Mencari Jalan Pulang

1038 Kata
Dari pondok prajurit yang mereka tempati, Alvian, Andraga, Chandra dan juga alana menyusuri jalan setapak menuju bukit tempat di mana pertama kali mereka masuk dunia itu. Tidak ada yang bicara, setapak demi setapak langkah mencari jalan pulang itu mewakili perasaan mereka masing-masing. Melihat betapa menyeramkannya apa yang harus mereka hadapi membuat nyali menciut. Jangankan Makhluk dengan sepasang sayap berukuran tiga meter, berhadapan dengan ular-ular di lembahnya pun mereka masih gemetaran. Beruntung hanya Babi hutan yang mereka temui dalam perjalanan kemarin, bukan binatang buas yang menyeramkan.Di atas bukit itu, Alana tidak menemukan pusaran berupa cermin keperakan yang bergerak. "Sebelah sini, gue ingat, patokannya pohon ini," ucap perempuan itu frustasi. "Pokoknya kita harus pulang, Bro, gue gak mau mati sia sia di sini, gue punya salah sama nyokap dan belum minta maaf." Chandra terduduk pasrah. Jangankan Chandra, Alvian dan Andraga pun sama, keduanya merasakan hal yang sama. Alana terus mencari hingga dia akhirnya menyerah karena rasanya terik matahari membakar wajah. Dari atas bukit itu, mereka dapat melihat indahnya pemandangan pondok prajurit dan juga Lembah Dunia Bawah Tanah yang hancur karena monster. "Si Wira kayaknya bisa berubah jadi ultraman deh," celetuk Chandra. Sontak Alvian dan Andraga menoleh. Chandra adalah sepupu Wira, tetapi lelaki itu sama sekali tidak tahu, seperti mereka yang merasa tertipu karena ajakannya. Kecuali Alana yang memang dia adalah penyusup. "Lo beneran gak tau apa apa?" selidik Alvian. "Gak ada, gak tau apa apa, tiba-tiba pas gue main ke rumah Aki gue diajakin Wira ke perpustakaan, terus kami menyelinap nyolong kunci loteng. Trus nemu naskah itu." "Siapa yang pertama kali nemu, lo atau dia?" tanya Andraga penasaran. Alana dan Alvian nyimak, sama sama penasaran dengan jawaban Chandra. "Ya gue, tapi ...." Lelaki itu berpikir sejenak dan mengingat ngingat. Saat itu dia membuka kunci loteng, Wira di belakangnya memegang senter. Keduanya menyusuri ruangan gelap penuh debu. Sempat ada rasa takut yang menyusup, tetapi Wira terus menyakinkan bahwa di loteng aman, paling ada tokek saja juga tikus. Naskah itu memang dia yang temukan, Chandra yang buka kotaknya, Chandra yang memberitahu Wira soal naskah kuno juga peta. Chandra hanya mengira itu adalah sebuah peta harta karun. Namun, jika diingat-ingat Wira berkali kali menyorotkan senter pada kotak dengan ukiran indah itu, seakan akan dia mengharapkan Chandra menemukan dan membukanya. "Jadi senternya itu berkali kali disorotkan ke kotak itu. Gue awalnya tertarik dengan sepeda statis milik Aki yang sudah tidak terpakai, gue mau bawa benda itu buat di rumah. Tapi gue ingat, Wira terus aja nyenterin itu kotak, seolah olah menggiring gue untuk menemukan kotak itu." Alana mendesah, sudah pasti Wira memang atur strategi bagaimana caranya agar lelaki itu datang ke negeri ini tidak sendirian. "Gue nyesel ngikutin kalian," celetuk Alana. "Lagian lo kenapa nekad?" tanya Alvian. Rumput yang mereka duduki rasanya lembut. Alana membuka carrier dalam gendongan lantas menyimpan benda itu di bawah, dan menjadikannya bantalan untuk tiduran. Dia berbaring menatap langit. "Segitu ngebetnya gue pengen muncak, akhirnya gue kecewa karena temen gue terluka dan gak bisa lanjut naik." Alvian menatap gadis pemberani yang ada di hadapannya. "Lo sadar gak sih, yang lo ikutin itu cowok, gimana kalau orang jahat?" tanya Alvian. "Gue yakin kalian cowok baik baik." "Nyatanya salah satu dari kita adalah cowok brengsekk, bisa bisanya nipu agar kita ikut rencana busukknya." Wira terus mengumpat. Perasaan tiga laki laki itu kini sama. Ingin pulang! Berbeda dengan Alana, meski dia memiliki perasaan yang sama, tetapi sisi kelembutan seorang perempuan masih dia miliki. Hati yang tidak tega masih dia kantongi. Bahkan repot-repot Alana memikirkan bagaimana nasib Wira jika mereka menemukan jalan pulang dan pergi. Sekali lagi Alvian berdiri bergerak menyusuri sepanjang bukit untuk menemukan jalan pulang. Hingga matahari tergelincir dan hampir kembali ke peraduan, pusaran keperakan itu tidak mereka temukan. Seharian duduk di bukit itu membuat mereka kelaparan. Bahkan Andraga kini meringkuk dan memejamkan mata karena menahan perih di perutnya.Wira tidak tinggal diam sebenarnya, lelaki itu akhirnya muncul ditemani Mara, salh satu prajurit yang datang membawa nampan berisi makanan. Aroma kuah kental membangunkan Andraga. Dia tidak tahu malu buru buru menyantapnya. "Lo kalau gak mau makan biar jatahnya gue makan sekalian," celetuk Andraga. "Marah boleh, kelaparan jangan!" Dia mencelupkan roti berukuran panjang dan sedikit keras ke dalam krim sup yang gurih dan lezat. "Gue mau minta maaf, gue seharusnya jujur dari awal, Bro," sesal Wira. "Gue sudah tiga tahun mempelajari naskah ini, ya, meski sempat berhenti karena fokus kuliah. Ini yang memotivasi gue beresin kuliah cepet cepet, ekspedisi ini gak boleh batal, gue udah janji sama Aki buat lanjutin perjuangan beliau." Chandra terkekeh, dia gak mau tahu, rasanya ditipu saudara sendiri itu amat menyakitkan. "Lo ingat kan sebelum Aki meninggal dunia dan gue di dalam bareng aki?" tanya Wira, Chandra hanya mengangguk. "Kami ngomongin ini, Aki berutang banyak pada Nitisara, aki berutang banyak pada negeri ini." "Aki lo yang punya utang kenapa gue yang harus bayar?" tanya Alvian. "Karena kita The Rescue. Tim penyelamat yang aki tulis dalam naskah untuk menyelamatkan Negeri ini dari monster monster jahat itu." Alvian membuka mulutnya saat Andraga menyodorkan satu sendok sup krim. Rasanya gurih, hangat, dan lumer di mulut. "Kenapa gue harus ikut?" tanya Chandra kesal. "Karena sebelum misi selesai pusaran yang akan membawa kita pulang tidak akan ketemu sampai kapan pun." Alana mulai tergoda untuk menikmati makanan yang dibawa Mara. Dalam diam dia mengunyah makanan itu dan memikirkan bagaimana caranya agar bisa pulang tanpa harus terlibat. "The Rescue akan menyelamatkan kehidupan di negeri ini. The Rescue akan mengembalikan senyum senyum para prajurit, The rescue akan menyelamatkan anak anak dari belenggu yang kini memenjarakan mereka." "Kalau kita mati bagaimana?" tanya Andraga. "Ya, jangan mati. Kita sama sama lawan mereka, kalian bantu gue, gue yang maju bunuh makhluk makhluk itu. Kalian pandai membuat strategi." "Gue bantu? Gak salah?" sinis Chandra. "Meski darah Natakusuma juga mengalir dalam tubuhmu, gue tetep gak akan membiarkan lo memegang senjataa dan melawan mereka. Ini kesalahan gue, gue sendiri yang harus turun tangan." The Rescue, sama sekali Alvian dan Andraga tidak memikirkan mereka akan jadi tim yang mampu menyelamatkan Dunia Bawah Tanah. The Rescue, Chandra memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya setelah mereka melawan Makhluk besar bermata bulat dan bertaring runcing. Diam diam dia bergidik. The Rescue, Alana pikir cukup keren. Mungkin saatnya kini mencoba hal yang baru, tidak ada salahnya membantu teman, Bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN