Meet Again

1040 Kata
Di tempat lain di istana Raja, Andraga dan Alana bersembunyi dalam sebuah kotak yang diduga adalah pot bunga raksasa. Dua orang itu berhasil bersembunyi setelah melihat ahool ahool itu tampak menundukkan badan dan berlutut. Seperti hormat pada seseorang. Keadaan itu membuat dia mundur dan bersembunyi. Angin berembus sangat kencang, dingin yang dihantarkan oleh angin membuat luka luka di tubuh dua orang itu perih. Tidak lama kemudian pemandangan yang membuat Alanan mengeratkan pegangan pada tangan Andraga. Wira seperti diikat olah tali tak kasat mata. Dia melayang dengan keadaan berdiri setengah berbaring. Diikuti oleh perempuan cantik denga rambut biru cerah yang indah. Dia empusa, berhasil menculik Wirayudha. Andraga hendak berdiri, tetapi Alana mencegahnya. Terlalu berbahaya untuk dirinya jika sampai keluar dari tempat persembunyiannya sekarang. Angin kencang itu akhirnya mereda, bersamaan dengan itu ahool dan cerberus kembali berjalan seperti biasanya. Mungkin di antara mereka kebingungan ke mana Alana dan Andraga menghilang. Andraga mendesah, Wira tertangkap, bagaimana dengan Alvian. Mereka pergi bersama. Pikiran buruk tiba tiba merasuki lelaki itu hingga dia tidak sadar meneteskan air mata, menangis seperti anak kecil yang mainannya direbut paksa. "Heh, Ga, ngapain lo mewek, ah anjir gak asik, kedengeran mereka bisa mampuss kita!" Alana protes, kemudian dia merentangkan tangan dan membiarkan Andraga menangis di pelukannya. Menyesal tiada guna, iming iming hadiah yang dijanjikan oleh Wira telah menyeretnya hingga ke pusaran penuh bahaya. Andraga sadar, kini dia seakan sedang mengantarkan nyawa di tempat yang tidak akan pernah mereka jangkau sebelumnya. "Tadi Wira kan jalan bareng kakak gue, lah Wira tertangkap lantas kakak gue ke mana?" "Iya juga, ya," jawab Alana. Dia melepaskan pelukan dan melihat sekeliling. Ada tiga ekor cerberus tanpa ahool di pelataran istana megah ini. "Ga, nangisnya bisa lo lanjutin nanti enggak? Ini situasi lagi aman, kita balik ke pondok dan bilang kalo kakak lo ilang trus Wira tertangkap." "Kita gak masuk tolong Wira?" "Gila aja, gue masih mau hidup." Alana berdiri, tanpa persetujuan Andraga dia berjalan membungkuk di antara semak demi semak menghindari bahaya. Mau tidak mau Andraga mengikuti. Dipikir pikir malu juga nangis depan cewek. Ah, bodo amat, yang penting sekarang dia harus selamat dulu biar bisa ketemu Alvian. "Al, tunggu anjir, tungguin gue!" Alana terus berjongkok. Ketika dekat dengan cerberus Dia mengeluarkan anak panah yang tersisa sedikit lantas membidik cerberus. Satu tembakan tidak tepat sasaran. "Bisa gak lo?" bisik Andraga. "Harusnya sih bisa, tapi kok gagal." Andraga mengambil anak panah yang disimpan di punggung Alana. Bidikannya berhasil membuat satu cerberus tumbang. Sekali lagi, dua ekor yang ada di pelataran itu akhirnya bisa dikalahkan, sedangkan satunya lagi menghilang entah ke mana. Andraga dan Alana bergegas meninggalkan pelataran berumput itu, dia berlari kencang menuju pondok prajurit. Dalam pelariannya mereka berharap tidak bertemu dengan cerberus atau ahool. Jujur saja Andraga lelah, kadang dia marah juga kepada para prajurit yang semakin sini malah semakin sedikit. Mungkinkah satu per satu gugur atau mungkin berpihak kepada Mamiju yang sedang merencanakan menggulingkan Sandrina. Entahlah, di mana mana orang serakah selalu ada, gak di Dunia lenuh misteri ini, gak di dunia nyata. Semua ada. Dua orang itu tidak memperhatikan jalan, sehingga menubruk tubuh seseorang. Andraga menoleh, berharap yang nabrak tubunnya adalah sosok Alvian. Sayangnya bukan, entah mengapa untuk pertama kalinya Andraga kesal melihat orang yang berdiri di hadapannya saat ini. * Jika ada di dunia nyata, Sandrina pasti jadi incaran agency model, posturnya yang tinggi serta postur tubuhnya yang tinggi membuat siapa pun mampu terpesona. Pantas saja perempuan ini dijadikan pemimpin para prajurit. Dari semua bidang Sandrina memang masuk kriteria seorang pemimpin. Satu hal kekurangannya. Tidak ada senyum yang tersungging dari bibirnya. Chandra menyadari itu, semua prajurit pelit senyum. Mungkin saat mereka lahir, orang tuanya lupa membubuhi gula jawa dalam kendi berisi plasenta yang kemudian dikubur atau dihantutkan di sungai besar. Chandra menepis pikirannya, ini dunia bawah tanah, gak mungkin ada ritual seperti di dunianya yang terkadang lucu. Jangan pernah berpikir perjalanan mereka lancar lancar saja. Sepanjang jalan Sandrina dan lima prajurit yang mengiringi perjalanan menebas ahool juga cerberus. Chandra tidak ikut melawan. Sesekali dia memekik ngeri karena tebasan tebasan prajurit begitu kejaam dan tiada ampun. Di ujung pemukiman terlihat aman dan nyaman. Tidak ada musuh dan tidak terlalu terik. Chandra mendahului Lelaki itu mendahului Sandrina yang terlihat begitu kelelahan. Namun, langkahnya terhenti bahkan terdorong hingga hampir terjatuh. Andraga dan Alana. adalah tersangkanya. Andraga menatap sinis Chandra. "Jalan liat liat begok," protes Chandra. Andraga tersulut emosi, dia panik Wora tertangkap dan Alvian hilang. Sementara itu Chandra malah tengah jalan santai bareng prajurit. "Siapa yang begok anjiing! Lo dasar brengseek, a*u lo," umpat Andraga. Kecemasan dan kemarahan bercampur menjadi sebuah kekuatan untuk melayangkan pukulan kepada Chandra hingga membuag lelaki itu terjengkang. Untung Sandrina sigap nagkap tubuh Chandra. Ego lelaki Chandra tersentil, lantas lelaki itu melepaskan diri dari rengkuhan Sandrina lalu menyerang Andraga. Baku hantam pun terjadi. Alana terpana dengan pemandangan di depannya, dua pria dewasa melampisakan ego masing masih tanpa peduli kenyataan. Seseorang memegang tangan Andraga. Membuat lelaki itu protes dan marah mengira sengaja di pisahkan. Begitu berbalik Andraga terpaku. Sosok yang dia cari tersenyum seraya mengusap kelapa Andraga. "Kakak, Anjir lu ke mana aja, gue udah kek gembel begini." "Gue aman, tapi Wira tidak. Dia hilang, gue gak bisa temuin dia di mana." "Gue tahu," ujar Andraga, Alana mengangguk sementara Chandra yang tangannya dipegang pasukan akhirnya diam. "Gue lihat empusa," ungkap Alana. "Gue juga!" seru Alvian dan Andraga bersamaan. "Tapi dia bawa Wirayudha," ungkap Alana. Mendengar kenyataan itu tubuh Chandra merosot, bulan purnama masih lama, kebayang selama penantian ini Wira akan begitu tersiksa. "Gue liat empusa juga." Alvian mengangguk mendengar ucapan Andraga. "Tapi gue bawa ini," ujar lelaki itu. Alviam membuka bajunya lalu mengeluarkan buku bersampul kuning. Sandrina terlihat lebih berbinar. Dia berdiri lalu mengambil naskah kuno itu dan rasanya sungguh melegakan. "Kerja bagus," puji Sandrina. Seekor ahool menukik dari ketinggian, dengan sigap Andraga meraih pedang lalu membuat ahool itu terjelembab mencium tanah. Sandrina mengajak semuanya kembali ke pondok prajurit. Naskah yang baru saja ditemukan oleh Alvian harus dibaca dan dipelajari terlebih dahulu. Alvian senang, dia lantas memeluk Andraga kuat kuat. Kangen rasanya. Sedangkan Chandra masih geram dengan kelakuan Andraga, ingin sekali balas perlakuannya, tetapi Alana masih waras. Dia akhirnya memeluk Chandra. Memeluk dengan perasaan berbeda dengan perasaan bukan sekadar teman saja. Keduanya merasakan, tetapi pura pura hanya karena terlalu malu untuk mengakui.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN