Selama perjalanan menuju rumahnya, Robbert beberapa kali menoleh ke arah Louis yang duduk di sampingnya tanpa mengurangi kefokusannya mengemudi. Baru kali ini Robbert melihat Louis yang sangat gelisah. Bahkan, sampai terlihat jelas dari ekspresi wajah dan gerak-geriknya. Dulu waktu pertama kali berdiri memimpin rapat sekaligus berhadapan dengan klien saja, kegelisahan yang mendera laki-laki di sampingnya tersebut sangat tidak kentara. Ikut menjadi saksi pertumbuhan Louis, sedikit banyaknya Robbert mengetahui karakter dan kebiasaan laki-laki tersebut. Yang Robbert ketahui jelas tentang Louis, biasanya keponakannya tersebut sangat pintar mengontrol ekspresi wajahnya sebagai upayanya untuk menyembunyikan emosinya di hadapan siapa pun. “Ternyata hendak bertemu satu orang lebih membuatmu gelis

