Alvian dan Chandra tiba di pondok mereka. Tampak terlihat olehnya Alana dan Andraga yang tengah bercengkrama, tertawa bahagia tanpa tahu sebenarnya Alvian dan Chandra sedang sedih karena Sandrina telah kalah oleh pengkhianatan.
Nitisara langsung menuju pondok Aula Haici. Tarbuya sudah menunggu di sana. Dengan berbagai persiapan yang sudah hampir 90%. Tube rahasia yang hilang juga darah Natakusuma adalah hal terakhir yang mereka butuhkan.
Tanpa semua orang tahu, tube yang hilang itu adalah cairan palsu yang sengaja Nitisara berikan kepada Sandrina. Semua prajurit melupakan satu hal, lupa bahwa Nitisara memiliki kekuatan luar biasa untuk melihat dan membaca situasi. Nitisara tahu siapa yang berkhianat dan siapa yang tidak.
Momen ini dia jadikan kesempatan untuk memberikan kebebasan dan istirahat kepada Sandrina. Prajurit perempuan yang tangguh, tidak pernah lelah dan setia kepada Nitisara.
Di Aula Haici, semua prajurit yang terlibat termasuk Tarbuya sang pemimpin di bidang kimia mengadakan pertemuan terkait hilangnya tube rahasia. Nitisara hanya menyaksikan menyimak bagaimana pengkhianat itu berbicara lantang layaknya memang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Mamiju tidak menyadari bahwa dirinya sedang diawasi oleh Nitisara secara langsung.
Perbuatan pertama yang dilakukan oleh Mamiju adalah mencegah datangnya purnama. Nitisara bukan tidak tahu akan hal itu, Nitisara hanya mencari waktu yang tepat apa yang akan terjadi dan akan dilakukan oleh Mamiju selanjutnya.
Hal yang terjadi yang tidak luput dari pengawasan Nitisara adalah ketika The Rescue mendapatkan sarapan dengan ramuan yang membuat mereka terlelap. Mamiju sengaja membubuhkan ramuan itu, Sandrina sendiri yang melaporkan kejadian itu kepada Nitisara. Melalui prajurit kepercayaannya Sandrina memberikan sample makanan yang sudah terkontaminasi.
Tidak ada yang tahu apa motif dari Mamiju, yang pasti kejadian ketiga yang dianggap fatal oleh Nitisara adalah ketika saat menyebar jaring jebakan di jalanan yang membuat Andraga celaka. Dan Sandrina kehilangan tube rahasia yang dia bawa dari Camp Nitisara menuju Aula Haici untuk diserahkan kepada Tarbuya.
"Tube rahasia itu pasti sudah disembunyikan oleh Sandrina dan prajurit yang setia kepadanya!" ujar Mamiju lantang.
Suara prajurit yang terdengar cempreng itu menyadarkan Nitisara dari lamunan. Nitisara bangkit dari singgasana kayu yang biasa jadi tempat duduk Sandrina.
"Tarbuya," panggilnya, suara baritonnya terdengar berwibawa.
"Ya, ketua!"
"Lanjutkan pembuatan peluru penghancur," ucapnya lantas dia berdiri dan bergegas mengambil tube kosong yang akan diisi oleh darah Natakusuma.
"Tapi ketua ...." protes Mamiju.
"Kenapa?"
"Bukankah akan menjadi masalah jika kurang salah satu bahan saja?"
Nitisara tersenyum, tetapi senyum Nitisara tampak begitu mengerikan.
"Jika salah satu komponen yang dibutuhkan dalam pembuatan peluru penghancur ini tidak ada maka semua akan lenyap. Tidak hanya empusa, tetapi kehidupan yang ada di negeri ini." Nitisara berdusta. Kali ini apa reaksi dari Mamiju mendengar kenyataan yang sebenarnya bukan begitu
Nitisara lantas keluar untuk menuju pondok prajurit. Empat orang yang sedang duduk di sana menatap Nitisara dengan sedih.
Sandrina dilengserkan membuat mereka kecewa karena Nitisara seakan membuang prajurit yang cerdas dan banyak jasanya.
"Nitisara," panggil Andraga, "Saya dan Wira mendengar sendiri bagaimana Mamiju berusaha menjebak Sandrina."
Nitisara tidak berkomentar. Lelaki itu mengeluarkan sebuah pisau kecil dan juga tube kosong yang tadi.
"Chandra," panggil Nitisara. Chandra mengerti hal itu langsung beringsut mundur bersembunyi di balik kursi, mata pisau yang tajam itu seakan siap menguliti dirinya, mengeluarkan hingga habis darah dalam tubuhnya.
"Jangan takut, setetes darahmu akan menyelamatkan semua penduduk Negeri ini. Juga menyelamatkan dirimu sendiri agar tidak terjebak selamanya di sini."
Alana menyeret Chandra agar keluar dari persembunyiannya.
"Sakit, anjir, lepasin gue," keluh Chandra.
"Tidak, ini tidak akan sakit," Nitisara senantiasa menunggu, tanpa mereka duga di depan pintu berkerumun prajurit yang menyaksikan peristiwa tersebut. Mamiju adalah salah satunya.
"Tapi Nitisara," protes Alvian. "Bukankah tube rahasia yang berisi salah satu bahan pelengkap sudah hilang?" lanjutnya dengan nada putus asa.
"Ketua! Biar kami mencari tube yang hilang itu," teriak Mamiju dari ambang pintu.
Nitisara menyimpan pisaunya lalu berjalan ke arah pintu. Menelisik ketulusan yang sama sekali tidak ditemukan dalam diri Mamiju.
"Sampai senja pulang ke peraduan," tandas Nitisara.
"Hah?"
"Batas waktu kamu mencari apa yang telah hilang itu," lanjut Nitisara.
Mamiju mundur satu langkah lalu membungkukkan badan dan memberi hormat.
Tujuh prajurit menyertainya kecuali Eri. Salah satu prajurit yang bergeming ditempatnya meski berkali kali Mamiju mengajaknya sampai akhirnya dia menyerah dan meninggalkan Eri.
Sepeninggal Mamiju Nitisara masih berdiri di ambang pintu, melihat Eri yang menunduk dalam dalam seperti anak yang tengah bersalah kepada bapaknya.
"Ada yang ingin kamu katakan, Eri?" tanya Nitisara.
Sontak Eri berlutut, lantas dia menangkupkan kedua tangannya dan minta pengampunan dari Nitisara.
"Ampuni saya ketua, Ampuni," ratap Eri mengundang rasa penasaran dari The Rescue.
Negeri ini sungguh misteri, semua hal yang terjadi di sini benar benar sedikit yang bisa dimengerti oleh mereka.
"Kamu sadar rupanya?" ucap Nitisara, lalu kembali ke dalam. Mengambil lagi pisau kecil yang tadi hendak digunakan untuk mengambil darah Chandra.
"Tube rahasia itu tidak pernah hilang," ungkap Nitisara mengguncang keadaan di pondok The Rescue. Eri menunduk semakin dalam meratapi penyesalannya.
"Sejak awal saya tahu ada pengkhianatan terjadi di antara prajurit, tidak perlu ada mata yang mewakilkan karena mata saya sendiri mampu melihat itu semua. Saya sudah membaca gerakan Mamiju, juga kamu, Eri. Tahu sejak hujan lebat terjadi di malam purnama, tahu saat kalian mencuri akar pohon Mamora di kediaman Bolo." Akar pohon mamora adalah salah satu benda yang dikeramatkan. Pohon mamora itu sendiri sudah punah sejak Raja terakhir menjabat. Akar pohon mamora ini adalah salah satu benda yang biasa digunakan untuk ritual memanggil hujan, ritual memanggil arwah leluhur.
Eri diam, semua yang ada di ruangan itu diam. Hanya Andraga yang memainkan sebuah sumpit hingga menimbulkan bunyi tak beraturan di atas meja.
"Saya dan Tarbuya menduga sasaran Mamiju selanjutnya adalah tube rahasia yang saya amanatkan. Eri apa motif kalian melakukan ini?"
Eri bersujud, lantas dia mengakui semua perbuatannya.
"Saya hanya disuruh oleh Mamiju, Ketua. Sebagai imbalannya. Adik perempuan Mamiju yang ada di camp pengungsian itu akan dipersatukan dengan saya!"
Eri tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Nitisara jelas geram, Prajurit harus mengabdi kepada Negeri dan salah satu syarat terbesarnya adalah tidak boleh bersatu dengan lawan jenis.
"Menikah?" celetuk Chandra.
"Di dunia kalian namanya menikah, di sini hakikatnya sama, tetapi proses dan syaratnya berbeda," jelas Nitisara.
"Kamu tahu mengapa Mamiju melakukan itu?"
"Tahu, Ketua!"
"Bangunlah, karena kamu dengan berani mengakui kesalahan, hukumanmu tidak akan berat."
Bijak, entahlah, Alvian tidak bisa menyamaratakan bijak atau tidak. Karena pada kenyataanya bijak di dunianya berbeda dengan kebijakan yang ada di sini.
"Mamiju ingin menjadi pemimpin para prajurit menggantikan Sandrina," tandas Eri.
Terbaca sudah motifnya, mengapa Mamiju hanya menyerang Sandrina. Nitisara melangkah dan mendekat ke arah Eri, melucuti s*****a Prajurit itu dan mengambil lencana prajurit dari Eri. Dengan begitu detik ini Eri bukanlah prajurit lagi dan kemampuannya sebagai prajurit lenyap sudah.
***
Waktu yang diberikan Nitisara kepada Chandra untuk menguatkan hati sudah habis. Senja keburu tiba dan Mamiju keburu datang nantinya.
Nitisara berharap semua urusan di aula Haici bersama Tarbuya selesai sebelum matahari terbenam.
"Gue ada di sini, Chan. Pejamkan saja matamu, gue pegang tanganmu. Gue janji gak akan pernah lepasin." Alana meyakinkan Chandra.
"Lebay anjir," ledek Andraga, membuat Alvian mau tak mau ikut tertawa.
"Lo janji?" tanya Chandra. Menatap lekat mata Alana yang ternyata begitu cantik. Kulitnya wajahnya ternyata mulus dan berwarna sangat cantik.
"Janji!" tukas Alana. Perempuan itu mendekatkan wajahnya dan mengecup puncak kepala Chandra. Memberikan bangak ketenangan kepada Chandra yang tengah resah dengan apa yang akan terjadi kepadanya saat ini.
"Hueeek!!" ledek Andraga sekan akan lelaki itu akan memuntahkan isi perutnya. Alvian menyikut perut sang Adik.
"Jangan diledekin nanti dia berubah pikiran," ucap Alvian.
"Gue ragu itu anak udah disunat belum, sih?"
"Gue denger hei, mau gibah jangan depan orangnya tau!" Chandra berteriak.
"Biar gak dosa kalau gibah depan orangnya," kilah Andraga.
"Gak gitu konsepnya begok!"
"Sudah!" peringat Alana. Nitisara tersenyum lantas dia mendekat dan mengeluarkan pisau kecil dan tube kosong itu sekali lagi.
Diraihnya tangan Chandra. Pisau kecil yang terlihat sangat tajam itu diarahkan tepat di nadi Chandra.
Chandra menarik tangannya ketakutan, "Saya gak akan mati, kan, Nitisara? Orang bunuh diri kan biasanya potong nadi. Masa iya sekarang saya dipotong nadinya."
Nitisara memperlihatkan sebuah serbuk berwarna keemasan, "ada ini, semua akan baik baik saja."
"Udah, percayalah, Nitisara gak sekejam bacotaan lo," ujar Andraga.
"Sianjir, bacotan lo kali, hei!"
Ketika sedang berdebat begitu, Alana memberikan kode kepada Nitisara berupa anggukan, lantas Nitisara memotong nadi Chandra, tidak ada yang terasa selain sedikit perih.
Tetes demi tetes darah ditampung di tube kosong. Bersamaan dengan hal itu, angin berembus kencang, satu tetes saja darah Natakusuma akan membuat Empusa semakin agresif. Dari kejauhan Empusa merasakan darah itu menetes dari tangan Chandra.
Ketika tubenya penuh Nitisara menutup sayatan pada lengan Chandra dengan kain putih yang dia sobek dari bagian bajunya, lalu serbuk emas ditaburkan, secara ajaib emas itu membuat kulit yang tersayat kembali bersatu.
"Eh udah?" tanya Chandra.
Nitisara menunjukkan tube berisi cairan merah.
Chandra menelan ludah, bagaimana mungkin sebanyak itu dia sampai tidak bisa merasakan apa apa.
"Lo sih, Lebay banget, itu buktinya tidak apa-apa."
Chandra takjub dengan tangannya, bukan tanpa bekas, sayatan pisau itu nyaris tidak meninggalkan luka serius kecuali bekas luka mirip goresan ringan saja.
"Alvian ayo kita ke Aula Haici," ajak Nitisara.
Jantungnya berdetak kencang, akhirnya tiba juga saat yang ditunggu-tunggu. Membuat peluru penghancur untuk membuat Empusa musnah.