Keluarnya Empusa

1209 Kata
Ini adalah kali ke dua Alvian berada dekat dengan gedung gurnita. Dan entah keberapa kali bagi Wirayudha. Mata kedua lelaki itu awas, mereka merekam segala bentuk pergerakan yang terjadi di sekitarnya. Tempat ini adalah tempat yang sangat berbahaya untuk siapa pun, mengingat sebelumnya, dari sinilah monster monster berbulu itu berasal. Tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi sekarang, sekawanan cerberus berjalan menguasai jalanan. Mereka bergerak bebas selayaknya sapi sapi yang dianggap suci di India. Bedanya jika sapi sapi itu jinak, tetapi Cerberus akan menggigit siapa pun yang melintas dengan giginya yang tajam. Satu ekor tiga mulut, siap siap saja mendapatkan banyak luka jika berhadapan dengannya. "Lo ingat tempatnya?" bisik Alvian. "Ingat. Tapi gue gak jamin tempat itu steril dari Ahool, orang gue nutupnya cuma pakai Daun daun dan ranting. Mirip jebakan yang biasa gue bikin waktu kecil." Alvian bersandar ke dinding, sisa sisa demam memang belum hilang sepenuhnya. Kadang pada saat berjalan dia merasa seperti tidak punya isi kepala. Saking ringannya. Dia seperti tangah melayang tak menjejak bumi. "Gue bingung mau nutup itu lab pake apa, pintunya terkubur sebenernya, satu satunya jalan masuk, ya, dari atas." Wira terus mengoceh. Sesekali dia melihat keadaan sekitar, cerberus semakin menjauh tetapi Wira yakin jika keluar dari tempat persembunyian sekarang pasti ketahuan. Alvian menghela napas, ketika lelaki itu memejamkan mata harapan bahwa mereka berada di alam mimpi besar sekali. Ingin rasanya ketika terbangun mereka tiba tiba berada di lembah ular atau di lereng dekat mata air. Atau bahkan di jurang, di mana pun selama itu berada di dunia nyata dan bisa mendapatkan pertolongan dari tim Sar. Tidak ada yang bisa membujuk kekecewaannya. Tidak ada obat mujarab yang bisa membuat hatinya tenang, pasrah bahkan dia kini tidak tahu apakah bisa melindungi adiknya selayaknya yang selalu dilakukan oleh seorang kakak? Untuk melindungi diri sendiri pun rasanya tidak mampu. Wirayudha lantas sedikit bergerak, dia tahu sudah tidak ada yang betah berada di dunia mengerikan ini. Siasat harus segera diatur agar semua cepat berlalu. "Lo mau tunggu di sini atau ikut ke dalam?" "Lo tega biarin gue jadi santapan cerberus atau ahool?" sindir Alvian. Benar juga, keduanya berangkat sama sama. Mau tidak mau misi ini pun harus dilakukan bersama. Alvian memungut sebuah kayu panjang yang ada di tepian dinding tempatnya bersandar, lumayan buag nyodok musuh kalau tiba-tiba mereka datang. Wirayudha menyebrangi jalanan menuju pintu masuk gedung gurnita. Dia selamat dan lolos dari lengkihatan cerberus. Alvian kini melihat kiri kanan, ah ... tiba-tiba dia rindu menyebrangi jalanan yang dipadati kendaraan bermotor, Alvian kangen motor sport kesayangannya yang diberi nama Rose. Wira memberi kode, Alvian berlari dengan mengendap persis seperti seorang pencurii di sebuah gedung yang ditargetkan. Dari tempatnya bersembunyi sekarang sekumpulan ahool berjalan seperti zombie, tidak tentu arah. "Kita gak bisa masuk kalau mereka berkumpul begitu," ucap Wira. "Gue tahu, sebentar beri waktu gue mikir dulu." Wira membuka kaosnya, menitipkan cermin ajaib kepada Alvian dan dia menggaruk badannya karena gatal. Alvian tersenyum, dia memejamkan mata sambil memegang cermin. Chandra pernah bilang jika cermin itu menggunakan kekuatan pikiran. Apa yang pemeganggnya pikirkan maka akan terjadi. Alvian berdiri membuat Wira tersentak kaget. Dia berjalan keluar dari persembunyian. Wirayudha ingin mencegahnya, tetapi terlambat. Alvian berada di tengah tengah Ahool dan dia nyaris tidak terlihat. Alvian mengayunkan cermin itu. Wira menelan ludahnya sendiri, tidak menyangka Alvian bisa seberani itu. "Lo tunggu di sini saja," bisik Alvian membuat Wira terperanjat karena kaget. Jelas kaget karena tadi jarak mereka sekitar 6 sampe 8 meter kini Alvian ada di sebelahnya. "Dengan bantuan cermin ini gue masuk." "Apa gak gue aja, gue tahu tempatnya." Alvian mengendikkan bahu, lalu pergi dan berkata, "ogah, lo lemot kadang kadang." Wira tersenyum, dia bersembunyi di semak sambil memikirkan banyak hal di luar nalar salah satunya bagaimana cara dia mengalahkan empusa. Apakah harus mengorbankan diri atau bagaimana. *** Alvian melihat keadaan penutup yang Wira bilang menutupi Lab dari atas. Lucu, bisa bisanya Wira berpikir menutup pintu masuk dengan menggunakan ranting ranting kering itu. Hujan besar kemarin itu membuat ranting ini tertiup angin dan kini Lab itu telah kembali menjadi tempat persembunyian Ahool ahool. Laboratorium itu bentuknya mirip dengan bangunan berkubah. Yang menjadi jalan masuk itu adalah celah celah dari atap kubah. Alvian berhati hati agar cermin ajaibnya tidak jatuh dan membuat dirinya terlihat oleh musuh. Ahool dari jarak dekat baunya busuuk, mereka persis seperti kelelawar yang tidur menggantung di atap. Alvian terkadang harus berjalan dengan cara tiarap atau berjongkok karena kesulitan mendapat celah untuk lewat. Alvian kini sampai ke salah satu ruangan yang tidak terlalu bangak dihuni Ahool. Uradanya lembap, apek, rasanya berada di sebuah gua yang minim oksigen. Alvian berdecak kesal karena lupa membawa senter. Karenanya di sana matanya harus beradapdtasi dengan kegelapan ruangan. Alvian mengingat ngingat pintu ruangan yang ditunjukkan oleh cermin. Usahanya tidak sia sia, kini dia berdiri di pintu itu. Berusaha membuka kuncinya dengan menggunakan pisau lipat yang selalu dia selipkan di pinggang. Alvian adalah lelaki yang penuh dengan tekad. Dia tidak pernah menyerah pada rintangan apa pun. Seperti saat ini, ketika kaca terlepas dari pegangannya karena terlalu fokus membuka pintu dan lelaki itu tidak menyadari ada musuh yang mampu melihat keberadaannya tanpa cermin ajaib sebagai penyerta. *** Setelah melihat dan mengendus sisa makanan yang ada di nampan The rescue, Sandrina bangkit, lelaki itu hampir saja menemui Mamiju dan minta pertanggung jawaban mengapa dia menberikan ramuan tidur di makanan anak anak itu. Andraga yang sempat mendengar sepotong cerita bahwa Mamiju sedang berusaha menggulingkan Sandrina dari kedudukannya. Lelaki itu berusaha mencegah, tidak membiarkan Sandrina bangun dari pembaringan. Malam kembali tiba, kesunyian dan gulita yang pekat membungkus mereka. Tidak ada yang dapat mereka lakukan selain menunggu kedatangan Wira dan Alvian. Ah ... andai saja ponsel yang ada di carrier mereka bisa digunakan. Andraga mendesah kecewa, jangankan menggunakannya untuk main game sekadar berkomunikasi pun tidak bisa. Tidak ada serat optik di bawah tanah negeri ini. Tidak ada tower tower perusahaan sellular yang ada di kampung seperti tempatnya tinggal. "Saya seharusnya tidak di sini," ucap Sandrina. Dia bersiap untuk meninggalkan pondok. "Temani kami," ucap Alana. Dia menyentuh tangan Sandrina. "Lagipula kamu lagi luka," sambung Chandra. Sandrina menatap Andraga yang justru kini sedang menerawang menatap ke luar pondok. Dia mengerti kegelisahan lelaki itu yang menunggu datangnya sang Kakak. *** Jika mengira empusa tidak dapat melihat isi negeri tanpa cermin, itu salah. Kawanan burung diutus sebagai mata mata untuk menyelidiki apa yang terjadi di beberapa lokasi. Lokasi pertama adalah pondok Prajurit, yang lainnya camp pengungsi dan kediaman Nitisara. Sisanya mengikuti The Rescue. Darah Natakusuma yang selalu dia idamkan kini tercium sangat dekat. Dia yakin satu di antara dua Natakusuma sedang berkeliaran di sekitar sini. Burung yang ditugaskan pun tiba melaporkan adanya Wira di depan laboratorium sedang menunggu Alvian beraksi. Empusa harus turun sendiri agar mangsanya tidak melarikan diri. Dia yang berwujud perempuan cantik berambut biru berjalan keluar dari istana Raja. Keluarnya empusa mengundang angin untuk bertiup kencang dan hewan hewan senyap bersembunyi di kegelapan. Kecuali hewan hewan yang dia kendalikan. Keluarnya empusa dapat dirasakan seluruh Warga dan juga prajurit. Keluar dari persembunyiannya berarti ada sesuatu yang lebih penting yang dia cari. Sandrina merasakan kehadiran Empusa, mengabaikan rasa sakit bekas cakaran ahool yang menganga dia keluar pondok. Alana tidak dapat mencegah, terlebih ketika menerima kenyataan Empusa sudah keluar dan Wira dalam bahaya. Chandra menelan ludah mengingat kembali apa yang terjadi padanya ketika berhadapan dengan empusa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN