Yona sekali lagi berputar di depan cermin yang menampilkan bayangannya secara keseluruhan dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Cantik.
Satu kata itu terlontar begitu saja di kepalanya. Bukan bermaksud memuji diri sendiri, hanya saja Yona memang puas dengan penampilannya malam ini. Sehingga dia tidak menemukan kosa kata lain yang menggambarkan dirinya selain cantik.
Senyuman terkembang di wajahnya, menambah kadar kecantikan yang tergambar di wajahnya yang berhias iris mata abu-abu, tanpa perlu menggunakan softlens. Bola matanya bergerak ke bawah, menatap sepasang flat shoes berwarna biru muda beraksen pita yang terpasang cantik di kedua kakinya. Lalu pandangannya bergerak ke atas, menatap dress yang juga berwarna biru muda dengan panjang sedikit di atas lutut yang dikenakannya. Membalut tubuh indahnya yang meskipun bisa dibilang pendek, namun sedikit tersamar karena model dress yang digunakannya. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai indah bergerak mengikuti gerakan tubuhnya.
Tok… Tok… Tok…
“Yona… Sudah siap belum?” suara Arfa, mamanya, terdengar dari balik pintu. Menghentikan sejenak kegiatan Yona yang masih betah memandangi dirinya di depan cermin.
Beranjak menuju pintu kamar, dan membuka kuncinya, Yona tersenyum melihat mamanya yang tak kalah cantik. Tentu saja, Arfa masih sangat cantik dan terlihat masih muda meskipun sudah memiliki anak seusia Yona. Arfa mengenakan dress berwarna senada dengan yang dikenakan Yona. Bukan kebetulan, karena memang mereka tadi siang sudah berjanji untuk memakai baju dengan warna yang sama. Karena dulu mereka membuat dress itu bersama-sama di penjahit langganan mereka. Bedanya, Arfa mengenakan hijab berwarna biru tua yang senada dengan aksen renda di bagian pinggang gaunnya. Arfa adalah wujud Yona versi dewasa dan lebih anggun. Hanya saja Arfa tidak memiliki iris abu-abu yang diwarisi Yona dari papanya, suami Arfa tercinta.
“Yuk, Nak. Nanti kita kemalaman.” ucap Arfa sambil melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Yona mengangguk dan sedikit berlari untuk merebut kunci mobil yang tergantung di tempat khusus gantungan kunci di dekat pintu.
“Aku yang nyetir ya, Ma…” seru Yona seraya tersenyum miring sambil menggoyangkan tangannya yang sudah memegang kunci mobil dengan telunjuk dan ibu jarinya.
Arfa hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah putri semata wayangnya itu.
Mobil yang dikemudikan Yona kemudian mulai membelah jalan raya perlahan. Tangan kanan Arfa standby memegang tuas handbrake, tanpa diketahui oleh Yona. Putrinya itu baru saja lulus ujian mengemudi dan mendapatkan SIM sekitar satu minggu yang lalu. Jadi, masih ada rasa khawatir yang dirasakan oleh Arfa. Selama ini dia tidak mengizinkan Yona menyetir seorang diri, sehingga untuk pergi sekolah dia harus diantar jemput olehnya. Atau terkadang oleh Rangga, jika Arfa sedang ada kesibukan.
Selain itu, di kota ini, kota Sampit yang bisa dibilang sedang mulai berkembang, mengendarai mobil ke sekolah bukanlah hal yang lazim oleh siswa SMA. Kebanyakan siswa mengendarai sepeda motor untuk pergi ke sekolah. Dan Arfa sedikitpun tidak pernah mengizinkan Yona untuk menaiki atau bahkan untuk belajar mengendarai sepeda motor. Karena Arfa masih trauma kehilangan suami yang dicintainya, Rio. Yang meninggal karena mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor. Arfa tidak ingin merasakan kehilangan lagi, hanya Yona satu-satunya harta yang dimilikinya saat ini.
Yona memutar kemudi untuk berbelok ke arah sebuah hotel yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, salah satu hotel besar yang ada di kota ini. Lalu mengarah ke basement untuk parkir. Setelah memastikan mobil terparkir dengan rapi, tangan mereka serempak bergerak melepaskan seatbelt, lalu membuka pintu dan keluar. Arfa meraih tangan Yona dan berjalan bergandengan melewati lobby, menuju ke ballroom tempat dimana acara dilangsungkan. Jika dilihat sekilas, mereka berdua seperti kakak beradik, bukan seperti ibu dan anak.
“Ma, ini pernikahan siapa? Kok aku lupa tanya ya.” celetuk Yona, saat menyadari bahwa tadi pagi saat Arfa mengajaknya, Yona tidak menanyakan apapun mengenai acara yang akan dihadirinya malam ini. Arfa memang selalu mengajak Yona jika menghadiri acara tertentu seperti resepsi pernikahan. Tentu saja Yona, karena Arfa adalah single parent. Siapa lagi yang bisa diajak untuk menemaninya selain Yona. Karena semenjak suaminya meninggal, Arfa tidak pernah dekat lagi dengan lelaki manapun selain Rangga yang memang sudah bersahabat dengannya sejak lama.
“Bukan pernikahan. Pertunangan.” jawab Arfa singkat. Mereka melangkah memasuki sebuah ruangan yang sudah didekorasi dengan indah. Sekilas, Yona bisa melihat inisial nama di depan panggung yang seperti pelaminan, namun lebih sederhana dan tidak ada kursi yang terpajang di sana.
“RH?” bisik Yona, sementara hatinya mulai merasa tak nyaman. Bola matanya bergerak kesana kemari mencari seseorang. Mencoba menyangkal semua firasat yang bermunculan di dalam hatinya.
Namun tepat ketika bola mata abu-abunya bertemu pandang dengan seseorang yang sejak tadi dicarinya, terdengar suara MC menyapa para tamu undangan karena acara akan segera dimulai.
“Selamat malam bapak ibu dan seluruh undangan yang berbahagia, dan selamat datang kami ucapkan di acara yang sangat berbahagia dan penuh cinta ini. Senang sekali saya, Stella, akan menemani anda dalam prosesi pertunangan atau engagement dari Hasna Salsabila atau Hasna yang merupakan putri dari Bapak Hartanto Wijaya dan Ibu Kenanga Hardikusumo, dan Rangga Senjakala yang lebih akrab disapa Rangga atau Angga. Putra dari Bapak Adi Pradana dan Ibu Farida Utami.”
Dari sekian banyak kalimat yang diucapkan oleh pembawa acara, telinga Yona hanya menangkap dua kata. Hasna dan Rangga.
“RH? Rangga? Hasna?” jantung Yona berdegup sangat kencang hingga membuatnya merasa sesak nafas karena tidak bisa mengendalikannya. Genggaman tangannya di tangan Arfa sedikit mengerat, membuat Arfa menoleh menatapnya dengan dahi yang berkerut.
“Mama…” suara Yona terdengar lirih dengan mata berkaca-kaca.
“Loh, kamu kenapa, Nak?”
“Ma… Ma... “ Yona masih tidak bisa mengeluarkan kata apapun dari mulutnya, hingga membuat Arfa khawatir dan mengajaknya duduk di salah satu kursi kosong di dekat mereka. Tangan Arfa bergetar mengambil sebuah gelas berisi air mineral di meja dan menyodorkannya mendekati bibir Yona.
“Yona minum dulu, ya…” bisik Arfa sambil berusaha tidak menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Yona meminum air yang disodorkan oleh mamanya, lalu menarik nafas sejenak. Menenangkan dirinya, hinga jantungnya berdetak kembali normal. Atau… mendekati normal. Karena jujur saja saat ini jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya namun sudah tidak separah tadi.
“Kamu kenapa, Sayang?” Arfa mengelus pipi Yona dengan lembut dan menarik nafas lega saat melihat putrinya sudah tidak seperti tadi.
Yona menggeleng, “Aku nggak papa, Ma.” jawab Yona sambil tersenyum, menyembunyikan perih yang dirasakan di dalam hatinya.
“Trus kenapa tadi kayak… Kaget gitu? Atau…” mata Arfa memicing menatap wajah putrinya dengan seksama.
Yona mengalihkan tatapannya ke arah lain, membuat Arfa tahu bahwa Yona sedang berbohong. Kebiasaan Yona jika sedang berbohong, maka gadis ini akan mengalihkan tatapan dari lawan bicaranya.
“Beneran, Ma. Aku… Aku... cuma kagum lihat dekorasinya. Gaga niat banget mau tunangan, pake dekorasi sebagus ini.” jawab Yona gugup.
Arfa terdiam, berbagai pikiran menghantui otaknya. Sedikit menggeleng, dia mencoba menepis pikiran yang tiba-tiba datang begitu saja, mengangggu fokusnya.
“Wajah Yona kayak kaget gitu tadi. Ada raut kecewa juga. Nggak mungkin kan, Yona ada rasa sama Angga? Nggak… Nggak mungkin...”
Arfa kembali menggelengkan kepalanya.
“Baiklah, kini kita tiba di acara yang kita tunggu-tunggu, dimana Hasna dan Rangga akan saling memasang cincin sebagai tanda bahwa mereka berdua kini terikat janji untuk melangkah ke jenjang selanjutnya dari hubungan yang sudah terjalin. Harapan kita semua, segala persiapan menuju pernikahan Rangga dan Hasna akan berjalan lancar hingga hari H nantinya.”
Suara MC kembali mengalihkan perhatian Arfa dan Yona. Dari kejauhan, Yona bisa melihat Rangga yang tersenyum bahagia saat memasang cincin di jari manis Hasna. Yona memejamkan mata saat melihat Rangga sedikit membungkuk untuk mengecup jemari lentik calon istrinya itu. Yang membuat suasana di ruangan itu bergemuruh dengan tepuk tangan.
Satu hal yang tidak disadari oleh Yona, Arfa sedari tadi memperhatikan wajahnya. Tidak sedikitpun Arfa melihat ke arah Rangga maupun Hasna. Arfa menarik nafas dalam dan berat, lalu menghembuskannya perlahan.
“Cintamu jatuh ke orang yang tidak tepat, Sayang.” bisik Arfa dalam hatinya yang merasa nyeri.
Arfa berdiri dari posisinya, lalu mengelus tangan Yona perlahan.
“Yona disini aja ya. Mama mau pamitan sama Gaga.”
Yona refleks berdiri mendekati Arfa yang sudah beranjak menjauh darinya, menuju sebuah long table yang dikhususkan untuk keluarga.
“Ikut, Ma…” bisik Yona sambil menggenggam erat tangan Arfa.
Arfa hanya mendengus sambil menggeleng melihat Yona. Padahal dia tidak ingin Yona ikut agar Yona tidak perlu bertemu Rangga atau Hasna.
Rangga menyambut kedatangan Arfa dan Yona dengan senyuman sumringah.
“Angga, selamat ya. Semoga lancar sampai hari H nanti.” Arfa mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Angga dan Hasna yang sedang tersenyum padanya.
“Makasih ya Fa, udah dateng.” Hasna menjawab sambil bergerak mendekat dan memeluk Arfa.
Yona mengamati setiap gerak gerik Hasna melewati sudut matanya.
Tiba-tiba di depan wajahnya melayang jentikan jari Rangga, “Hust… Jangan ngelamun.”
Membuat Yona seketika mengerjap dan mengedipkan matanya, lalu menatap Rangga dengan tatapan yang bagi Rangga sulit diartikan. Karena sebelumnya, gadis itu tidak pernah menatapnya seperti itu.
“Ayo, Ma…” Yona mengalihkan perhatian Arfa yang masih berbincang dengan Hasna.
“Iya, Sayang."
"Aku balik dulu ya Ngga, Na...”
Sepanjang lorong dari ballroom menuju lobby, Yona mendekat dan memeluk lengan Arfa. Sedikit menyandarkan kepalanya di lengan mamanya itu. Arfa membelai pipi Yona dengan lembut, sambil terus berjalan keluar dari hotel itu.
“Mama yang nyetir ya…” tangan Arfa menadah meminta kunci mobil pada Yona. Yona mengangguk lemah.
“Ma… Kenapa mama nggak bilang kalo kita datang ke acara tunangannya Gaga?”
Arfa menarik nafas dalam, menyadari hal itu. Tidak biasanya dia lupa memberi tahu Yona. Biasanya jika dia meminta Yona untuk menemaninya menghadiri acara tertentu, Arfa pasti akan menyebutkan acara siapa yang akan mereka hadiri.
“Maafin Mama ya, Sayang…” ucap Arfa dengan tatapan lurus ke depan, menatap jalan raya yang sepi dan temaram.
---
22 - 02 - 21
21.58 WIB
Hai Semua…
Terima kasih sudah mampir di cerita ini.
Jangan lupa tap love dan tinggalkan komentar ya…
Jika berkenan, boleh banget mampir ke sosial media aku.
Fesbuk : Sweet July
Insta gram : @sweetjuly.me
Aku biasanya update info di kedua sosmed itu.