bc

RENCANA CINTA SANG BOCAH

book_age18+
5
IKUTI
1K
BACA
family
love after marriage
drama
sweet
like
intro-logo
Uraian

David, anak berusia tujuh tahun yang cerdas dan peka, memiliki kerinduan terdalam: sebuah keluarga yang utuh. Sejak ditinggal ayah kandungnya yang memilih pergi, David hanya memiliki Mama Melisa—seorang dokter gigih yang berusaha keras membesarkannya sendirian. Namun, di balik senyumnya yang ceria, David menyimpan kerinduan akan sosok ayah yang bisa melengkapi hidup mereka.

Ketika Pak Adi, guru olahraga yang tampan dan baik hati, masuk ke dalam kehidupan David, bocah itu melihat sebuah peluang. Dengan kepolosan dan keteguhannya, David menyusun "misi rahasia" untuk menyatukan Mama Melisa dan Pak Adi. Dari pertemuan yang "kebetulan" hingga upaya menjadi perantara, David melakukan segalanya dengan keyakinan bahwa mereka ditakdirkan bersama.

Namun, jalan menuju keluarga impian tidak selalu mulus. Ada rasa takut, luka masa lalu, dan keraguan yang harus mereka hadapi. Sampai suatu ketika, sebuah insiden tak terduga membuka hati Melisa dan Adi untuk melihat apa yang telah lama disadari David—bahwa mereka memang diciptakan untuk saling melengkapi.

Rencana Cinta Sang Bocah adalah kisah hangat dan mengharukan tentang keyakinan seorang anak, kekuatan cinta, dan bagaimana sebuah keluarga bisa terbentuk dari cara-cara yang tak terduga. Sebuah cerita yang membuktikan bahwa terkadang, hati seorang anak-lah yang paling tahu apa yang terbaik untuk orang tuanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bayangan di Cermin
Namaku David. Usiaku tujuh tahun. Banyak yang bilang aku ganteng. Setiap kali ada acara keluarga atau orang-orang bertemu mama, mereka selalu mencubit pipiku dengan gemas dan berkata, "Wah, David makin ganteng aja, mirip sekali sama mamanya!" atau "Lihatlah hidungnya yang mancung itu, persis ayahnya dulu." Aku hanya bisa tersenyum malu, tidak terlalu paham apa arti "ganteng" itu sebenarnya. Bagiku, wajah ini ya memang begini adanya, sama seperti matahari yang terbit di timur dan tenggelam di barat. Tentu saja, mereka bilang aku ganteng karena orang tuaku juga tampan dan cantik. Kami adalah keturunan Chinese. Aku ingat dulu, sebelum semuanya berubah, kami sering difoto bersama. Di dalam foto-foto itu, Papa memakai kacamata yang membuatnya terlihat sangat pintar, dengan senyum lebar yang menunjukkan gigi-giginya yang sangat rapi. Mama, Melisa, selalu berdiri di sampingnya, cantik bak bintang sinetron, dengan rambut hitam lurus yang berkilau. Mereka terlihat sempurna, seperti sebuah keluarga yang keluar dari iklan di televisi. Tapi, gambar sempurna itu sudah lama pecah. Mereka sudah pisah sejak umurku empat tahun. Kenangan tentang masa itu samar-samar, seperti mimpi buruk yang hanya tersisa kesannya saja. Yang kuingat dengan jelas adalah suara tangisan mama di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, dan bau parfum yang tidak kukenal di jaket papa. Kata orang dewasa, "Papa selingkuh." Aku tidak benar-benar mengerti arti kata itu waktu itu, yang kurasakan hanya Papa tiba-tiba menghilang dari kehidupan kami. Dan sejak hari itu, dia benar-benar lenyap. Tidak tahu di mana dia sekarang. Dia tidak pernah sekalipun menengokku, tidak ada telepon, tidak ada ucapan selamat ulang tahun. Kadang, aku melihat wajahnya yang samar di bayangan cermin, di hidung dan bentuk mataku, tapi itu hanya bayangan yang tidak pernah bisa kuraih. Kini, hidupku hanya berdua dengan mama, Melisa, yang seorang dokter. Semenjak cerai, mama memutuskan untuk berhenti bekerja di rumah sakit besar dan membuka praktik pribadi di rumah. Alasannya selalu sama setiap kali ada yang bertanya, "Agar aku bisa selalu nyempetin David berangkat dan pulang sekolah." Praktiknya berada di sebuah ruangan khusus di sisi timur rumah kami. Setiap pagi, sebelum praktik dimulai, dia pasti sudah berdiri di depan gerbang sekolah, melambai kepadaku dengan senyumnya yang hangat. Dan di sore hari, dia hampir tidak pernah absen menunggu di tempat yang sama, siap mendengar ceritaku tentang hari ini. Hal yang paling kukagumi dari mamaku adalah kemandiriannya. Walau sibuk sebagai dokter, di rumah kami tidak ada supir atau pembantu. Hanya kami berdua. Aku sering membantunya menyapu lantai atau membereskan mainanku. Mamalah yang memasak, mencuci baju, dan membersihkan seluruh rumah. Di mataku yang berusia tujuh tahun, mama adalah superhero. Dia bisa menyembuhkan orang sakit dengan stetoskopnya, dan juga bisa membuat makan malam yang lezat sambil menemaniku mengerjakan PR. Tangannya yang lembut itu bisa memegang alat bedah, tapi juga bisa membelai kepalaku hingga aku tertidur pulas. Malam ini, setelah mama menidurkanku, aku membuka album foto lama yang kusembunyikan di bawah tempat tidur. Ada satu foto dimana Papa sedang menggendongku tinggi-tinggi, dan kami berdua tertawa terbahak-bahak. Mama memotret kami dengan mata berbinar-binar. Aku menatap foto itu lama sekali, berusaha mengingat suara tawanya, atau rasa aman berada dalam pelukannya. Tapi yang kudapat hanyalah keheningan. Aku menutup album dan memandang langit-langit kamar. Hidupku bersama mama terasa lengkap dan penuh cinta. Tapi, di sudut hatiku yang paling kecil, ada sebuah ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh sebuah bayangan—bayangan seorang lelaki yang dulu memanggilku "anak laki-lakiku," dan yang kini hanya tinggal kenangan samar dalam foto usang dan cerita orang lain. Aku menghela napas, berbalik, dan memejamkan mata, berharap mimpi akan membawaku pada petualangan yang lebih menyenangkan daripada memikirkan bayangan yang telah pergi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Menyala Istri Sah!

read
4.5K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
21.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.3K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.9K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.7K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
16.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook