"Oh, dia itu Aisyah, Pa. Dia--"
"Dia hanya asisten rumah tangga di sini, Pa. Dia yang sehari-hari membantu Bik Surti." Belum sempat Elang melanjutkan ucapannya, Karin sudah memotong.
"Oh, asisten rumah tangga," balas Wirayuda lirih sembari menganggukkan kepalanya. Namun, kedua ekor matanya tidak lepas memandang punggung Aisyah hingga gadis itu tak nampak lagi dalam pandangannya.
"Kenapa dia mengingatkanku pada Safeeya?" batin Wirayuda sembari mengenang seorang wanita berhijab yang dulu pernah mengisi hidupnya dengan penuh kebahagiaan. Wanita yang tidak lain adalah istri pertamanya sekaligus Ibu kandung Elang.
"Papa baik-baik saja?" tanya Elang membuyarkan lamunan Wirayuda. Lelaki paruh baya itu pun tersenyum.
"Iya, Papa baik-baik saja. Papa hanya teringat mendiang Mama kamu. Oh, ya. By the way, Papa senang mendengar kabar kalau Karin telah hamil. Tolong jaga kandungannya baik-baik. Setelah usia kandungannya empat bulan, Papa akan ke kantor pengacara Farid Iskandar untuk merubah surat wasiat," balas Wirayuda membuat Karin tersenyum puas.
Sejak awal menikah dengan Elang, wanita itu memang mengincar harta keluarga Wirayudha, terutama saham perusahaan milik papanya Elang yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di Kota Yogyakarta. Karin tidak rela kalau semua saham milik Wirayuda diberikan kepada Raffi, adik tiri Elang. Sementara Elang bingung, kenapa sang istri mengaku hamil kepada papanya, padahal lelaki itu tahu persis kalau istrinya tidak mungkin hamil. Karin selalu menolak untuk hamil dengan alasan takut kehilangan tubuh langsingnya.
Setelah makan siang bersama, Wirayuda pun perpamitan untuk pulang. Lelaki paruh baya itu tinggal bersama Raffi dan istri keduanya.
"Karin, kenapa kamu mengaku hamil di depan Papa?" tanya Elang setelah Papanya pulang.
"Aku hanya ingin membuat Papa senang," balas Karin santai.
"Tapi, Karin. Tidak seharusnya kamu membohongi Papa," protes Elang yang masih tidak mengerti jalan pikiran sang istri.
"Aku tidak bohong, Mas. Kita ... eum, maksudku, kamu memang akan punya anak."
"Kamu bicara apa, sih, Karin. Aku masih nggak ngerti." Melihat ekspresi suaminya yang bingung, Karin malah tersenyum. Lalu mengajak lelaki itu duduk di tepi ranjang.
"Mas, kamu ingat, kan? Dua bulan lalu kamu menjalani proses inseminasi di rumah sakit dengan Nadia."
"Iya, aku ingat. Tapi, bukankah sampai sekarang Nadia tidak hamil? Jadi, menurutku proses itu gagal."
"Kamu salah, Mas? Proses inseminasinya berhasil, hanya saja bukan Nadia yang hamil," balas Karin membuat Elang terkejut.
"Apa maksud kamu, Sayang?" tanya Elang masih tidak paham.
"Kamu tenang saja. Kita akan punya anak. Berapa hari yang lalu aku ke rumah sakit tempat kamu melakukan inseminasi dengan Nadia. Aku menemui Dokter Vera untuk menuntut ganti rugi karena kita telah membayar mahal, tetapi ternyata Nadia tidak hamil. Namun, Dokter Vera justru mengatakan sebuah fakta yang mengejutkan," ucap Karin membuat Elang semakin bingung.
"Fakta apa?"
"Tim Dokter yang bertugas memasukkan sel s****a kamu ke dalam rahim Nadia telah melakukan sebuah kesalahan besar. Mereka menyuntikkan s****a kamu ke dalam rahim seorang gadis yang kebetulan juga pasien Dokter Vera."
"Apa? Jadi, maksud kamu dokter salah orang?" tanya Elang syok.
"Benar, Mas. Menurut dokter Vera, kemungkinan besar gadis itu sekarang sedang hamil anak kamu."
"Lalu dimana gadis itu sekarang? Kenapa pihak rumah sakit tidak memberitahu kita tentang kesalahan mereka?"
"Pihak Rumah Sakit masih merahasiakan semua ini karena menurut data yang mereka dapatkan, keluarga gadis itu adalah orang terpandang. Jadi, mereka takut kalau sampai keluarga dari gadis itu tidak terima dan menuntut serta membawa kasus ini ke polisi. Jika itu terjadi, maka bukan hanya izin praktek rumah sakit yang dicabut, tetapi dokter Vera pun terancam masuk penjara," jelas Karin.
"Lalu bagaimana kita bisa menemukan gadis yang mengandung anakku itu, Sayang?"
"Kamu tenang saja. Itu akan jadi urusanku dan Dokter Vera. Kami akan menemui gadis itu dan mencoba bernegosiasi agar keluarganya tidak menuntut pihak rumah sakit. Aku juga akan meminta gadis itu memberikan bayinya untuk kita. Yang terpenting sekarang, Papa percaya kalau aku hamil. Aku yakin akan menemukan gadis itu." Mendengar penjelasan sang istri, Elang hanya menghela napas panjang.
Sebenarnya dari awal lelaki itu tidak setuju melakukan proses inseminasi untuk bisa mendapatkan keturunan. Elang ingin Karin sendiri lah yang mengandung anaknya. Namun, wanita itu tetap bersikeras menolak untuk hamil hingga Elang pun pasrah.
"Ya, sudah. Terserah kamu."
***
"Aisyah, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Surti saat Aisyah muntah muntah di wastafel.
"Perut saya mual, Bik," balas Aisyah membuat Surti cemas. Wanita paruh baya itu pun memijat tengkuk Aisyah.
"Kamu mungkin masuk angin, Aisyah. Sebaiknya kamu istirahat saja. Biar Bibi yang mengerjakan semuanya," ucap Surti setelah Aisyah menyelesaikan muntahnya. Wanita paruh baya itu membuatkan teh hangat untuk Aisyah.
"Diminum dulu, Nduk," ucapnya sembari menyodorkan segelas teh hangat pada Aisyah.
"Terima kasih, Bik. Maaf kalau saya merepotkan," balas Aisyah yang merasa tak enak hati. Gadis itu terharu. Meskipun terusir dari pesantren dan terpaksa menumpang di rumah Elang, tetapi Aisyah masih bersyukur karena dipertemukan dengan Surti yang menyayanginya.
"Kamu ini ngomong apa? Bibik sama sekali tidak merasa direpotkan. Kamu sudah Bibik anggap seperti anak sendiri. Jadi, jangan sungkan." Mendengar ucapan Surti, kedua mata Aisyah berkaca-kaca. Jauh dilubuk hatinya, gadis itu merindukan sosok Umi Raudhah.
"Wajah kamu pucat sekali, Aisyah. Beberapa hari ini kamu juga nggak selera makan. Kamu juga sering muntah-muntah. Bibik takut terjadi apa-apa denganmu. Bibik antar ke dokrer, ya?" tawar Surti yang khawatir dengan kondisi Aisyah.
"Nggak, Bik. Tidak perlu. Saya akan istirahat saja. Saya baik-baik saja, kok," tolak Aisyah. Gadis itu takut kalau Surti mengetahui tentang kehamilannya. Apalagi kalau Elang dan Karin sampai tahu. Aisyah takut diusir dari rumah itu karena dianggap bukan perempuan baik-baik yang hamil tanpa suami.
"Ya sudah. Kalau gitu kamu istirahat saja. Tapi kalau kondisi kamu belum baik kita harus ke dokter," balas Surti akhirnya. Aisyah mengangguk lalu mengucapkan terima kasih kepada wanita paruh baya itu, lalu beranjak menuju kamarnya. Namun, tiba-tiba tubuhnya oleng. Pandangannya berputar dan akhirnya menjadi gelap.
"Aisyah, kamu kenapa, Nduk?" Teriakan Surti masih sempat didengar oleh Aisyah sebelum akhirnya gadis itu tidak sadarkan diri.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun." Surti bingung dan bermaksud meminta bantuan kepada security yang berjaga di depan rumah Elang. Namun, wanita paruh baya itu malah bertemu Elang yang baru saja turun dari lantai dua.
"Ada apa, Bik?" tanya Elang heran.
"Tuan Muda, tolong saya. Aisyah pingsan," balas Surti panik.
"Apa? Aisyah pingsan? Di mana?" tanya Elang yang tak kalah panik.
"Di dapur, Tuan." Tanpa banyak bertanya lagi, Elang bergegas ke dapur dan menemukan Aisyah sudah tergeletak di lantai. Lelaki itu kemudian membopong tubuh Aisyah menuju kamar.
"Apa yang terjadi, Bik? Kenapa Aisyah bisa pingsan?" tanya Elang setelah membaringkan tubuh Aisyah di atas ranjang.
"Tadinya Aisyah muntah-muntah dan perutnya terasa mual. Wajahnya juga terlihat pucat. Mau saya antar ke dokter, tetapi dia menolak. Akhirnya saya suruh istirahat. Tapi, belum sampai dia ke kamar sudah pingsan, Tuan Muda."
"Oh begitu. Kamu di sini dulu jaga Aisyah. Aku panggil dokter keluarga. Ini sudah kedua kalinya Aisyah pingsan. Aku takut ada apa-apa," balas Elang sembari mengambil ponsel dan menghubungi dokter keluarga langganannya. Sementara Surti mencoba menyadarkan Aisyah dengan membalurkan minyak kayu putih di telapak tangan d**a dan kaki Aisyah.
Perlahan, gadis itu pun membuka matanya. Pada saat yang sama, dokter yang dipanggil Elang pun datang dan langsung memeriksa kondisi Aisyah.
"Dia sakit apa, Dok?" tanya Elang kepada Dokter Jihan. Sementara Aisyah tampak gugup karena takut dokter mengetahui kondisi kehamilannya.
"Kita bicara di luar, Pak Elang," balas Dokter Jihan. Elang mengangguk, lalu mengajak wanita berpakaian dokter itu keluar dari kamar Aisyah.
"Sebenarnya dia sakit apa? Sudah dua kali ini dia pingsan," tanya Elang penasaran setelah keduanya keluar dari kamar.
"Mohon maaf sebelumnya, Pak Elang. Sebenarnya Gadis itu siapa?" Bukannya menjawab pertanyaan Elang, Dokter Jihan malah balik bertanya.
"Dia itu asisten rumah tangga di sini."
"Apa dia sudah menikah?" tanya Dokter Jihan lagi.
"Sepertinya belum, Dok. Memangnya kenapa?" tanya Elang bingung.
"Sebenarnya gadis itu tidak sakit. Gejala mual dan muntah yang dialaminya itu wajar karena kondisi hamil muda," terang Dokter Jihan membuat Elang syok.
"Apa? Hamil?"