Bab 10. Belajar Mengaji

1212 Kata
"Alhamdulillah, lukanya tidak terlalu dalam. Jadi, tidak perlu dibawa ke rumah sakit," ucap Baihaqi sembari mengoleskan obat luka di lengan Elang. Dengan cekatan, lelaki itu menutup bekas sabetan belati di lengan Elang menggunakan plester luka. "Terima kasih atas bantuannya, Mas," balas Elang sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah Baihaqi. "Mas Bai tinggal sendiri? Mas Bai belum menikah?" tanya Elang karena sedari tadi tidak melihat ada penghuni lain di rumah itu yang keluar. "Saya belum menikah dan kebetulan saya memang tinggal sendiri di sini. Keluarga saya tinggal di Sleman," balas Baihaqi membuat Elang mengangguk. Lelaki itu kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar rumah yang ditempati Baihaqi. Elang melihat sebuah bangunan menyerupai sekolahan yang bersanding dengan sebuah masjid yang masih tahap pembangunan. "Apakah ini tempat mengaji?" tanya Elang saat membaca papan nama TPQ Al Madinah. "Benar, Mas. Tempat ini didirikan oleh Abah saya dan sekarang pengelolaannya diserahkan kepada saya karena Abah memegang sekolahan yang ada di Sleman. Kalau pagi, tempat ini dipakai untuk sekolah formal setingkat PAUD dan TK. Sedangkan kalau sore hari dipakai untuk anak-anak belajar membaca Al Qur'an." "Mas Bai seorang Ustaz?" tanya Elang lagi. Baihaqi menjawabnya dengan anggukan kepala. "Wah, kalau begitu saya panggil Ustadz saja, ya." "Boleh." "Oiya, Ustaz. Kebetulan banget, sudah beberapa hari ini saya mencari seorang ustaz untuk membantu saya belajar agama," ucap Elang membuat Baihaqi tersenyum. "Apakah Mas Elang mualaf?" Pertanyaan Baihaqi langsung dibalas gelengan kepala oleh Elang. "Saya sudah muslim dari lahir, Ustaz. Hanya saja saya tidak pernah melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Mendiang Mama saya seorang muslim yang taat. Namun, sayangnya beliau meninggal waktu saya masih usia 5 tahun. Papa menikah lagi. Ibu sambung saya tidak pernah mengajarkan saya agama karena dia juga bukan muslimah yang taat. Sedangkan Papa selalu sibuk bekerja. Saya di sekolahkan di sekolah formal yang tidak begitu kental mengajarkan pelajaran agama. Jadi, beginilah saya sekarang. Saya tidak bisa baca Al Qur'an. Saya juga tidak tahu bagaimana caranya salat," balas Elang sembari menunduk malu. "Apakah sudah terlambat bagi saya untuk belajar?" lanjutnya membuat Baihaqi lagi-lagi tersenyum. "Tidak ada kata terlambat untuk orang belajar agama, Mas. Asalkan kita masih diberikan kesempatan hidup, disitu kita harus terus belajar. Kalau Mas Elang tidak keberatan, bisa datang ke sini dan ikut kelas mualaf setiap malam bakda maghrib. Kenapa saya sarankan untuk ikut kelas mualaf? Karena kalau di kelas mualaf ini banyak peserta yang umurnya sudah dewasa. Sedangkan kalau untuk kelas yang lain, kebanyakan anak-anak usia SD dan SMP." "Sungguh, Ustaz. Saya mau banget. Saya ingin bulan Ramadan nanti sudah bisa salat. Saya ingin memperbaiki diri." "Masya Allah, tabarakallah. Semoga Mas Elang bisa Istiqomah, ya." "Aamiin. Terima kasih, Ustaz." "Kalau boleh saya tahu. Apa inspirasi Mas Elang sehingga ingin kembali belajar agama dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul?" tanya Baihaqi membuat Elang tersenyum. "Jujur, seorang gadis telah membuat saya sadar kalau hidup saya selama ini telah jauh dari Allah. Gadis ini mengingatkan saya pada sosok Mama yang telah meninggal. Awalnya, saya mintanya untuk mengajari saya membaca Al Qur'an dan juga tata cara salat. Namun, dia menolak. Dia bilang takut terjadi fitnah karena saya bukan mahramnya," jelas Elang. "Masya Allah. Apakah wanita ini begitu istimewa dalam hidup Mas Elang? Maksud saya seperti calon istri?" "Oh, bukan. Saya sudah menikah dan istri saya sama halnya dengan saya. Kami muslim tapi tidak pernah menjalankan syariat sebagaimana orang muslim. Saya mengagumi gadis ini bukan seperti seorang lelaki mengagumi seorang perempuan. Namun, entah kenapa saya merasa ada daya tarik tersendiri dalam diri gadis itu yang membuat saya memiliki keinginan untuk berubah menjadi lebih baik. Apalagi sekarang ini menjelang bulan Ramadan. Saya ingin memulainya dari Ramadan tahun ini." "Alhamdulillah. Semoga niat baik Mas Elang diberikan kelancaran dan keberkahan oleh Allah." "Aamiin. Jadi, kapan saya bisa mulai belajar di sini, Ustaz?" tanya Elang antusias. "Mulai besok juga boleh. Jadi, Mas Elang bisa ke sini sebelum maghrib, lalu ikut salat berjamaah di masjid sini dan langsung mengaji sama saya dan teman-teman mualaf yang lain." "Baik, Ustaz." Obrolan keduanya terjeda saat seorang lelaki yang tidak lain adalah salah satu Ustaz yang mengajar di TPQ Al Madinah. Ustaz yang dimintai tolong Baihaqi untuk mengambil mobil Elang itu, datang untuk menyerahkan kunci mobil kepada pemiliknya. "Terima kasih, Ustaz Harun," ucap Baihaqi saat lelaki itu menyerahkan kunci mobil. Tidak lupa, Elang pun mengucapkan terima kasih kepadanya. Tak berapa lama kemudian, Elang berpamitan pulang karena lelaki itu teringat kalau Aisyah sedang menunggu obat yang ia beli. *** "Saya nggak mau tahu alasan apapun. Dokter Vera harus menemukan gadis itu. Dia sedang mengandung anak suami saya dan saya harus mendapatkan bayi itu," ucap Karin saat mengunjungi Dokter Vera di ruang kerjanya. Istri Elang itu tampak marah karena sampai sekarang Dokter Vera belum menemukan gadis yang telah mengandung benih Elang karena kesalahan proses inseminasi. "Saya mohon maaf, Bu Karin. Saya sudah mendatangi alamat tempat tinggal gadis itu sesuai dengan data pasien yang ada di rumah sakit. Namun, ternyata gadis itu telah diusir oleh orang tuanya karena ketahuan hamil dan sekarang mereka tidak tahu di mana gadis itu berada," balas Dokter Vera. "Kalau Dokter tidak bisa menemukan gadis itu, maka saya akan melaporkan kasus ini kepada polisi. Saya bisa saja membuat Dokter masuk penjara dan membuat rumah sakit ini dicabut ijin operasionalnya," ancam Karin membuat Dokter Vera takut. "Tolong beri saya waktu lagi, Bu Karin. Saya akan mencari gadis itu sampai ketemu," mohon Dokter Vera. "Mau berapa lama lagi?" "Saya janji secepatnya." "Baiklah, saya beri waktu Dokter untuk mencari gadis itu lagi. Tapi ingat, jangan sampai dia melahirkan sebelum ditemukan. Saya butuh bayi itu untuk menyelamatkan pernikahan saya, mengerti?" tegas Karin membuat Dokter Vera mengangguk cepat. Meskipun ragu bisa menemukan keberadaan gadis yang mengandung benih Elang, tetapi Dokter Vera tetap akan berusaha karena dia tidak ingin Karin melaporkan kasus itu ke polisi. Kalau sampai hal itu terjadi, maka bukan hanya karirnya yang tamat, tetapi dia juga harus mendekam dibalik jeruji besi. Setelah itu, Karin pun meninggalkan ruangan Dokter Vera. "Bagaimana kalau gadis itu menggugurkan kandungannya karena malu ketahuan hamil tanpa suami?" batin Karin sembari fokus menyetir. "Enggak, aku harus positif thinking. Bayi Mas Elang ajan lahir dan menjadi anakku," batin Karin bermonolog sembari mencengkram kuat stir mobilnya. Setelah dari rumah sakit menemui Dokter Vera, istri Elang itu memutuskan untuk segera pulang dan menikmati hari itu untuk me time bersama sang suami, mumpung tidak ada jadwal shooting malam. Namun, pikirannya masih gelisah karena belum bisa menemukan gadis yang mengandung benih suaminya. Sesampainya di rumah, Karin tidak menjumpai mobil suaminya. Wanita itu mencoba menelpon Elang. Namun, ternyata ponselnya tidak aktif. "Ke mana Mas Elang? Tidak biasanya dia pergi dan mematikan handphone," batin Karin heran. Wanita itu kemudian beranjak ke dapur untuk menanyakan keberadaan suaminya kepada Surti. Namun, langkahnya terhenti saat tanpa sengaja Mendengar pembicaraan Surti dengan Aisyah di dapur. "Bibik senang kamu sudah tidak mual lagi. Kamu harus makan yang banyak, Nduk. Bayi dalam perut kamu itu butuh nutrisi yang cukup," ucap Surti lega saat melihat Aisyah makan dengan lahap. Setelah minum obat dan vitamin yang dibelikan Elang, Aisyah tidak lagi merasa mual mencium bau makanan. Bahkan gadis bisa makan dengan sangat lahap. "Iya, Bik. Terima kasih sudah peduli pada saya," balas Aisyah sembari melanjutkan makan." "Apa-apaan ini? Aku tidak salah dengar, kan? Aisyah sedang hamil?" tanya Karin yang tiba-tiba muncul di dapur membuat Surti dan Aisyah terkejut. Keduanya sontak menatap ke arah istri Elang itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN