Family Story

953 Kata
Pagi hari ini jadwal Alesa kosong, ia sengaja mengosongkan jadwal nya hari ini karena semalam Arthur menelfon, dan mengatakan akan mengajak Alesa kencan. Senang? Tentu saja, siapa yang tidak senang diajak kencan oleh kekasihnya. Dan sekarang? Alesa bingung memilih baju yang akan ia gunakan saat kencan nanti malam bersama Arthur. Kencan nya nanti malam, tapi sibuk di pagi hari. "Huh aku pakai yang mana? Tidak ada yang cocok." monolog Alesa, ia berkacak pinggang mengamati lemari nya yang semua isinya sudah terdampar dilantai dan diatas ranjang. Tak tahu harus melakukan apa, ia meneriaki Eli berharap gadis itu segera datang dan membantunya memilih pakaian. Namun bukannya Eli yang datang melainkan si biang rusuh Arvid. "Hei cantik kenapa teriak-teriak?" tanya Arvid dengan lancangnya masuk dan duduk diatas tumpukan baju Alesa yang berada diatas ranjang. "Hei bocah, baju ku kau duduki. Dasar kurang ajar." "Jangan teriak-teriak kak, aku tidak tuli. Oh iya, kenapa panggil-panggil kak Eli? Dia baru saja keluar, katanya pergi menemui calon anak hahaha." Alesa memutar matanya jengah, ia kadang berpikir kenapa Eli bisa-bisanya mencintai pria yang lebih bahkan jauh lebih tua dari usianya. Dan lebih parahnya, pria itu duda beranak satu. Bayangkan? "Kenapa kau heh? Memikirkan kak Eli? Dia itu sudah bahagia dengan pilihannya, jadi biarkan saja. Lagipula daddy sama mommy merestui, apalagi tuan William itu orangnya baik, meskipun kadang-kadang you know lah." ucap Arvid. "Aku cuma takut kalau nantinya Eli belum siap menjadi seorang ibu. Kau tahu bukan Eli itu orangnya bagaimana, dia labil dan masih emosian. Berbeda sekali dengan diriku ini yang sudah matang dan dewasa." Heh apa itu? Memuji diri sendiri? "Aku takut tuan William tidak bisa mengimbangi Eli. Kau tahu kan tuan William itu sudah berusia 38 tahun, sedangkan Eli masih berusia 24 tahun, ditambah tuan William sudah mempunyai anak yang berusia 4 tahun." "Kau ini, seperti usia mu tidak jauh saja dengan Arthur." "Heh, aku dan Arthur hanya selisih 3 tahun, dan Arthur juga lebih tua dari kak Arslan." "Yasudah, artinya sama. Kau dan Eli sama, mungkin semua perempuan sama, yaitu suka pada pria yang lebih tua dari dirinya sendiri hahaha." "Sudah sudah, ganti topik pembicaraan nya. Dari pada membicarakan lah yang kurang penting, lebih baik kau bantu aku memilih pakaian untuk kencan nanti malam." Arthur mengangkat alisnya, "Dengan Arthur?" "Iya, omong-omong kau tidak ada sopan-sopannya memanggil Arthur tanpa embel embel kakak." Arvid mengendus kesal dan bangkit dari duduknya. Ia mengamati semua pakaian Alesa dan mencari mana yang cocok untuk dipakai sang kakak diacara kencannya. "Kau juga memanggilnya tanpa embel-embel kakak, seharusnya yang lebih tua itu mencontohkan yang baik untuk yang lebih muda. Kau panggil Arthur dengan embel embel kakak, pasti nanti akan aku tiru." Jika membunuh tidak dosa, sudah bisa dipastikan adiknya yang satu ini akan mati ditangan Alesa. Tapi tidak, Alesa masih menyayangi Arvid meskipun kadang ucapan dan tingkah laku Arvid membuatnya kesal, atau yang lebih parah membuatnya mengelus d**a. "Ini bagus kak, warnanya peach dan nanti kau padukan dengan high heels peach juga. Bagus kak, cantiknya kelihatan tapi ingat jangan dandan yang berlebihan, natural saja. Kau tahu, kau kelihatan seperti aunty aunty kurang belaian jika sedang membintangi iklan majalah fashion. Jujur saja kak, aku lebih suka melihat mu yang tanpa make up seperti ini, cantiknya alami dan kelihatan seperti usia mu yaitu 24 tahun, bukannya 30 tahun." ucap Arvid berpendapat. "Kau ini memujiku atau apa heh?" marah Alesa, pasalnya Arvid sungguh membuatnya jengkel. Sangat menyebalkan sekali. "Aku memuji mu tapi sekalian menghujat. Hahahah, aku pergi dulu." "Dasar sialan." desis Alesa. Hatinya mencoba sabar dengan sikap menyebalkan sang adik. Iya, harus sabar. °•°•°•°•°•° Malam hari tiba, Alesa menuruti anjuran sang adik untuk memakai gaun berwarna peach dengan paduan high heels peach, serta berdandan yang senatural mungkin. Rambutnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helaian disamping kiri dan kanannya. Setelah merasa tampilannya sudah perfect, Alesa turun dan mendapati semua keluarganya berkumpul kecuali Ayesha dan Elvan. Bertanya siapa Ayesha? Dia anak terakhir David dan Aretha sebelum memutuskan untuk memakai kontrasepsi. Dan Ayesha adalah gadis dengan takdir yang miris. Diusianya yang masih 15 tahun, harus menjalani hidup dengan rasa kewaspadaan. Semua yang terjadi kepada Ayesha adalah ulah Elvan, semuanya ulah Elvan. Entahlah Alesa tidak bisa memberitakannya disini, mungkin lain waktu ada saatnya sendiri kalian mengehatui kisah Ayesha Aderxio. "Hei semua." sapa Alesa girang. "Wah kau menuruti ucapanku, lihatlah dirimu kak kau kelihatan cantik." puji Arvid. "Ck, kau ini kenapa hobi sekali merusak mood ku yang sedang  bagus ini." "Hooh marah." "Ka--" Tin tin Baru saja ingin membalas perkataan Arvid, suara klakson dari luar mengurungkan niatnya beradu argumen dengan sang adik. Alesa lebih memilih berjalan kearah kedua orang tuanya, dan mencium pipinya. "Ale pergi dulu, Ale mau kencan." "Kau kencan tidak ajak-ajak kak, kan aku ingin ikut." cetus Eli yang tengah bersandar dibahu Elvian. "Apa gunanya tuan William mu itu, ajak dia kencan dan bilang sekali-kali romantis." balas Ale dengan senyum mengejek. Ia tahu adiknya itu tengah mengejar cinta si duda beranak satu. "Lihat ayah putri mu itu, mengejek sekali. Sudah tahu gimana perjuanganku mengejar tuan William, dan sampai sekarang belum ada hasil." "Tak apa, yang terpenting si anaknya udah lengket sama kamu." ujar Elvian seraya mengelus rambut panjang milik Elisa. "Iy--" Tin tin "Itu Arthur su--" "Tuan William." seru Elisa. Gadis itu terkejut dengan kedatangan William di mansion ayahnya. Apalagi William datang sendirian, tanpa Laura putri kecilnya. Ternyata kedatangan William diikuti oleh Arthur yang berada dibelakangnya. Dengan segera Alesa mendekat dan menggenggam tangan Arthur, sedangkan Eli dan lainnya masih menerka-nerka apa yang William lakukan malam ini. "Tuan David, aku ingin menikahi putri mu." APA? Lima tahun lamanya Eli mengejar cinta William, dan sekarang? Ya Tuhan. Apakah ini bukan ilusi, maksudnya ini semua nyata kan? Betapa bahagianya Elisa saat ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN