Bab 13. Mengajar di TPQ

1146 Kata
Mendengar ucapan sang istri, Elang terdiam. Jujur lelaki itu masih sangat mencintai Karin. Untuk berpisah dengan wanita itu tentu saja Elang tidak sanggup. Namun, jika harus mengambil anak Aisyah pun, Elang tidak tega. Kecuali jika Aisyah sendiri yang dengan sukarela menyerahkan bayinya. "Mas, aku janji. Suatu hari nanti aku akan meninggalkan dunia keartisanku. Aku akan fokus pada pernikahan kita, keluarga kecil kita. Aku juga bersedia untuk hamil anak kamu. Tapi, itu nanti. Setelah aku siap. Jadi, aku mohon. Untuk saat ini, kita rawat anak Aisyah dulu, agar saham PT Karya Gemilang tidak jatuh ke tangan Raffi. Kamu lebih berhak daripada Raffi," bujuk Karin membuat Elang menghala napas panjang. "Tapi bagaimana kalau Aisyah keberatan memberikan bayinya kepada kita?" tanya Elang ragu. "Aisyah tidak akan keberatan. Bayi itu hasil pelecehan. Justru dengan memberikan bayi itu kepada kita, Aisyah akan terbebas dari beban berat. Dia bisa memulai hidupnya kembali, bisa menikah dengan seorang lelaki tanpa dibebani oleh anak haram. Ini akan menjadi simbiosis mutualisme, Mas. Kita akan menutupi kondisi kehamilan Aisyah dari umum agar status dia tetap seorang gadis." "Baiklah, terserah kamu. Tapi, kamu benar-benar akan memenuhi janjimu suatu saat nanti, kan? Kamu akan fokus pada keluarga kita dan hamil anakku?" tanya Elang memastikan. "Iya, Sayang. Aku janji. Aku tidak mungkin selamanya berkarir. Aku sadar tidak selamanya berada di puncak. Suatu saat karirku akan meredup. Aku janji akan fokus pada keluarga kecil kita. Aku akan melahirkan banyak anak untukmu," balas Karin membuat Elang tersenyum lalu memeluk sang istri. "Baiklah, aku percaya padamu. Soal bayi Aisyah, aku serahkan padamu. Tapi, seandainya Aisyah menolak memberikan bayinya, tolong jangan dipaksa. Kita cari bayi di Panti Asuhan saja. Semoga Papa tidak curiga." "Aku sangat yakin Aisyah akan memberikan bayinya pada kita. Jadi, kamu tenang saja." "Ya, sudah. Sekarang kita tidur. Hari sudah malam." *** "Aisyah, boleh saya masuk?" tanya Karin sembari mengetuk pintu kamar Aisyah. Gadis itu terkejut melihat istri Elang sudah berdiri di depan kamarnya. "Mbak Karin? Silakan masuk, Mbak," balas Aisyah mempersilahkan. "Ada apa, Mbak? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Aisyah setelah Karin masuk dan duduk di sofa yang ada di kamarnya. "Aisyah, beberapa hari yang lalu kamu janji sama aku kalau kamu akan membantuku. Benar begitu?" Pertanyaan Karin membuat Aisyah spontan mengangguk. "Apa yang bisa saya bantu, Mbak?" "Begini, Aisyah. Papa mertuaku, papanya Mas Elang sudah sangat menginginkan cucu dari kami. Namun, hingga saat ini aku masih belum hamil juga. Padahal kami sudah tiga tahun menikah. Papa mertuaku meminta Mas Elang menceraikan aku jika tahun ini aku belum hamil," ucap Karin mulai mengarang cerita. "Astaghfirullahaladzim. Kenapa Papanya Mas Elang begitu, Mbak? Padahal anak itu kan rezeki dari Allah. Semua itu di luar kuasa kita." "Itulah, Aisyah. Aku bingung. Aku nggak mau berpisah dengan Mas Elang." "Terus apa yang bisa saya lakukan untuk bantu Mbak Karin?" "Aku akan mengaku hamil pada Papa mertuaku, agar beliau tidak meminta Mas Elang menceraikan aku. Nanti aku akan pura-pura melahirkan di saat yang sama dengan saat kamu melahirkan. Aku ingin kamu memberikan anakmu untuk kami Aisyah. Kamu mau, kan?" Pertanyaan Karin membuat Aisyah terkejut. Memang selama ini, janin yang ada dalam kandungannya adalah anak yang tidak diharapkan. Bahkan kehadiran janin itu, telah menghancurkan hidup Aisyah. Keberadaan janin itu dalam rahimnya yang misterius, telah membuat keluarga Baihaqi memutuskan lamaran terhadapnya. Bahkan keberadaan janin itu juga telah membuat Aisyah terusir dari pesantren ran juga rumah kedua orang tuanya. Namun, ibu mana yang tega memberikan anaknya kepada orang lain? "Aku tahu kamu pasti berat memberikan anakmu untuk kami, Aisyah. Tapi, kamu jangan khawatir karena aku akan menjadikanmu pengasuh untuk anakmu sendiri. Jadi, meskipun kamu sudah memberikan anakmu kepada kami, tapi kamu tetap bisa sedekat dengannya. Kamu juga bisa memberikan asimu kepadanya. Bagaimana, Aisyah? Kamu mau, kan, menolongku?" Aisyah terdiam. Permintaan Karin memang terasa berat baginya. Namun, baik Karin maupun Elang telah berbaik hati menampungnya di saat dirinya tidak punya tujuan dan tempat tinggal. Haruskah Aisyah memberikan anaknya untuk membalas kebaikan pasangan suami istri itu? "Bagaimana, Aisyah?" "Saya--" "Kamu tidak harus menjawabnya sekarang, Aisyah. Pikir-pikir saja dulu. Tapi, aku sangat berharap besar padamu. Nasib pernikahanku, ada di tanganmu," ucap Karin lagi sebelum akhirnya beranjak dari sofa. "Aku keluar dulu. Aku tunggu jawabanmu secepatnya." Setelah berkata demikian, Karin melangkah keluar meninggalkan kamar. Sedangkan Aisyah masih terdiam memikirkan permintaan istri Elang itu. *** "Aisyah," panggil Elang suatu pagi, saat lelaki itu kembali dari masjid setelah melaksanakan jama'ah salat subuh. Semenjak belajar agama bersama Baihaqi, Elang selalu berusaha melaksanakan salat wajib lima waktunya secara berjamaah di masjid yang ada di Kompleks Perumahan tempatnya tinggal, terutama salat Subuh. Sedangkan salat Magrib dan Isya, Elang mengerjakannya di masjid yang berada di dekat TPQ Al Madinah, tempatnya belajar mengaji bersama Baihaqi. Namun, untuk salat Dzuhur dan Ashar, Elang mengerjakannya di mushola kantor karena kebetulan di dekat PT Karya Gemilang tidak ada masjid. Aisyah yang baru saja selesai mengerjakan salat subuh di kamarnya dan hendak ke dapur untuk membantu Surti pun menghentikan langkah karena sang majikan memanggilnya. "Ada apa Mas Elang memanggil saya?" tanya Aisyah sembari mendekat ke arah lelaki itu. "Aku cuma mau memberitahukan kalau aku sudah menemukan guru mengaji. Aku diminta datang setiap bakda Magrib untuk belajar bersama para mualaf yang lain. Kata ustaz, meskipun aku bukan mualaf, tapi aku memulai belajar semuanya dari nol. Sama seperti mereka yang mualaf," jelas Elang, "Masya Allah, tabarakallah! Semoga Mas Elang bisa Istiqomah, ya. Saya ikut senang." "Aamiin. Oh iya.Tempat aku belajar mengaji namanya TPQ Al Madinah. Di sana selain ada kelas mualaf, juga ada kelas untuk anak-anak yang belajar mengaji, mulai dari usia PAUD Sampai usia SMP. Ada juga kelas Tahfidz. Kata ustadzku, TPQ Al Madinah masih membutuhkan tenaga pengajar. Kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa membantu mengajar di sana, Aisyah. Aku rasa kamu lebih pantas mengajar di TPQ daripada membantu Bik Surti di dapur maupun membersihkan rumah." Mendengar ucapan Elang, hati Aisyah menghangat ternyata lelaki itu benar-benar menemui janji untuk mencarikannya pekerjaan yang lebih pantas. Entah kenapa mendapat tawaran mengajar di TPQ membuat Aisyah rindu akan pesantren. Dulu, hari-harinya selalu diisi dengan mengajar anak-anak santri di pesantren Darul Hikmah. Tiada hari tanpa mengajarkan ilmu. Kini Allah seperti telah membukakan jalan untuknya menyampaikan ilmu agama. Namun, hatinya kembali ragu, mengingat kondisinya sekarang ini sedang hamil tanpa suami. "Terima kasih, Mas. Tapi saya sedang hamil. Apakah boleh saya mengajar dalam keadaan hamil begini? Bagaimana kalau mereka tahu saya hamil tanpa suami? Saya takut jika kehadiran saya malah justru mencoreng nama baik TPQ karena memiliki pengajar yang hamil tanpa suami," balas Aisyah sembari menunduk sedih. "Mereka tidak akan tahu kalau kamu hamil. Kamu bisa memakai baju gamis yang besar dan lebar. Jadi, kamu bisa menyembunyikan kehamilanmu." "Baiklah, Mas. Saya bersedia. Kapan saya bisa mulai mengajar di sana?" tanya Aisyah antusias. "Ustaz bilang secepatnya. Kalaupun besok kamu mau mulai mengajar juga boleh. Aku akan mengantarmu ke sana menemui Ustaz." "Terima kasih, Mas Elang. Maaf, jika saya selalu merepotkan Mas Elang. "Tidak apa-apa, Aisyah. Aku senang bisa membantumu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN