Kamu Sanggup Sampai Pagi?

1393 Kata

Tiara tidak sempat menarik napas panjang saat Abimana mencengkeram tengkuknya dan mencium bibirnya dalam. Ciuman itu bukan pelepas rindu, tapi tuntutan. Penuh kepemilikan. Penuh amarah yang meledak seperti magma di d**a. Bibir mereka saling menyikat. Licin karena uap dan air, namun tak satu pun dari mereka ingin berhenti. Abimana menarik tubuh Tiara hingga duduk di atas pangkuannya. Air di bathtub naik, tumpah ke sisi-sisi. Tak peduli. Tak penting. Tiara mengerang rendah di sela ciuman yang tak memberi ruang. Jemarinya mencengkeram rambut Abimana dan menariknya lebih dalam. Napasnya mendesak antara kecupan, hampir seperti rintihan haus yang tak tersalurkan. “Mas,” desah Tiara nyaris dalam gumaman, tapi tubuhnya tidak berbohong. Ia bergerak pelan, memutar pinggul, membuat pria itu mencen

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN