Senyuman Laming.

1086 Kata
Empusa marah, kecantikan yang selama ini ditunjukkan di depan Chandra kini berubah drastis. Rambut biru yang menenangkan berubah laksana kobaran api. Dia menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Menghampiri Chandra makhluk mengerikan itu menunjukkan gigi tajamnya membuat Chandra bergidik ngeri. Lantas bentangan sayap kelelawarnya membawa empusa terbang jauh masuk dan menghilang ditelan lorong gelap istana. Chandra yang selama ini melihat pergerakan Empusa mengerti, tanpa cermin keperakan berbingkai mewah itu Empusa tidak akan sanggup melihat hal hal yang terjadi di luar sana. Dengan segenap kekuatan Chandra melepaskan diri dari ikatan. Tali yang membelit kedua pergelangan tangannya kini sudah longgar. Dia lantas berusaha menarik tangannya, meski panas akibat gesekan tali dan kulit dia rasakan, tetapi Chandra berusaha sekuat tenaga. Pasukan pasukan yang berjaga dan melayani empusa tidak tampak satu pun setelah aksi gila yang dilakukan Empusa kepadanya. Chandra berhasil, dia berdiri meski lemas karena berhari hari hanya makan pisang yang sepat dan pepaya. Kakinya gemetaran. Amukan hujan menyamarkan langkahnya di lantai dingin istana. Dia berjalan meraih cermin itu. Lantas menyusuri lorong yang entah jalan keluar atau bukan. Chandra tidak pernah suka kegelapan, tetapi dia harus menyusuri gelap jika ingin selamat. Langkahnya terhenti kala mendengar lengkingan suara dari dalam istana. Empusa telah menyadari kepergian Chandra yang kini membawa cermin kesayangannya. Kemarahan dan amukan Empusa semakin menjadi. Dia menghantarkan kekuatan menembus air hujan sehingga ahool di luar sana bertambah kuat. "Cari dia!" teriak Empusa. Chandra yang tengah bersembunyi mendengarnya dengan rasa takut. Dari cermin itu Chandra bisa melihat bagaimana Empusa marah. Lantas dia menginginkan melihat keadaan di luar sana. Maka cermin itu bersedia untuk menampakan apa yang sedang terjadi di luar sana. Chandra melihat The Rescue sedang melawan Ahool. Sandrina, Laming dan juga Mamiju, Chandra merindukan semuanya. Lelaki itu lantas ingin melihat Camp pengungsian, tetapi tidak bisa menembusnya. Entah tempat apa yang dia tempati saat ini. Yang pasti lorong gelap itu dilewati oleh para pasukan empusa tanpa mereka melihat dan mencium bau tubuh Chandra. Meski sekali bersirobok dengan salah satu pasukan bermata merah, Chandra seakan tidak kelihatan. Ini karena cermin yang dia pegang adalah cermin pikiran. Dia berpikir ingin melihat The Rescue maka The Rescue lah yang akan terlihat. Dan saat ini dia berpikir untuk tidak tampak terlihat oleh musuh. Maka tidak satu orang pun yang sanggup melihatnya. Dari tempatnya bersembunyi lewat puluhan pasukan yang melewatinya begitu saja. Chandra sadar dengan fungsi dari cermin itu. Karenanaya dia berjalan di antara pasukan yang sedang mencarinya dengan sangat santai. Chandra berhasil keluar dari istana Raja. Aroma air hujan yang segar akhirnya bisa Chandra rasakan. Dia bisa sekaligus membasuh tubuhnya yang lengket karena berhari hari dalam penahanan Empusa. Chandra memegang cermin itu erat erat. Dalam hati dia merapal keinginan, agar tidak tersesat dan bisa sampai di tempat The Rescue melawan Ahool. Semak belukar yang menghalangi jalannya perlahan bergerak ke arah berlawanan. Memberi jalan kepada lelaki itu untuk berjalan dan berlari menjauh dari istana. Dengan sukacita Chandra menegadahkan kepala ke atas langit meraup banyak banyak air hujan. Meminumnya dengan teramat sangat rakus. Dia sadar, kekuatan cermin tidak sebesar kekuatan empusa. Karenanya tidak membuang waktu lagi Chandra terus berlari mengikuti jalan yang baru saja terbuka setelah semak semak itu dengan sukarela menyingkirkan diri dan membuat jalan untuk Chandra. *** Dengan senjaata seadanya The Rescue melawan Ahool dan Cerberus. Prajurit prajurit mengerahkan seluruh pasukan. Sayangnya kemarahan Empusa tadi mengantarkan kekuatan tambahan untuk para Ahool sehingga hewan berbulu itu agak susah untuk dilawan. Satu satunya hal yang bisa dilakukan adalah strategi dan mengelabui Ahool yang tidak cerdas. Satu persatu Ahool masuk ke dalam jebakan yang mereka buat dengan konsep jebakan tikus raksasa. Ide ini tercetus dari Alana. Sayangnya tidak semua mampu masuk ke dalam jebakan itu. Alana hampir putus asa dengan banyaknya Makhluk mengerikan ini. Saking putus asanya dia berhalusinasi melihat sosok Chandra yang berjalan dengan senyum lebar. Berkali kali Alana menggosok matanya. Namun itu tidak seperti bayangan. Chandra tampak nyata. Hanya saja, Alana masih diliputi banyak keraguan pasalnya Chandra berjalan seakan tidak terlihat sedikit pun oleh Ahool dan cerberus. "Alvian!" teriak Alana, suaranya nyaris hilang ditelan gemuruh air hujan. "Alvian!" teriaknya sekali lagi. Alvian mendengar itu menoleh, tangannya menahan tombak saling dorong dengan ahool. "Lihat itu," ucap Alana. Alvian menoleh, Chandra tersenyum dan berjalan santai tanpa tersentuh oleh Ahool. "Bro adek, lo kembali," ucap Alvian. Wira yang sedang melawan cerberus tidak jauh dari sana. Melihat Chandra berjalan santai tanpa tersentuh membuat semua sedikit tak percaya. Sandrina pasang badan manakala melihat Chandra datang tanpa tersentuh Ahool. Siapa yang tidak curiga dengan keadaan itu. Di mana Ahool sedang agresif agresifnya. "Stop!" cegah Sandrina kala Chandra ssmakin dekat. "Ini gue astaga, Chandra! Ngapa kalian semua mundur?" "Bang Kiwir!" teriak Chandra. Wira yang menyadari itu melepaskan senjataanya, dia berlari menghampiri adik sepupu. Ini beneran dia, hanya Chandra yang selalu memanggilnya dengan sebutan Bang Kiwir saat sedang manja. "Ichan! Ini beneran, lo?" "Siapa lagi?" "Kok bisa?" tanya Wira. "Nanti gue cerita, minggir Bang!" Chandra menarik tangan Wira, lalu dia memukul kepala ahool yang mendekat. Seperti jagoan, aksi Chandra mengundang decak kagum dari Wira. * Prajurit mengambil alih melawan Ahool dan cerberus. Kegagalan mereka menghancurkannya karena purnama terhalang awan hitam membuat semua makhluk itu berkumpul jadi satu. Membentuk barisan guna melawan pasukan dan prajurit dari negeri bawah tanah. Laming membawa Chandra dan The Rescue ke salah satu pondok prajurit, membiarkan kelima anak manusia itu beristirahat dari guyuran hujan yang semakin deras. Laming menyalakan perapian. Mereka semua menghangatkan badan di sana. "Ichan lo bagaimana bisa selamat? gue kira lo udah jadi santapan mereka," ucap Andraga sembari menggosok telapak tangan di depan perapian. Chandra memutar bola mata mendengar panggilan itu. Hanya Emaknya yang boleh panggil nama kesayangannya. Menyadari hal itu Wira meluruskan. "Jangan panggil dia Ichan." "Aih Bang Kiwir, kok protes, sih," goda Andraga. Lantas semua tertawa, tawa yang selama ini mereka rindukan. Alana paling diam, dia malah menunduk dekat perapian. Satu satu air matanya jatuh tanpa diketahui the Rescue lainnya kecuali Chandra. "Lo nangis, Al?" Alana diam saja, tawa mereka pun sirna berganti senyap. Hanya suaraa hujan dan gemuruh petir yang terdengar. "Al," panggil Chandra. Alana mendongak, tanpa aba aba alana menghambur memeluk Chandra. "Jangan pernah ilang lagi, begok!" Semua mata tertuju pada pasangan itu, Chandra ragu ragu untuk mengelus kepala Alana, pada akhirnya Andraga mendekat, meraih tangan Chandra yang mengambang di udara dan meletakannya di kepala Alana. "Udah dewasa tapi gak ada inisiatif, parah banget." Andraga meledek mereka menimbulkan gelak tawa. Prajurit yang tidak pernah tersenyum sama sekali memalingkan wajah. Berbeda dengan Laming. Untuk pertama kali selama berada di tempat ini, Alvian dan Wira dapat melihat Laming tersenyum. Meski hanya sedikit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN