Bab 12. Dua pilihan

1066 Kata
"Mas, kamu ke mana, sih? Nggak biasanya ponsel kamu nggak aktif?" tanya Karin begitu sang suami menelponnya. Elang tersenyum sambil terus fokus menyetir. "Kamu sudah pulang?" Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Elang malah balik bertanya. "Iya. Ini aku sudah di rumah. Kamu di mana?" tanya Karin lagi. "Aku sudah perjalanan pulang. Maaf, ya. Aku lupa kasih tahu kamu kalau mulai hari ini, aku belajar mengaji dengan seorang Ustaz. Jadi, aku mematikan ponsel agar tidak mengganggu yang lain juga biar bisa konsentrasi saja," balas Elang membuat Karin yang berada di seberang telepon tertawa. "Belajar mengaji? Tumben? Oh, rupanya kamu sudah tertular virusnya Aisyah," ucap wanita itu membuat Elang menggeleng pelan. "Sayang, sudah dulu, ya. Kita lanjut ngobrolnya di rumah saja. Aku lagi nyetir," balas Elang sembari menyudahi panggilan. Karin yang merasa belum selesai bicara, tetapi panggilan sudah terputus merasa kesal. Tak biasanya sang suami memutus panggilan terlebih dahulu. "Semenjak ada Aisyah, Mas Elang berubah. Dia sepertinya malah enjoy meski aku belum pulang. Padahal sebelum ada gadis itu, Mas Elang pasti selalu menelpon dan meminta aku cepat-cepat pulang bila aku ada syuting sampai malam," batin Karin sembari menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. "Sekarang Mas Elang pakai sok-sokan belajar mengaji. Biar apa coba? Atau jangan-jangan, Mas Elang menyukai Aisyah dan ingin bisa mengaji juga seperti gadis itu? Ah, kenapa aku jadi jealous begini, ya?" Karin mengusap wajahnya dengan kasar. Mencoba membuang pikiran buruk yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. "Nggak! Itu nggak mungkin. Mas Elang sangat bucin padaku. Dia nggak mungkin berpaling dariku hanya karena gadis seperti Aisyah. Tenang, Karin! Kamu tidak boleh negatif thinking." Karin mencoba berpikir positif. "Tapi bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau Mas Elang mulai tertarik dengan gadis aneh itu? Harusnya dari dulu aku tidak mengizinkannya tinggal di sini. Tapi, untuk saat ini aku tidak mungkin meminta Aisyah pergi. Dia sedang hamil dan aku butuh bayinya. Aku nggak yakin kalau Dokter Vera bisa menemukan gadis yang mengandung benih Mas Elang. Sebaiknya aku bersikap baik pada Aisyah. Setelah itu aku akan bikin perjanjian dengannya. Dia harus menyerahkan bayinya padaku untuk membalas semua kebaikanku," batin Karin sembari tersenyum licik. "Sambil menunggu Mas Elang pulang, sebaiknya aku mandi dan berdandan yang cantik. Aku akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk Mas Elang malam ini. Aku yakin kalau dia masih sangat bucin padaku. Aisyah atau wanita manapun tidak akan bisa membuatnya tertarik." Karin beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Wanita itu kemudian memakai baju haram yang paling seksi serta menyemprotkan parfum kesukaan Elang. Tidak lupa Karin memoleskan riasan yang menggoda. Tepat di saat wanita itu menyelesaikan semuanya, Elang memasuki kamar mereka. Lelaki yang berbalut baju koko, peci hitam dan sarung itu menetap ke arah sang istri dengan pandangan takjub. "Sayang, kamu cantik sekali," ucapnya sembari mendekat sang istri. "Tumben kamu berdandan seperti ini tanpa aku minta? Ada apa ini?" tanya Elang curiga. "Emangnya nggak boleh kalau aku mau menyenangkan suamiku?" balas Karin sembari menyandarkan kepalanya dengan manja di lengan sang suami. Sebagai lelaki normal, apalagi sudah jarang menikmati romansa dengan sang istri karena kesibukan, Elang pun langsung bereaksi. Lelaki itu memeluk sang istri dari belakang, lalu mengendus leher jenjang sang istri. Tidak lupa kedua tangannya bergerilya di area d**a dan memberikan sentuhan di sana, membuat Karin mendesah manja. Pada akhirnya Elang pun membalikkan tubuh sang istri dan melumat bibir seksi wanita itu dengan penuh gairah. Sementara kedua tangannya membuka satu demi satu pakaian yang menutupi tubuhnya. Lelaki itu terkejut saat Karin mendorong tubuhnya di atas ranjang, lalu menindihnya. "Aku yang akan pegang kendali," ucap wanita itu membuat Elang heran dan membelalakkan kedua matanya. Namun, lelaki itu senang karena malam ini sang istri lebih agresif, meskipun terasa aneh menurutnya. Selama ini, Elang lah yang selalu memegang kendali permainan. Bahkan Elang juga yang harus meminta jika ingin berhubungan suami istri. Tidak ingin berpikir yang aneh-aneh, Elang pun menikmati permainan sang istri. Ternyata wanita itu begitu liar di atas ranjang. Elang baru menyadari kelihaian sang istri dalam memanjakan seorang lelaki setelah 3 tahun menikah. Elang benar-benar menikmati permainan Karin malam ini. Keduanya pun menyudahi permainan setelah sama-sama mencapai puncak kenikmatan. "Terima kasih, Sayang. Aku nggak nyangka kamu bisa sehebat ini," ucap Elang puas sembari mengecup puncak kepala sang istri. Karin pun tersenyum lalu menenggelamkan kepalanya dalam pelukan sang suami. "Aku tahu kamu sangat bucin padaku, Mas. Jadi, aku rasa Aisyah bukanlah ancaman bagiku," batin Karin sembari tersenyum penuh kemenangan. Setelah berpelukan beberapa saat, keduanya kemudian membersihkan diri di kamar mandi. "Mas, kalau ingin bicara sesuatu," ucap Karin sembari mengeringkan rambutnya. "Tentang apa?" "Tentang Aisyah." "Ada apa dengannya?" "Kamu tahu, nggak? Aisyah ternyata hamil tanpa suami," ucap Karin membuat Elang yang sedang mengganti pakaiannya menoleh. "Iya, aku sudah tahu." "Kamu tahu dan kamu diam saja? Kenapa kamu nggak cerita sama aku?" protes Karin kesal. "Ya buat apa diceritain, Sayang? Itu kan aib. Lagi pula aku yakin Aisyah gadis baik-baik. Dia korban pelecehan," balas Elang membuat Karim membuang napas kasar. "Mas, aku berpikir untuk mengambil anak Aisyah sebagai ganti anak kamu karena sepertinya mustahil Dokter Vera akan menemukan gadis yang telah mengandung benih kamu. Keluarganya saja tidak tahu kemana gadis itu pergi." Mendengar ucapan sang istri, Elang terkejut. "Sayang, kita tidak boleh main ambil anak Aisyah seenaknya. Dia belum tentu mau memberikannya kepada kita," balas Elang yang kurang setuju dengan usulan sang istri. "Seharusnya Aisyah tidak keberatan memberikan anaknya kepada kita. Bukankah anak itu juga hasil pelecehan? Anak yang tidak diinginkan? Lagi pula, Aisyah harusnya tahu diri karena selama ini dia sudah numpang di rumah kita." "Sayang, nggak boleh gitu juga. Aku menolong Aisyah tanpa pamrih." "Aku nggak mau tahu. Aku akan bikin perjanjian dengan Aisyah dan aku pastikan dia akan memberikan anaknya kepada kita." "Jangan, Sayang. Aku ingin anak dari keturunanku sendiri dan aku ingin anak itu lahir dari rahim kamu. Sampai kapanpun aku akan menunggu kamu siap. Aku nggak masalah." "Tapi, Mas. Papa tidak akan memberimu saham perusahaan jika tahun ini kamu belum punya anak. Raffi akan menjadi pemilik tunggal PT Karya Gemilang." "Aku nggak peduli, Karin. Mau perusahaan dikuasai Raffi sepenuhnya pun tak masalah. Jangan khawatir aku tidak bisa memberimu nafkah. Aku pasti bisa bahagiakan kamu." "Nggak, Mas. Kalau kamu kehilangan saham PT Karya Gemilang, maka sebaiknya kita berpisah saja," ucap Karin membuat Elang terkejut. "Sayang, kamu bercanda, kan?" "Nggak! Aku serius. Aku nggak bisa hidup miskin. Jadi, ambil anak Aisyah atau kita pisah," ancam Karin. Elang hanya bisa menahan ludah karena merasa dua pilihan itu sulit untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN