Usahanya tidak sia sia, kini dia berdiri di pintu itu. Berusaha membuka kuncinya dengan menggunakan pisau lipat yang selalu dia selipkan di pinggang.
Alvian adalah lelaki yang penuh dengan tekad. Dia tidak pernah menyerah pada rintangan apa pun.
Membuka pintu di mana naskah lainnya berada ternyata tidak semudah membuka ikatan tali sepatu.
Kulit jari Alvian terkelupas entah terkena pisau atau pinggiran pintu.
Tidak hati hati membuat kaca terlepas dari pegangannya, Alvian terlalu fokus membuka pintu dan lelaki itu tidak menyadari ada musuh yang mampu melihat keberadaannya tanpa cermin ajaib sebagai penyerta.
Ahool melengking dan meraung kala melihat usaha Alvian. Sadar akan hal itu Alvian menyambar kembali cermin itu, sayangnya terlambat. Meski kini cerminnya sudah ada dalam genggaman keberadaannya di sarang Ahool dapat mereka lihat dan rasakan.
Kegelapan membuat Alvian bingung harus lari ke mana. Dia membalikkan badan, melakukan upaya terakhir untuk membuka pintu yang tertutup itu. Kepakkan sayap ahool terdengar semakin mendekat. Mengabaikan rasa sakit, Alvian terus berusaha membuka pintu hingga bunyi 'klik' terdengar.
Jaraknya dengan ahool sudah hanya sejengkal saja.
Ahool berbulu abu abu terbang melesat ke arahnya, Alvian menunduk kala makhluk itu menyerangnya. Tubuh besar berbulu menabrak dinding hingga atap kubah bergetar, sebagian kaca yang sudah retak dan terkelupas berjatuhan.
Alvian menyambar cermin, dalam hati ingin sekali dia mengalahkan ahool dengan mudah.
Busur panah dan pedang entah di mana dia letakkan. Seingatnya dia tidak membawa ke dalam lab ini, tetapi perasaan lain dia mengingat membawa untuk melindungi diri.
Ahool lain bergerak semakin agresif kala melihat salah satu kawanannya terjatuh di lantai. Alvian merapal doa, dia membuka pintu di belakangnya dan masuk ke sana kemudian menutup dan menguncinya dari dalam.
Gelap, itulah suasana di ruangan itu, matanya belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.
Alvian merogoh kantong, tetapi tidak ada apa pun yang bisa dia lakukan.
Tidak ada yang bisa dia gunakan untuk menerangi pencariannya di ruangan yang lebih sempit dari ruangan sebelumnya.
Kakinya terantuk di meja, Alvian lantas meraba raba dan berusaha mendorong meja tersebut ke arah pintu agar tidak diterobos oleh ahool.
Penglihatannya kini menajam, ruangan itu terdiri dari rak rak kaca berisi benda benda yang entah apa dia tidak tahu.
Alvian berusaha melihat satu per satu penemuan di hadapannya.
Ada peralatan peralatan laboratorium yang tidak dia ketahui. Mikroskop, tabung tabung, mesin besar yang bentuknya persis seperti meriam. Juga deretan stoples stoples yang masih berisi air dengan sesuatu di dalamnya.
Ruangan ini terkunci dan tidak terjamah oleh siapa pun. Meski keseluruhan bangunan pernah amblas dan menyebabkan sebuah kehancuran, ajaibnya semua yang ada di ruangan itu nyaris utuh. Tak tersentuh.
Alvian menghentikan gerakan tangannya. Dia berada di ruangan tanpa ventilasi. Pengap, lembap, dan gelap. Dia seperti sedang kesusahan menarik napas.
Oksigen adalah satu hal yang dia rindukan saat ini. Dan berada di ruangan gelap seperti sekarang kadar oksigen seakan melarikan diri seperti tetangga sang mami yang selalu sembunyi sat berhadapan dengan debt collector.
Alvian mengingatnya, mengingat mami yang mungkin kini sedang menangisi dia dan sang adik.
Ingatannya mendorong lelaki itu untuk bangkit dan lanjut mencari apa yang sedang dia cari.
Suara suara kencang di pintu berasal dari gempuran ahool bak genderang yang ditabuh dalam sebuah perayaan. Membuatnya semangat, semangat untuk menang dan pulang.
Rak selanjutnya terkunci. Namun, dengan pencahayaan yang sangat minim, Alvian tahu bahwa itu adalah deretan buku.
Perasaannya teramat bahagia, kemungkinan terbesar naskah itu ada di dalam sana.
Tangannya yang besar meraba-raba sekitar rak, membuka laci laci yang sudah agak susah karena termakan usia. Tidak ada kunci yang bisa membantunya membuka deretan buku dalam rak.
Alvian pantang putus asa, dia terus mencari hingga menemukan benda yang tidak pernah dia sangka ada. Sebuah senter.
Bahagia rasanya, lebih membahagiakan daripada saat lelaki itu berhasil memenangkan sebuah pertandingan sepak bola antar universitas.
Diambilnya benda serupa tabung itu. Rasanya pas dalam genggaman, manakala dia menekan dan menggeser tombolnya secercah cahaya redup seakan lebih terang dari sinar matahari pagi. Lumayan daripada gelap gelapan.
Suara benturan semakin terdengar keras. Meja yang dia gunakan untuk mengganjal pintu ikut bergerak seiring terdorongnya pintu itu.
Dengan bantuan senter, Alvian menemukan kunci slot tepat di pintu paling atas. Dia buru buru menaiki meja dan mengunci pintu itu. Setidaknya dapat memperlambat usaha para ahool yang hendak menjebol pintu itu.
Alvian lantas kembali ke rak, melihat dan mencari kuncinya.
Udara semakin pengap, dia rasanya mau mati berada di sana. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya dan dia mulai pusing karena kekurangan oksigen. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain memecahkan kaca. Dengan menggunakan senter yang cahayanya hampir mati, Alvian memecahkan kaca.
Satu per satu buku dia buka. Isinya hanyalah jurnal ilmiah milik Natakusuma dan anggotanya.
Alvian menduga naskah itu sama persis dengan naskah yang kini ada di tangan Wira.
Usahnya benar benar banyak sekali pengorbanan, mulai dari kulit tangan yang mengelupas saat membuka pintu hingga kini lengannya harus tergores kaca yang runcing. Darah segar mengucur dari tanggannya, bersatu padu dengan tetes keringat.
Perih sudah tidak ada artinya, yang terpenting saat ini adalah naskah kuno atau potongan naskah berisi rahasia melawan musuh di negeri bawah tanah.
Hampir tiga puluh menit berlalu, udara rasanya semakin hilang.
Alvian sudah berhasil mengeluarkan hampir setegah dari isi Rak tadi, menggunakan senter yang semakin redup Alvian membaca sekilas satu per satu.
Sampai ketika hampir selesai membuka acak buku yang dia keluarkan, sebuah kotak terdapat di ambalan paling atas.
Kotak itu ketika dibuka berisi buku kecil dan juga beberapa botol berisi cairan kimia.
Dan serbuk berwarna hitam dan emas.
Alvian entah mengapa mengantongi naskah itu. Lalu membuka bukunya. Kejutan!
Naskah yang selama ini dia cari akhirnya ketemu. Bahagia lagi lagi dia rasakan, meski bayarannya sangat mahal karena harus bernapas dengan kadar oksigen seadanya.
Suara kencang dari arah pintu menyadarkan Alvian, bahwa kini dirinya ada di sarang monster. Meski apa yang dia cari sudah ketemu tetap saja dia bingung habis ini harus ngapain.
Tidak mungkin dia pergi meninggalkan tempat ini tanpa terlihat seperti oertama kali masuk.
Alvian merosot lelah. Dia mengusap naskah bersampul kuning. Membuka lembar demi lembar tanpa dia baca apa isi di dalamnya.
Lelaki itu pasrah, setidaknya jika sampai tidak selamat setidaknya tempat ini, naskah ini dan apa yang ada di sekitarnya sekarang menjadi saksi bahwa Alvian pernah berjuang untuk menyelamatkan Negeri Bawah Tanah beserta kehidupan seluruh warganya.