Hujan sudah reda saat Chandra selesai menceritakan pengalamannya disekap empusa. Dia menceritakan bahwa Empusa mengincar darah Natakusuma untuk dijadikan sumber kekuatan.
Wira yang tadinya semangat dan percaya diri mendadak ciut. Darah Natakusuma mengalir dalam tubuhnya. Bukan tidak mungkin dia pun akan tertangkap oleh kawanan monster suruhannya Empusa.
"Tapi gue bawa ini," ujar Candra dia mengeluarkan cermin keperakan milik Empusa yang sempat dia curi sesaat sebelum keluar dari istana raja.
Sekilas bentuknya seperti cermin biasa, tetapi setelah Chandra memberitahukan cara penggunaannya barulah mereka semua takjub termasuk Alana.
"Sini pinjem, gue udah lama gak ngaca," rebut gadis itu.
Chandra memberikan cermin itu kepada Alana.
Alana takjub, ini adalah keajaiban. Dalam hati ingin sekali melihat di mana letak naskah kuno berada.
Cerminnya tiba tiba berubah gelap, persis dengan keadaan laboratorium yang gelap.
"Yah, gini doang!" keluh Alana sambil menyerahkan cermin yang katanya ajaib itu.
Cermin itu tergeletak di bawah kaki Wira. Dia penasaran akhirnya memungutnya. Matanya menyaksikan cermin itu bergerak.
Lantas dia terus memerhatikan gerakan cermin yang membuat penghilatannya semakin pusing.
Namun, lama kelamaan Wira menyadari satu hal, cermin itu menunjukkan satu tempat yang Wira kenal.
"Gue tahu," teriaknya dengan semangat. Alvian mendekat sementara yang lain awas di tempatnya masing masing.
"Ini kenapa cermin menunjukkan tempat ini?" tanya Wira.
Chandra tersenyum, "itulah kehebatannya, cermin itu nunjukin apa yang kita mau lihat melalui pikiran kita, lo tadi pengen liat apa?"
"Gue gak pengen liat apa apa sih, cuma pengen liat ini cermin aja. Sama gue mikir, Alana kenapa sampe banting ini cermin."
Alana nyengir, iyalah kenapa cermin yang katanya ajaib itu malah gelap saat ingi. sekali melihat di mana keberadaan naskah itu.
Sejujurnya Alana sudah lelah, dia ingin pulang, sudah terlalu lama meninggalkan rumah, sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaan. Alana kadang gemas karena pergerakan The Rescue benar benar terkesan lamban.
"Emang tadi lo pengen liat apa, Al?" tanya Chandra.
Alana mengendikkan bahu. Rasanya apa yang dia inginkan tidak diwujudkan oleh si cermin ajaib itu.
"Ish tinggal jawab, elah susah amat," protes Chandra.
"Gue tadi pengen kiat di mana kakek kalian simpan potongan Naskah itu!"
"Tepat! Lu pintar girl, jadi pengen ciuum," goda Wira.
"Ish," protes Alana.
Wira tersenyum bahagia, Alana memang cerdas, tetapi cerminnya lebih cerdas lagi.
"Gue lihat itu, gue lihat!" Wira kegirangan membuat Andraga gemas. Sepotong Informasi yang dia katakan sungguh teramat membuat dirinya penasaran.
Istilahnya nanggung banget penjelasa. dari Wira tersebut.
Wira terus menelisik cermin itu, senyumnya terkembang begitu saja, persis seperti seoarang anak lelaki yang sedang kasmaran.
"Lo kek orang ogeb tau gak sih?" komentar Andraga yang gemas karena Wira tak kunjung bicara. Hanya mesem mesem bikin kesel karena Andraga penasaran dengan apa yang dilihat oleh Alana dalam cermin ajaib itu.
"Jadi ceritanya waktu gue disuruh nutup pintu laboratorium oleh Sandrina gue masuk tuh ke dalam. Gelap njir banyak kotoran ahool, rasanya mau mati ada di dalam sana. Gue gak nemu apa apa karena jujur di sana kebanyakan barang yang posisinya udah berantakan banget. Tapi gue ingat ada satu pintu yang tertutup, gue gak bisa buka pintu itu karena terkunci. Nah dan cermin ini nunjukin di mana naskah itu berada, ya dibalik pintu yang terkunci itu."
"Keren," ujar Alana, dia mendekat dan kembali mengambil cermin itu. Jika dilihat lihat memang bukanlah kegelapan yang ditunjukkan oleh cermin, melainkan sebuah pintu yang berlumut dan tertutup.
"Coba gue pikirkan di mana kuncinya," ujar Alana. Gadis itu memejamkan mata.
Cermin tidak berubah, tidak bergerak. Pintu itu terus tampak di permukaan cermin.
"Kok gak gerak, ah!" Alana kembali mencebik dan menyerahkan cermin itu kepada Wira.
Andraga, Alvian dan Chandra mencondongkan badan penasaran dengan apa yang terlihat di permukaan cermin.
Wira tersenyum. Dia rebahkan badannya di lantas setelah merasakan pakaiannya kering.
Hujan di luar masih lebat.
Prajurit bahu membahu melawan Ahool, tetapi satu per satu makhluk itu mundur dari arena peperangan karena alasan yang tidak mereka ketahui.
"Mungkin kedinginan," komentar Andraga.
Bisa jadi, mereka bukan robot, mereka makhluk yang juga memiliki perasaan.
"Kalau begitu istirahat, besok kita pikirkan cara bagaimnaa menerobos Ahool dan masuk kembali ke lab itu untuk mencari naskah yang hilang. Gue ngantuk sumpah, capek banget." Alvian menutup ucapannya dengan menguap lebar lebar. Lantas Dia merebahkan badannya dan berusaha memejamkan mata.
Diikuti Andraga, Alana dan Chandra, sementara itu Wira yang seolah mendapat mainan baru terus saja memainkan cermin yang dia pegang.
*
Setelah semalaman hujan, pada keesokan harinya udara begitu dingin, hangatnya matahari tidak bisa mereka rasakan karena gumpalan awan hitam begitu pekat berarak di langit.
Semua terlelap sampai akhirnya lengkingan ahool di kejauhan membuat mereka tersadar dan bangkit dari tidur.
"Bangun, Bro," ucap Andraga kepada sang Kakak.
Alvian bergeming, dari mulutnya terdengar gumaman tidak jelas. Bibirnya terlihat pucat.
Andraga melihat keanehan itu lantas memegang kening Alvian.
"Panas banget," ucap Andraga. Dia bingung sendiri, melihat Alvian dalam posisi meringkuk persis seperti udang.
"Al, Kakak gue panas," ungkap Andraga, wajahnya memerah seperti hendak menangis. Andraga bukanlah orang yang cengeng, berbagai rintangan bahkan ular berbisa dan juga Ahool yang mengerikan bisa dia kalahkan.
Namun, melihat orang orang yang dia cintai terbaring lemah karena sakit lelaki itu sungguh tak kuasa.
Andraga tiba tuba ingat Maminya yang selalu telaten kala mengurus sang anak jika sakit.
Maminya yang kadang dia nilai cerewet bahkan sanggup tidak tidur setiap malam memastikan anak lelakinya baik baik saja.
Mendengar apa yang dikatakan Andraga, Alana membuka keluar dari sleeping bagnya. Dia lipat dan kembali masukkan ke dalam wadahnya.
Kemudian Alana mendekat dan menyentuh kening Alvian. Benar saja dia panas.
"Lo minta air hangat ke Mara di dapur umum sana," perintah Alana. Sekalian sama makanan.
"Buat siapa?" tanya Andraga.
"Buat gue, lah!"
Andraga hampir protes, tetapi ketika Alana melotot Andraga hanya tersenyum dan keluar untuk menuju ke dapur umum minta air hangat dan makanan.
Hawa dingin memeluk tubuhnya, asap keluar dari mulutnya saat bicara. Lantas lelaki itu memeluk tubuh sendiri sembari berjalan dengan perasaan kedinginan.
Kalau bukan karena Alvian, ogah banget dirinya berada di sini sekarang. Terlebih air air sisa hujan yang menggenang di kubangan jalan setapak dinginnya membuat telapak kakinya mati rasa.
Di ruangan Alvian terus menggigil menggertakkan gigi membuat Wira dan Chandra menutup telinga karena ngilu.
Alvian tidak boleh sakit, tanpa lelaki itu rencana rencana The Rescue tidak akan pernah berhasil.
Melihat keadaan Alvian yang seperti itu membuat Chandra gelisah. Dia ingin menolong tetapi tidak tahu caranya.
Sementara Wira, dia berinisjatif untuk menyusul Andraga yang begitu lama.
Menyusuri jalanan yang basah dan dingin.
Dari jarak kira kira lima meter, Wira melihat Andraga berdiri mematung. Dia seperti sedang berhadapan dengan sesuatu.
Wira mendekat, membawa batu besar untuk antisipasi. Ternyata benar Ahool yang sudah lemah berusaha melawan dan menyakiti Andraga. Dengan sekali pukul menggunakan batu, akhirnya Wira berhasil mengusir Ahool itu terbang oleng menuju pasukannya.
"Lo gak apa apa, Bro?" tanya Wira.
"Gak apa apa, gue cuma bingung aja gimana cara lawan mereka dengan tangan kosong."
"Untung gue dateng," ucap Wira.
Mereka lantas melanjutkan perjalanan menuju dapur umum. Wira melihat sekeliling, penjagaan pondok prajurit harus diperketat, karena nyatanya dengan penjagaan saat ini ahool berani masuk dan mendekat.