"Aku nggak nyangka loh gadis yang alim seperti kamu bisa tiba-tiba hamil tanpa suami. Memang, ya. Terkadang penampilan seseorang itu menipu," ucap Karin lagi.
"Maaf, Nyonya. Aisyah bukan gadis seperti itu. Kita tidak boleh menghakimi sesuatu yang kita tidak tahu kebenarannya." Belum sempat Aisyah berucap membela diri, Surti sudah menjadi garda terdepan membelanya.
Meskipun baru beberapa hari mengenal Aisyah, tapi Surti yakin kalau gadis itu adalah wanita baik-baik. Surti berpikir kalau Aisyah adalah korban pelecehan yang masih bungkam karena takut ancaman seseorang.
"Aisyah hamil tanpa suami. Dia pasti diusir sama keluarganya karena bikin malu dan akhirnya numpang di sini. Sebaiknya aku biarkan saja dia tetap tinggal di sini. Jika Dokter Vera tidak menemukan gadis yang mengandung benih Mas Elang, maka aku akan mengambil bayi Aisyah. Dia harus memberikan bayi itu sebagai balas budi karena aku telah memberikannya tumpangan selama ini," batin Karin sembari tersenyum licik.
"Ah, iya. Kamu benar sekali, Surti. Aku memang nggak boleh negatif thinking sama Aisyah. Maaf, ya, Aisyah. Aku tidak ingin ikut campur masalahmu. Kamu tetap boleh tinggal di sini dengan satu syarat," ucap Karin membuat Aisyah mengangkat dagunya dan menatap ke arah istri Elang itu.
"Syarat apa ya, Mbak?" Aisyah akhirnya angkat bicara.
"Syaratnya sangat mudah, tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Intinya kalau aku butuh bantuan, kamu harus siap membantuku. Bagaimana, kamu tidak keberatan, bukan?"
"Iya, Mbak. Insya Allah saya akan bantu Mbak Karin semampu saya."
"Oke, baiklah. Kamu sudah janji, ya. Nanti kalau aku butuh bantuanmu, aku akan bilang. Ya, sudah jaga kesehatanmu."
"Terima kasih, Mbak Karin. Semoga Allah membalas kebaikan Anda," balas Aisyah lega. Tadinya gadis itu berpikir Karin akan marah karena dia hamil tanpa suami. Bahkan Aisyah berpikir kalau wanita itu akan mengusirnya karena takut membuat aib. Namun, ternyata tidak. Aisyah bersyukur karena meskipun harus hidup menumpang, tapi dia masih dikelilingi orang-orang baik.
Seandainya tidak dalam keadaan hamil, Aisyah lebih memilih pergi mencari kehidupan sendiri. Bukan malah menumpang pada orang yang sebelumnya tidak ia kenal. Namun, dalam kondisinya yang sedang berbadan dua tidak memungkinkan untuk Aisyah mencari pekerjaan. Pasti tidak akan ada orang yang mau mempekerjakan wanita hamil sepertinya.
"Hmm, oiya, Surti. Belikan Aisyah makanan yang bergizi. Bayinya harus selalu sehat," ucap Karin membuat Surti heran, tetapi juga lega karena Karin tidak mempermasalahkan kehamilan Aisyah.
"Baik, Nyonya." Setelah itu, Karin pun meninggalkan dapur. Surti lalu mendekati Aisyah dengan perasaan lega.
"Alhamdulillah, Nyonya Karin bisa menerima kamu dan kehamilanmu. Padahal, tadi Bibik sudah was-was. Takut kalau beliau marah-marah dan mengusir kamu karena Bibi tahu sifat Nyonya Karin sangat jauh berbeda dengan Tuan Muda. Rasa empati dan kemanusiaannya masih kurang."
"Alhamdulillah ya, Bik. Tadi saya juga sudah takut kalau bak Karin mengusir saya," balas Aisyah sembari tersenyum. Ada rasa lega tersirat di wajahnya.
"Ya, mungkin rezekinya anak kamu. Oh, ya. Aisyah kalau kamu pengen cerita sama Bibik tentang ayah dari bayi itu, cerita saja. Bibik janji akan simpan rahasia." Mendengar ucapan Surti, Aisyah terdiam.
Wanita itu bingung, apakah harus menceritakan kejadian sebenarnya pada Surti. Kalau memang iya, apakah wanita paruh baya itu akan percaya? Mana ada seorang wanita yang tiba-tiba hamil tanpa sebab, tidak dilecehkan, tidak juga diperkosa, apalagi berbuat zina?
"Bik Surti pasti tidak akan percaya. Lebih baik aku tidak menceritakannya," batin Aisyah pada akhirnya.
"Kalau kamu memang belum siap cerita sama Bibik. Ya, nggak papa. Bibik tidak akan memaksa. Tapi, kapanpun kamu siap untuk bercerita, Bibik akan selalu siap mendengarkan. Sekarang kamu istirahat saja, ya. Biar Bibik yang membersihkan dapur."
"Nggak , Bik. Jangan! Saya di sini kan hanya numpang. Jadi, saya mau bantu."
"Tapi, Aisyah--"
"Tidak apa-apa, Bik. Saya pernah dengar kalau wanita hamil juga harus banyak bergerak, agar bayinya sehat dan persalinannya nanti lancar. Tadi saya tidak mau bermalas-malasan."
"Ah iya kamu benar. Ya, sudah. Kamu boleh bantu-bantu Bibik, tapi nggak boleh kecapean, ya."
"Iya, Bik. Terima kasih."
***
"Terima kasih atas pelajaran hari ini, Ustaz. Ternyata belajar agama untuk orang yang sudah dewasa seperti saya cukup sulit, tetapi saya tidak akan menyerah," ucap Elang membuat Baihaqi tersenyum, lalu menepuk pundak lelaki itu.
"Selama ada kemauan, pasti ada jalan. Mas Elang ini cukup cerdas. Jadi, saya rasa tidak akan sulit untuk memahami huruf-huruf hijaiyah. Saya yakin, Insya Allah sebentar lagi Mas Elang akan bisa baca Al Qur'an."
"Aamiin. Semoga, ya."
"Untuk tata cara salat, Mas Elang bisa baca di buku ini. Tolong dipelajari dan dihafalkan. Untuk bacaan salatnya sudah saya berikan tulisan abjad cara membacanya. Saya harap Mas Elang sudah mulai mengerjakan salat wajib lima waktu dengan tertib sesuai waktunya. Diusahakan jangan sampai bolong. Meskipun bacaan salatnya belum begitu hafal, tidaklah masalah. Mas Elang bisa salat sambil membaca buku ini," ucap Baihaqi sembari menyerahkan buku saku tuntunan salat.
"Terima kasih, Ustaz. Saya janji akan mengerjakan salat lima waktu sesuai dengan waktunya."
"Jangan lupa ucapkan Insya Allah, Mas."
"Oh, iya. Insya Allah. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu, Ustadz." Elang mengulurkan tangannya dan keduanya pun berjabat tangan.
"Oh, ya, silakan. Hati-hati, Mas," balas Baihaqi. Namun, Elang menghentikan langkah dan berbalik menghadap Ustaz muda itu
"Maaf, Ustaz. Saya mau tanya. Apakah di TPQ Al Madinah ini ada pengajar perempuan?" tanya Elang membuat Baihaqi heran.
"Ada. Memangnya kenapa, Mas?"
"Begini, Ustaz. Kalau memang TPQ ini masih membuka lowongan untuk guru pengajar perempuan, tolong kabari saya. Saya ada teman yang sedang mencari pekerjaan dan saya rasa sangat cocok untuk mengajar di sini."
"Sebenarnya lowongan masih ada karena TPQ ini memang belum lama dirintis. Jadi masih perlu banyak tenaga untuk mengajar. Hanya saja kami belum bisa memberikan gaji yang besar karena yang belajar ngaji di TPQ ini kebanyakan anak-anak yatim dan juga anak-anak dari keluarga yang tidak mampu. Jadi kami memberikan beasiswa kepada mereka. Sedangkan biaya operasional termasuk gaji pengajar, kami mendapatkan dari donatur."
"Oh, begitu, ya. Kalau begitu saya juga bersedia menjadi donatur, Ustaz. Saya akan menjadi donatur tetap untuk TPQ ini."
"Masya Allah, tabarakallah. Terima kasih banyak, Mas Elang. Semoga niat baik Mas Elang mendapatkan ridha dari Allah dan rezeki Mas Elang diganti dengan berlipat ganda."
"Aamiin."
"Begini saja, kalau teman perempuan Mas Elang bersedia mengajar di TPQ ini, silahkan datang besok pagi dan menemui saya di kantor."
"Baik, Ustaz. Nanti saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Elang pun bergegas meninggalkan halaman TPQ Al Madinah mengendarai mobilnya.
"Aku sudah menemukan pekerjaan yang cocok untukmu, Aisyah. Semoga kamu mau mengajar di sini," batin Elang sembari menghidupkan ponselnya yang sejak tadi sengaja ia nonaktifkan agar tidak mengganggu saat belajar agama dengan Baihaqi. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Karin membuat Elang tersenyum, kemudian bergegas menelpon balik sang istri.