-°| Sakit

1205 Kata
Aldan yang mengerti Keira sakit dan izin pulang duluan, langsung tancap gas menuju rumah Keira. Sesampainya di rumah Keira, Aldan mendapati Keira yang sedang tidur disofa ruang tengah. Wajahnya pucat, dan mengeluarkan cairan kental berwana merah. Alda yang khawatir dengan keadaan Keira langsung sigap membawa Keira ke kamar Keira dan segera memanggil dokter pribadi Aldan dengan telaten mengelap cairan kental berwarna merah di hidung Keira sampai bersih. Tangan kirinya membelai rambut gadisnya, sedang tangan kanan menggenggam erat tangan milik Keira. Suhu tubuh Keira panas, tetapi diaktifkan dingin. Bibir ranum milik Keira pun berubah menjadi pucat dan sedikit bergetar. Tak lama kemudian, dokter datang dengan 1 asistennya. "Keira kenapa, Al?" tanya dokter Tito saat berada di kamar Keira. Dokter Tito mengenal Keira dan Aldan dengan baik. Sangat baik. Sementara anak sulung dokter Tito adalah sahabat Keira saat di Surabaya. "Kurang tau om, tapi tadi sempat mimisan om. Aldan khawatir om," ucap Aldan dengan nada cemas. "Kamu tenang aja, Al," dokter Tito menepuk bahu Aldan dua kali. "Ren, tolong kamu periksa ttvnya ya!" "Baik dok," jawab Renita, asisten dokter Tito. "Permisi, aku sudah memeriksa Keira nya dulu." Aldan mundur dua langkah, kemudian Asisten Dokter Tito maju dan lakukan pemeriksaan TTV pada Keira. "Nadinya lemah, tekanan darahnya rendah, dan suhu persaingan juga tinggi, keadaannya sangat tidak stabil. ucap asisten dokter Tito. Dokter tito mengambil alih stetoskop yang dipakai asistennya. Memeriksa ritme jantung Keira. "Terus gimana om?" Aldan mulai panik. "Sebaiknya Keira di opname saja, diperbaiki keadaannya cepat diperbaiki dan stabil lagi." saran dokter Tito. "Aku gak mau di opname om, aku nggak apa-apa kok om, cuma pusing aja. Minum obat pasti besoknya pulih kok," lirih Keira. "Udah bangun?" tanya Aldan lembut. Keira mengangguk. "Kondisi kamu lagi gak stabil, Kei. Lebih baik di opname aja ya, om gak mau kamu sampek drop lagi," bujuk dokter Tito. "Gamau om! Keira bener-bener nggak apa-apa," kekeh Keira. "Tolong," rayu Aldan. "Gak usah, Al!" "Ayolah, Kei. Aku mohon sama kamu," bujuk Aldan dengan memelas. Keira menggeleng dua kali. "Nggak usah," Dokter Tito yang menyaksikan perdebatan Keira dan Aldan hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Em permisi ya, debat nya nanti aja. Om mau kasih injeksi vitamin ke Keira dulu," ucap dokter Tito menghentikan acara bujuk rayu Aldan pada Keira. Dokter tito maju dua langkah, meraih tangan kiri Keira, dan mulai mencari vena mediana cubiti pada lengan Keira. Setelah ketemu, dokter Tito segera melakukan injeksi intravena pada Keira. Keira sedikit meringis saat spuit nomor 27 menerobos masuk kebawah kulitnya. Selesai. Dokter tito menekan bekas suntikannya dengan kapas steril dan kemudian memberinya plaster bening pada bekas suntikan tersebut. Tujuannya di tekan adalah, supaya tidak bengkak. Asisten dokter Tito merapikan alat-alat medisnya. "Kei, om balik dulu ya, ada jadwal operasi hari ini. Kalo emang nanti masih ngerasa sakit bilang sama Aldan atau Darren aja ya," ucap dokter Tito lembut. Keira mengangguk dan tersenyum manis. "Bujuk Keira sampai mau ya Al!, om sama asisten om permisi dulu," bisik dokter Tito menepuk pundak Aldan tiga kali. "Di usahain om." jawab Aldan yang diangguk i oleh dokter Tito. "Permisi." ucap asisten renata dan berlalu keluar mengikuti dokter Tito. "Di opname ya Kei. Please aku mohon," lagi-lagi Aldan membujuk Keira dengan manisnya. Keira menggelengkan kepala dua kali dan mengalihkan wajahnya ke sebelah kiri. Menghindari tatapan Aldan. "Please. demi kamu sendiri," "Nggak mau, Al," lirih Keira. "Please," Lagi-lagi Keira hanya menggeleng lemah. "Mau di kasarin?" ucap Aldan yang mendadak datar. Lah ternyata si Aldan manisnya cuma bentaran doang. Keira diam tak menjawab. "Ck, kamu pilih! Pilih opname apa pilih pindah kelas?" "Ancamannya itu aja, bosen!" "Pilih bebas dari lo!" ketus Keira dengan suara serak nya. Aldan berdecak kesal. "Serah lo, yang penting sekarang kita ke rumah sakit. Lo harus di rawat di sana, Kei," "Nggak mau, Al," kekeh Keira. "Lo lupa kalo gue gak nerima penolakan dalam bentuk apapun!?" Keira mendengus, beberapa saat kemudian memejamkan matanya. Menikmati rasa pusing yang kembali menyerang. Rasanya nut-nutan gak jelas. Tangannya dengan refleks memegang kepalanya dan memijitnya perlahan. Keira meringis menahan sakit. Aldan yang menyadari tindakan Keira segera merengkuh tubuh Keira. Mencoba memeluknya dengan hangat. "Pusing?" tanya Aldan lembut. Sumpah ya Aldan itu plin-plan banget. Bentar-bentar lembut, abis itu marah-marah. Ck. Gemesh gue. Keira mengangguk pelan. Aldan semakin memeluk Keira erat, seakan pelukan Aldan itu mampu mengurangi rasa pusing yang di alami Keira. Walaupun nyatanya Keira masih tetap merasa pusing, dan tambah pusing lagi. Tapi yang ada di pikiran Aldan saat ini, Memeluk Keira erat itu gunanya untuk mengurangi rasa sakit yang di alami Keira. Ekspetasi dan realita itu beda. Tangan kanan Aldan bergerak mengelus puncak kepala Keira dengan lembut. Sedang tangan kirinya di gunakan untuk mengelus punggung Keira. "Aku antar kamu ke rumah sakit ya, Kei," Aldan kembali membujuk Keira. "Please jangan paksa gue Al, gue mohon," lirih Keira yang tetap ada di pelukan Aldan. Aldan mendengus pelan. "Tapi kamu sakit, kei," "Aku nggak apa-apa kok, Al," ucap Keira meyakinkan Aldan. Keira mencoba melepas pelukan Aldan, tapi Aldan justru merengkuh Keira semakin erat. Aldan mencium rambut Keira. Wangi vanilla, Aldan suka. Darren kembali ke kelas, membereskan buku-buku tebalnya dan beberapa peralatan sekolahnya. "Mau kemana lo?" tanya Gaga yang melihat tingkah Darren yang sedang grasak-grusuk. "Pulang," "Lah?" Vino bingung. "Tadi Keira pulang duluan, terus Aldan juga cabut, abis ini lo juga mau pulang. Emangnya ada apa sih?" "Kata Vera, Keira pulang duluan karena sakit. Dan gue pulang karena khawatir sama Keira. Kalo Aldan gue nggak tau," jawab Darren yang sedang sibuk membereskan perlengkapan sekolahnya. "Kok sakit lagi? Pasti gara-gara maksain ikut cheers tuh," tanya Gaga. "Nggak tau," singat Darren. "Ck. Kok nggak tau sih, kan Keira adek lo odol," sungut Vino. Darren menghiraukan celotehan-celotehan temannya yang absurd itu. Barang-barangnya sudah beres. Tinggal cus (pulang). "Gue duluan," "Lah di tinggalin," sungut Vino. "Iya, hati-hati di jalan. Nanti pulang sekolah kita nyusul," ucap Gaga. Darren menganggukkan kepala, dan berlalu. . "Eh Ga," "Pa.an?" "Gue denger dari anak-anak tadi pagi Keira berangkat ke sekolah nya naik motor loh. Terus nih ya, sempet ada yang fotoin Keira gitu. Di masukin sosmed, Ga. katanya lagi, foto Keira itu dapet bejibun komentar kagum. Di ig banyak yang ngelike, di path banyak yang ngasih lope, di twitter juga banyak yang ngreetwet. Sumpah gue pengen liat fotonya," ucap Vino panjang lebar. "Masa? Terus kenapa lo baru cerita? Ck. Ah. Kan gue ketinggalan updatean," "Gue kan lupa," jawab Vino dengan tampang tanpa dosa. "Terus lo udah liat fotonya Keira belom? Kalo udah, mana HP lo, gue mau liat," Vino menggelengkan kepalanya. "Kok belom?" "Gak ada yang mau ngasih tetringan gratis ke gue," jawab Vino jujur. "Pakek paket data lah," "Gak punya Kuota," jawab Vino santai. "Anjir, perasaan lo anaknya orang tajir deh, kenapa beli kuota aja nggak mampu sih," teriak Gaga frustasi yang frustasi akan tingkah Vino. "Bukan nggak mampu, tapi lebih kepada memanfaatkan gratisan dengan baik. Nih ya gue kasih tau. Kalo di rumah gue pakek wifi. Kalo lagi nongkrong kan, ada Lo, Aldan, Darren atau yang lainnya gitu kan? Jadi ya gue gak usah beli kuota, ngirit. Lagian kan gue juga bisa minta wifi ke kalian." "Serah lo b**o!" jawab Gaga seraya memukul kepala Vino dengan buku Lks, dan berlalu meninggalkan Vino sendirian di dalam kelas. Vino menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Emang salah ya kalo memanfaatkan wifi gratis dari temen. Kan ngirit. Begitu pikirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN