Makan malam romantis ditemani lilin dan satu buket bunga. Wow terlihat indah dalam bayangan, namun semuanya harus hancur ketika si perusuh mengganggu acara kencannya dengan sang kekasih.
"Kenapa kau bisa disini? Kau menghancurkan acara kencan kami Arvid." omel Alesa seraya berkacak pinggang. Perempuan cantik itu menatap Arvid dengan tatapan siap membunuh. Sedangkan sang pria yang disampingnya hanya terkekeh geli.
"Sudahlah, jangan marah-marah nanti kau--"
"Cepat tua." sela Arvid dengan cepat. Detik itu juga Alesa melayangkan tas kecilnya kearah muka Arvid. Alhasil Arvid mengadu kesakitan dan berdecak kesal.
"Kau sekali saja tidak membuatku darah tinggi, tidak bisa apa? Kau itu menyebalkan Arvid, kau menyebalkan." pekik Alesa. Seharusnya Arvid takut, namun ini sebaliknya. Arvid malah tertawa kencang ketika mendengar sang kakak memekik kencang. Alih-alih mengontrol rasa kesalnya, Alesa sudah tidak perduli lagi, rasanya dia ingin mencubit-cubit bibir sang adik. Huh, Alesa heran sendiri, dulu mamanya nyidam apa saat hamil Arvid?
"Huh kau jangan marah-marah kak. Aku kesepian di mansion, ya sudah aku masuk ke bagasi mobil Arthur. Aku niatnya hanya ikut saja, tapi melihat kau keluar dan melihat keadaan sekitar, ya aku ikut keluar." jelas Arvid tanpa nada bersalah.
"Kesepian? Kenapa tidak keluar sendiri saja hah? Dari pada kau disini menghancurkan acara kencan ku." balas Alesa sengit.
"Jika aku pergi sendiri tak ada sensasi nya. Tapi jika mengganggu kencan mu, sensasi nya tersendiri." jawab Arvid absurd. Memang Arvid selalu begitu, ada saja ucapan yang membuat kakaknya tidak habis pikir.
Amarah Alesa sudah naik ke ubun-ubun dan siap meledak, didepan adik ter GILA nya ini!
GILA, Arvid memang gila. Ada saja cara membuat amarah Alesa tersulut. Benar-benar adik menyebalkan, sangat menyebalkan!
"Sudah cukup, lebih baik kita makan bersama saja. Dinner bisa lain kali, tidak apa-apa kan?" tanya Arthur, menghentikan perdebatan antara Alesa dan Arvid.
"Huh, terserah."
"Yes, pesan yang banyak ya calon kakak ipar. Makanannya enak-enak di sini, apalagi pasta nya yang Uhh lezat sekali." celetuk Arvid yang dibalas anggukan oleh Arthur.
"Cih, tidak tahu malu. Dimana jiwa sultan mu itu heh?" sela Alesa membuat Arthur menggelengkan kepalanya. Sepertinya perdebatan dengan topik baru akan segera dimulai.
Sedangkan Arvid, dia hanya diam dan mengedikkan bahunya acuh. Baginya, membuat Alesa marah adalah hal yang menyenangkan.
"Ya Tuhan. Ucapan mu itu kak, asal kau tahu ya. Aku itu tidak tahu malu karena biasanya juga--"
"Malu-maluin!" timpal Alesa cepat. Sedangkan Arthur yang disebelahnya sudah tertawa terbahak-bahak.
"Mulutnya itu loh, selalu pedas kalau bicara. Tidak ada perasaannya sama sekali hmm." geram Arvid menahan kekesalan. Sekarang Alesa tersenyum lebar karena berhasil membuat sang adik merasa kesal.
Tak ingin terjadi perdebatan lagi, Arthur segera menggenggam telapak tangan Alesa dan menuntunnya kemeja yang sudah dipesan. Begitu juga dengan Arvid, adik dari Alesa itu ikut duduk dan dengan tidak tahu malunya langsung memanggil pelayan untuk mencatat pesanannya.
"Aku mau Pirozhki, Beef Stroganoff, Honey Cake dan Mors." pesan Arvid pada pelayan pria yang baru saja dipanggilnya.
Mendengar banyaknya pesanan Arvid, Alesa ingin memprotes, tapi dengan cepat Arthur menghentikannya dengan cara mengusap lembut punggung sang kekasih.
Arthur tahu betapa jahilnya Arvid pada sang kakak. Bahkan Arthur sampai dibuat bingung dengan hobi Arvid yang suka sekali membuat Alesa marah-marah. Baginya, kemarahan Alesa adalah hal yang luar biasa.
"Samakan saja pesanan." ucap Arthur saat pelayan bertanya.
Pelayan itu mengangguk dan segera pergi dari sana. Setelahnya, semburan kemarahan dari Alesa terdengar.
"Dasar, kau ini ya aku saja belum pesan kenapa kau pesan duluan?" murka Alesa yang hanya dibalas kekehan kecil dari Arvid.
"Sudah sayang, jangan marah-marah." nasihat Arthur. Awalnya Alesa mencoba tenang dan tidak terpancing dengan segala topik obrolan yang dibuat Arvid. Tapi, memang dasarnya Arvid, pria itu berhasil memancing amarah Alesa lagi. Lagi dan lagi.
"Ah itu makanannya datang" ucap Arvid saat melihat dua pelayan berjalan kearah meja mereka dan menyajikan beberapa hidangan.
Setelah kedua pelayan itu pergi, dengan cekatan Arvid mulai memakan makanannya, begitu juga dengan Alesa dan Arthur.
"Oh iya sayang, tuan William itu bukannya seorang duda?" tanya Arthur disela-sela aktifitas makannya.
"Iya, Istrinya meninggal saat melahirkan putrinya. Kasihan sekali, padahal tuan William masih muda sudah harus menduda." jelas Alesa.
"Tapi kenapa Elisa bisa suka pada tuan William? Maksud ku, secara tuan William statusnya duda beranak satu. Lagipula masih banyak pria diluar sana yang lebih dari tuan William." ucap Arthur.
"Semua itu karena cinta. Cinta tidak mengenal batasan. Ah betapa butanya cinta itu. Sungguh menggelikan namun menakjubkan. Ya begitulah." ucap Arvid.
"Ya kau benar. Hanya saja jika aku melihat tuan William, sepertinya dia orang yang sangat kaku." ucap Arthur seraya memasukkan satu potongan cake kedalam mulutnya.
"Tapi dibalik itu semua dia adalah orang yang penyayang, terlebih kepada putri kecilnya." jelas Alesa.
Ketiga orang itu sudah larut dalam pembicaraan dengan topik Elisa dan tuan William. Bagi mereka, hubungan keduanya sungguh lucu dan menggemaskan. Dimana semuanya tahu jika selama ini Elisa lah yang mengejar-ngejar dua beranak satu tersebut. Ya Semoga saja wanita itu bisa menaklukkan tuan William, sayang sekali jika tidak. Dan jelasnya pasti Elisa akan hancur karena cintanya benar-benar di tolak.