"Aisyah ke mana, Bik?" tanya Elang saat melihat Surti menyiapkan sarapan untuknya seorang diri. Biasanya gadis itu selalu membantu pekerjaan Surti.
"Aisyah sepertinya sedang tidak enak badan, Tuan Muda," balas Surti membuat Karin menoleh ke arah wanita paruh baya itu.
"Aisyah sakit apa?" tanya wanita itu.
"Sepertinya Aisyah masuk angin, Nyonya."
"Surti, tolong katakan pada Aisyah untuk bersiap. Aku akan mengantarnya periksa ke dokter kandungan," ucap Karin membuat Elang terheran.
"Baik, Nyonya. Akan saya sampaikan pada Aisyah," balas Surti kemudian berlalu meninggalkan ruang makan.
"Sayang, kamu serius mau membawa Aisyah ke dokter?" tanya Elang memastikan. Lelaki itu terheran karena tidak biasanya Karin peduli kepada kesehatan ART di rumah itu, apalagi Aisyah.
"Iya, aku tidak mau Aisyah dan bayinya kenapa-napa. Walau bagaimanapun juga, bayi itu akan jadi anak kita,"alas Karin santai sembari menyantap sarapannya.
"Tapi, Sayang. Bukannya Aisyah belum setuju untuk memberikan bayinya kepada kita? Kamu jangan memaksanya," protes Elang.
"Kamu tenang saja, Mas. Aku tidak akan memaksa Aisyah. Aku yakin dengan memberikan perhatian kepada bayi dalam kandungannya, Aisyah akan luluh dan mempercayakan bayi itu kepada kita," balas Karin membuat Elang menggelengkan kepala.
"Tapi, Sayang--"
"Sudahlah! Kamu jangan protes lagi. Aku pastikan Aisyah akan memberikan bayinya kepada kita."
"Tapi aku tidak setuju kalau kita membohongi Papa seperti ini."
"Sudahlah, Mas. Turuti saja kemauanku atau kita pisah," ancam Karin membuat Elang hanya bisa mengembuskan napas kasar. Setiap kali wanita itu mengancam perpisahan, Elang tidak bisa berbuat apa-apa. Lelaki itu terlewat bucin kepada sang istri, sehingga belum siap untuk kehilangan Karin.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Elang pun bersiap ke kantor. Sementara Karin yang hari itu tidak ada jadwal syuting, bersiap mengantar Aisyah ke dokter kandungan.
"Kamu sudah siap, Aisyah?" tanya Karin saat menghampiri gadis itu di kamarnya.
"Sebenarnya saya hanya masuk angin, Mbak. Setelah istirahat sebentar juga insya Allah akan sembuh. Jadi, tidak perlu ke dokter," balas Aisyah yang merasa sungkan dan tidak ingin merepotkan majikannya.
"Kamu harus ke dokter, Aisyah. Selama hamil kamu belum pernah periksa, bukan? Apa kamu tidak ingin melihat bayi kamu di layar USG?" tanya Karin membuat Aisyah mengangkat wajahnya.
"Sebenarnya ingin sekali, Mbak. Saya ingin tahu kondisi janin dalam kandungan saya, tapi saya takut."
"Takut kenapa?" tanya Karin heran.
"Takut ditanya-tanya sama dokternya karena bayi ini tidak punya ayah," balas Aisyah sembari menunduk, membuat Karin tersenyum. Wanita itu merasa menemukan celah kelemahan Aisyah agar bisa membujuk wanita itu memberikan bayinya.
"Aisyah, kalau kamu bersedia memberikan anakmu kepadaku, maka dia tidak akan pernah kekurangan apapun. Secara materi kehidupan kami lebih dari cukup dan bayimu juga akan punya ayah dan ibu yang lengkap. Jadi, kelak tidak akan ada orang yang mengatakannya sebagai anak haram. Selain itu, kamu juga tetep bisa dekat dengannya. Kamu bisa mengasuh dan memberikannya ASI." Aisyah terdiam mendengarkan kata-kata Karin.
"Aku akan sangat berterima kasih kepadamu, Aisyah. Jika kamu bersedia memberikan anakmu, itu artinya kamu telah menyelamatkan pernikahanku. Sebagai tanda terima kasihku kepadamu, aku akan berikan apa saja yang kamu minta," ucap Karin membuat Aisyah terdiam dan berpikir.
Dalam hati Aisyah membenarkan apa yang dikatakan wanita itu. Jika anak dalam kandungannya diasuh Karin dan Elang, maka anak itu tidak akan kekurangan apapu . Anak itu juga akan punya ayah dan ibu yang lengkap. Namun, jika anak itu tetap dia pertahankan, maka suatu saat nanti dia pasti akan menanyakan siapa ayahnya. Belum lagi kalau dia sudah sekolah, bisa-bisa mendapatkan Bullyan dari teman-temannya sebagai anak haram. Membayangkannya saja Aisyah tidak sanggup.
"Bagaimana, Aisyah? Kamu bersedia memberikan anakmu kepada kami?" Pertanyaan Karin membuyarkan lamunan Aisyah. Sudah sejak kemarin wanita itu memikirkan tawaran dari istri Elang. Hanya saja, Aisyah belum juga bisa mengambil keputusan.
"Baiklah, Mbak. Saya bersedia memberikan anak saya untuk Mbak Karin dan Mas Elang," balas Aisyah akhirnya.
"Sungguh? Kamu benar-benar akan berikan anakmu pada kami?" tanya Karin memastikan. Aisyah pun menganggukkan kepala. Spontan, Karin memeluk gadis itu.
"Terima kasih, Aisyah. Kamu telah menyelamatkan pernikahanku dan Mas Elang," ucapnya sembari memeluk Aisyah.
"Kamu mau minta apa? Katakan saja. Aku pasti akan memberikannya," ucap Karin setelah melepaskan pelukannya.
"Saya tidak minta apa-apa, Mbak. Saya hanya ingin tetap diizinkan untuk tinggal di sini dan merawat anak saya. Saya ingin mengajarkannya ilmu agama itu saja," balas Aisyah membuat Karin tersenyum lebar.
"Tentu saja kamu boleh mengasuh dan merawatnya, Aisyah. Kamu juga boleh mengajarkan apapun kepadanya. Aku hanya butuh status anak itu sebagai anakku, agar pernikahanku dan Mas Elang terselamatkan," balas Karin lega. Sebenarnya bukan pernikahannya dengan Elang yang terselamatkan, tetapi saham perusahaan PT Karya Gemilang lah yang akan terselamatkan dan tidak jatuh ke tangan adik tiri Elang.
"Terima kasih, Mbak."
"Ya, sudah. Sekarang kamu bersiap. Kita akan ke rumah sakit untuk periksa. Aku harus pastikan kalau kamu dan bayi dalam kandunganmu sehat," ucap Karin bersemangat. Aisyah pun mengangguk, lalu bersiap ke rumah sakit. Sementara Karin bergegas ke ruang kerjanya untuk mengambil sesuatu.
"Saya sudah siap, Mbak," ucap Aisyah beberapa saat kemudian saat Karin keluar dari ruang kerjanya membawa sebuah map berwarna biru.
"Tunggu, Aisyah! Sebelum kita ke rumah sakit, duduklah dulu," titahnya membuat Aisyah mengangguk. Gadis itu duduk di sofa ruang tengah yang bersebelahan dengan ruang kerja Karin. Istri Elang itu kemudian mengikuti duduk di depan Aisyah dan menyodorkan map biru yang ada di tangannya.
"Apa ini, Mbak?" tanya Aisyah sembari menerima map tersebut.
"Baca dan tanda tangani surat ini," ucap Karin. Aisyah mengangguk, lalu membuka dan membaca isinya.
"Surat perjanjian?" tanya Aisyah heran sembari menatap ke arah Karin.
"Iya, aku ingin kamu menyetujui dan menandatangani surat perjanjian itu." Aisyah pun membaca secara detail isi surat perjanjian yang dibuat Karin. Intinya, isi surat itu hanya memastikan kalau Aisyah tidak akan meminta kembali anaknya yang telah diberikan kepada Elang suatu saat nanti.
"Tapi, Mbak. Kenapa harus pakai surat perjanjian?" tanya Aisyah bingung.
"Karena aku tidak mau suatu saat nanti kamu mengambil kembali anakmu. Dia akan terdaftar sebagai keluarga besar Wirayuda. Jadi, surat perjanjian ini hanya antisipasi agar kamu tidak berubah pikiran nantinya."
"Boleh saya menambahkan poin dalam isi surat perjanjian ini sebelum menandatanganinya, Mbak?" tanya Aisyah.
"Boleh, kamu ingin ditambahkan apa?"
"Saya ingin keluarga besar Wirayuda tetap mengizinkan saya untuk bertemu anak saya kapanpun saya mau."
"Oke, itu tidak masalah. Nanti akan aku tambahkan. Tapi kamu harus ingat, bahwa kamu harus tetap pegang rahasia dari keluarga besar suamiku dan sampai kapanpun kamu tidak boleh mengungkap jati diri anakmu."
"Insya Allah, Mbak." Karin pun menambahkan poin yang diminta Aisyah ke dalam surat perjanjian itu, lalu setelahnya Aisyah pun menandatanganinya.
Keduanya kemudian bergegas ke rumah sakit. Namun, sebelumnya, Karin telah menghubungi Dokter Vera dan membuat janji konsultasi dengan dokter langganannya itu.
Saat sampai di Poli kandungan, keduanya pun dipersilahkan untuk menunggu sejenak. Seorang wanita yang tidak lain adalah asisten Dokter Vera, terkejut saat melihat Karin datang bersama Aisyah.
"Astaghfirullahaladzim! Gadis itu? Kenapa dia bisa bersama Bu Karin?" gumamnya lirih sembari menutup mulut. Namun, kedua matanya tidak lepas memandang ke arah Aisyah.