-°| Kualat

1543 Kata
Kantin yuk kei, "ajak Vera. "Mager, Ver," jawab Keira dengan nada lemas. Vera menautkan kedua di depan wajah Keira, memasang wajah memelas dan menatap Keira dengan puppy eyesnya. "Ayolah Kei, gue laper nih," rayu Vera. "Sumpah Ver, gue mager parah, lemes banget sumpah," ungkap Keira. "Lo sakit?" "g****k banget sih lo! Kalo sakit ya di rumah aja, mana kesekolahnya naik motor lagi. Udah gitu tadi pagi kan hujan, pasti lo kehujanan kan? Lagian sih sih lo gak bareng Darren aja. Sok-sok an sih lo! Biar di dilihat keren? Iya, gitu? "cerocos Vera panjang lebar. Keira cengo. Memilih Vera itu cerewetnya super. "Di tinggalin Darren," "Wah, wah, kurang ajar tu anak, menantang-nantang nya lo ninggalin. Gue perlu klarifikasi nih. Eh tapi kan lo bisa telepon Aldan buat jemput lo," "Gak kepikiran, udah ya, diem. Mendorong gue dengerin lo nyerocos mulu," " Njir, kok gue pusing sih. Kualat sama sikunmamer nih. Duh nggak lagi-lagi deh gue ngebantah dia omongannya." Batin Keira. Atur di atas meja. Berbantalan 2 buku tebal, yang di tangkup oleh kedua ditolak, dan mulai memejamkan tali. "Kei," lirih Vera. "Hm," "UKS ya," "Gak usah Ver," "Gue pangilin Aldan atau Darren kalo gitu," "Gak usah Ver. Gue lagi bad mood sama mereka berdua." "Em Ver, tidur di bangku pojok ya, kalo Darren atau Aldan atau pakai itu nanyain gue,, aja gatau," sambung Keira seraya bangkit dari bangku nya, dan berjalan ke arah bangku yang ada di pojokan. "Lo yakin nggak apa-apa?" tanya Vera meyakinkan. Keira mengangguk. "Yaudah gue ke kantin dulu, nanti gue bawain roti coklat sama jus tomat campur wortel kesukaan lo." Lagi-lagi Keira hanya mengangguk. Keira mendekatkan bangku pojok dengan bangku yang ada disamping kanannya. 1 untuk bagian kepala, dan yang 1 untuk pemulihan. Menutupi bagian leher hingga lutut dengan jaket milik Vera. Sementara itu, disetujui dengan persetujuan. [Ciri-ciri anak suka tidur di kelas.] Semua siswa kelas XI IPA I sedang berada di lapangan indoor. Aldan, Vino dan beberapa siswa asik dengan bola basketnya. Gaga dan Darren gabung bareng teman-teman sekelas nya yang sedang duduk santai di tepi lapangan, dengan menselonjorkan kakinya. "Istirahat-istirahat," teriak Kelly, sang wakekas dari arah koridor ruang guru. Seketika itu. Semua murid-murid kelas XI IPA I [kecuali Aldan cs] meninggalkan lapangan. Ada yang langsung ke kantin, ada juga yang mengganti seragamnya dulu. Aldan tetap asik dengan bola basketnya. Sedangkan Vino sudah gabung bareng Gaga dan Darren. "Tumben tuh anak gak nyamperin Keira?" tanya Gaga pada Vino. "Palingan juga lagi berantem," jawab Vino santai. Gaga hanya menganggukkan kepalanya. "Mau kemana lo, Ren?" tanya Vino yang melihat Darren bangkit dari duduknya. "Nyari Keira," "Ikut," seru Gaga seraya berdiri. "Gue juga ikut," seru Vino dengan penuh semangat. Spontan Gaga menoleh kearah Vino. "Semangat amat pak, nyari Keira aja kaya mau ketemu pacar, eh apa jangan-jangan lo suka sama Keira ya?" "Eh, apaan sih," jawab Vino sedikit kikuk. "Ngaku lo, wah-wah bau-bau pendakian nih," "Bacot lo! Diem!" ucap Vino mulai Emosi. "Hahaha," tawa Gaga pecah saat mendapati Vino tengah emosi. "Diem b**o!" "Ck, lo berdua bisa diem gak sih!" Geram Darren. "Si Vino noh, Ren. kayaknya dia suka sama adek lo deh," ucap Gaga, yang dihadiahi pelototan dari Vino. "Bacot lo Ga! kalo Aldan denger, Vino bisa babak belur detik ini juga." geram Darren seraya berjalan menuju kelas Keira. "Kelasnya sepi Ren, gak ada tanda-tanda kesuburan nih," celoteh Gaga saat berada di ambang pintu kelas Keira. "He em, Mungkin Keira lagi di taman belakang, kesana yuk!" usul Vino, yang disetujui oleh Gaga dan Darren. Saat ini Vera sedang menikmati sepiring nasi goreng, semangkok bakso dan segelas es jeruk pakai s**u. "Kok sendiri Ver?, Keira mana?" tanya Reina seraya duduk di kursi kosong yang ada di depan Vera. "Sakit," singkat Vera yang tetap menyantap makananya dengan rakus. "Loh bukannya tadi pagi dia masuk ya?" "Iya, tapi sekarang lagi sakit, pusing katanya. Muka nya aja udah kaya tembok ruang laboratorium," "Terus sekarang Keira dimana?" "Kepo!" Reina berdecak. Sedari tadi Aldan masih asik mendribble bola basketnya, sesekali memasukkan bola basket kedalam ring. Pikirannya berkecamuk. Memikirkan tentang perasaannya. Perasaan yang menurutnya tidak masuk logika. Tapi ya gimana lagi. Bukannya cemburu itu gak perlu dilogika ya?. Katakan saja jika Aldan itu childish banget. Kurang childish gimana lagi, kalo cuma gara-gara Keira balas-balasan coment di ig dengan cowok lain yang notabenya adalah teman Keira, ngambeknya kayak cewek lagi PMS. [Ups]. Sepulang dari rumah Keira semalam, Aldan pergi ke markas untuk bertemu dengan para anggota geng motornya. Setibanya disana, salah satu anggotanya langsung bilang ke Aldan bahwa keira sedang balas-balasan komen dengan Rega di IG. Aldan berdecak kesal dan langsung mengecek ponselnya. Aldan mengeram marah setelah mendapati Keira yang sedang balas-balasan komen dengan temannya. Disambarnya kunci mobilnya dengan segera dan langsung pergi meninggalkan markas begitu saja. Aldan mengarahkan mobilnya menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Aldan uring-uringan. Ngamuk-ngamuk nggak jelas. Masuk kamar, mukul kaca sampek pecah. Nendang kursi sampek patah. Teriak-teriak nggak jelas juga. Sampai mama Aldan bingung dengan sifat Aldan yang super ajaib. Udah dibujuk untuk cerita tapi jawabannya cuma 1 "KEIRA". Udah itu aja, gak ada pasangannya. Untung aja Aldan ganteng, coba kalo jelek, udah di masukin kerahim buat di cetak ulang lagi kayaknya. Aldan melempar bola basket secara kasar. Menarik rambutnya kebelakang secara frontal."Arggghhhh." teriak Aldan frustasi. "Kenapa perasaan gue gak enak," gumam Aldan. "Gue harus ketemu Keira." Aldan meninggalkan lapangan indoor menuju kelas Keira. Tapi kelas keira kosong, tak berpenghuni. Aldan segera berlalu menuju kantin. sesampainya di kantin, Aldan menajamkan pandangannya untuk mencari keberadaan Keira. Tapi nihil. Aldan hanya mendapati Vera, sahabat Keira yang sedang duduk berdua dengan Reina, si anggota cheerleaders. Tanpa membuang banyak waktu, Aldan segera menghampiri meja Vera dan Reina, Guna menanyakan keberadaan Keira. "Ver?" Vera yang sedang menikmati makanannya pun menoleh saat mendengar suara dingin Aldan memanggil namanya. Alamat di wawancarai. Ah malesin. Vera hanya menatap Aldan datar,tanpa menjawab ataupun berdehem. "Keira mana?" "Nggak tau," jawab Vera acuh. Sejatinya Vera itu males banget berurusan sama Aldan. Menurut Vera, Aldan itu sumber dari segala masalah. "Nggak mungkin lo nggak tau, lo sahabatnya, lo temen sekelasnya, dan lo orang yang paling di percaya sama Keira," jelas Aldan yang mampu membuat Vera merasa terpojok. Vera menelan ludah dengan susah payah. "Keira sakit, selengkapnya lo cari aja sendiri!" sinis Vera seraya berlalu dari hadapan Aldan. Aldan berdecak kesal. "Di mana Keira?" tanya Aldan pada Reina. "Em ga. .tau Al, tadi Vera cuma bilang kalo Keira pusing, terus mukanya juga udah kaya tembok ruang lab gitu," jawab Reina sedikit gugup. Aldan berdecak dan berlalu begitu saja tanpa mengindahkan keberadaan Reina. Reina bernafas lega. Yaiyalah lega. Siapa sih yang mau berhadapan sama seorang Aldan Arshaka yang sedang emosi. Kalo ada, berati orang itu hahuk [oon]. Eh! "Lo darimana?" tanya Aldan saat mendapati Gaga, Vino dan Darren turun dari tangga lantai 4. "Nyari Keira," jawab Darren. "Ketemu?" "Enggak," singkat Vino. "Ck," "Lo udah cari kemana aja?" "Kelas, taman belakang, rooftop." jawab Vino. "Emang kenapa?" sambung Gaga. "Keira sakit. Gue udah cari ke uks tapi gak ada. Gue khawatir," "Kata siapa Keira sakit?" tanya Darren. "Udah nanya ke Vera?" "Vera. Tutup mulut," "Maksud lo, Vera kasih tau lo kalo Keira lagi sakit, terus si Vera juga tutup mulut tentang keberadaan Keira, gitu?" Aldan mengangguk. • "Bangun Kei! Udah bel nih, makan dulu gih!" Vera menggoyang-goyangkan tubuh Keira. "Erggghh," "Buruan, keburu pak Sobirin masuk ntar di hukum loh." "Iya," jawab Keira seraya bangun dari tidurnya. "Nih," Vera menyodorkan sebungkus sandwich sari roti rasa coklat dan jus tomat mix wortel dengan sedikit gula pada Keira. "Makasih," Keira menyesap jus wortel mix tomat sampai setengah cup. "Haus buk," celetuh Vera. Keira mengangguk. "Tadi Aldan nyariin lo," "Terus," "Gue bilang lo sakit," "Oh," singkat Keira. "Gue mau pulang sekarang aja, izinin gue ya." ucap Keira seraya berjalan menuju ke bangkunya sendiri. Vera mengangguk. "Heem, mau pulang naik apa?" "Motor lah Ver," "No ya!" "Lah! Emang kenapa?" "Lo lagi sakit. Nanti kalo tiba-tiba lo di jalan pusing terus pandangan lo buram, terus lo nabrak truk, kepala lo di lindes truk, terus lo mati, gimana coba?" ucapan Vera mulai ngelantur. Keira memukul kepala Vera dengan buku kimia miliknya. "Lo doain gue mati?" sungut Keira. "Eh, sakit oncom!" Vera mengelus-elus kepalanya. "Ya gak doain sih, kan cuma ngasih tau Kei," Keira memasukkan semua barang-barangnya kedalam tas. "Gue nggaj apa-apa kali, yaudah gue mau pulang, bye." "Hati-hati." "Ren!" "Loh, Van." kaget Darren saat melihat Revan. Ya gimana gak kaget. Revan kan tinggal di Surabaya. Kenapa tiba-tiba nongol disini. Kayak jalangkung aja. "Iya," singkat Revan. "Tadi Keira kesekolah naik motor?" tanya Revan to the point. Darren mengangguk. "Lo tau darimana?" "Yataulah, apa yang gak gue tau tentang Keira," ungkap Revan. "Eh, kenapa Keira sekolah naik motor? Kan gak biasanya," "Gue tinggalin," "Lo g****k!" "Gue badmood sama dia, Van, nggak ada angin nggak ada badai tiba-tiba dia jutekin gue," "Cuma gara-gara lo di jutekin sama Keira, lo tega ninggalin Keira berangkat sekolah gitu aja? g****k!" "Khilaf," "Ck, sebahagia lo aja. Gue mau ke ruang kepsek, nyerahin berkas-berkas. Besok gue udah sah jadi siswa sini," "Jangan nyari ribut sama Aldan," ucap Darren. "Biasanya juga dia yang nyari ribut sama gue," "Kapan sih lo berdua akur lagi?," "Kalo dia udah balikin kembaran gue," "Ck. Harus berapa kali sih kita jelasin ke lo, kalo nevan itu mengalami kecelakaan tunggal. Dan bukan karena Aldan!" Revan hanya tersenyum miring dan berlalu tanpa mengindahkan ucapan Darren.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN