Bab 1

2020 Kata
Matahari bersinar cerah pagi ini, secerah senyum seorang perempuan berambut pirang yang saat ini sedang mematut dirinya di depan cermin besar di dalam kamarnya. Perempuan itu bernama Seraphina, dia adalah seorang malaikat tingkat kedua. Seraphina merupakan murid dari salah satu tujuh penghulu malaikat, Gabriel. Hari ini dia akan mengikuti ujian kenaikan tingkat para malaikat. Seraphina sudah menunggu ujian ini selam seratus tahun, yang berarti dia menunggu seumur hidupnya. "Apa kau sudah siap, Seraphina?" tanya Angelica, sepupunya. Angelica berusia seratus tahun lebih tua dari Seraphina. Angelica adalah murid dari Mikhail. Seraphina menarik napas, mendiamkannya selama beberapa menit di paru-parunya sebelum mengembuskannya dengan kuat melalui mulut. "Kurasa aku sudah siap!" jawab Seraphina bersemangat. Tersenyum lebar menatap Angelica dengan mata birunya yang berbinar. "Aku yakin aku tidak akan gagal, Angelica." Angelica juga tersenyum manis membalas senyum Seraphina. Sepupunya yang satu ini memang sedikit ceroboh. Namun, dia adalah murid kesayangan Tuan Gabriel. Seraphina tidak pernah mengecewakan gurunya itu. Semua tugas yang diberikan selalu dikerjakan dengan baik dan selesai tepat waktu. "Aku yakin dengan hal itu. Kau pasti bisa, Seraphina!" Seraphina mengangguk. "Pasti!" jawabnya. "Aku sudah menunggu hal ini selama seratus tahun, akan sangat menyebalkan kalau aku sampai gagal. Tuan Gabriel pasti akan sangat kecewa padaku." Seraphina memajukan bibir, wajah cantiknya berubah mendung. "Aku tidak ingin membuat Tuan Gabriel kecewa, juga diriku sendiri. Aku juga pasti akan sangat kecewa kalau seandainya aku gagal." "Oleh seba itu, kau tidak boleh gagal, Sepupuku." Angelica memeluk bahu Seraphina. "Berjuanglah dengan penuh semangat!" pesannya. "Satu lagi, kau harus menggunakan hatimu saat ujian, tidak boleh melakukan kecurangan karena itu hanya akan membuat gurumu malu." Seraphina mengangguk cepat. Tidak mungkin dia mempermalukan Tuan Gabriel, itu adalah hal terakhir yang akan dilakukannya. Dia sangat menghormati gurunya. "Aku tidak akan melakukannya! Aku pasti akan melakukan yang terbaik, Angelica," ucap Seraphina berapi-api. "Aku pasti bisa melakukan yang terbaik." Angelica mengangguk. "Ini adalah Seraphina-ku." Angelica mencium pipi Seraphina. "Tapi kau tetap harus berhati-hati, Sepupu. Sainganmu adalah Aslan, malaikat tingkat kedua terbaik dari Tuan Mikhail." Seraphina menatap Angelica dengan alis berkerut. Sedikit bingung dengan perkataan sepupunya itu. Dia kurang mengenal Aslan, malaikat berambut berwarna perak itu terlalu pendiam. Aslan lebih sering terlihat menyendiri daripada menghabiskan waktu bersama rekan malaikatnya yang lain. Meski begitu, Aslan terkenal. Banyak malaikat perempuan yang menyukainya. TIdak heran, Aslan memang tampan. Namun, kenapa dia harus berhati-hati dengan Aslan? Apakah ia berbahaya? "Kenapa aku harus berhati-hati pada Aslan?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibir Seraphina. Dia membutuhkan penjelasan. "Apakah Aslan berbahaya?" Angelica tersenyum. "Aslan itu hebat. Sudah kubilang, bukan, kalau ia adalah malaikat tingkat kedua terbaik murid Tuan Mikhail?" Seraphina mengangguk. "Ia adalah saingan utamamu, Sepupu." Seraphina memiringkan kepala, berpikir sejenak. "Kurasa kau benar,"ucapnya. Aslan memang akan menjadi saingan terberatnya, Seraphina sudah tahu akan hal itu. Aslan adalah murid Tuan Mikhail yang terpandai. Itu yang diketahuinya mengenai Aslan selain pria itu tampan dan pendiam. Namun, Seraphina yakin dia pasti dapat mengalahkan Aslan. Dia pun tak kalah pintar darinya, hanya sedikit ceroboh saja. Kecerobohan yang menjadi kelemahan utamanya. Seraphina meringis. Dia Si Ceroboh akan bersaing dengan Aslan yang nyaris tak mempunyai kelemahan. Aslan adalah sosok sempurna seorang malaikat. Tampan, bertubuh tegap, rambut perak yang terlihat sangat serasi dengan sayap perak mereka. "Tapi, aku pasti bisa mengatasinya," sambung Seraphina dengan mimik wajah serius. "Aku juga pintar, Angelica. Asal kau tahu saja." Seraphina menatap Angelica dengan pipi menggembung. Angelica memutar bola mata, melepaskan rangkulannya di bahu Seraphina, menggantinya dengan sebuah cubitan di pipi perempuan itu. "Aku tahu itu," ucap Angelica gemas. "Kau memang pintar, Seraphina. Tapi, kau juga ceroboh." Angelica mendengkus kesal. "Kau harus tahu, dalam ujian kenaikan tingkat ini, ada tujuh ujian yang harus kau hadapi. Tiga di antaranya adalah ujian tertulis, empat lainnya adalah ujian di lapangan. Kalau satu saja kau tidak lulus, maka kau akan dinyatakan gagal pada semua ujian dan tidak akan naik tingkat. Sekarang kau mengerti, bukan, kenapa aku memintamu untuk berhati-hati?" Seraphina mengangguk. Tanpa dijelaskan Angelica pun dia sudah tahu mengenai peraturan ujian kenaikan tingkat. Tuan Gabriel sudah memberitahunya dan memintanya untuk bersiap sudah sejak sepuluh tahun yang lalu. Lalu, untuk kata ceroboh itu, dia sangat tidak menyukainya. Memang benar dia ceroboh tapi tidak perlu diperjelas, bukan? Angelica memang menyebalkan. Mentang-mentang sudah mendapatkan mahkota malaikat. Seraphina cemberut. Angelica lebih tua darinya. Selain itu Angelica juga lebih hebat dan lebih berpengalaman. Angelica memiliki sepasang sayap berwarna abu-abu, begitu serasi dengan kulit putihnya yang berkilau saat tertimpa cahaya. Angelica adalah sosok kecantikan bagi Seraphina. Begitu berbeda dengan dirinya yang selalu saja ceroboh. "Sekarang bersiap lah!" Angelica menepuk pipi Seraphina pelan. Melepaskan pelukan dan mendorong punggungnya ke arah pintu. "Sebentar lagi waktu ujian, sebaiknya kau berangkat sekarang atau akan terlambat. Lagipula, bukankah kau harus menemui Tuan Gabriel dulu?" Seraphina menepuk dahi. Bagaimana mungkin dia bisa lupa pada hal sepenting itu. Dia harus menemui gurunya terlebih dahulu untuk melapor sebelum mengikuti ujian. "Astaga! Bagaimana mungkin aku bisa lupa?" tanya Seraphina dramatis. Angelica memutar bola mata. Sudahkah dikatakannya kalau Seraphina juga pelupa? Sepertinya karena sifat pelupa itulah yang menyebabkan dirinya menjadi ceroboh. Beruntung Seraphina tidak pernah lupa pada pelajaran sehingga dia tidak pernah kesulitan dalam setiap ujian. "Terima kasih, Angelica," ucap Seraphina sambil menciumi pipi Angelica bertubi-tubi. "Kau sudah mengingatkanku hal yang sangat sangat penting. Aku akan sangat malu kalau sampai melupakan hal penting itu." "Baiklah baiklah! Kau memang sangat senang, tapi tidak perlu membasahi pipiku dengan air liurmu!" Angelica membelalak galak. Tangannya menjauhkan Seraphina dari tubuhnya, mengambil tisu dari atas meja makan dan mengusap pipinya. "Ini sangat menjijikkan, Seraphina." Angelica menggeliat geli. Seraphina hanya nyengir kuda. Ceroboh dan pelupa, memang sudah melekat dalam dirinya. Namun, ketahuilah di balik itu semua, Seraphina sangat bertanggung jawab. Dia juga bisa berubah menjadi pribadi yang sangat serius di saat tertentu. "Sebaiknya kau pergi sekarang kalau tidak ingin terlambat." Angelica memperingatkan. "Aku juga harus melapor pada Tuan Mikhail. Aku telah gagal melaksanakan tugas." "Eh?" Angelica menarik napas panjang, mengembuskannya pelan. "Manusia yang seharusnya kujaga telah tewas," ucapnya menyesal. "Aku terlambat. Dia sudah tidak bernyawa lagi saat aku tiba." "Aku turut menyesal, Angelica," ucap Seraphina sambil memeluk sepupunya itu. Kegagalan di dunia mereka sebenarnya sudah biasa, tidak ada masalah kalau mereka memiliki alasan yang tepat. Guru mereka tidak akan menghukum selama itu bukan mereka sendiri yang menyebabkan kegagalan alias mereka lalai. Selama menjalankan tugas, baik Seraphina maupun Angelica tidak pernah gagal. Ini adalah kegagalan pertama Angelica, wajar saja dia merasa sangat tidak enak. Seolah dia melakukan sebuah kesalahan yang sangat besar, padahal itu hanyalah nyawa seorang manusia saja. Namun, kegagalan tetap saja meninggalkan bekas yang sangat tidak enak dilihat. Angelica bertugas untuk menjaga nyawa seorang perempuan muda berusia tifa puluh tahun. Perempuan itu depresi setelah ditinggalkan kekasihnya menikah dengan perempuan lain. Sudah berkali-kali perempuan itu mencoba mengakhiri hidupnya, tapi selalu tak berhasil. Dia tidak memiliki keberanian yang cukup besar untuk melakukan itu. Baru kemarin dia berhasil. Entah apa atau siapa yang membuatnya berani melakukan itu karena selama ini dia selalu berpikir keras sebelum melakukannya. Di dunia malaikat, bunuh diri manusia bukanlah hal terlarang. Namun, sebisa mungkin para malaikat yang bertugas menjaga atau mendampingi si manusia untuk mencegahnya. Sebab itu bukanlah kematian yang wajar. Manusia yang mati karena bunuh diri tidak akan bisa masuk surga. Roh-nya akan melayang dan tersesat di akhirat tanpa tujuan. Malaikat yang ditugaskan untuk melindungi manusia tersebut akan merasa gagal dalam menjalankan tugas. Seperti yang dirasakan Angelica. "Tidak apa-apa, Seraphina." Angelica tersenyum. "Setidaknya kegagalan ini menjadi pelajaran bagiku agar tidak lagi lengah," ucapnya. "Aku harus tetap waspada karena kita tidak tahu siapa yang berada di balik manusia itu selain kita." Angelica benar. Yang mendampingi manusia di dunia itu bukan hanya para malaikat penjaganya saja, tetapi juga iblis yang ditugaskan untuk menggoda mereka agr melakukan perbuatan tercela. Raja iblis, Lucifer, tentu ingin banyak manusia menemaninya di kegelapan neraka. Seraphina mengangguk. Dia juga harus memiliki semangat yang sama besar seperti yang dimiliki Angelica. Dia juga harus lebih berhati-hati karena anak buah Lucifer bisa berada di mana pun dan menjadi apa pun. Sangat menyebalkan memang, para pasukan iblis juga diberi kuasa yang sama seperti mereka, para malaikat. Hanya saja, kekuatan para malaikat setingkat lebih tinggi di atas iblis-iblis itu. Satu lagi, mereka, para malaikat lebih suci dibanding dengan iblis yang selalu menebarkan kejahatan dan tipu muslihat. Dalam kasus Angelica, sepertinya iblis yang berjaya. "Semangat, Angelica!" seru Seraphina. "Aku yakin kau bisa menebus kegagalanmu sekarang dengan keberhasilan pada tugasmu berikutnya." Angelica mengangguk. "Terima kasih, Sepupu," ucapnya. "Kau juga harus bersemangat. Bukan aku yang akan mengikuti ujian selama tujuh hari ke depan." Seraphina meringis, tapi tetap mengangguk mantap. Mengenai ujian ini, dia sangat bersemangat. Kesempatan ini sangat langka, hanya malaikat yang terpilih yang akan diikutsertakan dalam ujian. Itu pun harus dengan rekomendasi dari guru mereka. Salah satu syarat untuk mengikuti ujian adalah mendapatkan rekomendasi itu. Kalau tidak, percuma saja mengaku sebagai malaikat terbaik, kau tetap tidak akan bisa mengikuti ujian. "Sebaiknya kita berangkat sekarang!" Angelica mulai panik. "Aku tidak ingin kita terlambat!" Seraphina memutar bola mata. Waktu memang semakin berjalan, tetapi mereka tidak akan terlambat. Masih ada beberapa saat lagi sebum ujian di mulai, dan beberapa saat itu akan habis kalau mereka tidak bergegas. Astaga, Angelica benar! Seraphina ikut panik. Bergegas gadis berbuat pirang itu mengemasi barang-barang yang akan dibawanya. Tidak banyak memang, dia hanya membawa buku dan bolpen. Namun tetap saja dia memerlukan tempat untuk kedua alat tulis itu. Ayo, Seraphina!" Angelica menarik tangan Seraphina. Membawanya keluar rumah. Angelica mengepakkan sayap abu-abunya lebih dahulu, disusul Seraphina setelah mengunci pintu. Sayap yang dimiliki Seraphina berbeda dengan milik Angelica. Sayap Seraphina berwarna putih seperti warna perak, begitu kontras dengan warna rambutnya yang pirang keemasan. Para malaikat pemula mengenal Seraphina sebagai malaikat cantik berambut emas dan bersayap perak. Mereka tidak salah karena semua itu memang ciri-ciri Seraphina. Sayap Seraphina berukuran sedikit lebih kecil dari sayap yang dimiliki Angelica. Kata Angelica ukuran sayap mereka akan sama besar kalau Seraphina lulus dalam ujian kenaikan tingkat. Besar kecilnya sayap tergantung dengan tingkatan mereka. Kedua sepupu itu berpisah di persimpangan. Istana Gabriel dan Mikhail berbeda arah. Seraphina segera menyimpan sayapnya kembali begitu mendarat di depan istana gurunya. Di depan pintu istana yang dijaga oleh dua orang Chayyliel (malaikat penjaga), Seraphina bertemu dengan Tauriel, sahabatnya. Tauriel adalah malaikat perempuan tingkat dua sama seperti Seraphina, memiliki rambut berwarna cokelat terang dan sayap yang sewarna dengan rambutnya. Seraphina kadang iri dengan Tauriel, dia juga ingin memiliki sayap dan rambut yang berwarna sama. Namun, apa daya dia tidak bisa mengubah warna rambut ataupun warna sayapnya. Dia tidak memiliki kuasa untuk itu. Tuan Gabriel pun tidak memiliki untuk mengubah semuanya. Hanya Yang Kuasa yang bisa mengubah semua yang dikehendaki-Nya. "Selamat pagi, Seraphina!" sapa Tauriel ceria seperti biasa. Mata hazel-nya bersinar cerah pagi ini. "Selamat pagi, Tauriel!" balas Seraphina sama cerianya. Kedua malaikat muda itu berpelukan sebelum memasuki istana dengan bergandengan tangan. Seorang Chayyliel membukakan pintu untuk mereka. Tauriel dan Seraphina seusia. Mereka berdua sama-sama diciptakan dari pihak-pihak cahaya di belahan bumi Utara. Mereka berdua memiliki kepandaian yang sama, hanya saja Seraphina lebih cepat daya tangkap. Meski ceroboh tapi Seraphina tidak pernah mengecewakan guru mereka. Dia selalu melaksanakan setiap tugas yang dibebankan padanya dengan sungguh-sungguh. Bukannya Tauriel tidak mengerjakan tugas bersungguh-sungguh seperti Seraphina. Namun, tugas mereka berdua sehingga tidak bisa diukur siapa yang lebih pandai. Meski begitu tingkatan tugas mereka sama beratnya, mereka masih sama-sama di tingkat kedua. "Bagaimana, Seraphina? Apa kau sudah siap dengan ujian kenaikan tingkatmu hari ini?" tanya Tauriel memecah kesunyian yang terjalin di antara mereka. Jarak antara pintu dan singgasana Gabriel biasa ditempuh dalam waktu setengah jam. Para malaikat murid dari Gabriel biasanya selalu berbincang-bincang untuk mengisi waktu. Mereka tidak berjalan, tetapi terbang. Seraphina mengangguk. "Iya, aku sudah siap!" jawabnya mantap. "Kau tampak sangat bersemangat." Tawa lepas keluar dari mulut Tauriel. Seraphina memang selalu bisa membuatnya melupakan sedih dan duka. Sikap Seraphina yang langsung dan apa adanya membuat semua orang pasti berpikiran yang sama dengannya. "Syukurlah kalau kau memang sudah siap. Aku hanya bisa mendukungmu melalui doa dan kata-kata penyemangat." Seraphina tersenyum lebar. "Tidak apa-apa, Tauriel," sahutnya. "Itu semua sudah lebih dari cukup. Yang kubutuhkan saat ini adalah dukungan dari kalian semua. Apa kau tahu siapa sainganku di ujian nanti?" tanya Seraphina dengan raut wajah serius. Tauriel mengerutkan sepasang alisnya. Kata-kata Seraphina serta raut wajahnya sukses memicu penasarannya. "Siapa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN