunggu lebih lama lagi, lelaki ini membopong Yona dan meletakkan tubuh Yona dengan hati-hati di salah satu brankar yang ditunjukkan oleh perawat yang tadi mengikutinya saat membawa Yona masuk.
Arfa mendekati seseorang bersneli putih bersih yang berada di samping brankar Yona.
“Dok…” sapa Arfa pelan.
Dokter itu menoleh, lalu tertegun sejenak menatap Arfa.
“Arfa?”
“Fadhil…” seru Arfa sambil bernafas lega. Setidaknya, jika dokter yang sedang bertugas adalah kenalannya, Arfa bisa merasa lebih tenang sekarang.
“Yona… Kambuh lagi. Habis dikasih obat, dia pingsan.” ucap Arfa menjelaskan dengan singkat kondisi putrinya. Fadhil yang merupakan teman satu kampusnya dulu, memang sudah mengetahui kondisi Yona karena selama ini memang Arfa sering membawa Yona berobat ke tempat praktek milik Fadhil.
Arfa sedikit mundur, memberikan ruang bagi Fadhil untuk memeriksa kondisi Yona yang masih tidak sadar.
“Maaf ya, Ngga. Aku ganggu waktu istirahat kamu.” lirih Arfa pada Rangga yang berdiri di sampingnya. Lelaki itu sepertinya sudah tidur tadi saat dia meneleponnya. Rangga mengenakan kaos polos berwarna hitam yang terlihat kusut di beberapa bagian, dilengkapi dengan celana pendek selutut dan rambutnya terlihat berantakan. Cukup menandakan bahwa Arfa memang mengganggu waktu tidur Rangga.
Rangga menggeleng, “Nggak usah mulai deh, Fa. Capek aku ngulang-ulang ini. Yona itu udah aku anggap kayak anak aku juga. Nggak usah sungkan gitu.”
Nafas Arfa terdengar berat mendengar ucapan Rangga tadi.
“Gimana, Dok?” tanya Rangga.
Fadhil lalu menjelaskan secara singkat kondisi Yona yang masih belum sadar. Yona sudah ditangani dengan baik oleh dokter dan perawat yang bertugas malam itu. Namun jika suhu tubuh Yona belum turun dan kondisi nafasnya masih belum stabil dalam beberapa jam ke depan, terpaksa dia harus di rawat inap.
Dan ternyata benar, Yona harus dirawat inap. Gadis itu sempat sadar, namun ketika melihat Rangga, dia membalikkan posisi berbaringnya hingga membelakangi lelaki itu. Tangannya yang bebas dari selang infus, terangkat menutupi wajahnya. Selang oksigen terpasang di kedua lubang hidungnya, mengalirkan udara yang terasa dingin untuk membantunya bernafas.
Kini mereka sudah berada di salah satu ruangan rawat, dengan Arfa dan Rangga yang masih terjaga menunggui Yona yang sudah tertidur.
“Ngga, kamu balik aja. Yona sudah aman sama aku.”
“Nggak apa-apa, Fa. Aku temenin kamu jaga Yona.”
Arfa menggeleng, “Kamu pulang aja. Besok aku nggak masuk kerja. Jadi kamu sekarang istirahat, biar besok bisa full di kafe, aku harus jaga Yona di sini.”
Arfa dan Rangga memang bekerja sama mengelola kafe, sejak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya ketika Arfa lulus kuliah dan saat itu Yona masih duduk di bangku sekolah dasar. Arfa memang perlu waktu lebih lama dari mahasiswa lainnya untuk menyelesaikan kuliah, karena dia harus merawat Yona seorang diri. Belum lagi di masa awal-awal perkuliahan, dia sedang hamil dan harus mengambil cuti saat melahirkan. Membuat waktu kuliahnya menjadi bertambah panjang untuk bisa lulus dan mendapat gelar sarjana.
Rangga terlihat berpikir sejenak, lalu mengangguk.
“Oke kalo gitu aku pulang. Kalau perlu apa-apa, telepon aku ya, Fa.”
Setelah Rangga pergi, Yona membuka matanya. Rupanya gadis itu hanya pura-pura tidur saat Rangga masih berada disana. Yona menatap tiang infus dimana tergantung dua jenis cairan yang terhubung dengan selang infus yang terpasang di punggung tangannya. Satu cairan itu dalam kemasan botol kaca, dengan label berwarna pink dan satunya lagi berbentuk botol pipih berbahan plastik dengan label berwarna merah dibawah tulisan nama cairan itu. Tubuhnya terbaring lemah, namun gadis itu tak mampu merasakan apa-apa. Karena baginya saat ini, hanya satu bagian dari tubuhnya yang terasa sakit yaitu hatinya.
Air mata kembali mengalir di pipinya. Yona diam, berusaha tidak membuat suara apapun, karena dia tahu Arfa saat ini belum tidur meskipun mamanya itu berbaring dengan mata tertutup.
“Luka,
Kini tidak dapat lagi kuhindari
Meski sekuat hati aku berlari
Mimpi itu memudar
Mimpi untuk bisa terus bersama
Menikmati indahnya senyummu
Yang hanya untukku
Luka,
Kini aku mengerti
Kau telah merebut singgasananya di hati
Menggantikan semua rasa
Hanya dengan satu kata
Luka…”
22 - 02 - 2021
23.41 WIB
Hai Semua…
Terima kasih sudah mampir di cerita ini. Semoga suka, ya.
Jangan lupa tap love dan tinggalkan komentar.
Kritik dan Saran aku terima dengan senang hati lho...
Jika berkenan, boleh banget mampir ke sosial media aku.
Fesbuk : Sweet July
Insta gram : @sweetjuly.me
Aku biasanya update info di kedua sosmed itu.