"Kamu mau kemana Na!?" teriak tuan Bara berjalan menuruni tangga. Nana menghentikan langkanya, sembari membawa koper di tangan kirinya. Dia berbalik perlahan, wajah tak bersemangatnya membuat tuan Permana terdiam dan berjalan menghampiri putra bungsunya itu. "Jangan buat rumah ini semakin sepi Nak!" seru tuan Bara dengan nada lembut. Nana tertegun mendengar suara ayahnya yang lain dari biasanya. Pria pembisnis dengan latar belakang kuat dan kekeras kepalaannya tak bisa di tandingi itu. Kini berbicara sebagai seorang ayah. Pria tua yang mencegah putranya untuk pergi. Nana masih terdiam, dia tidak berkata sepatah katapun. Namun Nana berjalan ke arah sofa dan duduk bersama ayahnya. Masih tanpa kata, dia kini hanya mendengrkan setiap ucapan ayahnya. Curahan hati yang belum pernah dia

