Wira berhasil membujuk teman-temannya dan kini mereka bergabung menjadi satu tim bernama The Rescue.
Satu satunya waktu yang aman untuk menyebrangi lembah tanpa tertangkap hewan mengerikan itu adalah ketika bulan purnama. Dan itu artinya akan lebih lama menunggu mengingat bulan purnama telah lewat saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di Dunia Bawah Tanah ini.
"Kita gak bisa nunggu bulan purnama datang, lo bisa bayangin, kan pasti mami gue cemas karena anaknya gak pulang pulang," ujar Alvian yang dibenarkan oleh Andraga.
"Gue juga harus kerja, jatah cuti habis." Alana duduk dekat pintu, menikmati malam yang rasanya lama sekali menuju pagi.
"Jadi mau tidak mau kita memang harus menyelinap. Bagaimanapun caranya kita bisa sampai ke pondok Nitisara dan bertemu dengan penduduk kota." Alvian mengambil peta. Yang ternyata hanya peta perjalanan dari pegunungan menuju pintu masuk negeri ini.
"Lo butuh peta negeri bawah tanah?" tebak Wira.
Disertai dengan anggukan, Alvian menjawabnya. Lantas dia berdiri dan memperhatikan ke arah lembah.
Perkotaan yang mati karena sengaja ditinggalkan oleh para penduduknya. Dan hal ini berlangsung lama sekali, tidak bisa terbayangkan betapa tersiksanya para penduduk.
"Kenapa orang sini gak ada yang bisa melawan makhluk itu?" tanya dia tanpa memalingkan wajah dari pemandangan di depannya.
Wira membukan Naskah kuno itu dan mengambil selipan peta di sampul kulit naskah tersebut.
Selembar peta Negeri bawah tanah tersembunyi sejak lama di sana.
Peta berwarna hitam dengan bentangan pulau berwarna hijau itu kini dibentangkan di meja.
"Hanya yang berdarah Natakusuma yang bisa membuat mati Makhluk itu."
"Apa nama Makhluknya?" celetuk Andraga, dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Wira yang sedang menelusuri peta.
"Dalam naskah namanya Ahool, sama seperti makhluk mitos yang ada di dunia kita."
"Berbahaya?"
"Kalau lucu kita sekarang sedang jajan seblak di Pengkolan!" hardik Alana.
Benar juga, jika Ahool tidak berbahaya, Nitisara dan rakyatnya tidak akan membutuhkan kehadiran Wirayudha dan The Rescue di sini.
Obrolan mereka diinterupsi oleh kedatangan Mamiju. Kali ini jamuan makan malam, bola-bola daging mirip bakso, disiram kuah kemerahan yang gurih dan ketika digigit dagingnya terasa lembut.
"Saya dengar kalian sedang membicarakan Ahool?" tanya Mamiju berhati hati. Bagi para prajurit berbincang dengan tamu adalah sesuatu yang sebenarnya tidak boleh terjadi. Kedudukan tamu setara dengan Raja dan mereka hanyalah seorang prajurit. Namun, perbincangan The Rescue memaksa Laming untuk melibatkan diri di dalamnya agar tidak terjadi salah faham.
"Ya, bukankah itu yang harus kami lawan?" tanya Wira meyakinkan.
Mamiju cepat cepat menggeleng, rambutnya yang panjang terikat bergerak ke kiri dan ke kanan.
"Ahool sama halnya seperti kami, mereka adalah prajurit yang diutus oleh makhluk yang sesungguhnya untuk mencuri anak anak."
"Lalu, makhluk apa yang harus kamj lawan?" tanya Alvian, lelaki itu menatap lurus ke arah peta yang terbentang di meja kayu.
"Ahool merupakan populasi yang bertahan dari pterosaurus, reptil terbang diperkirakan telah punah di sekitar masa dinosaurus, sekitar 65 juta tahun lalu. Binatang itu seharusnya hidup di malam hari, dan di sekitar gua. Tetapi kekuatan Empusa telah menyihir makhluk makhluk yang dulunya bisa hidup berdampingan dengan penduduk kota menjadi musuh sejati."
"Empusa?" tanya Alvian dan Andraga serempak.
"Itulah yang harus kalian lawan. Empusa digambarkan sebagai wanita cantik yang mampu berubah menjadi makhluk bergigi tajam, berambut api dan bersayap kelelawar. Natakusuma dan sesama ilmuwan telah salah melakukan penelitian, hingga makhluk yang sudah direkayasa itu kini berubah menjadi makhluk mengerikan."
"Apa yang mereka lakukan?"
"Empusa akan menggoda pria muda yang melakukan perjalanan sendirian. Ketika pemuda tersebut tertidur, makhluk tersebut akan berubah ke wujud aslinya untuk memakan daging korbannya dan meminum darahnya." Alana bergumam mengucapkan kalimat itu. Dia pernah membaca ketika mempelajari mitologi Yunani. Mustahil hal itu kini ada di sini, di dekatnya.
"Lebih dari itu," tandas Mamiju.
"Makhluk ini sudah direkayasa oleh Natakusuma. Dia berevolusi menjadi makhluk paling menyeramkan. Tidak hanya pemuda, anak-anak bahkan binatang ternak habis semua."
Mamiju bergerak, jemarinya yang panjang-panjang menujuk salah satu area di peta.
"Ini adalah pondok prajurit tempat kita berada saat ini. Dan ini adalah Istana Nitisara jauh sekali dari sini, satu satunya kendaraan yang ada adalah kuda, sayangnya tapak kaki kuda akan mengundang Ahool dan juga Cerberus untuk bangun. Ini ...." tunjuknya pada sebuah area tidak jauh dari pondok Prajurit, "ini adalah gedung gurnita. Di sebelahnya adalah laboratorium bawah tanah tempat bekerja Natakusuma."
"Lantas di manakah Empusa itu berada?" tanya Wira. "Di Lab?"
"Tidak. Dia di istana Raja." Mamiju melingkari satu lokasi yang letaknya persis di tengah tengah bentangan peta.
Mamiju menyentuh peta itu dengan jari jarinya yang panjang. Lantas memperbesar peta itu dengan mudah, seakan kertas rapuh itu adalah sebuah touchscreen ponsel yang bisa dengan mudah memperbesar dan memperkecil layar.
"Ini istana Raja." Sebuah istana mirip kastil kerajaan yang biasa mereka tonton dalam film film fantasi.
Istana tersebut terletak di tengah dan dikelilingi oleh danau.
"Lantas di manakah Raja Dunia bawah Tanah?" tanya Alana.
"Sudah beberapa dekade sistem pemerintahan kami berubah, tidak ada Raja karena garis keturunannya sudah habis. Ada ketua yang kami jadikan pemimpin untuk saat ini." Mamiju berhenti menjelaskan, lantas dia mempersilakan The Rescue untuk makan karena malam semakin larut.
"Bagaimana caranya kami bisa ke dunia istana Raja?" tanya Wira.
"Hanya kalian yang bisa memikirkan bagaimana caranya, karena bau kami tercium bahkan ketika baru saja melewati perisai bawah.
"Kami akan mencoba, bisakah siapkan senjataa untuk kami?" tanya Wira.
"Tentu saja, itu tugas prajurit!"
"Kapan kami bisa mulai beraksi?" tanya Alvian.
Mamiju melangkah menuju pintu, "Secepat kalian bisa."
Kemudian prajurit berbadan tinggi beaar itu menghilang di balik pintu.
Seperti mimpi, The Rescue masih tidak percaya bahwa mereka harus menyelamatkan negeri orang dari kehancuran.
"Udah jangan bengong, makan aja dulu biar kalian kuat melawan Empusa." Andraga berseloroh, dia dengan santai menikmati bola bola daging yang dibawa oleh Mamiju barusan.
"Gue penasaran, dari mana mereka mendapatkan sumber makanan ini, bukannya kota terblokir?" tanya Alana di sela kunyahan.
"Banyak yang belum kita tahu dari negeri ini, pondok prajurit ini luas sekali, kita belum sempat menjelajah. Tadi gue liat ada prajurit yang membawa banyak air dengan menggunakan kantong besar. Pasti tidak jauh dari sini ada sumber air." Wira berkata.
Alvian tidak makan, dia lebih fokus memperhatikan peta yang bentuknya sudah kembali sedia kala. Melihat titik merah di mana Empusa berada.