"Hahahahah ... ..."
"Ha ha ha.. . ."
"Udah, Al. Geli ihh .. ha ha ha ..."
Gelak tawa terus saja terdengar dari antara.
Aldan mengelitiki Keira di segala titik gelinya.
Sementara Keira berusaha membrontak untuk lepas dari rengkuhan Aldan.
" Kamui saja tahu cara ngebuat lo tertawa itu cuma dengan ngelitikin lo, pasti itu udah gue lakuin sejak lama, Kei. Tawa lo adalah suara terindah yang pernah gue dengar." batin Aldan.
"Duh ... Ha ha ha ..."
"Udahh ... Ha ha ha ... ..."
"Ha ha ha ... Ampun udah ... ha ha ..."
Aldan menghiraukan permohonan Keira dan terus menggelitiki Keira dengan brutalnya.
" Tolong ... Udah. Ha ha ha ..." mohon Keira lagi.
Aldan menghentikan aksinya dan kemudian merengkuh Keira ke dalam dekapannya.
"Aku sayang kamu" kata Aldan diakhiri dengan kecupan di puncak kepala Keira.
Keira kicep. Tidak membantah juga tidak membantah apa-apa.
"Aku nggak maksa rasa kamu. Tapi aku mohon, tetap bersamaku. " Lirih Aldan.
Keira tetap diam.
.
Beberapa detik kemudia Keira membuka mulutnya dan berkata, "Anterin pulang dong, Al. Udah magrib nih,"
Aldan melepaskan rengkuhannya dan berkata, "padahal masih pengen sama kamu kamu,"
"Duh, gue capek banget, Al. Besok juga ketemu ini," jawab Keira.
"Ya lagian. Kan aku udah bilang. Kamu di rumah aja. Nggak usah ikutan pertandingan cheers. Kamu sih ngeyel. Jadi capek kan badan kamu,"
Keira memutar bola matanya malas.
"Puterin terus tuh bola mata. Biar tambah belo!" sindir Aldan.
"Ihh. Ayo buruan anterin pulaanggg. . ." rengek Keira.
"Yaudah. Iya ayok." jawab Aldan mengalah.
Keira tersenyum sumringah.
"Nih kamu pakek dulu, udaranya dingin," kata Aldan sambil menyerahkan jaket warna biru tua miliknya.
Keira menerima jaket itu dan segera memakainya.
Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju mobil Aldan.
.
Aldan menyalakan mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
"Kita makan dulu. Kamu mau makan apa?" tanya Aldan.
"Gue masih kenyang, Al."
"Nggak mau tau. Pokoknya makan!"
"Ck!"
"Mau makan apa?" ulang Aldan.
"Sate aja," jawab Keira.
"Ya gitu. Di tanya itu di jawab, kan makin sayang jadinya."
Keira mencibir.
.
Aldan menghentikan mobilnya di depan penjual sate.
Aldan turun dari mobil dan segera berputar mengelilingi mobilnya. Membukakan pintu Keira dan menggenggam tangan Keira erat.
"Kamu mau berapa tusuk?"
"10 aja, gue mau yang ayam ya,"
"Oke."
Aldan berlalu dari hadapan Keira, menghampiri penjual sate dan segera memesan pesanannya.
.
"Main hp terus," kata Aldan yang baru duduk di samping Keira.
"Ngecek IG," jawab Keira seadanya.
"Mana, coba aku liat," kata Aldan sambil merebut paksa HP keira.
"Ihhhh... kok di rebut sih," rengek Keira.
"Aku liat sebentar,"
Aldan sibuk memainkan HP Keira, sedangkan Keira sibuk memainkan liquid dan Vape milik Aldan.
"Gue mau coba boleh?" tanya Keira was-was.
Aldan yang mendengarkan ucapan Keira segera menghentikan kegiatannya dan menatap Keira tajam.
"NGGAK!"
"Pelit dasar!!"
.
Pesanan sate pun sudah siap di santap.
Keira menyantap makanannya dengan lahapnya.
Aldan tersenyum saat melihat Keira makan dengan lahapnya.
"Liat kamu makan aja bikin aku makin sayang sama kamu, Kei." batin Aldan.
"Aku udah selesai. Pulang yuk!" ajak Keira.
Aldan menganggukkan kepalanya dan berkata, "bentar, aku bayar dulu. Kamu tunggu di mobil aja,"
Keira mengangguk dan segera bangkit dari duduknya.
Melangkahkan kakinya dengan seksama.
Namun, setibanya Keira di depan mobil Aldan, Keira mimisan.
Keira sedikit panik dan segera masuk kedalam mobil Aldan. Mencari tisu atau apapun benda yang bisa digunakannya untuk mengelap mimisannya.
"Berhenti sebelum Aldan masuk mobil, pleaseeee." rapal Keira dalam hati.
Sekitar tiga menit kemudian. Suara pintu mobil bagian kemudi terbuka.
"Lagi ngapain, Kei?" tanya Aldan saat mendapati Keira yang sedang menghadap jendela dengan tangan yang terus bergerak-gerak di sekitaran wajahnya.
"Ngelap muka berminyak, sumpah muka gue bocor parah," alibi Keira.
Aldan percaya saja dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Selama perjalanan menuju rumah Keira.
Aldan dan Keira sama-sama bungkam.
Keira sibuk dengan mimisannya, sedangkan Aldan fokus pada jalanan.
6 menit kemudin, mobil Aldan sudah terparkir rapi di depan gerbang rumah Keira.
"Aku langsung pulang. Kamu juga langsung istirahat. Nggak usah mandi! Byee. ."
"Iya. Bye.." jawab Keira seadanya.
Aldan menutup kaca jendelanya dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Keira merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di balkon kamarnya.
Menikmati rintikan hujan yang mendamaikan.
Seandainya hujan deras, pasti Keira sudah terjun dari balkon kamar dan mendaratkan tubuhnya di kolam renang yang berada di bawah balkon kamarnya itu.
Menikmati hujan sambil berenang. Menyenangkan dan mendamaikan.
Ya Keira menyukai dua hal itu sejak kecil.
"Ngapain di situ?" tanya Darren yang baru tiba di balkon kamar Keira.
Keira kaget dan menolehkan kepalanya ke sisi kanan guna melihat siapa yang mengagetinya, setelah melihat siapa yang mengagetinya Keira berdecak sebal.
"Lo ngapain disini Kei?" ulang Darren.
"Nunguin hujan deras," jawab Keira santai.
"Kalo udah deras mau ngapain?" tanya Darren seraya melangkah mendekati Keira.
"Eh wait, jangan bilang lo mau terjun dari balkon ke kolam renang lagi.
Ah big no Keira! Big no!" sambung Darren yang sedang berdiri di hadapan Keira dengan menyilangkan kedua tangan di depan d**a bidangnya.
"Please lah kak," mohon Keira memasang puppy eyes nya.
"Big no!" tegas Darren.
"Lo resek kalo lagi hujan," sungut Keira.
"Bodo amat deh ah! Yang penting lo gak koma lagi kaya waktu itu." ungkap Darren dengan pandangan menerawang ke depan.
Ingatannya kembali lagi ke 4 tahun yang lalu, dimana usia Keira baru menginjak 11 Tahun.
Dimana Keira selalu terjun bebas dari balkon kamar menuju kolam renang saat hujan tiba, entah itu pagi atau malam sekalipun, Keira tidak peduli.
Dan ke tidak pedulian Keira itu berbuah dengan insident yang tidak di inginkan.
Insident itu juga menyebabkan Keira mengalami pendarahan hebat pada kepalanya.
Kejadian itu juga mampu membuat Keira koma selama berbulan-bulan, dan hal itu membuat seluruh Keluarga besarnya khawatir dengan keadaan gadis kecil nan manis penuh keceriaan.
"Gausah flashback kejadian itu kali kak," ucap Keira yang mampu membuyarkan lamunan Darren.
Darren mengernyitkan pangkal hidungnya. Menatap keira curiga.
"Kok lo tau? Cenayang ya lo?"
"Natapnya B aja!" ucap Keira seraya melirik Darren sekilas.
"Suka-suka gue!" sinis Darren.
"Iyah deh iyah." jawab Keira mengalah.
Darren menatap Keira dengan tatapan sendunnya.
"Kei, lo itu adik gue satu-satunya, dan lo juga prioritas utama buat gue, gue sayang lo, gue nggak mau lo koma lagi, gue juga nggak mau kalo harus dipisahin lagi sama lo. Jadi please, lo jangan nglakuin hal aneh-aneh yang bisa buat lo celaka," mohon Darren.
Sebenarnya Keira terenyuh mendengar ucapan Darren, tapi Keira menanggapinya biasa saja supaya tidak ada kecangungan yang berakhir galau-galauan menye untuk kali ini.
"Ck. Lebay!"
Darren menatap Keira malas.
"Ya kan itu tandanya gue sayang sama lo Kei," ungkap Darren seraya meletakkan bokongnya di samping Keira.
"Serah lo deh kak, gue males bahas itu mulu," jawab Keira malas.
"Iya-iya gak bahas itu lagi. Tapi lo juga harus inget, gaboleh nglakuin hal yang bikin lo celaka!"
