Amarah Sandrina

1701 Kata
Langit hampir gelap saat Alana terbangun. Dia melihat sekeliling dan mendapati pondoknya tidak berubah sedikit pun. Masih sama seperti sedia kala. Nampan nampan sisa sarapan masih teronggok di atas meja. Perempuan itu memijat kepalanya yang sedikit sakit. Dia mengingat ingat apa yang terjadi padanya mengapa sampai tertidur sementara seharusnya mereka bergerak. Dilihatnya ke seluruh ruangan, The Rescue tampak nyenyak. Lantas perempuan itu berdiri dan melihat pemandangan di luar. Dari kejauhan dia dapat melihat kawanan ahool yang terbang rendah bagai pesawat yang bersiap untuk landing. Hatinya sedikit lega kala dia mendekat dan menyentuh kening Alvian. Lelaki itu menggeliat lalu membuka mata kala merasakan dinginnya telapak tangan Alana menyentuh keningnya. "Hei," sapa Alana. Dia melepas tangannya lalu mundur dan berusaha membangunkan yang lain. "Sudah pagi?" tanya Alvian linglung. Alana menggeleng dan mengatakan kalau saat ini hampir malam. Siapa pun mengernyit kebingungan. Bagaimana bisa mereka terlelap sementara mereka masih harus menemukan potongan naskah. "Tapi gue enakan. Tadi pagi kepala berat banget." Alvian menggeliat. Dia lantas berdiri dan melewati Chandra yang masih terlelap. Langkahnya dia seret menuju toilet yang ada di pondok tersebut. Begitu memasuki kamar mandi, kelaki itu sedikit takjub. Beda jika yang mengisi dan menghuni pondok itu perempuan. Kamar mandi terlihat jauh lebih bersih dan harum. Di luar Alana terus berpikir, sampai satu per satu dari The Rescue bangun. "Gue laper," keluh Andraga. Wajahnya yang tampan selalu sendu dan meredup kala lapar. Tidak ada sisa makanan di nampan yang bisa dijadikan untuk ganjal perut. Dia lalu keluar dari pondok. Niatnya adalah untuk mencari makanan ke dapur umum prajurit. Tetapi urung, setelah dia melihat kawanan ahool begitu dekat. Mereka menuju ke arah Andraga. Tampaknya menjadikan Andraga mangsa yang empuk. Perlahan dia mundur dan kemudian kembali ke pondok. "Jiir syalan, itu moonyet udah deket mau nyerang." Sigap Chandra yang baru sadar dari tidurnya mengambil apa yang bisa dia jadikan senjataa. Alvian baru saja keluar dari kamar mandi segera mengambil busur panah sementara Wira membawa pedang panjang milik salah satu prajurit yang gugur saat menyerang cerberus beberapa saat yang lalu. "Sebaiknya kita keluar," usul Alana. Dia sapu pandangannya ke seluruh ruangan. Satu satunya pondok yang bisa dijadikan tempat bernaung. Jangan sampai kacau dan jadi medan pertempuran. Mereka keluar dan melihat kawanan itu sedang dilawan oleh Sandrina dan pasukannya. Melihat Sandrina, Wira jadi sedih. Perempuan bawah tanah berpostur tinggi semampai itu sedang dalam bahaya karena dikhianati pasukannya sendiri. Wira tergerak untuk membantu, lantas dia berlari meski Alvian berusaha untuk mencegahnya agar tidak mendekat. Wira tersenyum kala Sandrina menatapnya. Tidak ada waktu lagi, ahool itu terus menyerang dari segala penjuru. Dengan cakarnya yang tajam dia berusaha melukai Wira. Namun Sandrina menepisnya mengorbankan diri sendiri hingga terjungkal dan pakaian yang terbuat dari kulit itu sobek. Darah mengalir dari tangan yang terluka itu. Sandrina meringis kemudian bangkit dan menyerang Ahool membabi buta hingga salah satu dari kawanan menyeramkan itu kehilangan sayap. Alvian tidak tinggal diam. Dengan sisa tenaga karena masih dalam pemulihan lelaki itu turun ke medan pertempuran. Dalam ingatannya bagaimana dengan impiannya untuk pulang jika terlalu lama menunda dan mengulur waktu. Akhirnya semua turun. Hal itu dijadikan kesempatan oleh Alvian untuk menarik tangan Wirayudha dan menjauh dari sana. "Ngapain lo?" protes Wira. Alvian membawanya ke balik pondok di sana dia tidak terlihat oleh siapa pun. "Ahool dan cerberus gak akan habis. Sepertinya mereka ada terus." Wira mengerutkan kening. "Ngerti gak lo arah omongan gue?" "Anjir buang buang waktu, gue harus selamatkan Sandrina, Alana, kita semua." Alvian kesal, dia meraih kerah baju Wira dan mendorongnya hingga tubuh Wira merapat ke dinding. "Justru kita hanya buang buang waktu kalau terus terusan ngelawan moonyet s****n itu! Lo mau pulang?" desak Alvian. Sepertinya demam membuat lelaki itu berubah menjadi garang. Wira hanya menelan ludah dan menatap Alvian dengan perasaan takut. "Jawab!" bentak Alvian. "Ya," bisiknya dengan suara parau. Selama ada di sini entah itu berapa lama baru kali ini Wira melihat Alvian sang pemimpin The Rescue begitu marah. Lelaki itu sadar, dia yang seret seluruh temannya hingga berada di tempat ini. Tanggung jawab yang baik adalah menyelesaikan misi, melindungi semua dari bahaya. Untuk itu dia melawan Ahool dengan membabi buta demi keselamatan semua. Namun nyatanya di mata Alvian apa yang dia lakukan salah dan buang buang waktu. "Biar mereka yang lawan. Prajurit masih banyak, ada adek gue, Sepupu lo juga Alana di sini. Sekarang waktunya kita untuk ...." "Awas!" Wira menyingkirkan tubuh Alvian hingga lelaki itu terjungkal. Dengan menggunakan busur panah Wira memukul kepala ahool yang mendekat dengan kesal. Alvian berdiri dan ikut menghabisi makhluk itu hingga lolongan memekakkan telinga mereka dengar. "Sini lo ikut gue," ajak Alvian meraih tangan Wira dan berlari menjauh dari pondok prajurit. "Mereka gak akan habis. Sebaiknya jangan nunggu mereka habis untuk menemukan naskah kakek lo. Hanya itu satu satunya cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui senjaata apa yang bisa kita gunakan untuk menghancurkan kekuatan Empusa." Wira berhenti sejenak. Alvian yang berlari agak jauh berdecak kesal. "Lo bener," ucap Wira. Dia tersenyum lantas berlari menyusuri puluhan tangga dari pondok prajurit menuju perkotaan. "Lewat sini," ucap Wira. Sebagai pemimpin Alvian percaya kepada Wira. Mereka berjalan cepat dengan waspada khawatir bertemu dan berpapasan dengan Cerberus atau ahool. "Gue kepikiran sama Sandrina." Wira berucap di tengah perjalanannya. "Itu urusan mereka. Kita sudah terlalu jauh terlibat. Fokus kita kalahkan musuh dan temukan jalan keluar untuk pulang." Wira berhenti, dia memberi kode pada Alvian untuk diam. Tidak jauh dari sana kawanan prajurit sedang berjibaku melawan Cerberus. Geraman bersahutan dengan suara pedang. Mencekam dan mengerikan. Mereka mengendap, berusaha untuk membuat keberadaannya tidak diketahui musuh. Wira membuka kaosnya dan mengeluarkan cermin yang ukurannya sebesar piring. Cermin yang Chandra bawa dari tempat persembunyian Empusa, dia memejamkan mata. Lalu cermin itu bergerak dan menjadi petunjuk jalan untuk kedua orang itu. "Ngapain?" tanya Alvian. "Petunjuk jalan." "Memangnya lo gak hafal jalan?" tanya Alvian. "Jalan yang enggak dilalui musuh." Alvian mengangguk. Dia mengikuti ke mana Wirayudha berjalan. Setiap langkahnya Alvian merasa tekad semakin bulat. Jangan sampai usahanya kali ini kembali gagal. Rasa ingin pulang kini sudah menggungung tinggi. Yang selalu dia bayangkan menjelang tidur adalah senyuman sang Mami yang meneduhkan. * Andraga melihat Sandrina terbaring tak berdaya di atas rumput, telapak tangannya ditangkupkan di lengan kiri yang terkena cakar tajam Ahool. Sandrina yang biasanya tangguh kini terlihat begitu rapuh. Lebih lagi Andraga tahu upaya pengkhianatan yang dilakukan oleh para prajuritnya. Mamiju orang yang selama ini dia percaya baik. Beberapa ahool yang tersisa mundur, ada yang terbang dengan cepat, ada yang terbang rendah karena separuh sayapnya luka. Melihat itu, Chandra membidiknya, kemudian dia lesatkan anak panah dari busurnya. Tepat sasaran ahool itu terjungkal, jatuh dari ketinggian menimpa pepohonan di bawahnya. "Rasain, tuh!" ejek Chandra. Lelaki itu bangga dengan kebetulan yang dia lakukan barusan. Ya, bisa dibilang kebetulan karena selama ini Chandra tidak begitu pandai menggunakan busur panah. Sandrina merintih, begitu banyak darah merembes dari lengannya. "Bisa berdiri?" tanya Alana. Sandrina melirik tiga prajurit yang menyertainya, ketiganya mengerti dan segera berpencar ke arah yang berbeda. "Ke mana mereka?" "Mencari penawar racun." Alana tercekat, racun apa yang dia maksud. Apakah cakaran Ahool begitu membahayakan? "Tolong bawa saya ke dalam." Sandrina semakin lemah. Alana dan Chandra memapah tubuh tinggi perempuan Dunia Bawah tanah itu, pemimpin prajurit yang nasibnya sedikit malang karena prajurit kepercayaannya justru berkhianat. Ingin rasanya Alana mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, tetapi bagaimana caranya? Wiralah yang mengetahui keseluruhan percakapan Mamiju. Sayangnya Wira dan Alvian kini entah di mana. "Lo beneran gak liat kakak gue?" pertanyaan itu terus terlontar dari bibi Andraga. Lelaki paling muda di antara anak The Rescue itu resah tidak menemukan Alvian di mana pun. Andraga duduk di ambang pintu sementara Alana dan Chandra sibuk dengan Sandrina. Lelaki itu mencoba menata badai batin dalam diam. Penyesalan sudah tidak ada arti lagi. Satu satunya cara untuk keluar dari sini adalah dengan menyelesaikan seluruh misi. "Ichan," panggil Andraga. Setelah tahu di rumah oleh kedua orangtuanya Chandra dipanggil Ichan, Andraga pun memanggil lelaki itu dengan panggilan yang sama. Meski kadang mendapat protes. "Hmm ...." Chandra menjawab tanpa menoleh. Dia baru saja mengisi air di wadah bekas kompres Alvian untuk membersihkan luka Sandrina. "Empusa itu seperti apa, sih?" Pertanyaan Andraga nyaris seperti pertanyaan seorang anak kecil kepada ayahnya. Sandrina dan Chandra saling tatap, di antara empat orang yang ada di ruangan ini hanya dia berdua yang pernah melihat wujud Empusa. Bahkan pipi Chandra mendadak bersemu merah lantaran Empusa telah melakukan hal yang memalukan kepadanya. Sandrina mengerti lalu dia menepuk tangan Chandra hingga membuat lelaki itu mengerjap. "Dia cantik," ucapnya. Sontak Andraga dan Alana mendekat. Ingin tahu lebih jelas tentang sosok yang menjadi musuh mereka. "Masa cantik," ujar Alana. "Gue punya saingan, dong," lanjutnya seraya mengibaskan rambut. Chandra tertawa, lalu dengan gemas dia mengacak rambut Alana. "Tapi di mata gue hanya lo yang cantik di dunia ini," gombal Chandra. Dia meraih tangan Alana dan mengecupnya singkat. Alana malu malu. Dia menatap Sandrina sekilas, untung gak komentar. Namun, Andraga mencibir, "Sianjir, malah pacaran di sini, seriusan gue nanya. Emang iya dia cantik?" "Memang benar," jawab Sandrina. Andraga mengira Chandra hanya bercanda, tetapi mendengar jawaban Sandrina barulah dia percaya. "Kemampuannya memikat setiap lelaki untuk dijadikan korban. Empusa itu minum darah." "Seriusan?" tanya Alana. Anggukan Chandra merupakan jawaban yang membuat mereka yakin. Chandra pernah menceritakan bahwa Empusa adalah sosok mengerikan berambut merah, ya, memang betul tapi itu adalah sosoknya yang tengah marah. "Lo kok gak dihisap darahnya?" celetuk Andraga. Sandrina pun penasaran bagaimana bisa Chandra lolos dengan selamat tanpa dihisap darahnya. "Karena gue Natakusuma." Semua penasaran termasuk Sandrina. Chandra enggan bercerita karena bagian memalukan dari pengalamannya di istana Raja akan menjadi bahan olokan, apalagi Andraga. Demen banget ngeledek. "Intinya pas bulan purnama itu Empusa hampir saja bikin gue mati. Gue dengar sih darah Natakusuma biki dia jadi kuat." "Loh katanya bisa bikin dia mati, gimana sih?" Andraga bingung. Sandrina berusaha duduk dari pembaringan. Lantas dia duduk dan hendak mengatakan satu hal, sayangnya tidak dia lanjutkan setelah melihat nampan sisa sarapan tadi. Di sana pemimpin prajurit itu mencium aroma ramuan yang membuat siapa pun yang memakannya akan tidur lama sekali. "Kalian tadi tidur lama?" selidik Sandrina. Alana mengangguk, dia mengatakan kalau dirinya pun heran mengapa bisa sepulas itu. "Siapa yang beri kalian makan, Mara?" "Mamiju," tandas Chandra. Entah apa yang Sandrina rasakan saat ini yang pasti matanya membara dan tangannya terkepal seperti sedang menahan amarah yang memuncak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN