Alvian pasrah, setidaknya jika sampai tidak selamat setidaknya tempat ini, naskah ini dan apa yang ada di sekitarnya sekarang menjadi saksi bahwa Alvian pernah berjuang untuk menyelamatkan Negeri Bawah Tanah beserta kehidupan seluruh warganya.
Sebuah benturan kencang di pintu kembali terdengar, dia lantas membuka mata, menyadari bahwa baru saja lelaki itu sedikit terlelap.
Dia mengerjap ngerjapkan mata, lalu berdiri karena jujur saja hampir kesulitan bernapas.
Tangannya memeluk naskah seperti seorang ibu yang memeluk erat bayinya yang baru saja lahir.
Manakala dia langkahkan kaki, langkahnya terhenti karena cermin di hadapannya seolah olah memancarkan sebuah cahaya. Dia tersenyum dan berterima kasih kepada Tuhan.
Dipandangi cermin keperakan yang sangat indah itu, lantas dia memejamkan mata dan mengungkapkan keinginannya.
Senter yang sudah redup disorotkan di atas permukaan cermin. Gerakan memutar cermin seakan akan pusarannya siap menyedot siapa saja ke dimensi lain.
Beberapa detik berlalu pada akhirnya cermin itu menunjukkan sebuah jalan lain dari tempat itu, hanya saja rak besar tempat dia menemukan buku itu menjadi penghalang.
Mungkinkah di balik rak besar, menyerupai lemari berkunci itu sengaja ditempatkan di sana guna menutupi jalan lain ke tempat itu?
Alvian menyelipkan naskah di perutnya, bersisian dengan pisau lipat yang selalu dia bawa ke mana pun dia pergi. Lantas lelaki itu berjalan menuju ujung rak dan berusaha menggesernya. Yang terjadi adalah rak itu bergeming, bagai arca di atas candi.
Alvian mencoba satu kali lagi, ternyata memang benar tidak bergeming sedikit pun.
"Arrrggghhh! Babii, s****n, anjir!" Alvian memukul lemari kayu itu berkali kali, tangannya terkepal kebas dari rasa sakit.
Berusaha berkali kali mendorong Rak buku raksasa itu akhirnya tidak tampak titik terang. Yang ada malah dia hampir saja kehabisan tenaga karena lelah.
Dahaga menyerangnya membabi buta, persis seperti ahool yang menyerang terus menerus meski pintu sudah dia tutup rapat lalu dikunci dan diganjal oleh meja kayu yang panjang dan cukup berat sebagai penghalang.
Alvian kembali memandang cermin di hadapannya.
"Gue udah berusaha geser tapi berat anjir, gue kudu gimana, gue udah kehabisan napas gak lucu kalau mati di sini."
Alvian membayangkan betapa sedih sang adik jika mendapati Kakaknya tidak pernah muncul.
Mungkin suatu hari nanti hanya akan ada tulang belulang yang ditemukan di sini. Pikiran Alvian merembet ke mana mana, Keluar jalur saking putus asanya lelaki itu.
Permukaan cermin kembali bergerak rupanya keinginan terbesar Alvian tetap direkam cermin.
Alvian mengusap air mata dan menegakkan badan. Dia dengan saksama memerhatikan gerakan cermin di hadapannya.
Seperti sebuah rekaman cermin itu menunjukkan bagian depan rak. Lalu bergerak ke sudut kanan atas. Berhenti di sana lama sekali, lantas setelah itu bergerak lagi dan berhenti di sudut kanan bawah.
Di sana cermin itu berhenti bergerak.
Alvian mendongak. Sudut kanan, ialah tempat di mana dia berdiri saat ini.
Dia lantas naik ke atas kursi berusaha menemukan sesuatu sesuai dengan petunjuk cermin.
Sebuah lingkaran dengan diameter seukuran cangkir di rumah seperti sebuah pasak yang terlalu menonjol ke luar. Alvian berjinjit untuk mencapai pasak itu. Lantas menyentuhnya dan tonjolannya bergerak menjadi sejajar dengan permukaan Rak.
Alvian bersorak, dia lantas turun dan mulai berjongkok memeriksa sudut bawah, dia berlutut dan menemukan tonjolan yang sama. Mirip sebuah tombol, tinggal tekan lalu pintu terbuka.
Benar saja, lemari itu bergerak ke belakang, seperti sebuah pintu yang terbuka.
Alvian menyambar kembali cerminnya. Menyentuh buku yang dia simpan di perutnya dan memeriksa sekitar tempat itu sebelum meninggalkan ruangan pengap tersebut.
Tampak sebuah lorong berada di hadapannya. Alvian lega, meski dia tidak tahu ke mana lorong itu akan membawanya pergi.
Langkahnya terhenti kala mendengar Rak besar itu kembali tertutup, kini lorong semakin gelap, hanya titik cahaya di depan yang menjadi petunjuk ke mana lelaki itu harus melangkah.
Alvian meraup oksigen banyak banyak, seperti baru saja lepas dari cekikan. Lega rasanya.Tiba di ujung lorong ternyata sebuah pintu besi dengan jendela berjeruji mirip pintu di sel tahanan. Alvian harus kembalu membuka pintu itu dengan susah payah.
Ketika hamoir putus ada dan hendak minta bantuan cermin lagi dia menginjak sesuatu yang mengkilap.
Sebuah kunci. Alvian memungutnya dan memasukkan anak kunci itu ke dalam lubang di pintu.
Semua keajaiban terjadi, pintunya terbuka, kali ini tidak ada kegelapan. Sebuah ruangan dengan jendela besar kembali terbuka.
Ruangan bulat dengan sebuah meja dan kursi kerja dengan interior yang terlihat classic membuat lelaki itu bersemangat.
Alvian mengitari ruangan itu dan sangat bahagia kala melihat jendela besar yang langsung menghadap ke area luar.
Dia berjalan mengusuri ruangan berdebu itu menuju jendela di hadapannya.
Pemandangan kota terlihat kala dia berdiri di depan jendela. Jika boleh menebak saat ini lelaki itu berada di gedung gurnita, gedung yang berada persis di sebelah lab amblas sarang ahool. Tempat di mana ketika pertama kali menginjakkan kaki di negeri ini dia disuguhi kalkun panggang yang lezat. Ah ... perutnya meronta mengingat kelezatan itu.
Alvian melihat ke bawah, tepat di bawah pohon dekat pintu gerbang masuk Lab, Wirayudha berjongkok bersembunyi. Ahool dan cerberus berlutut takzim. Ada yang aneh dengan itu semua. Alvian mengedarkan pandangan.
Perempuan berambut biru berkibar tengah berjalan santai menuju Wirayudha.
Dia terus mengawasi seraya berpikir, siapa gerangan perempuan cantik itu. Perempuan itu berhenti tepat di bawah pohon.
Dari tempatnya berdiri saat ini, Alvian dapat melihat dengan jelas Wirayudha berdiri dan terpesona dengan perempuan itu.
Tangannya terangkat, kuku kukunya yang panjang dan cantik membelai pipi Wira.
Alvian menelan ludah, lalu dia ingat cerita Chandra, "Empusa itu cantik, rambutnya biru berkobar seperti sedang tertiup angin. Jika marah kobarannya berubah warna menjadi semerah api."
Alvian melihat Wira memejamkan mata, menyadari sahabatnya sedang berada dalam bahaya, dia lantas berusaha keluar dari ruangan itu.
Menyusuri gedung kosong yang luas Alvian berjalan tergesa. Jantungnya berpacu dan kepalanya terus merekam bagaimana caranya agar Wirayudha sadar dan tidak memejamkan mata seakan akan dia menikmati sentuhannya.
Tiba di pintu depan, Alvian mendesah kecewa. Lagi lagi bangunan itu terkunci.
"Pasti ada jalan lain, gue harus cari dan keluar selamatkan Wirayudha." Alvian terus mengoceh.
Lantas dia telusuri gedung dan mencari pintu lain yang tidak terkunci. Tidak ada waktu lagi, lelaki itu berlari seperti orang kesetanan.
Tepat di hadapannya sebuah jendela besar tanpa teralis. Lantas di mendekat, bersorak dalam hati karena jendela itu bisa dibuka dan dipanjat untuk kemudian dia lompati dan keluar dari sana.
Terlambat, alih alih menemukan Wira dan Empusa, dia hanya menemukan puluhan ahool dan cerberus yang siap menyerang siapa pun.