Keira hanya berdehem membalas ucapan Darren.
"Eh. Ngomong-ngomong gimana caranya lo tadi bisa ikut tanding cheers?" tanya Darren yang mengganti topik pembicaraannya seraya menarik kepala keira kedekapaannya.
"Rahasia, "
"Main rahasiaan ya sekarang?" tanya Darren sambil mengacak rambut Keira.
"Ihhhhh.. . Kakak! Berantakan kan!?" sungut Keira.
"Tapi tetep cantik kok," goda Darren.
"Gue emang selalu cantik kapan pun itu," kata Keira menyombongkan diri.
"Yeee.. . ."
"Eh sehabis pertandingan tadi lo di bawa kemana sama Aldan?"
"Rumahnya,"
"Ngapain?"
"Dikasih makan otak dugong,"
"Bhak hahahahhahaha. .. whaaaaahahah...." tawa Darren pecah seketika.
"Ih!! Gila ya lo kak?"
"Lucu parah sumpah! Bhakk hahahahhaa. Terus lo makan nggak?"
"Makan lah, takut gue sama dia,"
"Wihhh. Seorang Keira Maurren akhirnya mau makan brokoli. Uwowooo. Magic magicc...."
"Lebay!!!"
Darren mengacak rambut Keira gemas.
Keira menjauhkan kepalanya dan berkata,
"Suka banget sih ngacak-ngacak rambut gue!!"
.
"Kak??"
"Hm,"
"Kalo misalnya gue mutusin pertunangan gue sama Aldan. Persahabatan lo sama dia nggak bakal putus juga kan?" lirih Keira.
Darren sempat kaget saat mendengar perkataan Keira.
"Kok ngomong gitu?"
"Aku nggak nyaman sama dia kak,"
"Tapi kan dia sayang banget sama kamu,"
"Tapi gue nggak sayang dia, kak,"
Darren mengusap kepala Keira lembut.
"Bukan 'nggak' tapi 'belum'."
"Ah tau ah! Serah apa kata lo!" ketus Keira.
"Ulu ulu Keiranya kakak ngambek, cini cini, tilum dulu cini," ucap Darren seperti anak kecil dan mencium kening Keira singkat.
Keira menjauhkan kepalanya dari tubuh Darren.
"Apaan sih kak, lebay!"
"Biarin, tidur gih!" perintah Darren.
"Nggak mau,"
"Harus mau,"
"Nggak!"
"Telepon papa sama mama nih," ancam Darren seraya mengeluarkan ponsel yang ada di sakunya.
"Weeiitsss. . .kakak gue apa musuh gue sih lo?" cegah keira dengan pertanyaan yang hampir mirip sindiran itu.
"Pilih mana?
Kakak apa musuh?" goda Darren yang menaik turunkan alisnya.
"Kakak deh kakak," jawab Keira malas.
"Eh kak ini kan masih jam 22:00," sambung Keira.
"Terus kenapa?"
"Ke arena yuk, kak!" ajak Keira.
"Ngapain?" tanya Darren yang mengernyitkan pangkal hidungnya.
"Ya ngaspal lah, masa iya jualan gulali," ketus Keira.
Darren memutar bola matanya malas dan berdecak.
"Ck. Kalo Aldan tau gimana?"
"Bodo amat,"
"Kalo dilaporin ke mama sama papa gimana?"
"Biarin,"
"Kalo mama sama papa marah, terus lo diasingin lagi gimana?"
"Bodo,"
"Kalo lo diasingin, gue sendiri lagi dong, Kei?"
"Urusan lo!"
"Ih Keira mah gitu," rengek Darren, mirip banci pengkolan.
"Iuhhh. . . .jijik gue." ucap Keira bergidik ngeri.
"Hahaha,"
"B aja kali, ayo dong kak, ayo," rengek Keira.
"Besok aja, sekarang tidur gih!" larang Darren.
"Gamau. Ayolah kak, ayo."
"Gak! Gue nggak suka penolakan. Tidur!" tegas Darren.
Keira memutar bola matanya malas dan menjawab larangan Darren dengan deheman kasar.
"Gitu kan pinter. Yuk,"
"He-eh kak, he-eh." jawab Keira malas seraya bangkit dari sofa balkon menuju ke dalam kamarnya.
Darren mengunci pintu balkon, sedangkan Keira sudah merebahkan tubuhnya di king size nya.
"Tidur nyenyak Kei, gue sayang lo. Good night my angel." ucap Darren seraya mengelus puncak kepala Keira lembut.
Keira hanya mengangguk, dan mulai memejamkan matanya.