Beberapa menit sepeninggal Robbert bersama sang istri, Sherly dan Louis sama-sama membisu. Melihat Louis yang hanya terdiam sambil menatapnya dengan intens membuat Sherly menjadi tidak nyaman. “Hm … bagaimana kabar Papa?” Sherly berinisiatif lebih dulu membuka suara guna memutus kebisuan di antara mereka. Kedua mata Louis berkedip saat tersadar dari kefokusannya menatap Sherly setelah mendengar suara perempuan tersebut. “Baik. Papa juga sangat merindukanmu. Bahkan, setiap hari beliau selalu menantikan kepulanganmu,” jawabnya sambil menyunggingkan senyum tipis. “Kita bicara sambil duduk saja ya, biar lebih santai,” imbuhnya menawarkan. Setelah melihat persetujuan Sherly melalui anggukan kepala, dia langsung mengambil tempat yang tadi diduduki oleh Shirley. Sherly kembali duduk di tempatn

