-°| Gincu

1385 Kata
Kamis gerimis. Keira sudah siap dengan seragam sekolahnya. Mematut diri di depan kaca rias. Memoles sedikit lip balm ke bibir tipisnya. Menyisir rambut panjangnya. Setelah di rasa cukup, Keira memakai kaus kaki dan sepatu. Sempurna . Satu kata untuk penampilan Keira saat ini. Alami dan sederhana tapi memukau. "Bedakan gih!" perintah Darren yang masuk kamar Keira tanpa permisi. "Ogah," bantah Keira. "Muka lo keliatan ketuk kei, pakai bedak sama gincu gih!" Keira cengo mendengar perintah Darren. Gincu ? Hah darimana Darren tau istilah gincu ? pikir Keira . "Gincu?" tanya Keira bingung. "Itu loh, yang warna-warni di bibir olesin," "Maksud gue, kok lo tau tentang gincu? Ah jangan-jangan lo diem-diem jadi tante laura ya !?" tebak Keira. "Eh, njir! Temen-temen gue biasanya bilang gini ' kekuatan gincu ' terus gue nanya, gincu itu apaan, terus dikasih tau deh." jelas Darren. "Kirain," "Buruan pakek, biar gak keliatan kran. Eh gitu ga masuk masuk aja, kayaknya lo lagi sakit," "Nih gue pakek nih! Gue gak sakit. Emang muka gue gini kali, gak ketuk kok." Keira memoles lipglos dengan warna pink natural. Supaya Darren nggak tambah cerewet. "Udah kan," "Gitu dong, cantik." Darren tersenyum dan mengedipkan Mata sebelah kiri. Sementara Keira mendengus kesal dan memutar bola mata malas. "Yuk!" ajak Darren. Keira hanya menjawab dengan deheman. "Em. Kak," "Apa?" "Gendong dong kak," ucap Keira yang memasang puppy eyes- nya. "Tumben?" "Pengen aja." "Yaudah yuk!" Darren berdiri membelakangi Keira, menyerahkan punggungnya untuk dinaiki Keira. Keira digendong Darren, namun setibanya di anak tangga paling bawah Darren turun Keira, Darren merangkul bahu Keira dan berjalan menuju ruang makan. "Pagi den. Pagi non," sapa Bi Sulis saat mendapati kakak beradik di ruang makan. "Pagi bi," jawab Darren dan Keira secara bersamaan. "Den Darren sama non Keira mau makan apa?" "Keira makan roti coklat aja bi," "Darren seperti biasa nya aja bi," "Siap. Bentar ya non, den," ucap Bi Sulis seraya berlalu menuju dapur. Setibanya di dapur, Bi Sulis menyiapkan sepotong roti coklat pesanan Keira dan sepiring nasi goreng+telur mata sapi setengah matang kesukaan Darren. "Kok cuma makan roti aja kei?" tanya Darren lembut, penuh kasih sayang. "Yang penting makan," jawab Keira sewot. "Kok lo sewot sih," ucap Darren tak kalah sinis dari Keira. "Bodoamat!" "Lo kenapa sih jadi sewot banget sama gue?" "Tauk!" Darren mengeram kesal. "Punya mulut tuh di jaga. Jangan asal ngadu aja bisanya," sindir Keira. "MAKSUD LO APA SIH!?" teriak Darren. "Masih nanya maksud gue? Heh! Lo jangan pura-pura begok deh!" "Loh, loh, jangan ribut atuh non, den," lerai Bi Sulis yang baru datang dengan 2 gelas s**u. s**u rasa vanilla di tangan kiri, dan s**u rasa coklat di tangan kanan. Darren berdecak kesal. Menghabiskan sarapan pagi nya dengan sangat cepat dan meminum s**u rasa vanilla sampai habis. Setelah itu. Darren beranjak pergi tanpa memperhatikan Keira. Bodoamat. Mood nya sedang hancur saat ini. [Flashback] Setibanya Keira dan Darren di meja makan. Keira mendapat sebuah pesan dari papanya. 'Kalau di bilangin kakak itu dengerin baik-baik. Jangan sekali-kali ngrengek ke kakak kamu buat pergi ke arena. Sekali lagi papa denger kamu ngrengek ke kakak kamu kaya gitu lagi. Kamu papa pindahin ke dubai. Ikut tante kamu!' Keira mengeram marah. "Darren sialan. Punya mulut lemes banget. b*****t!!" Batin Keira [Flashback off] Keira mendengus dan kemudian menjatuhkan kepalanya keatas meja. "Non Keira kenapa?" "Sedikit pusing bi," jawab Keira. "Gausah masuk sekolah aja ya Non," bujuk Bi Sulis. "Keira gpp Bi, cuma sedikit pusing aja," "Tapi non," "Gpp bi," "Bibi panggilin Den Darren aja ya non? biar non Keira bisa bareng Den Darren aja," "Gausah bi! Kakak udah berangkat bi, tuh suara mobilnya," "Terus non Keira ke sekolah nya gimana?" "Keira naik motor aja, tolong bilangin mang ujang suruh manasin dulu motornya ya bi, motor yang klx aja bi," "Tapi non," "Gpp bi, buruan bi! Keburu telat," "Iya non, permisi ya." Bi Sulis berlalu menuju gerbang depan, mencari mang ujang. Ketemu. Bi Sulis mengutarakan apa saja yang dipesankan oleh Nona muda nya. 5 menit kemudian Keira keluar dari rumah. Rok seragam yang tadi dipakai Keira, kini berganti dengan celana riped warna hitam pekat. Seragam atas warna putih dibalut dengan hoodie panjang warna abu-abu milik Darren. Nemu di atas sofa. "Keira pergi dulu ya mang, bi." pamit Keira. "Hati-hati non," "Jangan ngebut-ngebut ya non," Keira mengangguk dan berlalu meninggalkan rumah megahnya menuju tempat mencari segala macam ilmu [sekolah] 'ilmu modus, ilmu baper, ilmu pacaran, DLL' eh. Melajukan motor klx dengan kecepatan penuh, membelah kemacetan Ibu Kota. Darren melajukan Mobil nya ugal-ugalan. Serong ke kanan, serong ke kiri [masak di kuali] eh!. Salip Sana salip sini. Di maki ibu-ibu traveler. Di hujat bapak-bapak galon. Di sorakin dedek-dedek terang bulan. Di lemparin serapahan kakek gojek. Lengkap. Mood nya benar-benar berantakan. Darren itu moody banget. Apalagi kalo udah nyangkut tentang sifap Keira. Bisa bertindak apa saja. Pokoknya ya semaunya Darren. Seperti saat ini. Di jutekin Keira aja efeknya lebay banget. Apalagi kalau di diemin Keira. Bisa-bisa pergi clubing sampek subuh kali. Darren mengerem mobilnya secara mendadak. Memukul setir dengan kasar. "Ck. Bodoh! Gue lupa kalo mobilnya lagi di servis dan di rumah adanya cuma motor doang," umpat Darren. "Ck bodoh, bodoh, bodoh!" Diam sesaat. Berfikir. Putar balik atau langsung cus sekolah. Mau langsung ke sekolah tapi ragu. Kalau putar balik pasti telat. Lagi. Kalau gak putar balik nanti Keira berangkat nya malah naik motor. Bibik sama Mang Ujang lapor papa sama mama. Nanti Darren di marahin. Di hukum. Potong uang jajan. Terus Keira di suruh ikut papa mama ke Paris. Kan tambah bad mood parah. "Ck. Telvon rumah aja!" Darren mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana sebelah kiri. Mengetikkan nomer telepon rumah, dan memangilnya. "Halo bi, Keira udah berangkat?" "Sudah den, baru aja berangkat," "Naik apa bi?" "Motor den," "Motor yang mana bi?" "Yang warna hijau den," "Yang suaranya terenntenn tennn, yang berisik banget itu lo den" "Yaudah bi." Darren memutuskan sambungan telepone nya dan kembali melajukan mobilnya menuju sekolah. Setibanya Keira di sekolah, Keira menjadi perbincangan pagi para siswa dan siswi SMA WIJAYA. Banyak yang menanyakan, siapa pengendara motor trail itu. Setau mereka, yang biasa nya mengunakan motor trail itu ya Aldan dan Gaga. Tapi keliatannya kali ini bukan mereka. Dari bentuk tubuhnya sih seperti perempuan. "Siapa tuh?" "Murid baru kali." "Keren sob," "Kayaknya cewek tuh," "Sama Keira cantikan mana ya?" "Keira lah. Keira mah perfect." "Keira lah." "Sumpah itu keren banger. Anjir." "Jarang-jarang ada cewe' bisa naik motor trail kaya gitu." "Limited edition." "Keira juga limited edition." "Keira itu udah cantik, ramah, Pinter lagi." "Yap." Keira memarkirkan motornya dibawah pohon mangga. Kebetulan cuma itu satu-satunya parkiran motor yang kosong. Membuka helm fullface nya, dan mengikat ulang rambut panjangnya asal. Meninggalkan parkiran menuju toilet, guna mengganti celana dengan seragamnya. "Itu keira?" "Anjir, making lope-lope gue." "Gak nyangka Keira bisa naik motor trail." "Sumpah perfect" "Pagi Kei," "Pagi Manis," "Pagi Keira," "Pagi," Keira membalas sapaan teman-temannya dengan senyuman manis. "Kei," teriak seseorang dari arah tangga. Keira mendongakkan kepala kearah tangga. Mencari sumber teriakan itu. Sedangkan yang memanggil namanya tadi melambaikan tangannya dan berlari menuju Keira. "Selamat pagi kamis gerimis, cewek manis tanpa pensil alis," kata Vera seraya memeluk Keira. "Iihh Ver, lepasin dong! Sesek dang!" ucap Keira yang berusaha melepas pelukan Vera. Vera melepas pelukannya. Vera itu endut, sedangkan Keira itu imut banget. Bisa bayangin kan gimana sesak nya. "He he. . sory," "Yaudah kelas yuk," ajak Vera. "Duluan aja, gue mau ketoilet, ganti celana," "Gue temenin," Keira menganggukkan kepala, menyetujui ucapan Vera. Sepanjang perjalanan ke Toilet, Keira dan Vera bertukar cerita. Keira mengutarakan rencana gilanya, menghadiri dan ikut serta dalam event-event off road secara diam-diam . Sedang Vera bercerita tentang proses dietnya. "Bayangin aja Kei, pagi-pagi jam 5 gue bangun, terus lari-lari keliling komplek habis itu gue lompat tali, lanjut push up. Walaupun push up nya ala-ala teri giling sih, kan yang penting judulnya push up. Siang gue cuma makan bakso, sore nasi, malem udah gak makan, kenapa gak kurus-kurus coba? Padahal nih ya, gue udah minum pelangsing lo. Tapi tetep aja gendut semok aduhay gini. Gue heran deh. Makan gue kan udah dikit, kenapa gak turun-turun juga ni lemak. [Mendengus kasar]. sedangkan lo aja yang makannya banyak, badan cuma sebesar tusuk telor puyuh gitu," cerocos Vera. "Sialan lo Ver, gue gak segitu kecilnya kali Ver," bantah Keira tak terima. "Yeeee, emang segitu." "Serah deh serah, kelas yuk! Gue udah selesai nih." Vera mengangguk menyetujui ajakan Keira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN