Kejadian berdarah kemarin membuat sikap Louis sangat berbeda dari biasanya. Laki-laki tersebut menjadi lebih pendiam dan wajahnya selalu memperlihatkan ekspresi kaku. Sikapnya pun sangat dingin dan nyaris tak tersentuh, terutama terhadap Sherly. Bahkan, setiap tatapan mereka bertemu, matanya tak jarang memancarkan kilat amarah, seolah siap membakar dan menghanguskan tubuh Sherly. Oleh karena itu, laki-laki tersebut lebih memilih membuang wajahnya ketika Sherly sedang mengajaknya berbicara. Louis juga sengaja menghindari Sherly ketika berada di rumah. Semasih kesadaran menyertai pikirannya yang sudah terkontaminasi oleh dendam dan amarah karena pengkhianatan, dia lebih memilih mengurung diri di dalam ruang kerjanya. Dia ingin mengumpulkan tenaganya sejenak sebelum membuat perhitungan dengan

