Tempat Pembuatan s*****a

1117 Kata
Di negeri ini, bangun pagi rasanya sangat menyegarkan. Sinar matahari selalu berhasil menyusup di antara celah celah bangunan dan membuat siapa pun terjaga karenanya. Aroma caramel yang kuat memaksa mereka untuk terus terusan merasakan lapar. Pada pagi hari seperti ini para prajurit terlihat jauh lebih sibuk dari malam hari. Dari dinding perisai yang membatasi pondok prajurit dan lembah negeri bawah tanah siapa pun bisa melihat kawanan Ahool yang terbang rendah atau jalan-jalan mengitari halaman halaman rumah berbunga cantik. Seharusnya mereka tidak menunda lagi p*********n terhadap makhluk-makhluk itu, mengingat waktu terus bergerak. Tidak pernah bisa mereka bayangkan, orang Rumah yang kini panik karena mungkin semuanya dinyatakan hilang selama pendakian. Andraga adalah salah satu orang yang memiliki kecemasan luar biasa. Cemas ingin pulang, cemas karena mencemaskan sang Mami. Wira membaca lekat lekat naskah kuno yang sudah dia pelajari lama sekali. Masa iya hanya keturunan Natakusuma yang mampu membunuh Empusa. Dia merasa siapa pun bisa. Alvian tidak bisa tinggal diam, lantas dia menyusuri pondok prajurit, sementara Wira berusaha keluar dari perisai untuk memancing seberapa peka penciuman Ahool terhadap bau mereka. Alvian dibantu Andraga dan Alana mencari dan menyusuri pondok prajurit, terdapat 18 pondok termasuj pondok yang mereka tempati. Di pondok paling ujung merupakan bangunan yang paling besar, isinya adalah tempat penyimpanan pangan, lebih mirip seperti kulkas raksasa meningat suhunya sangat dingin. Prajurit yang melihat kedatangan The Rescue menunduk patuh seperti melihat Raja yang melintas. Andraga lantas keluar dari tempat itu. Di belakang bangunan itu terdapat sungai yang mengalir melintasi pondok prajurit lalu terus mengalir menuju pedesaan. Jauh di seberang sungai terdapat sebuah bangunan bercerobong asap. Siapa pun mengira tempat itu adalah pabrik. Tetapi setelah melihat dari dekat barulah mereka sadar kalau itu adalah temoat pembuatan senjataa. Bunyi logam yang beradu serta hawa panas yang cukup tinggi bisa mereka rasakan di ruangan besar ini. Dari luar, dia bisa melihat Laming yang gagah tengah memberi perintah kepada para prajurit yang sedang bekerja. Sementara itu Wira dan Chandra berhasil menapaki anak tangga terakhir, lantas menembus dinding tipis yang membatasi lembah pedesaan dan pondok prajurit. Untuk beberapa saat mereka diam, dan menantukan apa yang akan terjadi selanjutnya. Menit berlalu, yang dia takutkan tidak jua terjadi. Tidak ada makhluk apa pun yang menyerang. Padahal jika prajurit yang turin, gerombolan Ahool buru buru datang menyerang. "Tujuan Aki sebenarnya apa, sih bikin Makhluk makhluk begini? akhirnya kan nyelakain banyak orang," celetuk Chandra. Matanya terus awas, telinga pun dia pasang berusah mendengarkan pergerakan Ahool. "Gue gak tahu, yang pasti misi kita di sini buat menyelamatkan seluruh penduduk kota dari binatang atau apa pun itu. Eh ini kayaknya aman deh, kita jalan ke depan gimana?" ajak Wira. "Anjir kita gak bawa apa apa, nanti kalau ada Ahool kita mau lawan pake apa?" "Kita sembunyi, kita tes kepekaan mereka, seberapa peka mereka dengan kehadiran kita di sini." Angin bertiup kencang, sepertinya semesta tidak merestui kenekatan Wira, bisa bahaya, mereka bisa celaka. Wira terus berjalan dia tidak memilih jalanan yang besar beralaskan tumput, melainkan menyusuri jalan setapak di antara rumah rumah. Rasanya jalan itu lebih aman karena lebih mudah untuk bersembunyi. Tidak terasa jalan yang dia tempuh lumayan jauh juga. Tidak ada satu pun makhluk mengerikan yang mereka temui di sana. Jalanan itu bisa jadi alternatif untuk melintasi pedesaan tanpa disadari oleh binatang binatang mengerikan di luar sana. Chandra terus melihat ke kiri dan ke kanan juga ke atas, kini mereka sudah sampai di Gedung Gurnita. Tidak ada lagi bangunan yang jadi perisai mereka jika ingin memasuki gedung itu. Ketika Wirayudha hendak melangkah lebih jauh untuk menyebrangi jalan dan masuk ke area gedung, sosok Ahool muncul dari bangunan tidak terpakai yang katanya adalah laboratorium tempat Natakusuma bekerja. Dari jarak dekat, dia bisa melihat binatang itu bwgitu mengerikan, taringnya tajam. Matanya bulat dan melotot. Mereka menahan napas, seolah satu hela napas bisa terdeteksi oleh Ahool. Tidak hanya satu, ada banyak yang keluar dari sarangnya seraya mengendus. Mereka yakin dari jarak dekat seperti sekarang ini para Ahool dapat mencium adanya bau asing dari tubuh Wira dan Chandra. Dua lelaki dewasa itu mengendap mundur. Sayangnya Wira menginjak sebuah Ranting kering hingga menimbulkan suara yang mengundang. Dua Ahool datang mendekat. Wira membuka pintu salah satu rumah yang ada di sana, lalu masuk menyeret Chandra untuk bersembunyi. Rumahnya hancur, kaca kaca berserakan di lantai. Terdapat sebuah ruangan kecil tempat penyimpanan barang-barang. Wira menyembunyikan dirinya di sana, lalu menutup tubuhnya denga. selimut putih berdebu. Ahool itu tidak tinggal diam, mereka merusak atap dan melihat ke dalam rumah dari atas. Tiga ahool terbang rendah mengitari rumah itu. Jantung Chandra berpacu. Msngintip dari celah celah serat kain, binatang itu terus berputar putar. Dia yakin jika kain yang menutupi tubuh mereka tersingkap maka keduanya tidak akan selamat. Di pondok Prajurit, Andraga panik mencari keberadaan Chandra dan Wira. Banyak spekulasi yang berkembang di sekitarnya. Ditangkap Ahool atau justru kabur karena tidak sanggup menghadapi bahaya yang mengintai mereka. Sayangnya untuk opsi kedua, semua terbantahkan dengan kesaksian salah satu prajurit yang melihat Wira dan Chandra yang menembus dinding pembatas beberapa jam yang lalu. Laming terlihat paling panik, dia mengkoordinasikan pasukan, menghubungi desa sebrang di mana ketua dan penduduk berada. Alvian menuruni tangga menuju dinding pembatas, dari sini dia bisa melihat segerombol Ahool yang terbang rendah lalu berjalan. Mungkinkah Chandra dan Wira tertangkap? Hingga malam tiba dua lelaki itu tak kunjung datang. Mereka kembali mengendap menapaki jalan setapak yang berbeda demi menghindari Ahool. Sayangnya dia tidak menyadari jalan setapak itu tidak membawanya kembali ke pondok Prajurit. Kesamaan jalan dan gelapnya situasi di sana membuat seoasang sepupu itu tidak menyadari kesalahan itu. Yang mereka rasakan adalah semakin mencekamnya situasi yang ada. Wirayudha kembali mengendap dan meligat sekeliling. Tidak ada Ahool melainkan bahaya lain yang mengintai. Tiga pasang mata berwarna merah kini menatap garang pada dirinya. Dia tak mampu bergerak saking terpesonanya melihat monster yang ada di hadapannya. Chandra yang menyadari hal itu mengajaknya berlari, sayangnya anjing berkepala tiga itu sigap mengejar. Hingga dua lelaki keturunan Natakusuma itu lari tunggang langgang ke arah berlawanan. Cerberus terus mengejar Wira, Chandra yang selamat dari pengejaran itu tiba di dinding pembatas, sayangnya pohon tempat simbol untuk masuk berbeda, dia jadi bertanya tanya, apakah ini adalah pintu masuk yang berbeda? Dengan gerakan yang dia pelajari sebelumnya, menyusuri pola rumit di atas lambang berpola dengan telunjuknya. Lalu setelah berubah warna menjadi hijau dia menekannya dan setelah perisai terbuka dia buru-buru masuk. Selamat, yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan diri terlebih dahulu. Dia yakin Wira jauh lebih oibtar dan berani melawan monster monster itu. Dia berbalik, tidak menemukan tangga seperti menuju pondok prajurit. Bentangan rumput menyambutnya. Jika aroma caramel dia hidu di pondok prajurit, di sini dia mencium aroma jeruk yang samar. Juga lamat lamat mendengarkan suara orang orang yang tengah berbincang. Chandra putus asa, dia takut dirinya tidak akan pernah selamat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN