Kejatuhan Sandrina dan Kondisi Wirayudha

1576 Kata
Sandrina dan dua orang pasukan menyisir jalan, terutama jalanan di mana terjadi kecelakaan tadi. "Miss!" panggil salah satu prajurit kepada Sandrina. Manakala mendekat prajurit itu menunjukkan keanehan demi keanehan terkait dengan jebakan yang berhasil mencelakai mereka semua. Benang tipis serupa jaring laba laba yang membentang di sepanjang jalan dan membuat mereka semua celaka itu kini menghilang. Jalan yang mereka lalui kini bersih tanpa sisa atau jejak apa pun. Sisa sisa kecelakaan tadi pun sudah hilang. Jalanan tampak seperti biasa padahal tadi menyisakan banyak kekacauan. "Siapa yang merapikan?" Sandrina geram. "Di antara kami tidak, Miss." "Ini aneh, kenapa tiba tiba jadi tak ada jejak begini?" Semua tidak mengerti. Sandrina berusaha melihat dengan menggunakan mata batinnya, hasil yang diperoleh, tidak terlihat. Semua persis seperti kabut tebal yang menghalangi penglihatannya. Sandrina ingin menyelidiki keanehan ini akan tetapi ada satu hal yang lebih penting untuk dia lakukan saat ini, yakni mencari tube rahasia. Tarbuya menunggu karena proses pembuatan peluru akan segera dimulai. Tidak ada kelegaan sedikit pun yang dirasakan Sandrina kala pagi bergulir perlahan dengan tenang. Sinar kemerahan di langit berganti menjadi terang benderang dan sedikit terik. Sandrina masih terus mencari tube rahasia yang bisa menentukan keselamatan seluruh negeri. Ketika Andraga sudah bangun dari pingsannya pun tidak mendatangkan kebahagiaan untuk Sandrina. Dia hanya lega setidaknya tanggung jawab yang harus dia emban berkurang satu. Entah kenapa kabar hilangnya tube rahasia sudah sampai ke telinga Nitisara. Kabar kecelakaan yang membuat Andraga terluka pun mencuat. Nitisata geram, bisa bisanya Sandrina seceroboh itu. Lantas dipanggilnya Prajurit kebanggan negeri bawah tanah itu ke Camp Nitisara. Sandrina begitu lesu. Alvian dan Chandra ingin menemani Sandrina menghadap Nitisara. Tidak ada penolakan, Sandrina sudah terlalu lelah menghadapi semua yang terjadi kepadanya saat ini. Alvian yang pandai berkuda menunggangi kuda berdua dengan Chandra, sementara Sandrina sendirian diikuti oleh dua prajurit yang sejak kemarin setia mengikuti kemana pun dia berangkat. Sementara Andraga dijaga oleh Alana di pondok. Dia sudah siuman. Syukurnya tidak ada luka dalam yang dia derita, hanya beberapa memar dan luka akibat terpental dan terjatuh dari kuda yang mereka tumpangi. Sandrina tetap tegar menapaki jalan menuju camp Nitisara. Sebagai seorang pemimpin prajurit dia bersedia bertanggung jawab atas apa yang menjadi tanggung jawabnya. Nitisara dengan segala kekecewaannya menyambut kedatangan mereka. Sandrina berlutut akan tetapi Nitisara tidak menyambut penghormatan yang diberikan oleh Sandrina tersebut. Nitisara berjalan tanpa menoleh menuju bagian tengah tenda besar. Sandrina mengikuti Nitisara. Alvian dan Chandra tanpa ragu juga mengikuti ke mana mereka menuju. Tenda besar itu ternyata sudah ada beberaoa prajurit yang menunggu. Sandrina tersentak kaget, pasalnya ini adalah situasi di mana sidang darurat akan digelar. Dia tidak pernah menyangka akan diadili karena perkara hilangnya tube rahasia itu. "Ada apa ini?" tanya Sandrina. Dia berusaha bertanya demi meyakinkan apa yang dilihatnya tidaklah benar. Alvian dan Chandra memilih tempat duduk, dengan wajah tegang, lelaki itu menyaksikan apa yang akan terjadi kepada Sandrina selanjutnya. "Tidak perlu bertanya lagi," ucap Mamiju dengan suara lantang. "Kiranya kamu tahu bahwa pelanggaran dan kesalahanmu sebagai prajurit sudah fatal." Sekujur tubuh Sandrina lemas. Dia tidak sanggup untuk sekadar protes atau menyanggah ucapan Mamiju. Semua benar adanya, dia telah melakukan kesalahan yang fatal sehingga merugikan negeri bawah tanah. Sidang terua berlangsung dengan dibacakannya tuduhan tuduhan kepada Sandrina termasuk kejadian gagalnya bulan purnama karena turun hujan lebat saat itu. Jelas jelas saat itu Wira dan Andraga mendengar sendiri bahwa Mamiju dan pengikutnyalah yang membuat hujan datang. Sayangnya dua pemuda itu kini tidak ada di sini bersama mereka. Kejatuhan hukuman itu harus deterima oleh Sandira dengan hati lapang. Dia mengakui tentang hilangnya tube rahasia dan ceroboh karena membuat Andraga celaka. Meski dia menyanggah tentang kejadian gagalnya purnama dia tetap mendapatkan hukuman. Lagipula Nitisara masih percaya jika kegagalan purnama adalah peristiwa alam yang alami dan tidak bisa di prediksi oleh mereka. Yang harus Sandrina terima sebagai hukuman adalah kejatuhan. Dia dicopot menjadi pemimpin prajurit bahkan tidak diperkenankan menjadi prajurit lagi. Seperti tentara dan Abdi negara yang dicopot dari jabatan serta statusnya, kini Sandrina menjadi rakyat biasa. Dengan pakaian tradisional yang biasa digunakan oleh rakyat. Alvian dan Chandra merasa sedih, meski semua prajurit memperlakukan mereka dengan baik, tetap saja berbeda, Sandrna memiliki kelembutan dan keibuan dalam setiap perlakuannya kepada mereka. "Gue gak nyangka bakal begini, lo ingat gak apa yang diobrolin Wira sama adek gue pas gue sakit?" tanya Alvian kepada Chandra. "Gue ingat, gue rasa ini konspirasi." Chandra mengepalkan tangannya karena geram. Kejatuhan Sandrina yang terjadi dengan begitu mudah ini tidak bisa dibiarkan. Keadilan harus ditegakkan. "Kita gak boleh gegabah, salah langkah nantinya juga gak baik buat Sandrina. Bersyukurlah karena Sandrina tidak dihukum." Benar juga, semua harus dipikirkan matang matang. Apalagi saksi kunci obrolan antara Mamiju denga seorang prajurit pengikutnya kini sedang berada di bawah penyekapan Empusa. "Maafkan atas kekacauan yang terjadi, saya pastikan tube rahasia akan segera ditemukan dan kalian bisa segera pulang dari sini." Nitisara mendekat. Lantas dia membuka jubah kebesaran dan juga mahkota pemimpin Dunia Bawah Tanah. Terperangah dan kaget dengan apa yang dilihatnya, Mamiju memprotes Nitisara. "Ketua, bagaimana bisa Anda melepas itu semua?" Nitisara tersenyum tipis. Dia bukanlah seorang remaja yang bisa dengan mudah dibohongi. Nitisara tahu ada yang tidak beres dengan semua ini. Karenanya keputusannya saat ini cukup membuat semua prajurit terperangah karena kaget. "Tidak ada pengganti pimpinan prajurit!" tegasnya. "Sebagai gantinya saya sendiri yang akan turun tangan menangani dan memimpin semua prajurit mulai dari sekarang. "Tapi ketua," protes Mamiju. Nitisara hanya tersenyum menanggapi. Lantas dia mulai menggerakkan prajurit yang untuk bergerak cepat agar semua cepat selesai. Alvian berlari menyusul Nitisara. Tubuh gagah yang biasa berbalut pakaian raja itu kini menjelma menjadi sosok luar biasa dengan menjadi prajurit yang siap turun untuk mengatur segala strategi yang harus dihadapi dalam melawan Empusa. "Nitisara?" panggil Alvian. "Ya," tegasnya. "Bolehkah kami bertemu Sandrina sekarang?" Nitisara tersenyum, tidak seperti prajurit yang sepertinya tidak diperkenankan untuk senyum. "Sandrina kembali kepada keluarganya, dia terlalu lelah bekerja, biarkan beristirahat," jawabnya bijak. Melihat gurat kekecewaan Alvian dan juga Chandra Nitisara kembali berkata, "Suatu saat kalian akan mengerti." Mengerti apa? Mengerti bahwa Ketidak adilan sedang terjadi saat ini. Nitisara menunggangi kuda yang semula ditunggangi Sandrina. Pria itu mengajak Alvian untuk kembali ke pondok Prajurit. Alvian patuh diikuti banyak prajurit yang berjalan dan berkuda di belakangnya. * Wira sudah sangat putus asa. Dia bingung kenapa tidak ada satu orang pun yang menyelamatkan dia dari Empusa. Wira setiap hari harus makan buah buahan serta makanan yang tidak enak di sini. Tangannya terikat kuat oleh tali yang lebih mirip batang tumbuhan yang merambat. Dia tidak bisa melepaskannya, semakin berontak maka semakin kuat ikatan tali itu. Wira bingung, mengapa Empusa tidak pernah menyerang langsung. Kenapa makhluk itu malah mengandalkan puluhan pasukan yang terdiri dari Ahool dan Cerberus. Keberadaannya di sini bisa dia jadikan salah satu cara untuk mencari dan menyelidiki kelemahan Empusa. Dengan begitu, selain senjataa penghancur yang akan dibuat oleh prajurit dia juga bisa menggali titik lemahnya. Dalam satu hari Empusa hanya tiga kali menampakkan diri seperti minum obat saja. Saat ini saat senja merangkak ke pelukan malam, empusa datang menampakkan diri kepada Wirayudha. "Lo bisa gak sih jangan ngiket gue, pegel tau," protes Wira. Empusa tertawa, melengking mengerikan persis seperti kuntilanak yang selalu dia tonton di acara televisi. "Untung lo cantik, Anjim. Jadi gue gak tega ngapa-ngapain lo," lanjut Wira semakin kesal Empusa itu menyeringai mengerikan. Rambutnya yang indah berkibar lakasana panji dalam sebuah perayaan besar. Dia semakin mendekat, Empusa adalah penggoda dan perayu yang paling andal. Sentuhannya membuat setiap pria lupa diri. Sama halnya seperti Wira saat ini. Lelaku dewasa yang berhadapan dengan sosok secantik bidadari. Dengan satu kali sentuh ikatan tangan Wira terlepas, alih alih melarikan diri dari sergapan Empusa, Wira malah menikmati apa yang sedang terjadi. Wirayudha laksana kuda dengan tali kekang yang terlepas, mengejar puncak berahi tanpa sadar dengan siapa dia berhadapan saat ini. Kemampuan Empusa untuk menghipnotis pria pria di hadapannya tidak bisa dikalahkan dengan apa pun. Empusa sudah haus darah. Dan kali ini dia ingin mencicipi darah Natakusuma yang mengalir kuat dari tubuh Wirayudha. Wirayudha merasa sedang berada di angkasa, di taman bunga bunga dengan sosok perempuan bak bidadari. Dia memejamkan mata kala sentuhan demi sentuhan Empusa terus menjamah tubuhnya. Membangkitkan perasaan bahagia tanpa sadar dirinya berada di tepi jurang bahaya. Tergelincir sedikit saja lelaki itu bisa jatuh dan tidak bisa bangkit lagi untuk menyelamatkan diri. Taring tajam empusa kini sudah muncul. Empusa terus membiarkan Wirayudha melayang jauh, suhu tubuhnya meningkat dan jantungnya berpacu laksana derap langkah kaki kuda di atas lintasan balap. Wira ingat dengan apa yang dikatakan Chandra. Seketika dia tersadar, terlena dalam gairah justru mengantarkan lelaki itu ke gerbang kematian. Wirayudha berusaha melawan, dia menjambak rambut yang bersinar biru itu hingga Empusa menjerit. Dengan kekuatannya Empusa lantas berusaha mengikat kembali tangan Wira, sayangnya Wira berhasil lolos, dengan segenap kekuatan yang ada dia terus melawan. Gairah yang tadi hampir memuncak kini amblas ke dasar jurang bersamaan dengan kembalinya segenap kesadaran. Empusa marah dengan perlawanan yang dilakukan Wira. Sayangnya Wira terlalu gegabah, Empusa bukanlah makhluk biasa dengan kekuatan biasa. Makhluk mitologi yang diperkuat dengan rekayasa genetika itu bertambah kekuatannya ketika dia marah. Kemampuannya untuk melayang di udara berhasil meraih Wira yang berusaha keras untuk kabur. Lantas dibantingnya tubuh lelaki itu sampai menghantam dinding batu istana raja yang kokoh. Sesak seketika Wira rasakan. Punggungnya menghantam dinding keras sekali, lelaki itu lantas terbaring dengan posisi membungkuk persis seperti udang. Perlahan matanya terpejam, dia tidak sanggup untuk sekadar bernapas. Sekarang tibalah giliran Empusa yang panik melihat keadaan Wira. Manusia yang mati jika darahnya diambil darahnya maka akan menyebabkan celaka. Makhluk itu mendekat dan berupaya untuk membuat mangsanya tetap hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN