Hukuman Mamiju, dan Tekad Kuat Wirayudha.

1400 Kata
Mamiju yang memang mencuri tube rahasia palsu kini sedang menikmati sisa hari sebelum menyerahkan tube rahasia itu kepada Nitisara. Liciknya Mamiju menyembunyikan tube dan berpura pura mencari padahal Mamiju hanya menghabiskan hari bersama pengikutnya di sebuah pondok buatan yang terbuat dari kayu dengan atap seadanya. Di sinilah biasanya Mamiju bermarkas, tempat yang jauh dari jangkauan ahool, cerberus juga prajurit lain yang tidak berpihak kepadanya. Di tempat inilah segala rencana dijalankan. Di dalamnya terdapat lemari sederhana, penyimpanan yang cukup untuk menyimpan barang barang yang digunakan untuk melancarkan aksinya. Seperti akar mamora yang dia curi dari Bolo. "Matahari sebentar lagi terbenam, apa tidak sebaiknya kita kembali ke Aula Haici?" tanya Tama, salah satu prajurit yang sejak tadi mengawasi sekeliling. Mamiju bangkit dari duduk santainya lantas mengambil tube rahasia yang sejak kejadian kecelakaan kuda dia simpan di pondok darurat ini. "Ayo, kita akan jadi prajurit yang paling berjasa dalam penyelamatan kali ini, selain The Rescue tentu saja." Ambisi telah menutup nurani, Ambisi telah membutakan Mamiju. *** Proses pembuatan senjataa serta peluru penghancur ternyata tinggal hanya berada di titik akhir saja. Senjataa Rakitan yang dibawa oleh rombongan Natakusuma sudah direplika dan diperbanyak oleh tim Tarbuya. Pembuatan selongsong, pembuatan pelor dilakukan bersamaan setiap hari dengan pembuatan mata panah, pembuatan pedang dan berbagai perkakas prajurit. Senjataa ini berbeda dengan senjataa yang di dalamnya berisi bubuk mesiu. Berbagai inovasi merancang bagaimana caranya Titanium hitam, bubuk perak juga darah Natakusuma dan yang terakhir adalah darah beku raja terakhir Negeri bawah tanah. Sedangkan untuk produksi bom, ranjau, dan mortir dilakukan di pabrik yang terpisah. Bahan peledak yang terdiri dari ramuan itu kemudian dituangkan ke dalam tubuh bom. Kemudian dipanaskan hingga kering dan ditambahkan detonator. Semua pekerjaan dilakukan dengan rapi, Tarbuya memimpin pasukan pembuat dengan sangat apik dan teliti. Melihat keseluruhan proses, Alvian merasa takjub dan merasa sangat terhormat karena dipercaya untuk terlibat. Mungkin karena dirinya adalah sosok yang selalu serius, tidak seperti Chandra, Andraga dan juga Alana. Alvian menebak jika ada Wirayudha maka semua proses akan dilakukan bersamanya mengingat Wirayudha adalah sosok yang memiliki andil besar dalam penyelamatan negeri ini. "Alvian," sapa Tarbuya, mengagetkan Alvian. Dia terperanjat dan nyaris menjatuhkan salah satu sampel badan Bom yang kemudian akan diisi oleh ramuan yang berhasil dibuat oleh Tarbuya. "Maaf," ucapnya malu. "Kita di pabrik senjataa, akan sangat berbahaya jika tidak fokus. Banyak korban prajurit yang kehilangan anggota badan bahkan kehilangan nyawa karena hilang fokus. Jika tidak mampu, tunggulah, biar kami yang menyelesaikan semuanya." Tarbuya menegur Alvian. Memang benar Alvian sedang memikirkan bagaimana nasib Wirayudha. Amankah dia bersama Empusa? "Maaf," ucapnya. "Sanggup melanjutkan?" tanya Tarbuya. "Saya takut menghambat pekerjaan di sini," ucap Alvian. "Kembalilah ke pondok, Nitisara dan teman temanmu mungkin butuh saran dan pendapat dari kamu. Mereka sedang mengatur strategi." Alvian mengangguk lemah, suara bising di pabrik yang bersebelahan dengan aula haici itu perlahan menghilang seiring dengan langkah panjangnya meninggalkan tempat itu. Sudah beberapa hari sejak berhasil mendapatkan naskah sisa milik Natakusuma Alvian tidak bertemy dengan Ahool maupun cerberus. Dan untuk pertama kalinya lengkingan ahool dan penampakannya di kejauhan bisa dia lihat seiring dengan bergulirnya matahari yang pulang ke pelukan senja. Alvian bergegas mempercepat langkah menuju pondok The Rescue di mana Nitisara dan kawan kawannya berada saat ini. Ada yang berbeda ketika sampai di tempat itu. Puluhan prajurit berkumpul. Sisanya berlutut seperti seorang yang bersalah sedang mohon pengampunan. Nitisara dengan garang berdiri di hadapan mereka. Mengacungkan tube rahasia yang dibawa oleh Mamiju. Alvian berhenti melangkah, dia berusaha mencerna apa yang sedang terjadi di hadapannya. Chandra yang juga tengah menyaksikan di tepat di belakang Nitisara melambaikan tangan. Memberi kode agar Alvian mendekat. Mengendap, lelaki itu menerobos kerumunan Prajurit yang menyaksikan sebuah penghakiman untuk Mamiju dan pengikutnya. "Kenapa?" tanya Alvian sambil menunjuk Mamiju yang berlutut di depan Nitisara. "Ya ketahuan bohong, mereka. Sok nyari nyari tube rahasia padahal emang mereka yang ngumpetin," bisik Alana. The Rescue menyaksikan bagaimana keadilan di negeri ini ternyata ditegakkan seadil adilnya. Semua persenjataan Mamiju dan pengikutnya dilucuti dan lencana prajurit juga diambil kembali. Hal itu membuat Mamiju dan yang lainnya kehilangan kekuatan prajurit, kehilangan hak atas prajurit termasuk tempat tinggal dan kuda tunggangan. Nitisara memberikan hukuman terakhir, yaitu pulang ke camp pengungsi dan melewati jalur perkotaan di mana ahool dan cerberus masih banyak berkeliaran di sana. "Kenapa kalian bengong?" tanya Nitisara ketika rombongan prajurit telah membubarkan diri. "Walau denger sendiri bagaimana Mamiju ingin melenyapkan Sandrina tapi saya tetep gak nyangka aja ternyata langkahnya nekad begitu." Andraga menatap Nitisara. "Sifat kami dengan manusia di negeri kalian sama. Hampir memiliki kesamaan punya rasa benci, iri dan juga dikuasai keserakahan." Alvian masih terus memandang ke arah di mana Mamiju digiring Laming dan prajurit lainnya untuk berjalan menuju kota di mana Ahool dan Cerberus berada. Dengan kata lain, karena pengkhianatannya Mamiju kini berjalan menuju satu arena yang menentukan hidup matinya dia. Dengan tangan kosong harus melewati Ahool dan cerberus, tanpa kekuatan prajurit dan tidak dilengkapi dengan pakaian pelindung seperti yang biasa digunakan oleh Prajurit. Mamiju dan ketujuh pasukannya berjalan putus asa tanpa alas kaki. Satu satunya cara yang harus mereka tempuh adalah menghindar dan bersembunyi. Sayangnya di setiap jalanan kota ada saja ahool yang berkeliaran. Cerberus berliur yang menjijikan pun sesekali mengejar mereka. Mamiju menyesali semua perbuatannya, lelaki itu bertekad untuk tetap hidup dan meminta pengampunan dari Sandrina yang telah dia khianati. Senjataa seadanya dia gunakan untuk melawan ahool, batang pohon yang cukup besar, batu dan benda benda yang sekiranya bisa digunakan sebagai alat untuk bertahan. Menjadi rakyat biasa dengan kekuatan seadanya ternyata tidaklah menyenangkan. Sepanjang pertarungan Mamiju dengan ahool dia terus menyesali satu per satu kesalahannya, termasuk ketika membubuhkan ramuan yang menyebabkan The Rescue tidur pulas seharian. Hal itu bukan tanpa tujuan dia lakukan, melainkan mencari barang yang mungkin bisa menjadi petunjuk. Seperti Naskah kuno Natakusuma yang semula dibawa oleh Wirayudha. Saat The Rescue tertidur dengan pulas Mamiju dan pasukannya dengan leluasa menggeledah pondok. Membongkar satu per satu carrier milik Andraga, Alvian, Alana, Chandra dan juga Wirayudha. Meski usahanya itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Tidak ada apa apa yang bisa diambil dari sana mengingat naskah kuno tersebut ternyata sudah diserahkan kepada Nitisara. Mamiju yang tengah menyesali perbuatannya mengaduh kencang saat ahool berbulu kelabu menyerangnya. Cakarnya yang tajam nyaris saja melukai wajahnya. Dia memejamkan mata bersiap menerima apa pun pembalasan dan karma yang diberikan kepadanya. Namun, rasa hangatlah yang dirasakan oleh Mamiju. Perlahan dibukanya mata Mamiju, hangat yang menjalar di pipinya itu adalah darah ahool. Seseorang telah menebaskan pedang hingga membuat sayap ahool itu sobek dan terlepas. Mamiju selamat, dia melihat sosok tinggi dan jangkung dengan pakaian prajurit yang berusaha menolongnya. Sandrina. * Wirayudha merasakan seluruh tubuhnya sakit. Rasanya untuk sekadar menggerakkan tangan pun susah sekali. Dia seperti habis dipukuli orang sekampung. Namun, ada yang berbeda, punggungnya tak laginkeras karena berbaring di atas batu besar seperti biasanya. Ini rasanya lembut dan empuk. Persis seperti di rumah atau di pondok Prajurit. Tunggu dulu, pondok prajurit? Wirayudha membuka mata, dia ternyata masih terkurung di sarang empusa. Bedanya kini dia berada di sebuah kamar yang sedikit lebih nyaman dibandingkan tempat dirinya di tawan sebelumnya. Tangannya kembali terikat, tetapi ikatannya kini tidak membuatnya kesulitan bergerak. Saat sepenuhnya bangun barulah dia menyadari bahwa Empusa ada di dekatnya. "Apa yang lo mau dari gue bangsaat!" umpat Wirayudha. Empusa bukanlah manusia yang baperan. Banginya u*****n Wira sama sekali tidak ada artinya. Empusa berjalan mengitari tempat pembaringan Wirayudha. Lalu meraih tangan Wira dan menusukkan sebuah jarum panjang hingga lelaki itu menjerit kehabisan suara. Darah mengucur dari tangannya, dengan rakus empusa yang kehausan itu menjilatinya. Wira tidak berdaya dalam hati dia berdoa semoga pertolongan segera tiba. Empusa sebenarnya tidak mampu menahan diri untuk menghabiskan darah Wirayudha. Hanya saja Empusa mengingat bahwa darah Natakusuma yang mengalir dalam diri Wirayudha akan sangat berguna untuknya saat bulan purnama nanti. Empusa menyelesaikan misinya, dia lantas menutup luka tusuk pada tangan Wirayudha. Dengan tidak tahu dirinya Empusa meninggalkan Wirayudha dalam kondisi lemas, tangannya kebas wajahnya pucat dan dia menangis dalam perasaan putus asa berkepanjangan. Lelaki itu lalu mengingat pesan Natakusuma sebelum meninggal agar terus bertahan dalam kondisi apa pun saat menghadapi empusa. Kuncinya adalah tenang dan jalan keluar pun akan didapatkan. Wirayudha memejamkan mata, sebagai seorang lelaki dia harus menepati janji pada sang kakek. Seiring dengan bergeraknya hari menuju malam, Wirayudha kembali memiliki semangat baru, semangat untuk berjuang keluar dari istana Raja yang kini jadi tempat dia di tawan. Wira juga kini percaya, bahwa The Rescue di luar sana sedang berusaha untuk menyelamatkan dirinya juga mengenyahkan makhluk jahat yang setiap hari menghisap darahnya dengan k**i.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN