-°| Pelukan

1556 Kata
Darren memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Ucapan Vera tadi terus terngiang-ngiang di dikembalikan. Dan untuk saat ini pikirannya hanya terfokus pada Keira. Se badmood - badmood nya Darren pada Keira, Darren tetap khawatir jika menyangkut tentang kesehatan adik manisnya itu. Darren tidak mau kejadian-kejadian itu terulang lagi. Cukup sampai pada kejadian 4 bulan yang lalu saja, sekarang jangan lagi. Darren itu bukan takut di salahkan atau di hajar habis-habisan sampai mampus, tapi Darren takut akan kehilangan Keira karena kebodohan yang telah Darren lakukan. Darren Membuka pintu kamar, Setelah pintu terbuka, membuka langsung tertuju di tempat tidur Keira. Darren melihat Aldan yang sedang memeluk Keira di atas tempat tidur yang di lapisi badcover putih dan abu-abu. Aldan terlihat sangat khawatir, dan Keira terlihat sangat nyaman. Darren tertutup Mengurungkan niatnya untuk mencapai Keira. Biarkan saja Keira dan Aldan saling berpelukan. Siapa tau Keira jadi luluh sama Aldan. Begitu pikirnya. Darren melangkah ke kaki menuju kamar yang berada di sebelah kamar Keira. Kamar milik Darren. Merebahkan suatu tempat tidur di empuknya. Matanya menerawang jauh. Jauh kedepan sana. Pokoknya jauh banget. Sampek nggak keliatan. Pikirannya melayang entah kemana. Darren selalu suka jika mau Keira. Adik tersayangnya. Adik termanisnya. Adik termanjanya. Katakan saja Darren terlalu berlebihan. Emang iya. Bisa lebih posesif dari Aldan. Dan bisa juga lebih g****k dari Aldan. sekali lagi Darren memang berlebihan. Tanpa di sadari, Darren menutup sepenuhnya dan beberapa saat kemudian Darren sudah tertidur dengan pulasnya. Mungkin karena capek kali ya. Capek Fisik dan Capek Pikir. Keira terbangun di pelukan Aldan. Tangan Aldan melingkar di pinggang Keira dengan protektif. Sementara tubuh Aldan menempel erat di tubuh Keira. Keira menikmati semua sentuhan Aldan dan tidak ada niat sedikit pun untuk melepas pelukan Aldan. Bagaimana bisa Keira merasa nyaman berada dalam dekapan tubuh Aldan. Padahal Keira sangat membenci Aldan. Keira membenci mahkluk hidup yang terlelap di sampingnya itu. Keira membenci segala macam bentuk ke posesive an Aldan yang selalu di tunjukkan untuk Keira. Tiba-tiba Aldan bergerak dalam tidurnya, lalu membuka mata perlahan. "Maafin aku tadi udah maksa dan bentak kamu," kata Aldan sambil tersenyum manis, membuat benteng Keira hampir roboh begitu saja hanya karena melihat sifat lembut dan senyum manis Aldan. Keira membalas tatapan Aldan, dan dalam sedetik sebuah ciuman kecil mendarat di kening Keira. Aldan tersenyum kembali, lalu memejamkan matanya lagi. Sambil menarik nafas dalam-dalam, Aldan terlihat sedang berpikir keras. Keira memperhatikan raut wajah Aldan dengan seksama,  seakan-akan dengan begitu Keira dapat melihat apa yang sedang di pikirkan Aldan. Apa mungkin Aldan akan terus bersifat manis terhadap Keira, atau malah Aldan akan kembali ke sifat posesivenya. Entahlah. Keira tidak bisa menemukan jawaban dengan pasti. "Kepalanya masih pusing?" tanya Aldan dengan nada sangat lembut. Keira menganggukkan kepala dua kali. Tangan Aldan terulur ke puncak kepala Keira, mengelus rambut keira dengan pelan. "Kalo ada yang sakit bilang ya, aku nggak mau kamu kenapa-napa," ujar Aldan. Keira tersenyum tipis. Matanya masih menperhatikan wajah Aldan baik-baik.  Cahaya lampu yang terang menerpa wajah Aldan yang seolah terpahat sempurna. Hidung Aldan yang mancung, bibir Aldan yang berwarna merah alami dan errg mengoda [menurut Keira], kedua alis Aldan terbentuk indah dan tebal di atas kedua mata Aldan. Beberapa helai rambut Aldan yang hitam kecoklatan jatuh menutupi dahi, membuat wajah Aldan terlihat semakin tampan. Dan bulu mata yang lentik membuat Aldan semakin cute. Ya Tuhan, bagaimana mungkin Keira menolak melihat pemandangan seindah ini dihadapan Keira? Tak tahan lagi, akhirnya Keira mengulurkan tangannya ke wajah Aldan, menyentuh wajah Aldan. Merasakan kulit wajah Aldan yang halus dibawah kulit Keira. Seketika wajah Aldan menegang. Matanya menatap Keira sendu, seolah menyuruh Keira untuk tetap seperti ini. Menyentuh wajah Aldan dengan sentuhan selembut kapas. "Gue benci lo, Al,"  ucap Keira dengan suara pelan di depan wajah Aldan. "Iya, i love you too, Kei. . ." balas Aldan, kemudian mencium kening Keira lama. Keira hanya bisa diam dan memejamkan mata saat Aldan mencium kening Keira. Keira benar-benar speechless. Benarkah Keira menikmati keadaan ini? Apakah kelembutan sifat Aldan dapat membuat benteng pertahanan Keira runtuh begitu saja? Apakah kebersaman Keira dengan Aldan selama 6 bulan lebih ini membuat Keira mulai membukakan hatinya untuk Aldan? Keira benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri. Oh God, please help me! "Kei," panggil Aldan dan menatap Keira tepat di manik mata. Tidak memperdulikan Keira yang sejak tadi terdiam, mencoba menalar serbuan sifat serta sikap Aldan yang super ajaib. Keira membalas tatapan mata Aldan yang seakan menhujam sampai ke jantung Keira. Membuat hentakan berirama indah disana. "Aku nggak mau kehilangan kamu untuk yang kesekian kalinya, Kei." Keira terdiam cukup lama. Mencerna kata-kata yang Aldan lontarkan dan mencoba memprosesnya dengan segala kekuatan tanah dan api. Tiba-tiba Aldan menggengam tangan Keira, lalu dengan satu gerakan lembut Aldan membawa Keira kedalam pelukannya. Mendekap erat tubuh Keira, hingga Keira nyaris susah bernapas. Tak pernah sebelumnya Aldan memeluk Keira seerat ini, seakan Keira itu adalah mutiara indah yang harus dijaga dengan baik. Sungguh perlakuan Aldan membuat Keira sangat syok. Kenapa tiba-tiba Aldan bisa terlihat selembut dan semanis ini. "Gue bingung sama lo, Al," ucap Keira setelah terdiam karena kekagetannya menerima serangan kata-kata dari Aldan. Sementara Aldan masih memeluk Keira, dan Keira masih terpaku dalam lingkup tubuh Aldan yang hangat. Keira merasa tidak memiliki kekuatan untuk membalas pelukan Aldan, masih merasa. . . . entahlah, asing! "Aku sendiri juga bingung, Kei, tapi yang jelas aku sangat-sangat menyayangi dan mencintai kamu. Dari dulu sampai sekarang dan bahkan nanti." jawab Aldan seraya mengetatkan pelukannya. Suara Aldan lirih dan terdengar sangat jujur. Sepertinya, untuk saat ini benteng pertahanan Keira runtuh dengan begitu saja. Keira membalas pelukan Aldan, seperti mencari dermaga tempat berlabuh. Mendekap rasa Aldan yang tercium samar-samar lewat hidung Keira. Lama kelamaan pelukan yang terasa asing mulai berubah. "Makan ya, habis itu minum obat. Aku gak mau kamu tambah sakit." ujar Aldan yang mulai melepas dekapannya dan setelah itu menatap Keira lekat. Keira hanya mengangguk lemah. "Bentar ya aku ambilin," kata Aldan yang kemudian bangkit dari tempat tidur Keira. Setelah Aldan keluar dari kamar Keira, Keira mentap langit-langit kamarnya. Mencoba menelaah perasaan yang entah apa namanya. Ya. Keira berpikir tidak terjadi apa-apa diantara Keira dan Aldan. Semua masih berjalan sesuai biasa sampai Keira menemukan satu kesimpulan yang benar-benar membuat Keira kembali berpikir. Tentang ini semua. Tentang Keira dan Aldan. Mungkinkah itu perasaan nyaman? WIH! Satu kata yang membuat bulu kuduk Keira berdiri. Nyaman? Keira nyaman saat diperlakukan manis oleh Aldan? Rasanya seperti kembali ke masa lalu dan melihat dinosaurus terbuas memakai baju warna pink muda. Aneh. Memang aneh. Tapi, memang Keira sungguh nyaman saat Aldan bersifat manis seperti ini. Tak butuh waktu lama, Aldan sudah kembali ke kamar Keira membawa semangkuk sup merah dan segelas air putih. Aldan tersenyum manis saat mendapati Keira yang sedang memejamkan matanya. Mengamati bibir tipis Keira yang berwarna pink pudar. Kemudian beralih ke alis Keira yang tebal tanpa sentuhan pensil alis. Hidung keira yang mancung menambah kesan menawan diwajahnya. apalagi ini, pipi chuby Keira sangat menunjang keimutan Keira. Matanya itu lo. Tetap indah walau sedang terpejam. Ah. Sungguh sempurna. Cantik. Mendamaikan. Dan juga memabukkan. "Sempurna.  Aku suka. Tapi ada 1 yang ingin kupastikan, Kei. Kapan kamu bisa sayang sama aku, seperti aku sayang sama kamu, Kei." lirih Aldan dalam batin. Huh. Aldan mendengus pelan. "Kei," panggil Aldan yang sudah duduk di tepi ranjang Keira. Keira yang sebenarnya tidak tidur itu langsung membuka matanya secara perlahan. Kepalanya masih pusing. Perutnya sekarang mual. "Makan ya!?" Keira mengangguk lemah. "Aakkk," Aldan menyuapi Keira dengan telaten. 1 suap. Oke 2 suap. Mulai mual 3 suap. Mualnya bertambah Suapan ke 4, Keira memuntahkan makanan ya ke selimut yang dipakainya. Aldan yang mengetahui bahwa keira muntah, dengan sigap langsung menyodorkan minum untuk Keira. Keira mengerjap-ngerjapkan matanya, tubuhnya terasa sangat lemas tak bertenaga. Tangan kanan Keira digunakan untuk memegang kepala bagian kanan. Sedang tangan kiri digunakan untuk memeluk perutnya yang terasa perih dan sakit. Aldan menyibak selimut yang terkena muntahan Keira dengan sigap, kemudian selimut itu di taruh di lantai begitu saja. Aldan berjalan ke arah lemari dengan langkah lebar, mengambil selimut bersih berwarna coklat dan menyelimuti Keira yang mulai kedinginan. "Kamu oke?" Keira mengangguk lemah. "Kita kerumah sakit ya!?" Keira menggeleng lemah. Untuk kali ini Aldan tidak akan memaksa Keira. Aldan tau resiko apa yang akan diterimanya jika memaksa Keira untuk tetap menuruti perintah Aldan. Dan Aldan tidak mau mengambil resiko itu. Itu terlalu bahaya untuk kondisi Keira selanjutnya. Melihat kondisi Keira seperti ini saja sudah tidak tega apalagi kalo melihat yang lebih parah. Bisa-bisa Aldan mati sambil main basket dihadapan Keira. Huh. Sungguh. Rasanya Aldan sangat-sangat tidak tega meliat kondisi Keira yang seperti ini. Kalau bisa, Aldan saja yang menanggung semua rasa sakit Keira. Tapi sayang itu mustahil. Yang perlu Aldan lakukan hanyalah menjaga Keira dan memeluk Keira supaya kondisi Keira tidak bertambah parah. "Kamu tidur aja, aku bakal nungguin kamu sampek kamu bangun dan tidur lagi. Malah sampek kamu sembuh pun aku akan nungguin kamu," Aldan memberi jeda sebentar pada kalimatnya. "Tidur ya, biar nggak tambah pusing." kata Aldan sambil membelai rambut panjang Keira. Aldan mengeratkan pelukannya. Bukan karena ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Tapi karena Aldan sangat sayang Keira. Lagi. Aldan sangat nyaman jika memeluk Keira. Tidak butuh waktu lama Keira sudah tertidur pulas dalam dekapan Aldan. "Aku sayang kamu, Kei," "Sayang banget," "Aku rela nunggu kamu peka, walaupun harus sampai batas waktu yang tidak menentu. Aku rela. Sungguh." Aldan mengecup puncak kepala Keira dengan damai. "Get well soon, Kei." lirih Aldan yang masih setia memeluk Keira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN