Bab 9. Dihadang Perampok

1292 Kata
"Coba periksa sekali lagi, Dok. Anda mungkin salah periksa. Tidak mungkin Aisyah hamil," ucap Elang tak percaya. "Saya yakin sekali kalau Aisyah hamil. Saya sudah melakukan pemeriksaan dengan benar, Pak Elang." "Tapi, mana mungkin Aisyah bisa hamil? Setau saya dia belum menikah," sangkal Elang. "Sekarang ini banyak gadis belum menikah, tetapi hamil. Jadi, Pak Elang tidak perlu heran," kekeh Dokter Jihan. "Tapi Aisyah berbeda. Dia adalah gadis baik-baik. Bahkan dia tidak mau bersentuhan dengan lawan jenis," bela Elang sembari menggelengkan kepala. Lelaki itu yakin, tidak mungkin sosok Aisyah yang begitu taat terhadap agama bisa hamil tanpa suami karena melakukan perbuatan nista. "Barangkali dia dilecehkan atau diperkosa. Sebaiknya Pak Elang tanya baik-baik. Apakah benar dia hamil atau sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa dan dipastikan dengan USG," usul Dokter Jihan membuat Elang mengangguk. "Ini resep vitamin yang harus dikonsumsi Aisyah untuk mengurangi rasa mualnya. Aisyah harus tetap makan karena bayi dalam kandungannya butuh nutrisi yang cukup," ucap dokter Jihan sembari menyerahkan selembar resep kepada Elang. "Terima kasih, Dokter. Saya akan menanyakannya pada Aisyah," balas Elang sembari menerima resep dari Dokter Jihan. "Baiklah, Pak. Itu lebih baik daripada kita menduga-duga. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dokter Jihan. Elang mengangguk dan mengantarkan wanita itu sampai pintu keluar lalu kembali ke kamar Aisyah. "Aisyah sakit apa, Tuan Muda?" tanya Surti penasaran saat Elang muncul di kamar Aisyah. Namun, Elang tak lantas menjawab. Lelaki itu duduk di kursi yang berada di samping ranjang Aisyah. Sementara gadis itu menunduk tajam dengan perasaan gugup. "Aisyah, Dokter bilang kamu hamil. Apa itu benar?" Pertanyaan Elang membuat Aisyah dan Surti langsung menatap ke arah lelaki itu. Aisyah tidak terlalu terkejut. Namun, Surti terlihat syok. "Hamil?" tanya Surti sembari mengalihkan pandangannya ke arah Aisyah. Namun, bukannya menjawab, gadis itu malah menangis. "Aisyah aku percaya kamu adalah gadis baik-baik, tapi Dokter Jihan yakin kalau kamu hamil. Tolong jujur padaku, apakah kamu memang hamil?" tanya Elang lagi, membuat air mata Aisyah semakin mengalir deras. Gadis itu berpikir apakah mungkin Elang juga akan mengusirnya setelah tau dirinya hamil? Sama seperti abahnya yang mengusirnya dari Pesantren? "Apa kamu korban pelecehan? Kalau emang iya, kamu harus berani. Ceritakan semua padaku, maka aku akan membantumu mendapatkan keadilan," ucap Elang bersungguh-sungguh. Namun, Aisyah hanya menggelengkan kepala tanpa berucap sepatah kata pun sembari terus menangis. Sementara Surti masih diam mematung tanpa tahu harus berkomentar apa. "Ya sudah kalau kamu belum siap menceritakannya kepadaku. Aku tidak akan memaksa. Yang terpenting sekarang kamu harus jaga kesehatan. Kapanpun kamu siap bercerita, aku siap membantumu," ucap Elang akhirnya, membuat Aisyah lega karena ternyata lelaki itu tidak mengusirnya. "Bik Surti, tolong jaga Aisyah. Aku mau ke apotek beli obat untuk dia," pamit Elang, sebelum meninggalkan kamar Aisyah. "Baik, Tuan Muda." Elang beranjak dari duduknya meninggalkan kamar Aisyah. Sepeninggal Elang, Surti langsung memeluk gadis itu. "Apa benar kamu hamil, Nduk?" tanya Surti sembari melepas pelukannya. Aisyah hanya menjawab dengan anggukan kepala. "Kamu diperkosa? Siapa yang melakukannya? Cerita sama Bibik. Pak Elang itu orang baik. Dia pasti bisa membantu mendapatkan keadilan dari orang yang menghamili kamu," ucap Surti lagi. Namun, Aisyah menggelengkan kepala. "Saya juga tidak tahu kenapa saya hamil, Bik. Saya tidak pernah berhubungan dengan laki-laki. Saya juga tidak pernah dilecehkan maupun diperkosa, tapi tidak ada yang percaya." Aisyah kembali menangis. "Hal ini juga yang membuat saya diusir dari rumah dan akhirnya bertemu dengan Pak Elang," lanjut Aisyah sedih. "Sabar, Aisyah. Coba kamu ingat-ingat lagi, barangkali ada lelaki yang kurang ajar sama kamu. Mungkin kamu diberi obat tidur sehingga kamu tidak sadar karena menurut Bibik, tidak mungkin kamu tiba-tiba hamil tanpa sebab," ucap Surti lagi. Namun, Aisyah tetap menggelengkan kepala. "Tidak, Bik. Saya tidak pernah mengalami itu semua." Jawaban Aisyah membuat Surti menghela napas panjang. Wanita paruh baya itu berpikir kalau Aisyah masih takut untuk mengungkap kebenaran. Bisa jadi, gadis itu berada di bawah ancaman atau tekanan seseorang. "Ya sudah. Kamu istirahat saja. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu dan juga bayi dalam kandunganmu," ucap Surti akhirnya. "Bik, apa Mas Elang akan mengusir saya setelah tahu saya hamil?" tanya Aisyah cemas. "Kamu tenang saja, Aisyah. Pak Elang itu orang baik. Dia tidak akan mengusirmu hanya karena kamu hamil." "Semoga ya, Bik. Saya tidak tahu harus ke mana lagi jika Mas Elang mengusir saya." "Sudah jangan terlalu dipikirkan nanti kamu bisa sakit kasihan bayimu. Sambil menunggu Pak Elang beli obat, Bibik siapkan makanan. Kamu harus makan." "Iya, Bik. Terima kasih." *** "Sayang, maaf, ya. Kayaknya malam ini aku nggak bisa pulang. Aku harus menyelesaikan shooting karena ada beberapa adegan tambahan," ucap Karin dari seberang telepon membuat Elang menghela napas berat. Lelaki yang sedang fokus menyetir itu mencengkram kuat stir mobilnya untuk menahan rasa kesal. Bukan satu dua kali Karin bekerja hingga larut malam. Wanita itu sangat gila kerja dan tidak pernah memikirkan perasaannya. Elang merasa terabaikan. Sebagai seorang lelaki, Elang juga merindukan momen-momen kebersamaan bersama istri setelah lelah bekerja seharian. Namun, akhir-akhir ini lelaki itu tidak mendapatkannya semenjak Karin memutuskan untuk terjun ke dunia film. "Kamu tidak apa-apa kan, Sayang?" tanya Karin lagi dari seberang telepon karena tidak ada jawaban dari Elang. "Aku bisa apa? Mau aku larang pun kamu tidak mungkin nurut," balas Elang akhirnya. "Sayang, jangan gitu, dong! Karir aku lagi bagus- bagusnya. Tidak mudah bagiku mendapatkan peran utama seperti saat ini. Aku janji setelah film ini selesai, aku akan me time sama kamu. Kita honeymoon lagi. Kemana pun kamu mau. Jadi, please. Untuk saat ini, dukung aku, ya," rengek Karin manja, membuat Elang lagi-lagi menghela napas berat. Kalau sudah mendengar suara manja sang istri, lelaki itu sudah pasti tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan memberikan izin. "Ya, sudah. Nanti kamu pulangnya hati-hati, ya," balas Elang akhirnya. "Terima kasih, Sayang. Kamu memang suami yang terbaik. I love you more." "I love you too." Keduanya mengakhiri panggilan. Elang tetap fokus menetap jalanan hingga sampai di sebuah apotek. Lelaki itu menepikan mobilnya dan segera ke Apotek untuk menebus resep yang diberikan dokter Jihan untuk Aisyah. Setelah menebus resep yang berisi obat anti mual dan vitamin untuk ibu hamil itu, Elang kembali ke mobil dan bergegas pulang. Namun, saat melewati jalanan yang sepi, tiba-tiba dua pengendara motor menghadang jalannya. Terpaksa Elang menginjak rem secara mendadak. Beruntung mobilnya tidak menabrak pengendara motor tersebut. Dua orang yang memakai jaket hitam turun dari dua motor itu, sementara dua lainnya tetap berada di atas motor. Keduanya mengetuk kaca mobil Elang. "Buka atau gue pecahkan," ucap salah satu dari dua lelaki tersebut. Elang terpaksa membuka mobil dan keluar. "Berikan dompet lo," ucap lelaki yang lain sembari menodongkan sebilah belati ke leher Elang. Namun, dengan sigap Elang mendorong lelaki itu hingga terjatuh. Melihat sang pemilik mobil melawan, dua lelaki itu pun menyerang Elang. Pertarungan pun berlangsung sengit. Namun, Elang yang memiliki kemampuan bela diri mampu mengatasi dua orang itu sekaligus. Melihat temannya kewalahan, dua orang lelaki yang masih di atas motor pun segera turun tangan membantu. Elang pun kewalahan karena dikeroyok empat orang, hingga lengannya sempat terkena sabatan belati dan mengeluarkan darah. Pada saat persamaan, seorang lelaki pengendara motor lain melintas melewati jalanan itu. Lelaki itu berhenti lalu membantu Elang melawan empat perampok tersebut. Hingga akhirnya empat perampok itu kewalahan dan melarikan diri. "Anda tidak apa-apa?" tanya lelaki yang menolong Elang sembari membantunya berdiri. "Saya tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantu saya," balas Elang sembari meringis menahan rasa sakit karena lengannya yang mengeluarkan darah terkena sabatan belati. "Lengan Anda terluka. Mari ke rumah saya, biar saya obati. Rumah saya tidak jauh dari sini. Di ujung gang itu. Kita naik motor saya saja, mobilnya biar di sini, nanti saya perintahkan orang untuk mengambilnya," ucap lelaki itu. "Oh, iya. Baiklah." Elang pun akhirnya menerima tawaran lelaki itu karena darah terus keluar dari lengannya. "Oh, ya. Nama Anda siapa? Saya Elang." Elang mengulurkan tangannya. "Saya Baihaqi," balas lelaki itu sembari membalas jabat tangan Elang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN